
Suara ketukan dari balik pintu ruangan Ardan mengalihkan perhatian Regan.
Gadis bertubuh langsing itu tersenyum, masuk dengan membawa gelas minuman ke ruangan GM tersebut.
"Kenapa kamu yang bawa minuman, Nara?" tanya Ardan bingung.
"Iya, Pak. Mas Joko lagi keluar." Gadis itu menghampiri, meletakan gelas itu di atas meja.
Mantan Jendral itu kembali menatap wajah putrinya. Sendu, pendar binar tua itu memandang penuh rindu.
"Apa kamu ini benar-benar melupakan Ayah, Nigar? Bisa-bisanya kamu menerima lamaran tanpa sepengetahuan Ayah."
Gadis itu menyeringai, tangannya menggoyangkan lengan sang Ayah dengan manja.
"Maaf, Ayah. Sebenarnya aku mau pulang ke ibu kota. Tapi sedikit ada masalah, makanya masih tertunda."
Regan menarik napasnya, menarik ujung hidung anaknya itu. Geram.
"Katakan, kali ini pria seperti apa lagi yang akan meminangmu?" tanya Regan ketus.
Nigar tersenyum. "Nanti Ayah juga tau. Tunggu Direktur perusahaan ini kembali."
Praannk ....
Tanpa sengaja Kinara menyenggol gelas tehnya.
"Maaf, maaf." Cepat gadis itu memilih pecahan beling di bawah.
"Kinara tinggalkan saja. Biarkan Mas Joko yang nanti akan membereskannya. Kamu, kembalilah bekerja."
Gadis itu menatap ke wajah Nigar, polos mata bulat itu membalas tatapan matanya. Tersenyum lembut, wajah cantik itu menyampaikan ketulusan. Namun, Kinara hanya terdiam.
Masih ada yang menyakitkan, hatinya masih menaruh harapan. Walau dia sadar saat ini harapan itu tak lagi ada. Bisa saja, suatu saat nanti menjadi mungkin.
"Kinara," panggil Ardan lagi.
"Ya."
"Kembalilah bekerja," perintah Ardan lembut.
Jari lentik itu meraih pecahan beling, matanya kembali menatap Nigar.
"Baik, Pak," jawabnya mengalah.
Gadis itu berlalu, meninggalkan ruangan tersebut. Dari luar, binar jernihnya kembali memandang ke dalam. Memerhatikan wajah Nigar yang sedang tersenyum. Bermanja pada Ayah angkatnya itu.
"Mengapa? Dua lelaki hebat bisa begitu menyukainya? Bahkan dia mampu menarik perhatian Pak Ferdi dalam sekejap."
Kinara menghela napasnya, mendekap baki di dadanya dan kembali ke pantry.
Saat masuk, tak sengaja ia bertemu dengan Ferdi. Lelaki berkacamata itu tersenyum.
Pelan gerakannya sedang mengaduk kopi yang baru saja ia buat.
"Anda butuh bantuan, Pak?" tanyanya lembut.
Ferdi menggeleng, kembali sibuk pada cairan hitam yang sedang ia buat.
Bahkan, sedikit saja iris di balik lensa itu tidak pernah menatapnya. Mengapa? Dia tidak bisa melupakan walau ia tidak pernah dihiraukan?
...***...
Arfi kembali ke hadapan gadis belia itu. Nyalang matanya menatap penuh amarah.
Satu tangannya mencekal lengan Sasy, menyentakkannya dengan sedikit keras.
"Dengar! Aku bukan takut pada Kak Ardan. Aku hanya menghormati dan menjaga perasaannya saja. Aku berniat untuk bertanggung jawab padamu. Tapi aku juga bisa berhenti dan meninggalkanmu begitu saja, jika kamu terus berulah!"
Arfi membungkuk, menyejajarkan wajah dengan gadis belia itu.
"Sebelum kesabaranku habis. Sebelum aku berubah pikiran, berhentilah mengancam dan terus mengerjaiku, Sasy." Lelaki itu menatap tajam.
Sedikit menyeringai, gadis itu merintih tertahan. Cekalan tangan Arfi terasa sangat menyakitkan.
"Om, sakit," lirihnya pelan.
Arfi melepaskan cekalan tangannya dan kembali tegak.
"Mbak, bawakan baju yang paling bagus dan yang pas untuk ukuran badan dia," perintahnya pada salah satu penjaga toko.
Sementara, gadis berdress merah itu hanya tertunduk lemah. Mencoba menahan lapisan kaca yang melapisi netra.
Takut, melihat wajah Arfi yang seperti itu membuat nyalinya menciut.
Lelaki itu hanya acuh, ia mulai memilih baju yang dibawakan oleh sang penjaga toko.
Satu tangannya menarik dress berwarna silver. Dengan brukat tanpa lapisan di bagian bahunya dan kembang pada bagian bawahanya.
Simple dan elegan. Terlihat pantas dikenakan oleh gadis seumuran Sasy.
"Coba ini. Jika suka, langsung berikan pada penjaganya. Dan kita akan pulang. Sekali lagi kau berulah, akan kutinggalkan kau begitu saja!" ancam Arfi ketus.
Gadis itu menurut, ia mengambil dress yang diberikan Arfi dan membawanya ke dalam ruang ganti.
Pungung tangan kurusnya mengusap sudut mata. Tidak bisa menyalahkan Arfi, sadar jika sikapnya memang sedikit keterlaluan.
Sementara di luar, lelaki itu mengedarkan pandangannya. Melihat beberapa gaun yang terpajang. Mata terpaku pada sebuah patung.
Lelaki itu mendekat, perlahan tangannya menyentuh helaian kilat berwarna cokelat muda. Warna kesukaan gadis yang selalu menempati relung hatinya.
Bibir tipis itu mengembang, tangannya membuka kerudung panjang itu dari kepala patung. Menatap kain setin itu dengan lekat.
Walau perkataan Nigar telah merobek hatinya. Namun, ia sadar jika itu hanya ungkapan atas rasa kecewa yang pernah ia hadirkan dulu.
Mata itu, tatapan sinisnya. Masih menyampaikan rindu yang sesungguhnya. Mungkin pilihan ini rumit untuknya.
Bagaimana juga, ia tidak bisa menyalahkan Nigar. Karena dulu, dialah yang melangkah untuk meninggalkan.
Karena apa yang pernah hancur, akan lebih rapuh dari sebelumnya.
Dia akan menjadi lebih keras, lebih tega dan lebih kuat dari sebelumnya. Karena dia yang pernah hancur, akan belajar melindungi kerapuhan dari rasa sakitnya.
Tangguh, itu akan tertempah melalui apa yang kita alami selama ini.
Jika kita tidak pernah jatuh dan berusaha bangkit kembali. Maka tangguh itu hanyalah mitos belaka.
"Om," panggil Sasy lembut.
Arfi memalingkan pandangannya, gadis itu berdiri anggun di depan kaca. Dengan balutan dress silver dan belt perak yang melilit pinggang rampingnya.
Cantik, cukup menawan untuk ukuran gadis belia sepertinya. Namun, hati lelaki itu telah lebih dulu tertawan oleh gadis berhijab itu.
Gadis belia itu, tak cukup menggoyahkan cintanya.
"Kau suka?" tanya Arfi datar.
Sasy mengangguk pelan.
"Berikan itu pada penjaganya, kita pulang."
Tak banyak lagi melawan, gadis itu mengikuti perintah Arfi begitu saja. Takut jika lelaki itu akan meninggalkannya, ia memilih untuk mengalah.
"Mbak, tolong bungkus ini terpisah," pinta Arfi seraya memberikan selembar selendang ke tangan penjaga toko.
Lelaki itu mendesah pelan, matanya teralih pada bentangan luas langit biru. Dari balik kaca toko di lantai tiga, dia bisa bebas memandang ke sana.
"Khadijah, atau Nigar. Siapa pun kamu, aku tidak peduli. Sekali saja, jika kamu membalikkan badanmu dan bersedia menatapku sekali lagi. Maka, tak peduli mau Kak Ferdi atau Kak Ardan. Aku, pasti akan tetap memperjuangkanmu."
...***...
Hazel menatapi wajah Nigar yang tengah menyusun potongan buah ke atas piring. Bibir ranumnya terkembang lebar, sigap gerakannya mengantarkan potongan itu ke depan sang Ayah.
"Makan ini, Ayah. Apa Ayah ada bawa vitamin. Lima jam perjalanan, apa Ayah istirahat dengan baik?" tanyanya tanpa jeda.
Regan tersenyum, kepalanya menggeleng dengan pelan.
"Jika kamu memang peduli dengan kesehatan Ayah. Kenapa kamu nekat pergi dari rumah?"
Gadis itu menyeringai lebar, jari lentiknya menyuapi potongan buah ke mulut sang Ayah.
"Dasar anak nakal ini," ucap Regan seraya mengambil potongan buah itu. Gadis berhijab itu, akan selalu bersikap manja setelah ketahuan melakukan kesalahan.
Dia memang membesarkan Nigar dengan segala kasih sayang. Jendral yang terkenal kejam dan tegas itu, sangat memanjakan putri angkatnya. Baginya, Nigar adalah malaikat yang mengubah dunia pernikahannya.
Lelaki tua itu mengusap kepala Nigar lembut. Sepanjang menjadi Ayah angkatnya, dia hanya mampu menghukum Nigar sebatas menarik hidungnya saja.
Hazel menyeka sudut matanya, rasanya jika melihat Nigar yang seperti itu. Mengingatkan dia pada Ayah kandung mereka.
Potong kenangan kembali hadir dan terputar, bagaimana dia yang sama manjanya dengan Nigar dulu. Ingatan itu menjadi duka tanpa jeda.
Saat rasa sayang yang begitu hangat menjadi dingin dalam sekejap. Ketika kehilangan merenggut apa yang selalu dijaga. Siap dan tidak siap, dunia selalu menjalankan takdirnya sesuai kehendak-Nya.
"Hazel." Lembut sentuhan itu menyadarkan lamunan Hazel.
Gadis bermata madu itu mengusap pipi. Tersenyum dengan tampilan lesung dalam di pipinya.
"Kenapa menangis?"
"Aku hanya bahagia, Mbok."
"Mbok juga bahagia, melihat kamu kembali bahagia."
Hazel menggeleng pelan, matanya kembali tertuju ke arah Nigar.
Melihat gadis itu bisa begitu dekat dengan Regan. Padahal mereka hanya anak dan ayah yang disatukan oleh sebuah peristiwa.
Nyaman, dan aman. Nigar bersikap seolah Regan adalah ayah kandung mereka.
"Dulu Nigar tak semanja itu. Karena dia selalu cemburu padaku yang terlalu dimanja oleh Ayah. Aku merasa, dunia ini memperlakukan kami sangat adil, Mbok."
Pendar binar bermata madu itu menatap dalam. Bahagia dalam rasa luka. Miris oleh masa lalu adiknya, tetapi basuhannya juga sangat indah.
"Aku memang tidak terluka pada malam itu. Tetapi dunia memiliki hukumnya sendiri. Aku menjalani hidup yang sangat pahit setelahnya, ditinggal sendiri dengan tanggungan duka yang tak berjeda. Namun, Nigar. Dia menemukan banyak perlindungan dan juga cinta keluarga barunya."
"Apa kamu menyesalinya, Hazel?"
Gadis berlesung pipi itu menggeleng.
"Apa yang harus aku sesali, Mbok? Karena setelah duka itu, aku juga menemukan kebahagiaan dan tempat bermanjaku juga, kan?"
Hazel mendesah panjang, menarik tubuh Yena dari dekapan wanita gempal di sebelahnya.
"Dunia ini berputar, Mbok. Apa pun yang terjadi saat ini. Seharusnya tidak butuh penyesalan. Hanya butuh perubahan. Karena menyesal hanya akan membuat hidup berada di ambang kebimbangan. Tetapi perubahan, akan menemukan jalan yang membuka kebahagiaan."
Mbok Darmi tersenyum lembut, pelan kepalanya menggeleng lemah.
"Dunia ini memiliki hukumnya sendiri. Saat ini yang terluka akan bahagia kedepannya. Dan yang bahagia akan kecewa suatu saat nanti. Itu pasti, karena dunia tidak akan memberikan kebahagiaan tanpa ada ujian, karena ujian akan membuka apa yang selama ini tertutup, bukan?"
"Maksudnya?"
"Ujian akan membuka mata, hati dan pikiran kita. Bahwa di balik duka akan terselip bahagia. Di balik air mata selalu disertai tawa. Karena di dunia ini, semua perbedaan selalu berjalan berdampingan. Tak mungkin dipisahkan, kerena perbedaan itu saling berhubungan."
Bukankah semesta memiliki hukumnya? Saat kita bisa terlepas dari satu musibah, maka bisa saja kedepannya hidup memberikan halangan yang lainnya.
Dan pasti, akan ada cahaya setelah gelap gulita yang menyapa. Kemanisan setelah kepahitan, dan juga, keindahan setelah duka berkepanjangan.
Bisa saja saat itu menjadi bayangan hitam. Tetapi bisa pula itu adalah jalan untuk bisa menemukan. Entah itu kebahagiaan yang paling indah di masa depan, atau pun warna baru kehidupan yang menyenangkan.
Bukankah Dia telah menciptakan segalanya berdampingan? Seperti tawa dan air mata. Luka dan cinta, pula hidup dan mati.
Semuanya ada, bukan karena untuk sebuah hukuman. Tetapi perbedaan itu ada, karena dia dibutuhkan. Untuk menciptakan warna-warni jalan kehidupan.