For My Family

For My Family
83



Hazel meletakan seteko teh dan juga beberapa camilan di atas meja. Lalu ia berjalan ke arah Surya yang masih bermain dengan Dokter Pedro.


Lelaki dengan kacamata tipis itu tersenyum. Masih sibuk mengarahkan terapi pada pasien kecilnya tersebut.


"Apa Surya ada keluhan?" tanyanya lembut.


"Ehm, gak ada sih."


"Ini sudah setahun pasca operasi, kan? Kamu coba cek lagi ke rumah sakit. Lakukan serangkain tes dan juga rontgen pada tulang belakangnya. Untuk mengetahui perkembangan dan juga bekas operasinya. Semoga semua berkembang dengan baik. Jika ada keluhan segera beri tahu. Agar penangan bisa lebih cepat."


"Baik, Dokter."


Mata lelaki itu menyapu ke seluruh ruangan. Tak menemukan lelaki yang biasa berdiri paling depan ketika ia dan Hazel berbicara.


"Ardan, mana?"


Hazel memalingkan wajahnya, ikut menyapu ke area keliling rumah.


"Oh, Mas Ardan belum pulang dari semalam. Mungkin ada hal genting yang harus dia kerjakan."


"Hazel, pernikahan kalian baik-baik saja?" tanya Pedro lagi.


Hazel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Memang apa yang bisa terjadi? Selain masalah keluarga Erlangga, mana mungkin Ardan mampu meninggalkannya sendiri seperti ini.


Pedro menghela napas, membuka kacamata yang ia kenakan. Tangannya meraih gelas di atas meja, menyeruput air berwarna kuning kemerahan itu perlahan.


"Cemaslah saat lelaki tidak pulang kerumah. Terlebih saat akhir pekan begini, Hazel. Jangan terlalu percaya, lelaki bisa saja khilaf tanpa ada niat."


"Maksudnya?" tanya Hazel tak mengerti.


"Jaga suamimu. Bisa saja di luar sana ada wanita yang menginginkannya dan tak ingin melepaskannya?"


"Kenapa Dokter bicara begitu?" tanya Hazel ketus.


Pedro melirik ke arah Hazel. Ia hanya tersenyum dan menggeleng.


"Tak ada. Sebagai Dokter dan juga temanmu, aku hanya ingin kamu bahagia." Pedro mengambil jaketnya yang tergantung di sandaran kursi, lantas ia berpamitan untuk pergi.


'Kamu memang kuat, Hazel. Tapi kamu juga masih sangat lugu, bagaimana bisa kamu mempercayai temanmu, saat dia menginginkan suamimu?' lirih Pedro sembari keluar dari rumah besar itu.


Sementara Hazel masih bingung, ia tak paham sama sekali. Memang apa yang bisa dipikirkan Ardan selain perusahaannya itu saat ini?


Wanita itu membereskan sisa tehnya, melihat Surya yang masih asyik bermain dengan beberapa mobil-mobilannya.


Setelah membereskan gelas, wanita itu mendekati putranya. Membuka kaus yang dikenakan Surya. Memeriksa luka bekas jahitan operasi itu.


Sudah tertutup sangat rapat, Hazel menekan beberapa bagian di area punggung, dan Surya masih tanpa reaksi. Hanya gerah dan ingin melepaskan dekapan Bundanya.


Hazel tersenyum, ia membelai lembut wajah putranya.


"Syukurlah, Surya. Kamu baik-baik saja, dan semua itu berkat papa." Hazel menarik wajah putranya, menciumi pipi chubby putra semata wayangnya.


"Pa-pa-pa-pap," celoteh Surya terbata.


"Iya, Papa. Eh ...." Hazel memutar bola matanya, berpikir sejenak. "Kalau operasi kamu sudah setahun, berarti pernikahan Bunda dan papa juga setahun, dong."


Wanita itu melepaskan dekapannya dari badan mungil surya, membuka ponsel dan mengecek tanggal hari ini.


"Surya, kita belanja yuk. Kita buat kejutan buat papa. Pasti papa suka."


Meninggalkan mbok Darmi di rumah, Hazel menyeret mobil-mobilan yang dinaiki oleh Surya.


Berjalan menuju depan gang komplek, memasuki mini market yang ada di seberang jalan.


Kaki wanita itu memutari rak, satu tangannya dia letakan di atas perut. Satunya lagi menarik tali mobil-mobilan yang ada Surya di atasnya.


Matanya memandangi isi rak, mencari benda yang akan ia beli untuk hadiah ulang tahun pernikahannya.


Setelah lima belas menit berdiri, wanita itu kembali berjalan ke depan. Tangannya terhenti seketika, mobil yang dinaiki Surya menjadi sangat berat.


Cepat kepala itu memaling, Surya sudah berdiri di lantai sementara mobil mungilnya diisi oleh lelaki yang lebih dewasa.


Hazel melepaskan senyumnya, melihat lelaki yang tidak pulang semalaman suntuk itu sudah ada di sebelahnya.


"Mas, kamu ini," ucap Hazel gemas.


"Kamu belanja apa sih? Serius banget?" tanya Ardan bangkit dari mobil-mobilan anaknya itu. Menarik putranya dan menggendong di salah satu lengan kekarnya.


"Gak ada, hanya mencari sesuatu."


"Kok gak izin aku dulu kamu keluar?"


"Sudah. Mas saja yang gak baca."


"Masa?" Ardan mengeluarkan ponselnya, benda pipih berwarna hitam itu mati.


Hazel hanya tersenyum, kembali berjalan mengelilingi rak. Sementara lelaki itu menunggu seraya duduk di depan mini market, bermain dan memakan es krim dengan putranya .


"Bunda ngapain, sih? Lama banget?" tanya Ardan yang mulai lelah menanti.


Ardan terkekeh, gemas melihat anak Hazel yang mukanya dominan seperti orang Timur Tengah. Hidungnya kecil dan mancung dengan kulit yang sangat putih. Bahkan rambutnya berwarna bulu jagung.


"Kamu ini, selain panggil Papa gak bisa ngomong yang lainnya? Memang anak Papa, anak gantengnya Papa." Ardan memindahkan tubuh mungil itu ke atas pangkuan, menggelitiki badan mungil itu sampai gelak tawa terdengar.


"Mas." Suara itu menghentikan candaan mereka berdua.


Dahi lelaki itu langsung berkerut melihat kantungan yang ada di tangan Hazel.


"Banyak banget belanjanya? Kamu mau ngapain?"


"Gak ngapa-ngapin. Ngidam pingin ngabisin uang kamu aja."


Ardan terkekeh, ia kembali menaikan badan Surya di atas mobil kecilnya, mengambil alih kantungan yang ada di tangan Hazel. Berjalan menarik anaknya itu menuju mobil.


"Mau jalan-jalan? Kita jarang keluar bertiga, sekalian udah di luar juga, kan."


"Kamu semalam tidur, Mas?" tanya Hazel lembut.


Ardan tersenyum lembut dan mulai memakai seat beltnya. "Dua jam," sahutnya.


"Pulang saja. Kamu istirahat dulu."


"Istirahat itu saat aku bisa buat kamu dan anak kita tertawa. Hazel, senyuman kebahagian kalian itu lebih mampu menghapus lelahku."


Hazel meraih rahang Ardan dan membelainya lembut. "Terserah kamu saja."


Ardan mengambil jemari istrinya, mencium telapak tangan itu dan mulai memacu Mclaren hitamnya. Membelah jalanan siang menuju pinggiran kota.


Ia memarkirkan mobilnya di bibir taman, terlihat banyak tenda-tenda berjajar di sana.


"Ada bazar kesenian di sini. Aku rasa kamu suka lihat-lihat ini."


Hazel tersenyum dan mengecup lembut bibir leleki itu.


"Mas kamu tahu saja." Cepat tangan wanita itu membuka seat beltnya, menuruni mobil dan meninggalkan anaknya bersama lelaki itu.


"Sebenarnya Bunda kamu itu mau apa? Tumben-tumbenan dia mau ngabisin uang begini?"


Ardan menurunkan putranya, mengeluarkan mobil kecil itu dan kembali menaikan surya di atasnya. Menariknya melewati paving-paving di tengah taman.


Sementara wanita itu sudah pergi lebih dulu. Entah kemana? Ardan tak berniat mencarinya, dia lebih asyik bermain-main bersama putranya.


Langkah Hazel terhenti di depan salah satu stand, jemarinya tertarik untuk mengambil salah satu mug dengan gagang yang berbentuk hati.


"Itu bisa digambar foto, Mbak."


Dahi mulus itu berkerut, melihat lelaki muda di dalam stand.


"Kami bisa sablon badan gelasnya dengan foto yang Mbak inginkan."


"Benarkah, kalau begitu saya mau ini. Berapa lama ini akan selesai?"


"Gak lama, hanya sekitar lima belas menit."


Hazel hanya mengangguk, ia memalingkan wajahnya, menyapu seluruh area sekitar. Mencari dua lelaki kesayangannya itu.


Matanya terhenti saat mendapati Ardan tengah bermain air bersama putranya. Tawanya begitu lebar, menciptakan desiran hangat di dalam hati.


"Benarkah kamu bahagia bersama kami, Mas?" lirihnya saat melihat senyum di wajah suaminya itu.


Gelak tawa terdengar, Surya yang berada di atas sampan dalam kolam buatan itu sesekali menepakkan kakinya di atas air. Membuat sebagian kaus Ardan basah.


Perlahan, senyum di bibir wanita itu mengembang. Melihat dua lelaki itu bahagia, tak ada pemandangan yang lebih indah di dunia ini.


"Mbak selesai." Suara itu menyadarkan lamunan Hazel. Wanita itu mengambil kotak yang sudah terbungkus rapi sesuai keinginannya, lalu menyerahkan sejumlah uang.


Mendekati Ardan dan Surya yang baru saja keluar dari kolam.


"Mas."


"Eh, kamu sudah selesai lihat-lihat?" tanya Ardan.


Hazel menggelengkan kepala, tangannya mengelus perut buncit berbalut drees biru itu.


"Aku haus, Mas."


"Baiklah, tunggulah di situ, aku akan membelikan minum untukmu."


Hazel menganggukan kepalanya, duduk di jajaran kursi yang tersusun di pinggir taman. Memperhatikan punggung besar itu berjalan dengan menggeret mobil-mobilan tunggangan Surya.


Hazel menghela napas, mengelus perut buncitnya yang mulai kram.


"Mas Iqbal, bisakah kamu memaafkanku? Jika saat ini, aku jauh lebih mencintai lelaki itu dibandingkan dirimu?"


Hazel menyandarkan punggungnya di atas sandaran kursi. Perlahan kepalanya mulai tertumpuh di atasnya.


"Maaf, Mas. Jika disuruh memilih, aku ingin Mas Ardan yang menjemputku di pintu surga. Aku ingin dia, karena dia ... lelaki yang membasuh lukaku, bukan yang memindahkan luka lama menuju luka baru. Maaf, Mas. Aku ingin setia dengannya, imam yang sesungguhnya."