
Hazel menganggukan kepalanya perlahan. Ardan menghela napasnya dan menutup map yang ada di tangannya.
"Kalau begitu lahirkan satu lagi," jawab Ardan enteng.
"Apa?"
"Saya butuh anak untuk menjadi penerus saya, Hazel. Jika kamu melahirkan anak dengan kebutuhan khusus. Maka lahirkan satu lagi yang tidak harus diperlakukan khusus."
"Apa? Kenapa anda bisa berpikir sepicik itu, Pak?" tanya Hazel kesal.
"Hazel." Ardan bangkit dan berjalan mendekati Hazel.
Ia menekan tombol kain gorden, menutup bagian kaca ruangan miliknya.
"Apakah kamu tidak bisa berpikir rasional?" tanya Ardan ketus.
"Maksudnya?"
"Jika anak pertama kamu memiliki kekurangan, apakah seterusnya anakmu akan terus seperti itu?"
"Tapi bisa saja--"
"Dunia juga tidak sekejam itu, Hazel. Dalam dunia ini kita punya Tuhan, apakah kamu berpikir Tuhan akan terus memberikan sesuatu yang seperti itu?" tanya Ardan tegas.
"Kamu mungkin akan memiliki satu anak dengan kekurangan. Tetapi kamu tidak akan memiliki semua anak yang seperti itu."
Ardan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia meraih pucuk kepala Hazel, perlahan tangannya membelai lembut helaian cokelat rambut wanita itu.
"Di dunia ini memang banyak ketidak adilan, Hazel. Namun bukan berarti Allah berdiam. Apakah kamu pikir Allah akan memberikan cobaan yang bisa menghancurkanmu perlahan?" Ardan tersenyum dan menarik kepala Hazel. Mendaratkan sebuah ciuman di dahi Hazel.
Sedang, Hazel hanya terdiam menatap lelaki itu dengan lekat. Mereka belum menikah, tetapi kenapa Ardan semudah itu menciumnya?
"Apa yang Dia berikan adalah sesuatu yang bisa menguatkanmu. Tujuannya adalah agar kamu bisa lebih mendekat kepada-Nya. Memohon dan meminta pada-Nya. Tidak peduli seberat apapun bebannya, jika kamu memikulnya dengan bantuan Dia. Percayalah, semua akan terasa ringan dengan sendirinya." Ardan tersenyum dan kembali duduk di kursinya.
Hazel masih terdiam dengan ucapan dan perlakuan Ardan.
Bernakah? Ini lelaki yang bicara dengan segala keangkuhannya tadi? Mengapa? Saat ini ia bisa berubah menjadi sangat lembut dan dewasa. Bahkan ucapannya bisa sangat menenangkan hati.
"Kenapa? Kamu belum puas dengan ciuman saya?" tanya Ardan saat melihat Hazel yang masih berdiam di depan meja.
"Hah?"
"Kalau kamu mau saya cium lagi, mendekatlah. Saya bisa berikan di tempat yang lainnya," goda Ardan kembali.
"Saya baru saja berpikir kalau anda mungkin tidak seburuk yang selama ini saya pikirkan. Tetapi ternyata saya salah, anda bahkan lebih buruk dari yang saya pikirkan," ucap Hazel kesal.
"Apa itu artinya kamu memikirkan saya selama ini?" tanya Ardan kembali menggoda.
"Apa?"
"Bukankah tadi kamu katakan, kalau selama ini kamu memikirkan saya?" Ardan tersenyum dan memainkan kedua alis matanya.
Hazel menghela napas, ia menggelengkan kepala. Kali ini, sepertinya ia benar-benar berada dalam masalah.
Lelaki ini adalah masalah terbesar dalam hidupnya.
"Kenapa masih di sini? Bukannya kamu bilang banyak kerjaan? Atau--" Ardan menggantungkan kalimatnya dan menggigit bibir bawahnya.
"Pekerjaanmu sekarang ini adalah memandangi saya?"
"Apa?" tanya Hazel tak percaya.
Hazel mengusap wajahnya dengan sedikit kasar. Ia benar-benar kahabisan kesabaran.
"Saya hanya ingin meminta cuti untuk tiga hari ke depannya. Karena itu saya masih di sini?"
"Cuti? Untuk apa? Apa kamu ingin melakukan perawatan sebelum pernikahan?"
Hazel memutar bola matanya, memandang Ardan dengan malas.
"Ada yang harus saya kerjakan, bisakah anda memberikan saya cuti?"
"Memang mau mengerjakan apa?" tanya Ardan memainkan kedua alis matanya.
"Katakan! Anda mengizinkan atau tidak? Jika tidak jangan banyak sekali menggoda saya!" tekan Hazel kesal.
"Hei, pihak kedua. Berbicaralah dengan tenang. Saya ini atasan kamu."
Hazel menangkupkan tangannya di depan dahi. Kenapa ia bisa terjebak pada lelaki seperti ini. Ia menahan napasnya yang memburu kencang, tersenyum kaku sembari berjalan mendekati meja Ardan.
"Pak Ardan, bisakah saya meminta izin cuti?" tanya Hazel dengan memaksakan senyumnya.
"Boleh, tapi jangan panggil saya, Pak."
"Panggil saya, Sayang."
Hazel menajamkan tatapan matanya, melihat Ardan dengan sengit.
"Baiklah, liburlah selama yang kamu mau. Tetapi jika kamu sampai melarikan diri, bersiaplah untuk mati."
"Hem, saya tahu," jawab Hazel malas. "Pemisi," sambung Hazel berlalu meninggalkan ruangan GM itu.
Ardan hanya menganggukan kepalanya, kembali tersenyum puas saat ia bisa menggoda wanitanya itu. Ardan kembali membuka kain gorden ruangan kaca GM, melihat Hazel yang kembali bekerja di balik komputernya.
"Hazel, sebenarnya kamu itu apa? Kenapa begitu menarik sampai membuat aku gila?"
***
Hazel memasukan beberapa perlekangkapan ke dalam tas miliknya. Ia meraih dahi Surya, satu tangannya meraih dahinya sendiri.
"Surya demam lagi," lirihnya cemas.
Hazel mengangkat tubuh Surya, melepaskan peyangga pada kaki dan badan Surya.
"Mbok, kita ke rumah sakit ya. Surya, sepertinya demam lagi."
"Sebentar, Mbok matikan kompor dulu."
Hazel menganggukan kepala, ia menarik tas perlengkapan Surya. Menuju rumah sakit tempat biasa Surya melakukan terapinya.
Hazel menghitung setiap detik yang berlalu, menunggu antrean panjang hanya untuk sekedar konsultasi dan terapi.
Hal yang paling ia sesali adalah, hanya bisa memberikan perawatan seadanya seperti ini. Bahkan saat sakitpun Surya harus menunggu dalam durasi yang cukup panjang dan juga lama.
"Surya Sandyka," panggil perawat dari dalam.
Hazel mengangkat badan Surya dan membawanya ke dalam. Menemui Dokter muda yang selalu menyambut Bundanya Surya dengan senyuman ramah.
"Ezgi Hazel Nazha, sepertinya akhir-akhir ini kamu banyak waktu luang, ya?" ucap Dokter itu saat melihat Hazel membawa Surya ke ranjang pasiennya.
"Begitulah," jawab Hazel sekenanya.
Dokter Pedro hanya tersenyum, ia mulai memeriksa suhu badan Surya dan juga perkembangan skoliosis yang di derita oleh Surya.
"Hazel, apa Surya terus demam seperti ini?" tanya Dokter Pedro mulai cemas.
"Tidak selalu, tetapi panasnya selalu naik-turun, Dok."
"Surya juga terus rewel, Dokter," timpal mbok Darmi.
"Kita lakukan CTscan dan MRI ya, sepertinya kurvanya terus meningkat dengan cepat."
Hazel hanya mengangguk, membiarkan Dokter Pedro melakukan sesuatu yang diperlukan untuk perawatan putranya itu.
.
Perlahan, Hazel menyandarkan kepalanya ke sisi tembok. Kepalanya sering kali berdenyut nyeri, padahal akhir-akhir ini pekerjaannya mulai berkurang. Tetapi kenapa bebannya terasa semakin berat.
Hazel menghela napasnya, mencoba mempertahankan matanya yang ingin tertutup.
Menyentuh sisi tembok sekadar untuk menopang tubuhnya yang semakin melemah.
Setelah beberapa waktu, Surya di bawa keluar oleh Dokter Pedro dan beberapa perawat.
"Hazel, seperti yang kita bahas sebelumnya. Surya, memang membutuhkan bedah," ucap Dokter Pedro lembut.
"Saya tahu. Saya sudah siapkan uangnya, Dokter bisa tolong bantu urusi semua?" tanya Hazel lemah.
Dokter Pedro menahan badan Hazel yang ingin terjatuh ke lantai. Menopangnya dan mendudukannya di salah satu kursi penunggu.
"Hazel, kamu baik-baik saja?" tanya Dokter Pedro cemas.
Bersamaan dengan ponsel Hazel yang berdering keras. Ia mengeluarkan gawainya, menggeser layarnya tanpa melihat nama yang tertera di sana.
Baru saja ia ingin menempelkan benda pipih itu di telinga. Lebih dulu ponsel itu jatuh bersamaan dengan dirinya yang kehilangan kesadaran.
"Hazel, Hazel," panggil Dokter Pedro sedikit berteriak.
"Hazel, sadarlah," ucap Dokter Pedro sembari menggoyangkan badan Hazel yang terlanjur pingsan.
Sementara di seberang sini, Ardan menggenggam erat benda pipih miliknya itu. Menahan amarah yang mulai terbakar saat mendengar suara lelaki memanggil nama calon istrinya itu.
"Hazel, sudah kutakan. Kamu akan mati jika ingin pergi," ucap Ardan geram setengah mati.
"Kamu, tidak kubiarkan bermain-main lagi."