
Gerald membanting berkas yang ada di tangannya. Menatap anak buah yang ada di depan dengan nyalang.
"Apa kamu bilang?" tanya Gerald geram.
"B-b-benar, Tuan. Tuan Arfi ke Turki melalui penerbangan Rusia. Saat ini dia di kota yang sama dengan Tuan Ardan."
Gerald menendang meja yang ada di depannya kasar. Mata tua itu menatap sang anak buah nyalang.
"Bagaimana kalian bisa kecolongan? Bukankah aku minta kalian untuk mengawasi dia!" bentak Gerald.
"Kami selalu mengawasinya, Tuan Arfi membuat daftar nama untuk mengunjungi kelab di Moskow. Ternyata---"
"Aku tidak butuh alasan!" sungut Gerald geram setengah mati. Dada tuanya naik turun dengan sangat cepat, kali ini dia tidak bisa diam lagi
Para putranya sudah sangat jauh bertindak. Bagaimana mungkin satu persatu putranya meninggalkan di saat umur dia pun semakin tua.
Lelaki berumur itu mengeluarkan ponsel, menelpon sang anak yang berada di ruangan berbeda dengannya.
"Ya, Pa," sahut Arfan lembut.
"Siapkan Mclarentmu, kita akan menyemput adik dan kakakmu. Mereka sudah terlalu lama bermain di luar ibu kota."
"Tapi aku sedang meeting, Pa."
"Sekarang!"
Rahang tua itu bergemeretak, geram. Kali ini, walau harus memaksa, ia akan membawa putra sulungnya pulang. Apa pun itu, dia tak peduli.
***
Sedikit malas Irfan mengikuti Luna ke dalam kamar mereka. Meninggalkan Ferdi berdua dengan sang anak. Ikram.
Sementara Sasy mengintili kedua orangtuanya ke dalam kamar. Ikut memanasi sang ayah, karena dia paham watak mamanya. Pasti, Luna akan sangat setuju dengan Ferdi.
"Ayah bilang nanti, ya, nanti dulu, Ma," ucap Irfan sebelum sang istri membuka suara.
"Ish, Ayah. Kalau Ayah tolak lamaran Ferdi, nanti bisa saja Sasy jadi perawan tua. Gak bagus nolak lamaran, Ayah. Pamali," jawab Luna membujuk.
"Gak bisa! Sasy masih kuliah. Ayah gak mau Sasy kuliah sambil ngandung anak nantinya."
"Soal itu, kan, bisa dibicarain nanti, Ayah. Lagian sepertinya Ferdi baik, sopan, lemah lembut begitu."
"Iya, Ayah. Nanti kalo Kak Ferdi harus nungguin aku, Kak Ferdi udah keriput, dong. Gak handsome lagi," sambung Sasy merayu.
"Kamu lagi, masih kecil kok sudah mau nikah? Apa kamu pikir menikah itu hanya perkara wajah? Banyak yang harus dipikirkan, Sasy. Dan Ayah gak yakin kamu bisa memahami itu? Bagaimana setelah nikah kamu gak betah? Minta pisah?"
"Ish, Ayah. Gak boleh doain yang jelek-jelek. Anak juga belum nikah masa di doain buat pisah? Gak baik, lagian kalau sudah ada yang lamar, berarti Allah tahu bahwa Sasy sudah mampu, Ayah."
Irfan menarik napas panjang, mengusap wajah itu kasar seraya terduduk di tepi ranjang. Pusing saat jiwa Luna yang sesungguhnya sudah keluar.
Dulu dia menjodohkan Iqbal dengan gadis pilihannya. Kini Sasy lagi, takut jika kejadian itu terulang kembali. Kehilangan putra dan putrinya karena tuntutan keluarga.
"Ma, jangan seperti ini. Sasy masih sangat belia. Dia masih berhak atas masa mudanya. Pernikahan itu akan mengikat, bagaimana jika Sasy tidak tahan? Pacaran saja dia tidak pernah, tau apa dia soal komitmen?" tanya Irfan lagi.
Luna menarik napas dan ikut duduk di sebelah sang suami. Mengelus pundak kekar itu lembut.
"Mama yakin Sasy paham, kok. Bukannya selama ini Ayah mendidik Sasy untuk bertanggung jawab atas keputusannya? Jika Sasy sudah memutuskan sanggup menikah, berarti dia sanggup untuk menikah, Ayah." Luna menatap sang putri yang masih berdiri di hadapan mereka.
Menyadari tatapan sang Mama, Sasy mendekat dan berlutut di bawah Irfan. Mengambil jemari keriput sang Ayah.
"Lagian Kak Ferdi menyanggupinya, Ayah. Kak Ferdi akan membiayai kuliahku sampai selesai dan Kak Ferdi tidak akan memaksa aku untuk mengurus pekerjaan rumah tangga sebelum lulus kuliah. Aku yakin sanggup, kok, Ayah. Lagian Sasy kan anaknya Letkol, pasti Sasy kuatlah," bujuk Sasy dan Luna mengiyakan begitu saja.
Irfan menatap wajah belia itu lamat-lamat. Masih sangat belia, ia sama sekali tidak rela. Namun, jika sepasang manusia sudah menyatakan kesanggupan untuk menikah. Apa daya ia untuk menentangnya?
***
Baki yang Nigar pegang bergetar saat tak sengaja tangannya tersentuh kulit Pedro. Lelaki berdarah setengah Spanyol itu mengerutkan dahinya.
Menatapi wajah Nigar yang memucat, berkeringat dan tangannya semakin bergetar saat meletakan satu piring camilan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Pedro seraya memerhatikan gerakan tangan Nigar yang semakin bergetar saat menyadari tatapan mata Pedro.
Sampai tarikan tangan Surya di ujung kemejanya mengalihkan pandangan lelaki blasteran itu. Pedro menoleh, melihat Surya yang menunjuk camilan di dalam piring.
Lelaki beriris cokelat itu tersenyum seraya mengacak rambut Surya.
"Kamu mau kue?" tanya Pedro lembut.
Surya hanya mengangguk. "Baiklah, sebelum makan kue, Dokter ingin lihat lidah kamu. Coba buka mulut!"
Satu tangan kekar itu menangkup di bawah dagu, lalu lidah mungil itu menjulur, mengikuti perintah sang Dokter.
"Lidah Surya bagus, tapi kenapa Surya malas ngomong?" tanya Pedro seraya menarik piring camilan. Lagi-lagi, tanpa sengaja kulitnya dan Nigar yang baru saja selesai meletakan gelas minum bersentuhan.
Refleks, Nigar menjatuhkan gelas itu, secepatnya ia berjongkok untuk memunguti beling, bersamaan dengan Arfi yang baru saja kembali.
"Kamu baik-baik saja? Biar aku yang bereskan, kamu tinggalkan saja." Arfi ikut berjongkok, membantu sang gadis memunguti sisa beling. Setiap kali kulit mereka bersentuhan, gadis itu semakin gemetar. Pasi.
Pedro menatapi wajah cantik itu lamat-lamat, sampai Arfi mendongak, memandang Pedro dengan kerutan dahinya. Lelaki berambut cokelat itu tersenyum tipis dan kembali pada Surya.
Mengajak interaksi bocah itu, melatih responsnya untuk berbicara. Karena semenjak pasca operasi, skala interaksi sang bocah mengalami kemunduran.
Sedikit menunggu, Pedro membuat sesi terpai sedikit lebih panjang. Ketika Arfi turun dari lantai atas dan berjalan melewati mereka.
"Pak Arfi," panggil Pedro dan lelaki itu menoleh.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Sedikit ragu, lelaki berambut pirang itu hanya mengangguk. Lalu, langkahnya berjalan lebih dulu ke arah teras rumah.
"Maaf jika saya lancang. Namun, saya dengar Anda baru saja menikah dengan adiknya Hazel?"
"Benar, lalu?" tanya Arfi datar.
"Tidak bermaksud menyinggung Anda. Namun, dari gerakan dan tingkah laku istri Anda. Dia ... mengalami trauma?"
Arfi hanya diam, menarik napas dan terduduk di kursi teras. Diikuti oleh dokter muda tersebut.
"Jika mengingat latar belakang Hazel yang juga sering mengalami mimpi buruk akibat trauma kenangan buruk keluarganya. Mungkinkah istri Anda menderita PTSD?"
Arfi melirik sekilas, lalu menggeleng pelan. "Entahlah, ada trauma dalam yang membuat dia tidak ingin bersentuhan. Maaf, tapi saya tidak bisa menceritakannya."
Pedro hanya tersenyum, ia mengangguk paham.
"Saya telah menganggap Hazel dan Ardan sahabat. Jika Anda membutuhkan bantuan saya, jangan sungkan. Saya akan membantu Anda sebagai teman. Saya permisi."
Arfi hanya mengangguk, lalu membiarkan Pedro kembali ke dalam. Mengemasi barang-baranganya dan kembali keluar setelah beberapa lama.
Sepasang mata sayu itu masih memerhatikan punggung Pedro yang berjalan ke arah mobil. Bingung, haruskah dia menceritakan keadaan Nigar atau tidak?
Bukankah itu aib istrinya, dan sudah menjadi kewajibannya untuk melindungi?
Namun, dia juga tidak akan bisa menghadapi Nigar yang seperti ini terus menerus. Bingung, dan juga ragu. Bukankah seorang dokter memiliki atitude untuk melindungi privasi?
"Tunggu," panggil Arfi mendekati Pedro.
Lelaki berdarah Spanyol itu berbalik.
"Bisakah kita berbicara hanya berdua saja? Kurasa aku membutuhkan saranmu?"
Pedro tersenyum lembut, mempersilakan Arfi untuk ikut semobil dengannya.
Sementara ada sepasang mata yang terus memerhatikan kejadian itu dari atas sini.
Dua buah tangan menerobos di antara lengan Ardan. Memeluk badan kekar itu erat. Hazel membenamkan wajahnya di punggung sang suami. Menikmati aroma tubuh itu.
"Ada apa, Mas?" tanya Hazel mengusap-usap wajahnya di kaus Ardan.
"Perasaanku gak enak, Hazel."
"Hem. Gak enak kenapa?"
"Entahlah, seperti akan terjadi sesuatu setelah ini."
"Maksudnya?"
Ardan mengusap wajahnya kasar, lalu badan tegap itu berbalik.
"Bagaimana terapi Surya?"
Hazel mengangguk, "bagus. Kata dokter Pedro lidah Surya bagus. Nanti perlahan akan bisa berbicara normal."
Ardan tersenyum tipis, "baguslah."
Mendapati wajah Ardan yang terlihat suntuk, wanita berdarah Turki itu menangkupkan kedua tangannya di pipi sang suami.
"Mas kenapa?" tanya Hazel lagi.
"Perasaanku terus cemas. Cemas memikirkan kamu, cemas memikirkan anak kita, dan juga memikirkan adikku."
"Aku? Dan anak-anak baik-baik saja."
Ardan menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapan. Membenamkan ujung hidung di atas bahu. Entah mengapa, tetapi sering kali perasaann takut menghinggapi diri. Terlebih saat sang adik sudah bertindak sejauh ini.
Tak mungkin tidak akan terjadi apa-apa? Hanya terjeda, tetapi tidak baik-baik saja.
"Hazel."
"Hem."
"Penuhi satu keinginanku."
"Apa itu?"
"Lahirkan lagi satu orang anak untukku."
"Hah?"
***
*PTSD-post traumatic stress disorder (gangguan stres pascatrauma)