
Ardan menyusuli langkah istrinya menuju kamar Surya, menjatuhkan badannya di sebelah putra Hazel yang sedang tertidur pulas itu. Saat hidungnya menyentuh kulit wajah Surya, mata pria itu langsung melirik ke arah Hazel.
Tak lama punggung tangan mendarat di pipi bocah lelaki tersebut.
“Badan Surya menghangat, Hazel,” ucapnya lembut.
Seketika Hazel memalingkan wajahnya, mendekati dua lelaki yang sedang berbaring di atas kasur. Ikut mengecek suhu badan putranya tersebut.
“Iya, Mas. Apa Surya demam? Tapi, tadi pagi dia masih baik-baik saja.”
Ardan mengangkat tubuh mungil itu, terlihat pergerakannya yang enggan untuk diangkat oleh lengan kekar itu.
Mata elang itu melirik tajam. Memperhatikan gelagat istrinya yang mulai ketakutan. Pasti ada sesuatu yang wanita itu sadari, dan ia tak ingin Ardan tahu. Satu-satunya hal itu adalah;
“Bagaimana laporan tentang operasinya tahun lalu? Apa yang Pedro katakan?” tanya Ardan sinis.
“Em-em-itu, Mas. Itu—“
“Itu apa?” tanya Ardan lagi.
Hazel menundukkan pandangannya, tak sanggup melihat mata Ardan yang begitu sinis memandanginya. Terus terang dia merasa terintimidasi oleh tatapan itu. Walau sudah lama menikah, pandangan itu mampu membuat kerongkongannya mengering. Pelan, wanita itu mengigit bibir bawahnya.
“Apa, Hazel?” tekan Ardan ketus.
Wanita itu terus meremat kedua jemarinya, tak bisa mengatakan dengan jelas.
“Hazel!” teriak Ardan ketus.
Wanita itu memejamkan matanya, satu buliran luruh melintasi pipi putihnya. Bibirnya bergetar, takut untuk mengakui kebenarannya.
“Mas, Mas jangan marah,” pinta Hazel lemah.
“Aku bukan orang yang suka bertele-tele. Katakan kenapa kamu menangis?”
“Surya—“
“Ada apa dengan, Surya?”
“Aku belum melakukan pemeriksaan ulang, Mas.” Wanita itu berhambur kepelukan Ardan, mencoba meredam amarah suaminya tersebut.
Ardan mendesah panjang, menarik bahu wanita itu agar bisa menatap wajahnya.
“Kenapa kamu gak bawa dia kerumah sakit?” tanya Ardan kembali melunak.
“Aku takut, Mas.”
“Takut kenapa?”
“Takut, takut—“ Wanita itu menatap Ardan, menjatuhkan kembali air dari matanya.
“Kan aku udah bilang, minta temeni aku kalau kamu gak berani pergi sendiri,” ucap Ardan geram.
Hazel tertunduk, sesekali punggung tangan menghapus dagu.
“Aku gak mungkin bebani Mas lagi. Bahkan urusan perusahaan saja Mas kewalahan. Bagaimana mungkin aku menambah bebanmu lagi, Mas?”
Ardan menghela napas panjang, tangan kekarnya mengusap wajah kasar. Detik kemudian ia menangkupkan tangan di kedua pipi wanita berdarah Turki tersebut. Menautkan bola matanya ke dalam netra berwarna madu di depannya.
“Hazel, sudah berapa kali aku katakan padamu, untukmu dan keluarga kita, gak ada hal yang lebih penting dari urusan kalian berdua. Tak peduli segenting apa urusan luar, kalian berdua lebih penting buatku, Hazel.”
“Lalu, kalau sudah seperti ini? Apa kamu tidak lebih takut?” tanya Ardan lembut.
Tak mampu lagi menjawab, wanita itu hanya mengeratkan dekapannya. Bagaimana mungkin dia tidak lebih takut. Sama seperti namanya, Surya adalah cahaya di dalam gelap dunianya selama ini. Sebelum Ardan datang dan membawa cahaya yang lain, Surya adalah satu-satunya penerangan di kelamnya masa lalu.
***
Berulang kali punggung tangan itu membasuh pipi, jemarinya meremat ujung baju yang dikenakan. Mata terus memandang pada ruangan bertuliskan rotgent di pintu masuk. Tak membuang waktu lagi, Ardan membawa Surya ke rumah sakit tempat biasa ia dirawat. Sayang Dokter yang biasa membantunya juga tidak ada di tempat.
Ardan meraih tangan mungil itu, seketika pandangan Hazel berpaling. Runtuh sebuah embun tanda ketulusan kasih sayang. Satu jari kekar itu menyambutnya, menghapus air yang terus luruh dari dua mata indah tersebut.
“Tenanglah, tak akan terjadi apa-apa. Ada aku, apa yang bisa terjadi?” tanya Ardan menghibur.
Hazel menarik napasnya, mengelus perut buncitnya yang semakin menyesakkan napas. Terlebih saat kram atau kontraksi, manja, nyawa di dalam sini tahu benar. Jika saat ini ayahnya selalu ada dan perhatian terhadap kesehatannya.
Sering sekali kram dan kontraksi, padahal hamil Surya dulu, bahkan Hazel masih sanggup bertahan sendiri jauh dari suami.
Ardan ikut meletakan tangannya di atas perut Hazel, mengelusnya lembut, merasakan detak jantung buah hatinya di dalam sana.
“Kram lagi?” tanyanya lembut.
Hazel hanya menganggukkan kepala, detik kemudian ia menjatuhkannya ke atas bahu Ardan.
"Jangan banyak pikirkan hal yang bukan-bukan lagi, Hazel. Kasihan anakmu yang di dalam sini. Dia ikut stres bersamamu juga, kan?"
Wanita itu hanya terdiam, tangannya terus membasuh wajah yang basah.
Ardan menjatuhkan kepalanya di atas kepala istrinya itu. Sadar, kalau Hazel mengetahui hal buruk yang akan terulang pada putranya tersebut.
“Dokter Pedro pernah bilang, kalau kasus skoliosis bawaan Surya butuh rangkaian panjang perawatan, Mas. Terlebih, kemungkinan untuk operasi kedua itu ada, bedah fusi spinal, agar tulang Surya bisa terus tumbuh dengan normal. Aku takut, Mas.” Deras, air mata itu kembali mengaliri pipi.
“Kalau memang harus operasi lagi, kita turuti saja. Untuk kebaikan putramu, semua harus kita coba, bukan?” kata Ardan menenangkan.
“Tapi bagaiamana dengan perusahaanmu, Mas? Bukankah itu juga butuh banyak biaya?”
"Tak ada hubungannya dengan perusahaan, Hazel."
"Jangan bohong, aku tau kamu juga banyak ngabisin tabungan untuk menutupi modal, bukan?"
Seketika Ardan mengangkat kepalanya, melihat wajah kuyu itu.
"Dari mana kamu tahu?"
"Hem, aku kemarin gak sengaja lihat ponsel kamu setelah Mas transfer uang. Cuma terkejut aja, lihat saldonya berkurang setengah lebih."
Sejenak Ardan terdiam, lalu bibir itu ditarik ke atas. Mambentuk sebuah senyuman keteduhan. Tangannya meraih puncak kepala Hazel lembut.
“Jangan khawatir. Kamu lupa aku ini CEO, kalau hanya itu saja. Mana ada pengaruhnya sama sekali padaku.”
Hazel ikut tersenyum, tangannya kembali menghapus pipi.
“Dasar sombong!” umpatnya kesal.
Lelaki itu hanya tersenyum, bibir bisa berucap, namun hati tak bisa dibohongi. Saat ini, pikirannya bercabang entah ke mana. Bahkan kalau bisa terbelit, sarafnya sudah saling menyatukan diri.
Perusahaan dan Surya, lalu Arfan dan juga Gerald yang terus mendesak. Mana yang lebih dulu harus diselesaikan?
Ardan menghela napas panjang, memeluk tubuh Hazel dengan sangat erat. Saat ini, hanya pelukan wanita itu yang bisa menenangkan. Setidaknya, masih ada pundak untuk bisa terus dia peluk. Ada kekuatan yang tersalurkan dari sini. Cinta dan harapan, dua hal yang selalu membangkitkan semangat juangnya.