For My Family

For My Family
173



Sepasang mata elang itu memerhatikan halaman perusahaan. Lalu tak lama mobil hitam milik sahabatnya memasuki perkarangan.


Saat Ferdi turun, matanya langsung bertemu dengan tubuh sahabatnya tersebut. Ardan tersenyum, namun dia menyadari jika lelaki itu tidak baik-baik saja.


Lelaki berkacamata itu berjalan memasuki gedung. Membuka pintu kaca ruangan Ardan, dan tangan itu tengah menghapus pipinya.


"Ada apa, Ardan?" tanya Ferdi cemas.


Lelaki berkulit sawo matang itu menghela napas. Membenamkan kedua tangannya di dalam saku celana.


"Nothing," kata Ardan seraya menatapi langit sore ini.


"Tidak ada yang baik-baik saja saat lara menyapa," sahut Ferdi, dan bibir lelaki itu tersenyum miring.


"Namun mengapa? Tetap ada seulas senyum yang menghiasi meski hati sedang tersakiti?"


"Maksudnya?"


"Senyum itu masih sama, tetapi bahagianya menghilang untuk beberapa masa. Dan kini, dia bisa selepas seperti sebelum mengenal luka."


"Ardan, apa yang ingin kamu katakan sebenarnya?"


Lelaki itu memaling, menatap Ferdi dengan lekat dan dalam.


"Wajah itu pernah kehilangan cerianya. Masih bisa senyum, walau tak selepas dulu."


Ferdi terkekeh, ia ikut membenamkan tangannya di saku celana. Ikut memandang langit yang sama.


"Kadang romantisme yang kau miliki membuatku geli, aku pernah berpikir, mengapa dulu kau tak rela Arsy dengank? Apakah cinta itu .... " Ferdi melirik dan tawa Ardan pecah.


"Kata siapa aku tak rela? Kala itu keadaan berbeda."


"I know," sahut Ferdi lembut.


"Kadang luka itu harus bertahan, Ardan. Biar hati yang rapuh, akan menemukan kekuatan yang baru. Itu, dari luka yang tak pernah sembuh."


Ardan memejamkan matanya, bibirnya tersenyum tipis. Lantas kepalanya menggeleng pelan.


"Kau salah, Ferdi. Memang terkadang ada rasa sakit yang bercampur bahagia. Namun yang namanya cinta, dia butuh tuan untuk menyemainya. Harus ada dua hati, dua detak jantung dan dua asa yang hidup. Cinta tanpa hati, dia akan mati."


"Tetapi tidak ada yang mati walaupun raga telah pergi."


Ardan menarik napasnya. "Bukan hanya kau, aku dan yang lainnya juga tidak rela Arsy pergi. Bahkan Mama sampai seperti itu, kadang aku rindu suasana itu. Saat aku melihat lesung pipi Hazel, kuyakin mama akan berpikir itu adalah Arsy. Dan aku berharap banyak dari itu."


Mata di balik kacamata itu menatap Ardan sekilas. Lalu kembali ke bentangan langit luas. Mega putih senantiasa menghiasi langit cerah, namun tak selamanya cinta bisa menyembuhkan luka.


"Aku berharap mama sembuh saat melihat Hazel. Tapi istriku tak nyaman di sana. Dan Gerald benar, Arsy tak akan pernah bisa diganti. Dia marah saat Hazel menggantikan Arsy di hati mama. Hazel bilang Gerald hanya ingin menjaga apa yang Arsy tinggalkan, aku tak percaya. Kini pun, aku merasakan hal yang sama."


Ferdi memutar badannya, melihat wajah Ardan yang memejam.


"Jujur aku juga ingin kau bahagia. Sangat ingin Ferdi, tetapi saat kau menemukan wanita yang sama seperti Arsy, ada perasaan tak rela. Aku takut bayangan Arsy akan terganti. Jika dulu aku bisa melihat cintanya dari tatapan matamu, aku takut sepasang mata itu berganti, dan tak kutemukan lagi adikku di dalamnya."


"Untuk itu, aku tak ingin Arsy terganti. Dan aku tak yakin jika Sasy tak memiliki sifat yang sama dengan Arsy, apakah aku bisa mencintainya?"


"Tentu saja bisa. Karena yang telah tiada tidak akan pernah musnah walaupun kamu menjalani hidup dengan yang lainnya."


"Ardan, sebenarnya kau ini mau aku bagaimana?" tanya Ferdi sedikit kesal.


Ardan terkekeh. "Kau masih hidup, Ferdi. Life must goes on."


"Memang aku hidup, yang bilang aku mati siapa?"


"Jiwamu mati, hatimu mati. Dan kini mulai hidup saat kamu bertemu belia itu."


Lelaki berkacamata itu hanya diam, tak salah yang Ardan bilang, hari-harinya yang kaku lebih banyak warna setelah dia bertemu dengan Sasy.


Kadang memang buat kesal, terlebih dengan sifat usilnya. Namun, melihat gadis itu terluka dia sesak. Ingin melindungi dan ingin belia itu tidak tersakiti.


"Bahagia itu dibuat, Ferdi. Bukan hanya dinanti. Saat ini dia sudah ada di depanmu. Kapan lagi kamu akan mengerti? Cinta itu butuh mata untuk melihatnya, buka matamu dan lihatlah. Jangan terus sembunyi di balik masa lalu."


"Aku takut, Dan. Bagaimana jika dia hanya sebagai pengganti?"


"Pengganti di awal. Perlahan bayangan Arsy akan memudar seiring sifat aslinya yang kau temukan. Percayalah, persaingan itu ketat, Kawan. Apalagi dia cukup cantik, kalau kau lengah. Maka ... wuuuush." Ardan memainkan satu tangannya di depan Ferdi.


"Dia menjadi milik orang lain. Dan kau ... merana lagi sampai tua. Dan! Tak ada lagi menunggu Yena."


Ferdi terkekeh, ia menepuk bahu Ardan. "Hei, bahkan sahabat Rasulullah saja bisa menjadi menantunya, mengapa aku tidak bisa?"


"Aku bukan Rasulullah, dan masa depan Yena, harus cerah. Bagaimana bisa masa depannya cerah jika suaminya saja sudah tua?"


"Ayolah, Ardan! Tidak bisa menjadi adikmu, menjadi mantumu saja aku rela."


"No! No! Pergilah! Aku ingin kerja." Ardan menolak bahu lelaki itu, kali ini Ferdi tidak mau keluar.


Bisa membalas godaan Ardan, rasanya kemenangan yang luar biasa.


"Ayolah, dan sepertinya anakmu jauh lebih cantik dari adikmu. Jelas, ibunya keturunan Turki."


"Ck ... Ferdi. Bibirmu itu bahaya, aku tak sudi kau menjadi mantuku!"


Ferdi terkekeh ia mencolek-colek lengan Ardan dan lelaki itu mulai gerah.


***


"Pagi, Hazel," sapa Arfi sesaat setelah Hazel membuka pintu rumahnya.


"Pagi, Arfi. Kamu mau numpang sarapan pagi?"


"Yups, Kakak iparku pintar sekali." Arfi masuk dengan tangan yang mengacak puncak kepala Hazel.


"Hei! Jauhkan tanganmu dari kepala istriku!" teriak Ardan ketus.


"Hanya kepalanya saja yang kusentuh kau sudah bising, Ardan." Lelaki berkaus ketat itu berjalan menghampiri Ardan yang tengah menggendong putrinya.


"Berikan padaku, aku rindu gadis cantik ini." Satu tangan Arfi menarik Yena dari dekapan tangan Ardan. Bermain-main dengan bayi mungil itu sampai langkah kaki mengalihkan perhatiannya.


Sedikit tergesa, Nigar berlari menuruni anak tangga.


"Hazel, maaf aku harus pergi dan tidak bisa membantumu."


"Kamu mau ke mana, Nigar?"


"Aku harus ke kontrakan, pemiliknya menelepon katanya kontrakan dibobol orang."


Satu tangan Ardan menyilang di depan dada. Menatap Arfi tajam. Lelaki berambut pirang itu membuang wajahnya, bersiul-siul tak jelas.


"Kontrakan Nigar kecil, Kak. Bahkan lebih kecil dari kamar mandiku di ibu kota. Aku bernapas saja susah, aku bersin palfonnya runtuh."


"Alasan! Lihat sekarang dibobol orang, kan. Kau ini, dasar!" Satu tangan Ardan menoyor kepala bungsu Erlangga itu.


"Lagian villa Erlangga juga kosong. Tega sekali kau menyiksaku, Ardan," lirih Arfi menyedihkan.


Satu bibir Ardan memiring, kesal melihat ulah sang adik.


"Ya sudahlah, Pak. Aku harus pergi sekarang, Hazel aku pergi, ya."


Gadis berhijab itu memeluk badan Hazel, lalu berlari menuju pintu. Secepatnya Arfi memberikan Yena kembali, lantas mengejar langkah Nigar.


"Nigar," panggilnya lembut.


Gadis itu hanya menoleh, sedikit tergesa ia berjalan ke luar.


"Biar aku antar, ya. Bagaimana juga itu salahku yang meninggalkan kontrakanmu."


"Terima kasih." Gadis itu tersenyum lebar. Kebetulan ada hal yang ingin dia katakan pada Arfi.


Mungkin apa yang Nara katakan memang benar. Jika saat ini dia telah menzalimi keduanya.


***


Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar ucapan sang pemilik kontrakan. Tidak ada yang hilang, hanya pintu rumah yang rusak.


Memang tidak ada apa pun di dalam rumah sederhana itu. Mengapa rumah itu sampai mengundang pencuri, karena sering kali Mclarent oranye itu terparkir di sana.


Gadis itu menangkupkan tangannya di depan dada. Berpamitan pulang dan kembali menemui Arfi yang sudah menunggunya di dalam mobil.


"Sudah?"


"Ya. Hanya pintu yang rusak dan aku sudah mengganti rugi untuknya."


"Apa ada yang hilang?" tanya Arfi.


"Tidak ada apa pun di sana. Apanya yang mau hilang? Tidak ada yang berharga. Pencuri itu mengira banyak barang berharga karena mobilmu sering parkir di sini, Arfi."


"Tapi bagiku di rumah itu ada yang sangat berharga. Apa tidak hilang?" tanya Arfi.


"Apa? Mungkin saja ibu kontrakan tidak mengetahuinya. Aku akan bertanya." Gadis itu ingin turun, namun lengannya tercekal.


"Bayanganmu."


"Hah?" tanya Nigar tak mengerti.


"Saat pertama kali masuk di kamar itu. Bayanganmu sangat berharga buatku, Nigar. Harum shampo, sabun dan handbodymu tercium olehku. Dan perlahan memudar karena aromaku, karena itu aku tidak tinggal lagi di sana. Karena hanya bayang-bayang yang bisa kupeluk saat aku rindu."


Kepala gadis itu tertunduk, bibir ranumnya tersenyum. Hatinya kembali menghangat, dan kuncup yang telah layu, perlahan mulai menumbuhkan benih baru.


"Aku hanya bisa mendatangi kamarmu. Memeluk bantalmu dan kembali merasakan hangat dirimu. Karena saat ini, hatimu tak jelas arahnya ke mana."


"Arfi, maaf. Aku telah menzalimimu dan Pak Ferdi."


Arfi menggeleng, dia menarik tuas mobil dan menjalankan perlahan.


Benci jika harus mendengar nama Ferdi tersebut oleh bibir itu. Raut wajahnya berubah, lelah. Ia mulai kelelahan menunggu.


"Arfi."


"Setelah ini kamu mau ke mana?"


"Ke kantor."


"Baiklah."


Lelaki itu memutar kemudi mobilnya, melaju dengan kencang. Melihat pias wajah Arfi yang memadam, membuat niat Nigar untuk berbicara urung begitu saja.


Sampai Arfi memijak pedal rem dan membuat badan Nigar sedikit terhuyung ke depan.


"Pas sekali." Bibir lelaki itu langsung terkembang lebar.


Tanpa menoleh ke arah Nigar dia membuka seatbelt dan menemui Sasy yang duduk di halte bus.


Begitu melihat badan Arfi, gadis itu ingin pergi. Satu tangan Arfi menarik kucir kuda milik Sasy. Gadis belia itu mengaduh.


Tangan kecilnya bergerak ingin memukul Arfi. Lelaki itu mengelak, dan itu semakin membuat Sasy berteriak kesakitan.


"Ish, Om! Ini sakit banget! Allahuakbar!" teriak Sasy ketus.


Arfi terkekeh, ia lepaskan tarikan tangannya, lantas menoyor kepala belia itu.


Satu tangannya merangkul bahu gadis belia itu. Lalu dia mendekatkan kepalanya pada Sasy.


"Hei, katakan padaku. Apa kau sudah pacaran dengan Kak Ferdi?" tanya Arfi.


Bibir Sasy memanyun, lalu kepalanya menggeleng. Tangan Arfi kembali menoyor kepala Sasy.


"Bodoh! Apa saja kerjaanmu selama ini?"


Belia itu menendang betis Arfu, kuat dan geram. Bungsu Erlangga itu mengaduh, sedikit berjingkit karena kesakitan.


"Ish, Om pikir Kak Ferdi itu apa? Walaupun aku suka, kalo Kak Ferdinya gak suka, aku bisa apa?" Sasy mengacakkan tangan di pingging, kepalanya condong ke arah Arfi. Menantang.


Mata Arfi melirik, lalu satu tangannya menarik dagu gadis itu.


"Hei, ini tanda apa? Ha? Bohong jika kau tidak pacaran dengan tanda begini?" tanya Arfi melihat bekas kissmark itu.


Sasy melepaskan pegangan tangan Arfi, menutupi bekas ciuman itu.


"Ah, dasar gadis nakal. Apa kau menjebak Kak Ferdi?" Satu jari Arfi kembali menoyor kepala Sasy.


Gadis belia itu geram, ia memukul, menendang dan melakukan apa saja untuk bisa melukai Arfi.


Lelaki berambut pirang itu terbahak, tidak tahu jika ada yang tengah menahan sesak.


Gadis bermata indah itu membuang wajah, satu air melintasi pipinya. Melihat Arfi yang sangat akrab dengan Sasy membuat dadanya bergemeruh.


Berulang kali ia beristigfar dalam hati. Menghapus buliran yang terus membanjiri pipinya.


"Arfi, setiap kali aku ingin menyerahkan hati ini. Lagi, kamu membuatnya sakit tak terperih."