For My Family

For My Family
88



Ardan menghela napas panjang, matanya terus tertuju pada wanita buncit yang sedang menyuapi putra semata wayangnya di kursi taman.


Putranya bermain sendiri, wanita itu hanya duduk termangu dengan mata yang terus mengembunkan air.


Lamunannya tersadar ketika setetes air mengaliri pipinya, di sambut punggung tangan lalu menyuapi anaknya. Setelah itu, dia kembali melamun, kosong memandang ke depan.


Bingung harus bersikap bagaimana? Mana mungkin dia tega meninggalkan istrinya dalam keadaan begitu.


Ardan berjalan mendekati Hazel, saat melihat lelaki itu datang, cepat wanita itu mengusap pipi, menyembunyikan wajah kuyuh yang senantiasa dibasahi air itu.


Ardan mengelus pucuk kepala putra Hazel, lalu ia mencium puncak kepalanya lembut.


"Anak Papa main apa?" Kini tangan lelaki itu mengangkat tubuh putranya, menggendongnya di salah satu lengan kekar miliknya.


Bocah kecil itu menggeliat, memaksa turun. Baginya tangan Ardan menganggu kegiatan bermainnya.


"Aku berangkat ke kantor, ya," pamitnya pada wanita yang masih melamun di atas kursi.


Hazel memalingkan matanya, bibirnya mengembangkan sebuah senyuman. Sayang, jiwanya terlanjur terluka, bahkan tak ada keindahan dari lengkungan yang selalu Ardan sukai itu.


"Aku mau ke kantor, tidak akan kembali ke ibukota hari ini. Jangan sedih, aku baik-baik saja."


Hazel hanya mengangguk, ia membereskan piring makan Surya dan berlalu meninggalkan dua lelaki itu.


Ardan mendesah panjang, matanya hanya memandangi pungung yang semakin mengecil, lalu menghilang ke dalam rumah.


"Egoku selalu kalah padanya, tapi kenapa? Dia tidak bisa mengalah sedikit saja?" decak Ardan geram sendiri.


Lelaki itu mengacak rambut, menurunkan Surya dari atas gendongan. Bocah itu kembali asyik pada mainannya, lantas Ardan tersadar. Tak ada siapa pun yang menjaga Surya jika ia tinggalkan bocah ini begitu saja.


Ardan kembali menghela napas, sebenarnya kenapa bisa menjadi seperti ini?


***


"Aku gak mau tahu. Apa pun caranya, aku mau Nana out dari kantor ini!" bentak Ardan saat berjalan bersisian dengan Ferdi memasuki ruangannya.


"Gak bisa terlalu tergesa, Dan. Kita harus cari pengganti Nana dulu. Kalau tidak jadwalku bisa berantakan," bantah Ferdi ketus.


Ardan menjatuhkan bokongnya di atas kursi, tangannya sibuk menghidupkan laptop. Foto pernikahan dia dan Hazel yang muncul pertama kali saat layar desktop itu hidup.


Sebuah desiran terasa berbeda, mengingat bagaimana dia membentak Hazel tadi pagi. Ada rasa bersalah, namun, ego membenarkan prasangka.


Sesekali Hazel yang harus mengerti, ada hal lain yang harus dia perhatikan. Bukan hanya lukanya saja, tetapi juga kesusahan suaminya saat ini.


Ardan mengacak rambutnya, ia kembali menutup laptop dengan kasar.


"Kamu kenapa?" tanya Ferdi saat mendengar benturan sebuah benda.


"Tadi pagi, aku membentak Hazel. Aku merasa bersalah, tapi dia juga pantas mendapatkannya, bukan?"


"Memangnya dia melakukan apa?" tanya Ferdi seraya membuka setiap map yang berada di atas meja Ardan.


"Tidak berbuat apa-apa. Hanya sedikit rewel dan melarangku kembali ke ibukota."


"Kalau seandainya kamu pergi ke ibukota juga masih macet. Pagi tadi aku gak sengaja dengar berita, ada kecelakaan beruntun di jalan lintas Km 11."


Seketika badan Ardan menegak, menumpuhkan kedua tangannya di atas meja.


"Kapan?" tanyanya mulai penasaran.


Ferdi menumpuhkan bokongnya di atas meja, memutar bola mata sembari mengingat.


"Sekitar jam tujuh pagi."


Ardan bergeming, mungkin alasan kenapa wanita itu melarang juga karena ini. Insting seorang wanita, terkadang memang sangat menganggumkan.


"Entah nahas atau memang sudah jalan Tuhan. Ada sebuah truk yang gandengannya terlepas, beberapa mobil di belakangnya tertimpah. Korbannya lumayan banyak, dan sebagian meninggal di tempat," jelas Ferdi lebih rinci.


Ardan masih diam, kerongkongannya terasa mengering tiba-tiba.


"Mungkin jika Hazel tak melarangnya, aku salah satu korbannya."


Ferdi menutup mapnya, ia memalingkan wajah ke arah Ardan yang ada di sebelahnya.


"Maksudnya?" tanya Ferdi tak mengerti.


"Seperti biasa, terlalu malas jika terjebak macet. Aku selalu pergi ke ibukota pukul 6 pagi. Jalan lintas Km 11, bukankah jarak tempuh sejam dari sini?" tanya Ardan tegang. Baru kali ini ia mengalami hal seaneh itu.


Ferdi hanya tersenyum, kepalanya menggeleng dengan pelan. Kembali sibuk dengan map-map yang ada di atas meja Ardan.


"Pernah dengar kalau kita akan kualat jika tidak mendengarkan perkataan orangtua?"


Ardan mengangguk.


"Kalau kita sudah memiliki istri, bisa jadi insting seorang istri sama tajamnya dengan seorang ibu."


"Masa?" tanya Ardan tak percaya.


Ferdi mengangguk dengan cepat. "Sampai sekarang aku bahkan masih sering kualat kalau tidak mendengarkan ucapan Nyonya Zainab. Kadang beliau itu ...." Ferdi terkekeh. "Buat rindu," sambungnya geli.


Ardan ikut tersenyum. "Makanya nikah, jadi ada yang dirindui selain ibu."


"Maunya sih, tapi masih belum nemu."


Ardan memainkan kedua alis matanya, memberikan kode ke arah depan.


Lelaki berkacamata mata itu beralih pandang, melihat wanita yang dimaksud oleh Ardan.


Gadis langsing di depan komputernya, terlihat kuyu dan lesu. Matanya membengkak, bahkan sesekali ia masih mengusap wajah dengan tangan.


"Dia punya Dokter Pedro. Kau lupa sama kejadian kemarin?"


Ardan terbahak, ia mengusap wajahnya kasar. Tak habis pikir, dulu lelaki berdarah Spanyol itu berebut Hazel dengannya. Kini berebut Nara dengan sahabatnya.


"Sebenarnya apa ini? Kenapa rumit sekali?" tanya Ardan meledek.


"Maksudmu?" tanya Ferdi tak mengerti.


"Pedro mencoba membuat salah paham antara kau dan Nara. Tetapi Nara tidak ingin seperti itu. Lihat bagaimana reaksinya? Dia bahkan masih menatapmu sebelum pergi. Ferdi kumohon, pekalah sedikit, Teman."


Ferdi terkekeh, ia membenarkan letak kacamata, menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Dia dan Dokter Pedro memang terlihat dekat. Saat kamu pulang ke ibukota, aku melihatnya, Dan. Dia dan Dokter itu sering berbicara," elak Ferdi.


"Benarkah?" Ardan mengelus dagunya, seakan berpikir. Tak mungkin matanya salah menangkap gerak-gerik wanita.


Seorang wanita berhijab mengetuk pintu kaca itu. Wanita berwajah cantik khas Timur Tengah itu tersenyum. Dengan sebuah map di tangan ia mendekati dua lelaki dewasa di depan.


"Saya sudah merapikan konsep penjualan, Pak. Silahkan anda periksa." Dia meletakan map itu di atas meja. Sigap, tangan Ardan membuka dan memeriksanya.


Sementara, gadis berhijab itu masih berdiri. Tak menyadari jika ada mata di balik kaca yang memperhatikan dirinya.


Wajahnya, gerakan lentik bulu matanya dan juga senyum yang terkembang di wajah indahnya. Sungguh menarik, menciptakan desiran hangat yang menembus kalbu.


Ada gumpalan yang berdetak lebih cepat, perasaan senang dan juga damai saat mata bisa menatap sebuah wajah.


"Baik!" jawab wanita itu tegas.


Saat ingin berbalik, tanpa sengaja matanya melihat ke arah Ferdi. Bibir ranum itu terkembang lebar, lantas ia mengguk pelan. Detik kemudian ia keluar, meninggalkan ruangan GM itu dan juga sebuah hati yang telah terpaut akan indahnya rasa.


Patrian sebuah nama di dalam hati yang lama menanti. Tak tersentuh tak terganggu, terjaga setiap waktu. Kini, rindu itu telah hadir, menjelajahi kalbu, memupuk kasih, dan menumbuhkan benih, cinta yang hidup di antara dua hati yang masih kosong tak berpenghuni.


"Woy!" teriak Ardan mengejutkan lelaki berkacamata tersebut. Ardan tersenyum dan menggeleng.


"Oh ... Lord. Kacau! Ini apa? Nara saja belum jelas, kamu sudah suka sama gadis lainnya?" tanya Ardan meledek.


Ferdi tersenyum, ia mengusap rambutnya ke belakang.


"Tidak seperti itu, Ardan. Hanya sekadar mengangumi, itu saja."


"Lalu? Semakin lama semakin ingin memiliki? Begitu?"


"Tidak."


"Sudahlah, Ferdi. Jangan terlalu lama. Pilih antara Kinara dan Khadijah, lamar dan nikah. Selesai! Semakin lama kamu mengulurnya, maka akan banyak cobaan dan juga hati yang terpatahkan. Percayalah, menikah itu menyenangkan, Kawan."


Ardan memainkan kedua alis matanya, menggoda Ferdi yang mulai memadam.


Antara malu dan juga malas, lelaki itu hanya tersenyum. Tak menjawab atapun menyangkalnya.


"Aku akan ke ibukota, besok atau lusa. Tolong, urus ini dulu baru pikirkan cinta."


Ferdi menutup map yang ada di genggaman.


"Tunggu, bukannya Hazel melarangmu?"


"Ck ... dia hanya memintaku menundanya, bukan melarangku ke sana."


"Oh ayolah, Ardan. Perusahaan ini lebih butuh perhatianmu dibandingkan kembaranmu itu."


"Pikiranku tak tenang, Fer. Ingin terus terang dan menyelesaikan segalanya dengan cepat." Ardan menarik napas dalam, ia menyandarkan punggung di kursinya.


"Tapi urusan Arfan masih bisa ditunda, Kawan. Seminggu atau sebulan, Arfan masih tetap ada di sana. Tapi perusahaan ini? Telat sedikit saja, kita kehilangan segalanya. Ayolah, Ardan. Aku lebih butuh kamu di sini."


Ardan memejamkan kelopak matanya, memijat pangkal hidung pelan.


"Aku ... bingung."


Ferdi menepuk bahu kekar itu dengan lembut, menarik kursi untuk bisa duduk berdempingan dengan lelaki bermata elang tersebut.


"Jangan pikiri dulu masalah ini. Kamu seperti bukan Ardan. Kali ini kamu mencampurkan yang pribadi dan pekerjaan, ayolah, Dan. Kita selesaikan satu persatu, Arfan akan menunggumu, itu pasti."


Ardan membuka matanya, melirik ke arah Ferdi. Lelaki berhidung mancung itu hanya menganggukkan kepalanya, mencoba meyakinkan temannya itu.


"Baiklah, tapi ada syaratnya."


"Syarat?"


"Iya."


"Apa?"


"Kita tukaran mobil."


Ferdi menjauhkan kursinya dari Ardan. Mengambil map yang dibawa Khadijah tadi.


"No! Aku belum kelebihan uang," jawab Ferdi tegas.


"Hahahaha, kamu masih lajang, bergayalah sedikit, Ferdi. Kedipkan matamu dan takhlukan wanita dengan mobil itu."


"Hidup itu, bergayalah sesuai isi dompetmu, bukan sesuai isi dompet temanmu!"


Ardan terbahak, hal yang membuat ia dan Ferdi menjadi sangat akrab, karena Ferdi yang berteman memang tulus tanpa ada modus. Dia tetap menjadi dirinya, tidak pernah bergaya mengikuti Ardan dan juga Arfan yang terlahir dari keluarga berada.


Pertemanan yang sesunguhnya memang tak melihat dari mana kamu berada. Hanya melihat, seberapa tulus dan seberapa banyak kamu bisa menghargai mereka.


"Ayolah, Ferdi. Kenapa? Mobil itu masih sangat terawat, dia tidak akan rewel."


"Ardan, aku lebih baik belanja stok makanan dibandingkan mengisi bahan bakar mobil sportmu itu."


"Hahahaha, astaga! Kamu terlalu perhitungan, Teman."


"Hitungan itu diperlukan, aku masih punya adik dan orang tua yang harus dinafkahi."


"Bagaimana dengan istri?" tanya Ardan meledek.


Ferdi hanya mendengkus kesal. Tak terlalu peduli pada pertanyaan temannya itu. Mobilnya dan mobil Ardan, jelas terlalu jauh perbedaannya.


Dia hanya memiliki mobil irit bahan bakar yang terbilang biasa, sementara sahabatnya itu. Jangan ditanya, bahkan helikopter pun sanggup dia beli, jika dia mau.


"Aku tak nyaman ke kantor naik mobil itu. Terlalu menarik perhatian."


"Hem, beli baru saja. Apa susahnya?"


Plaaak.


Ardan menepuk keras kepala belakang Ferdi.


"Kamu pikir beli mobil itu seperti beli gorengan? Perusahaan kacau! Kamu pikir berapa banyak modal yang harus kututupi saat ini?"


"Ya jual saja mobil Mclarenmu itu, dari pada cuma dipajang dan dikenakan pajak pertahunnya? Kamu memang benar-benar buang uang, Teman."


"Tidak seperti itu juga. Jika aku jual saat ini, Gerald pasti berpikir bahwa aku kewalahan melawannya."


"Memang itu kenyataannya, kan?"


Ardan mencebik kesal, benci jika harus mengakui kekalahan. Tangannya memainkan benda pipih berukuran 6 inch itu.


"Suruh Arfi saja bawa mobil Fortunermu kembali ke sini."


"Dia juga ada perusahaan yang dia urus, mana mungkin aku merepotkannya lagi."


"Bukannya setiap Sabtu dan Minggu anak itu selalu pergi? Kenapa tak kamu suruh ke sini minggu ini?"


Ardan terdiam, sejenak ia memikirkan saran temannya itu.


"Benar juga. Anak itu selalu mencari kekasihnya yang hilang. Memang kekasihnya ada di sini?"


"Mana aku tahu! Mungkin saja."


"Ada atau enggak itu urusan dia. Yang penting mobilku kembali, benar, tidak?" Ardan menekan sederet angka, memanggil lelaki yang lebih muda di seberang sana.


Sedang Ferdi hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Menatap Khadijah dari balik kaca ruangan GM.


Bibirnya terkembang, saat gadis di sana juga memandanginya. Ada sebuah ungkapan yang tersirat walaupun bibir tak berucap.


Perasaan yang bertemu dalam muara yang sama. Kini mulai mengalirkan sebuah rasa di dalam dada.


Cinta.