
Kinara memandangi bangunan bernuansa krem itu dengan lekat. Ingat jika rumah sakit ini adalah tempat suaminya bekerja.
Sekaligus tempat di mana kesalah pahaman itu bermula.
Gadis berkemeja putih itu menghela napas, tangan meremat tali tas seraya berjalan memasuki gedung itu.
Melewati beberapa koridor dengan pandangan tertunduk. Berharap jika dia dan Pedro tidak lagi berpas-pasan.
Langkahnya terhenti ketika melihat sepasang sepatu berdiri tepat di depannya.
Perlahan ia menaikan pandangan, seorang lelaki berwajah blasteran tersenyum lembut padanya.
"Ada apa pagi-pagi kamu sudah ke sini?" tanyanya lembut.
Nara menghela napas, baru juga berharap agar tak berjumpa. Malah sekarang berhadapan tatap muka.
Memang kalau jodoh mau ke mana saja tetap ketemu.
"Aku mau lihat Mbak Hazel, Dokter," jawabnya pelan.
"Sudah kukatakan, jangan panggil aku Dokter lagi."
"Jadi panggil apa?"
"Yang lain, kan bisa."
"Ya sudah. Aku mau ke tempat Mbak Hazel dulu." Gadis itu berniat ingin pergi. Langkahnya tertahan oleh dada bidang itu lagi.
"Ish ...." Gadis itu menggerutu kesal.
"Sarapan dulu bersamaku," ajaknya lembut.
Bibir itu memanyun, dengan tangan menyentak tali tas yang menyelempang di pundak.
"Ayolah, aku belum ada makan dan juga tidur," ajaknya lagi.
"Bagaimana jika ada petugas yang lihat?" tanya Nara tak suka.
"Memang kenapa? Kamu istriku."
Nara menekuk wajahnya, berulang kali bibirnya mencebik dengan kesal.
"Katakan Anda mau makan apa? Nanti aku bawakan ke ruangan Anda."
Pedro tersenyum, tangannya meraih anak rambut gadisnya itu. Merapikan beberapa helai agar wajah cantik itu terlihat semakin menawan.
"Apa saja, asalkan makan bersamamu rasanya akan lebih nikmat."
"Ish!" Kaki gadis itu menyentak, berbalik, dan berjalan ke arah kafetaria rumah sakit.
Lelaki berdarah Spanyol itu tersenyum, kepalanya menggeleng pelan. Lucu saat melihat ulah gadisnya itu.
***
"Kamu serius?" tanya Ferdi terkejut.
Khadijah mengangguk pelan.
"Alhamdulillah," ucap lelaki itu dengan segala kelegaan.
Bibirnya terkembang dengan lebar, akhirnya rasa itu berlabuh pada sebuah hati yang selama ini dia nanti.
Detik kemudian senyumnya memudar, ia teringat akan keadaan perusahaan dan juga Ardan yang tak mungkin untuk ditinggalkan.
"Ehm, Khadijah," panggilnya lembut.
"Ya."
"Tapi bisakah kamu menunggu sedikit lebih lama. Keadaan perusahaan belum terlalu stabil, terlebih saat ini istri Ardan baru selesai operasi. Kamu lihat sendiri tingkahnya, kan. Aku belum bisa melamarmu ke ibu kota."
Gadis itu tersenyum, lembut wajahnya begitu teduh memancarkan aura kecantikan.
"Tidak apa-apa, Pak. Kapan Anda siap, baru kita akan kembali ke sana. Saya ... juga butuh waktu untuk berbicara dengan Ayah."
Ferdi membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru dan meletakannya di ujung meja.
"Ini, ambillah sebagai tanda keseriusanku. Secepatnya, aku akan meluangkan waktu untuk mengajakmu kembali ke ibu kota."
Gadis berhijab itu menghela napas, menatap kotak itu lekat. Perlahan kakinya berjalan mendekat, tangan lelaki itu membuka kotaknya.
Terlihat sebuah ring berbahan emas putih dengan beberapa ukiran, tak ada berlian atau apa pun. Sederhana namun indah.
Sama seperti sang pemberi. Tak banyak tingkah, cukup indah dengan segala sifat sederhananya.
"Ambillah," ucap Ferdi ketika gadis itu hanya berdiam di depan meja.
Khadijah tersenyum, pelan jari lentiknya menarik cincin itu. Tersenyum lembut seraya membawa cincin itu pergi.
Ferdi memandangi punggung badan itu berlalu. Sampai hilang di balik pintu.
Perlahan senyum lembut di bibir lelaki itu memudar.
"Benarkah kamu menerimaku? Atau kamu hanya mencari punggung untuk berlindung?" lirih lelaki berkacamata itu.
"Khadijah, tak kutemukan bahagia di balik senyuman itu."
***
Kinara membawa dua cangkir capuccino dan satu kantung plastik bubur ayam.
Sedikit kesusahan gadis itu membuka pintu dengan nama dr. Pedrosa Da Villa di pintunya.
Terlihat lelaki berkemeja cokelat muda itu tengah menumpuhkan bokongnya di atas meja.
Dengan sebuah map di tangan, pandangannya fokus menatap kertas-kertas tersebut.
Serius, dengan beberapa helaian yang jatuh menutupi dahinya. Bahkan batang hidungnya terlihat sangat tegas dengan tambahan kacamata tipis yang ia kenakan.
Mata itu berpaling ketika menyadari sebuah langkah mendekat ke arahnya. Bibir tipis itu ditarik, sampai jajaran giginya yang indah terlihat.
"Sudah kembali?" tanyanya seraya menutup berkas di tangan.
"Anda sedang sibuk, ya?" tanya Kinara dengan tangan yang mulai sibuk mengeluarkan kotak bubur.
Pedro menggeleng, mendekati sang istri yang sedang menyiapkan sarapannya.
"Hanya memeriksa beberapa data pasien yang aku tinggali selama cuti."
Gadis itu hanya mengangguk, tak terlalu peduli. Lalu, sebuah sendok plastik tersodor ke depan wajah Pedro.
Kembali bibir itu melengkungkan sebuah senyuman. Ia sedikit membungkuk, menyejajarkan wajah Kinara dari samping.
"Sayang," bisiknya di telingan Kinara.
Seketika gerakan tangan gadis itu terhenti, secepatnya ia memalingkan wajah.
Sebuah kecupan mendarat di bibir lelaki itu. Cepat gadis itu menarik kepala dan menutupi mulutnya. Mau marah, tetapi dia yang mencium.
Akhirnya kepala itu tertunduk, gadis itu mengigit bibir bawahnya. Antara kesal dan tersipu oleh tingkah lelaki tersebut.
"Mau aku suapin?" tanya Pedro seraya mengaduk bubur itu.
Semoga, dari rasa tertarik menjadi cinta yang saling melengkapi. Setidaknya, kali ini ia berusaha belajar mencintai pada tempatnya.
Kinara menggeleng, pelan ia mendongakkan kepalanya. Melihat Pedro yang masih memandanginya sembari menyuap makanan ke dalam mulut.
Sampai sebuah deringan ponsel merusak suasana itu. Jari gadis itu menggeser dengan cepat.
"Di mana kamu?!" teriakan dari seberang sana hampir saja membuat ponsel gadis itu terlempar.
Terkejut oleh bentakan lelaki di seberang sana.
"S-saya ... saya--"
"Apa kamu gagu?!" ketus suara itu kembali bertanya.
Pedro hanya tertawa dengan kepala menggeleng pasrah. Tak perlu ditanya, dari arogannya saja ia tahu betul itu siapa.
"T-tidak, Pak."
"Ke mana kamu? Ha?"
"Saya ... saya baru saja sampai di rumah sakit," jawab Nara, iris itu menatap wajah Pedro yang sedang tersenyum.
"Bagus! Cepatlah, kenapa lama sekali? Apa kamu siput?"
Pedro terbahak, ia menepuk dadanya yang tersangkut makanan. Lucu sekali mendengar Ardan marah.
"Siapa itu? Kamu sebenarnya di mana?"
Pedro memainkan jarinya, meminta sang istri mendekat. Ragu, langkah gadis itu mendekati lelaki blasteran tersebut.
Pedro menarik ponsel Nara, tersenyum dengan gawai di telinga kirinya.
"Hei ... Ardan. Bisakah jangan terlalu pelit dengan waktu? Aku hanya meminta sedikit waktu untuk sarapan bersama istriku?"
"Heh, Pedro--" Sejenak lelaki itu terdiam. "Tunggu dulu! Yang kau panggil istri siapa? Hah?"
"Hazel," jawabnya menggoda.
"Mati kau!" ancam Ardan ketus.
Lelaki itu terbahak, lucu sekali melihat tingkah Ardan yang seperti ini.
"Istriku Kinara, Kinara Anjani."
"Wew, menghilang sama-sama ternyata kalian menikah. Oh ... Lord, aku mencium bau-bau bayi akan segera lahir."
"Sialan! Kami memang menikah diam-diam. Tapi kami tak sebejat itu juga, Ardan," jawab Pedro kesal.
"Halah ... di depan umum saja kau berani menciumnya, apalagi di belakang kami. Pasti yang iya-iya sudah terjadi, kan. Akui sajalah."
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, malu oleh pertanyaan atasannya itu.
"Tidak, Ardan!" kelit Pedro menekan.
"Ah, terserahlah. Ayo kerumahku, kita buat pesta lajang untukmu."
Pedro menaikan sebelah alis matanya. "Tunggu dulu, aku tak ingat kita seakrab itu."
"Siapa yang mau akrab denganmu, ha? Aku buat pesta untuk merayakan berkurangnya satu lelaki yang mendambakan istriku."
Lelaki di seberang sana terbahak, sementara yang di sini menggelengkan kepalanya.
"Sialan emang!" umpat Pedro bercanda.
"Sudahlah, katakan pada istrimu kalau tak mau aku pecat. Jaga istriku, sekarang!"
Seketika panggilan terputus, lelaki berwajah blasteran itu sempat menjauhkan ponselnya saat Ardan berteriak di ujung telepon.
Mereka berdua saling pandang, lalu terkekeh berdua. Pedro memberikan ponselnya kembali. Gadis itu mengulurkan tangan, berniat akan mengambil.
Cepat tangan lelaki itu mencengkeram. Dalam hitungan detik gadis itu sudah berada di dalam dekapan. Pedro menariknya dengan sangat cepat.
Lelaki itu mendesah panjang, lalu sebuah ciuman mendarat di pucuk kepala. Ada rasa yang mulai menjelajahi jiwa.
Hangat, dan juga nyaman. Gadis itu mulai merasakan yang namanya kasih sayang.
"Aku memang belum mencintaimu sepenuhnya, Nara. Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga agar cinta di antara kita akan segera tumbuh. Aku percaya, bahwa pernikahan ini akan berjalan dengan baik. Untuk itu, aku ingin meresmikannya segera mungkin, Kinara."
Pelan, gadis itu melepaskan dekapan Pedro. Mendongak untuk bisa menatap wajah tampan itu.
"Kita bicarakan ini nanti, ya. Sekarang saya harus pergi. Atau gak bisa dipecat nanti."
"Ya sudah. Pergilah."
"Minumlah kopimu, Dokter. Dan ... langsunglah kembali saat jam piket Anda berakhir."
"Baiklah," jawab Pedro lembut.
Gadis itu langsung pergi, meninggalkan ruangan tersebut dengan sedikit berlari. Mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar karena ulah suaminya itu.
Dicium tiba-tiba, dipeluk tiba-tiba. Kenapa? Banyak sekali hal yang tiba-tiba di dalam hidupnya.
Pelan gadis itu menggigit bibir bawahnya, dengan bibir yang terus terkembang. Ia berjalan menuju ruang Hazel.
"Mbak Hazel." Sebuah kepala menyembul dari balik pintu.
Gadis yang sedang terbaring itu tersenyum.
"Kinara, kamu sudah kembali."
Gadis itu berlari kecil, memeluk badan Hazel dengan erat.
"Ya Allah, kangen. Baru ditinggal sebentar udah lahiran aja."
"Hu'um. Gak betah dia lama-lama di perut. Bagus juga sih, gak lama ngandungnya."
Kedua gadis itu terkekeh, perhatian Nara teralih pada box bayi di sebelah ranjang Hazel.
"Ih ... ya ampun, cantik banget anaknya." Geram, jari lentik itu mengusap pipi merah muda bayi cantik tersebut.
"Masih bayi aja hidungnya udah kelihatan ada batang. Ish ... kenapa aku yang sebesar ini belum tumbuh batang, sih?" tanya Nara.
"Gak ada batang juga cantik, kok," balas Hazel.
Gadis itu menyeringai, matanya memandangi bayi yang tengah terpejam itu lekat. Lalu, tangannya mengelus perut ratanya.
Mungkinkah, saat ini ada benih yang sedang berjuang untuk menjadi janin dalam rahimnya. Entah mengapa, rasanya dia juga ingin menjadi mama saat ini.
"Eh ... kamu kok udah di sini pagi-pagi begini?" tanya Hazel lagi.
"Oh, itu, Pak Ardan minta aku jagain Mbak di sini."
Gadis itu tersenyum seraya menggeleng pelan. "Ish ... Mas Ardan itu," ucapnya malas.
"Eh, ngomong-ngomong anaknya mau dikasih nama apa, Mbak?"
Hazel mengernyitkan dahinya, sejenak ia berpikir.
"Belum tau. Kira-kira Mas Ardan mau kasih nama dia siapa, ya?"