
Ardan menyelempangkan tas sampingnya di salah satu bahu. Menuruni anak tangga dengan sedikit berlari.
"Saya mungkin akan pulang malam, jangan tunggu saya untuk makan malam," ucap Ardan sembari melewati Hazel dan mbok Darmi yang sedang meletakan beberapa makanan di atas meja.
"Memang siapa yang mau menunggu anda?" lirih Hazel saat melihat Ardan yang begitu cuek melewatinya, bahkan tidak memalingkan wajah sama sekali.
Mobil hitam itu gesit membelah jalan raya, berhenti di parkiran yang selalu ia datangi setiap hari.
Seorang kasir wanita tersenyum saat melihat lelaki yang memakai kaus tanpa lengan itu melewatinya. Bau maskulin dari parfumenya bahkan masih tercium walaupun si empunya sudah berada entah di mana.
Ardan meletakan tasnya, menarik kedua tangannya tinggi ke atas. Bersiap untuk melakukan pemanasan sebelum memulai kegemarannya itu.
"Hei, Ardan. Masih saja sempat ke sini walaupun lagi sibuk-sibuknya." Tepuk seorang instruktur yang tak lain adalah teman SMAnya itu.
"Macam gak kenal saja?" tanya Ardan tanpa mempedulikan teman yang berdiri di belakangnya itu.
"Tentu tahu, dari SMA memang kamu sudah sangat jatuh cinta pada besi-besi berat ini. Hasilnya? Lihat itu otot tangan dan perutmu. Sungguh indah, Kawan. Sayang, masih bujang hingga sekarang," ucap Teo disambung gelak tawa yang keluar dari bibirnya.
Ardan hanya menggeleng dan kembali pada aktifitasnya. Ia mulai bersiap duduk di atas abdominal bench, mengambil posisi untuk memulai gymnya.
Namun pada turunan pertama badannya, ia melihat sebuah kaki beralas heels tinggi berwarna merah. Perlahan pandangan Ardan menaik, ia menghela napas saat melihat wajah wanita itu.
"Ini tempat gym, bukan papan catwalk, jadi ngapain pakai heels di dalam?" tanya Ardan dingin.
"Aku ke sini bukan untuk gym, tapi--"
"Aku tahu," sanggah Ardan ketus.
Ia bangkit dari atas bench dan berjalan mengambil tasnya.
"Berhentilah mengejarku, Sharon. Sungguh aku muak ditempeli wanita," balas Ardan sengit.
Ardan langsung meninggalkan Sharon begitu saja. Sedang yang ditinggali masih terdiam. Bingung oleh ucapan Ardan, dia ke sini bukan untuk menemui Ardan. Tetapi menemui kakaknya yang tidak lain adalah teman SMA Ardan.
Ardan membanting daun pintu dengan kasar, berlari menaiki anak tangga rumahnya dengan tergesa. Kenapa hidupnya merepotkan sekali seperti ini?"
Ardan menghidupkan shower kamar mandinya, mencoba membasuh badannya yang lebih lelah karena terlalu banyak berolahraga pada pikirannya.
***
Ardan menumpuhkan dagunya di atas telapak tangan, sembari menatapi layar datar di depannya. Ditambah omelan panjang dari wanita beranak dua, yang tak lain sahabat sekaligus iparnya itu.
Memarahi Ardan dalam telepon genggam yang sengaja ia loudspeaker. Membiarkan wanita itu mengoceh sendiri di sana. Memarahi karena telah menolak Sharon untuk menjadi model perusahaannya.
"Ardan! Kamu masih di sana?" teriak Ferla kencang.
"Ya, aku masih di sini," balas Ardan malas.
"Kenapa mulut tajammu itu masih belum berubah, Ardan? Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu pada wanita lembut seperti dia?" tanya wanita beranak dua itu lantang.
Ardan memutar bola matanya, mau tidak mau ia harus mendengarkan ocehan itu. Jika ia tidak mengangkat telepon Ferla, maka semingu lebih ia akan diteror oleh emak beranak dua yang sebentar lagi akan bertambah satu.
"Ardan! Apa kamu mendengarkan?"
"Ya, mendengarkan," jawab Ardan sekali lagi.
"Ardan ... kamu itu, sungguh--" ucap Ferla tertahan amarah.
"Sangat menyebalkan!" Disambung suara putusan dari panggilan itu.
Ardan mengambil ponselnya dan melihat lama durasi pangilan itu.
"Satu jam empat puluh lima menit, hanya untuk memarahiku?" Ardan bertanya sendiri.
"Yang benar saja? Dasar emak beranak dua," sambungnya kesal.
Ardan memijit pangkal hidungnya pelan, entah kenapa? Kepalanya sering berdenyut akhir-akhir ini.
Melihat jam di dinding kamar yang hampir menunjukan pukul sepuluh malam. Ardan turun tanpa menggunakan kausnya, berpikir bahwa mungkin Hazel dan mbok Darmi sudah tertidur.
Begitu sampai di ujung tangga, langkah Ardan terhenti saat melihat wanita muda dengan cepolan rambut cokelatnya sedang memanaskan sesuatu di dapur.
Memperlihatkan leher jenjangnya yang begitu putih dan mulus bersih. Terlihat semakin putih dengan balutan baju tidur berwarna nude.
Ardan menelan salivanya, ia berjalan ke belakang Hazel dan membuka almari kecil yang berada tepat di atas kepala Hazel.
Melihat sebuah tangan kekar terulur di atasnya. Seketika Hazel membalikan badan, tanpa sengaja panci yang ia pegang menempel pada dada bidang tanpa lapisan itu.
Seketika mata Hazel membelalak lebar, mulutnya mengaga besar. Cepat ia meletakan panci itu kembali ke atas kompor. Melihat kulit dada Ardan yang mulai memerah karena terbakar.
Sedang yang terkena panci panas masih melamun memandangi wajah Hazel dari jarak yang sangat dekat.
'Kenapa dia cantik--'
"Apa ini sakit?" tanya Hazel memutuskan gumaman batin Ardan.
"Sekali," jawab Ardan lembut.
Jari putihnya menyentuh kulit sawo matang lelaki itu. Sedang yang di sentuh mulai memerah, malu sendiri.
"Apa ada obat luka bakar di rumah anda?"
"Sepertinya ada."
"Di mana?"
"Di kamar," jawab Ardan langsung.
"Kalau gitu ayo. Saya akan obati luka anda. Maaf ya," ucap Hazel menarik pergelangan tangan Ardan.
Sementara lelaki itu hanya mengangguk, tersenyum lembut mengikuti langkah wanita muda itu.
Hazel membuka pintu kamar Ardan. Untuk pertama kalinya, ia melihat kamar milik suaminya itu.
Persis seperti orangnya, kamarnya juga terlihat begitu elegan dengan nuansa cokelat muda dan lampu yang bersinar terang. Beberapa lukisan terpajang di kamar ini, dan figura berukuran besar yang memajang foto pernikahan mereka berdua.
"Di mana obatnya?" tanya Hazel berusaha memalingkan wajah dari foto figura besar itu.
Ardan membuka laci nakas di samping tempat tidurnya, memberikan salap itu ke tangan istri cantiknya.
Hazel mendudukan Ardan di bibir ranjang, perlahan jari kecilnya mulai memijit badan salap itu, mengeluarkan isinya yang langsung disambut oleh ujung jari lentiknya.
Memoleskan lembut di luka bakar milik suaminya itu.
"Saya hanya ingin mengambil gelas di almari atas."
"Kenapa tidak meminta saya mengambilnya?"
"Saya rasa kamu terlalu pendek, mungkin saja tangan kamu juga sama pendeknya."
Hazel melirik Ardan dan mendecak kesal.
"Ish, memang lisan anda itu, Pak," ucap Hazel malas.
"Kenapa?"
"Bukan apa-apa."
Hazel kembali memijit badan salap itu dan mengeluarkan krimnya sedikit lagi. Telaten memolesi kulit sawo matang milik suaminya itu.
"Sudah begini, bahkan anda juga tidak bereaksi apa-apa, tadi. Apa tidak panas?"
"Panas."
"Jadi kenapa diam saja? Tidak mengatakan auw atau aduh?"
"Auw," balas Ardan menggoda.
Hazel tersenyum lembut dan mencubit kulit dada Ardan. Kadang tingkahnya itu membuat ia malu saja.
Melihat bibir mungil itu melengkung sedikit, kembali membuat Ardan terpesona. Malam ini, bahkan ia banyak bicara.
Tidak bersikap dingin seperti biasanya.
Perlahan jari-jari kekar itu mengambil anak rambut di atas dahi Hazel. Merapikan rambut halus itu agar wajah bulat istrinya semakin terlihat menawan.
Merasakan sentuhan hangat tangan lelaki itu, Hazel mendongakan kepalanya, memandang wajah Ardan dengan bola matanya.
Untuk pertama kali, Ardan melihat Hazel dari jarak sedekat ini. Bulat bola matanya yang berwarna madu itu terlihat jelas. Bulu mata yang begitu lentik dan panjang, batang hidungnya yang begitu ramping dan mancung.
Perlahan tangan Ardan berpindah menyentuh belakang kepala Hazel. Memasukan jemarinya ke dalam helaian lebat berwarna cokelat itu. Menarik wajah Hazel untuk mendekat perlahan.
Buruan napas Ardan mulai terdengar di telinga wanita itu. Bahkan suara telanan saliva lelaki itu bisa terdengar nyaring di telinga Hazel.
"Hazel, habiskan malam ini. Bersama saya, di sini."
Suara berat lelaki itu terdengar semakin berat.
Hazel mengangguk pelan, perlahan matanya mulai sayu, antara ingin dan tidak untuk melakukannya.
Ardan tersenyum lembut, ia menggeser duduknya menjadi lebih dekat. Menarik pinggang ramping Hazel dan mendekapnya erat.
Perlahan Ardan menyentuh bibir Hazel pelan, mensesapnya dengan lembut.
Hazel memejamkan matanya, menjatuhkan satu air dari kelopak matanya.
Ardan melepaskan ciumannya, saat satu air hangat menetesi kulitnya. Ia mengangkat dagu Hazel, melihat wanita yang masih memejamkan matanya itu.
"Kamu belum siap?" tanya Ardan lembut.
"Kenapa berhenti? Ayo lanjutkan saja," jawab Hazel tanpa membuka matanya.
"Hazel, buka matamu dan lihatlah saya!" perintah Ardan sedikit menekan.
Hazel membuka matanya, kembali satu bening air melintasi pipi mulusnya.
"Katakan jika kamu memang belum siap. Saya tidak akan memaksamu untuk tinggal di sini."
"Tidak, ayo lakukan malam ini. Saya akan menahannya untuk anda."
"Menahannya?" tanya Ardan sinis.
Ardan menggelengkan kepala dan menjauh dari Hazel.
"Keluarlah, tidur bersama putramu saja."
"Tidak, Pak. Ayo kita lakukan saja. Lebih cepat saya hamil maka akan lebih baik," bujuk Hazel lembut.
"Kenapa? Agar kamu bisa lebih cepat meninggalkan saya? Iya?" tanya Ardan ketus.
"Bukankah, anda menikahi saya hanya karena itu?"
Ardan menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis.
"Kalau kamu ingin pergi, maka jangan tunggu lagi. Pergilah saat ini juga, saya melepaskanmu dari perjanjian itu. Saya tidak memintamu membayar apapun atas apa yang saya berikan untukmu, ambil saja semua," ucap Ardan beralih memandang ke arah luar jendela.
"Saya sudah berjanji, saya tidak akan pergi sebelum hutang di antara kita lunas."
"Kamu ingin pergi, kan? Maka pergilah sekarang. Untuk apa menunggu nanti dan membuat saya semakin--" Ardan mengantungkan kalimatnya dan kembali membuang pandangan ke sisi kosong ruangan.
Sesaat suasana menjadi hening, hanya kehampaan yang hadir ke dalam pikiran masing-masing.
Perlahan Hazel mendekati lelaki yang sedang bertelanjang dada itu. Menarik lengan kekarnya dan membalik badan Ardan untuk menatapnya.
"Saya punya hutang dengan anda. Saya sudah berjanji untuk membayarnya dengan memberikan anak ke anda. Maka ambillah bayarannya baru usir saya keluar."
"Tidak perlu, saya tidak ingin kamu menahannya. Jika memang mau melakukannya, maka jangan ditahan!" bentak Ardan keras.
Hazel menundukan pandangan matanya, ia melepaskan pegangan tangannya pada lengan Ardan.
"Baiklah jika anda tidak mau malam ini. Saya bisa menunggu sedikit lebih lama lagi."
Hazel membalikan badannya dan berjalan menjauh dari Ardan. Tangan kekar itu sigap menarik pergelangan tangan Hazel. Memutar badan Hazel dan mendekapnya erat.
"Saya tidak ingin anak dari kamu lagi, Hazel."
"Lalu?" tanya Hazel bingung.
Ardan menangkupkan kedua tangannya ke wajah Hazel. Menatap binar cokelat mata wanita itu lekat.
"Jangan berikan anak pada saya, sebelum kamu bisa memberikan hatimu pada saya."
"Hah?"