For My Family

For My Family
69



"Nona, ini biar Bibi saja yang beresin. Nona kalau mau jalan-jalan silahkan," pinta wanita paruh baya selain yang dipanggil Bi Indri oleh Ardan.


"Gak apa-apa, hanya beresin ini saya juga bisa, kok."


"Gak usah, Nona. Nona itu istri Mas Ardan. Masa saya biarin Nona kerja, mana mungkin."


"Kenapa? Kan sebagai seorang istri memang ini tanggung jawab saya."


"Tetapi, Mas Ardan itu calon CEO, Nona. Nanti saya bisa dipecat kalau sampai membiarkan Nona kerjain ini semua."


Mendengar penuturan wanita paruh baya itu membuat gerakan tangan Hazel terhenti. Bagaimana dia lupa, bahwa Ardan adalah lelaki yang paling diandalkan keluarga ini.


"Bi Das, Mama sudah sarapan?" Pertanyaan dari wanita yang baru datang itu membuat Hazel memalingkan wajah.


Terlihat wanita cantik dengan dress biru tua berjalan mendekati mereka berdua. Meletakan sebuah bungkusan di atas meja.


"Ini bubur ayam, aku beli ini sebelum ke sini. Bibi kasih sama Mama kalau dia belum makan."


"Baik, Mbak." Wanita itu mengambil kantungan yang dibawa Ferla, pergi meninggalkan dua wanita menantu Erlangga di depan meja.


"Kamu?" tanya Ferla pada wanita mungil di sebelahnya.


"Saya Hazel."


"Hazel?" Ferla menyilangkan kedua tangan di depan dada. Melihat penampilan wanita itu dari atas sampai bawah.


"Istri Ardan?" tanyanya lagi.


Hazel menganggukan kepalanya.


Wanita itu menghela napas, mengelus perut buncitnya.


"Dari dulu selera Ardan hanyalah wanita cantik di fisik." Tanpa mempedulikan Hazel, Ferla berlalu menaiki anak tangga.


Sedang, Hazel masih terpaku. Memandangi wanita tinggi semampai itu menaiki anak tangga rumah Gerald.


Sebuah sentuhan di bahu membuat Hazel tersentak. Ia memalingkan badan, melihat suaminya sudah berada di belakang.


"Kamu takut?" tanya Ardan lembut.


Hazel menganggukan kepalanya. Lelaki itu tersenyum, menarik kepala Hazel untuk bisa ia kecup.


"Maaf aku membawamu ke dalam rumah ini, Hazel. Kamu ... mau ikut ke kantor atau di sini saja?"


"Aku gak tahu, Mas. Aku gak nyaman, aku mau pulang, Mas."


Ardan menarik lengan tangan Hazel, membawanya keluar dari rumah itu menuju garasi rumah Gerald. Tidak ada pilihan, selain membawa wanita itu agar selalu berada di sampingnya.


Meninggalkan Hazel di rumah, sama seperti memberikan daging ke hadapan singa.


***


Mata bulat itu memandangi gedung bertingkat yang ada di depanya. Mewah dan juga megah, seperti inikah kehidupan suaminya?


Dunia yang penuh dengan segala kemewahan dan juga ancaman.


"Kamu mau turun atau menunggu di mobil?"


"Mas." Hazel menundukkan wajahnya, bingung harus bersikap seperti apa.


Ardan meraih tangan Hazel, mengenggamnya dengan erat.


"Hazel, dengar! Aku tahu kamu takut, tapi cobalah untuk melawan. Aku berani membawamu karena aku tahu kamu itu sangat tangguh."


Hazel tersenyum tipis, menatap wajah Ardan yang berusaha menenangkan kegelisahan hatinya.


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Lawanlah jika kamu ingin melawan. Jangan ditahan, karena apa pun yang kamu lakukan. Aku percaya padamu dan akan selalu membelamu."


Hazel menganggukan kepalanya, perlahan tangan lelaki itu mulai membuka seat belt. Menggandeng wanita dengan drees putih itu memasuki gedung besar perusahaannya.


Seluruh mata memandang Ardan bingung, bahkan ada yang sama sekali tidak berkedip saat melihat calon CEO itu membawa seorang wanita ke perusahaan.


Walau risi, Ardan tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya ini cara satu-satunya agar dia bisa menjaga Hazel untuk tetap aman dari segala pelik masalah keluarganya.


Sementara, ada tangan yang terkepal kuat saat melihat Ardan membawa istrinya ke perusahaan. Gerlad berjalan menaiki lift, mencoba meredam amarah yang terus bergejolak di dalam dada.


Berusaha untuk tidak bertatap wajah dengan wanita itu. Malah saat ini wanita itu membuat seluruh perusahaan tahu siapa dia sebenarnya.


Gerald mengeluarkan ponselnya, menekan sederet angka. Bibir keriputnya tersungging, ketika panggilang itu tersambung.


.


.


Hazel mendekap badannya sendiri, melihat bangungan-bangunan tinggi di ibu kota ini. Dari ruangan Ardan, ia bisa melihat seluruh kota.


Beberapa kali ia menghela napas, bosan sekali rasanya menanti tanpa harus mengerjakan apa pun di sini.


Sampai sebuah suara pintu terbuka, cepat ia memalingkan wajah. Senyumnya langsung memudar saat melihat lelaki yang datang bukan suaminya, melainkan kembarannya.


"Pagi, Hazel Nazha," sapa Arfan ramah.


Wanita itu tidak menjawab, ia meraih tasnya dan berjalan menuju pintu. Menghindari lelaki dengan senyum sinis itu.


"Mau ke mana? Buru-buru sekali?" tanya Arfan, ketika wanita mungil itu sudah berdiri di ujung pintu yang terbuka lebar.


"Apa kamu memiliki kesalahan atau janji yang tidak tertepati padaku?"


Hazel membalikan badannya, melihat lelaki berkulit putih itu.


"Maksud anda?" tanya Hazel bingung.


Arfan terkekeh, ia menumpuhkan bokongnya di atas meja kerja Ardan. Melipat kedua tangan di depan dada, menatap lekat wanita yang berdiri dua meter di depannya.


"Kamu lupa? Bukannya kamu akan pergi jika waktunya sudah tiba? Atau kamu memang tidak ingin pergi dan menempeli Ardan selamanya?" tanya Arfan sinis.


"Dasar, itu kenapa aku tidak suka dengan wanita yang cantik. Terlebih yang menggoda sepertimu. Terlalu banyak trik yang bisa menjerat lelaki seumur hidup."


"Jaga omongan anda!"


"Oh, kenapa? Apa aku salah? Atau kamu yang mulai tidak tahan dengan kenyataan yang ingin aku buka?"


"Saya tidak ada masalah dengan anda. Jadi, berhenti menyakiti saya."


"Hahaha! Naif sekali wanita ini. Sungguh, wanita cantik itu memang sangat merepotkan. Bahkan permainan pun bisa disulap menjadi sungguhan. Katakan! Apa Ardan sangat menyenangkan?"


Hazel menarik napasnya dalam, menelan salivanya yang terasa memahit, sepahit omongan saudara suaminya itu, berat sekali berada di posisi ini. Menyerah juga tidak mungkin, ada hati yang sedang berjuang dan ia tidak ingin mematahkan saat tunas itu baru berkembang.


"Tentu, aku juga bisa menjadikanmu mainanku. Datanglah padaku jika kamu muak dengan kembaranku itu."


Perlahan, genangan kaca mulai menghiasi netra bermata madu itu. Ingin melawan, namun sebagai istri Ardan, ia harus menjaga image suaminya itu. Bagaimana juga, Arfan bagian dari diri suaminya.


Hazel menarik napasnya dengan dalam, berusaha meredam sesak yang kian bersarang.


"Atau kamu mau bermain denganku saat masih bersama Ardan? Tentu, aku juga bisa menerimamu."


Dua buah tangan menyentuh telinga Hazel, menutupi telinga wanita itu agar tidak lagi mendengarkan ucapan lelaki tampan di depannya.


Hazel memalingkan wajahnya, melihat lelaki yang ada di belakangnya.


"Hentikan, kak Arfan! Apa-apaan kamu mengatakan hal serendah itu pada ipar sendiri?" tanya Arfi memerah.


"Hahahahaha!" Arfan terkekeh, ia menepukan tangannya dengan keras.


"Jadi sekarang kamu juga menjerat Arfi? Dia masih polos Hazel Nazha, jangan terlalu serakah."


"Kak Arfan!" tekan Arfi geram.


Lelaki itu menendang daun pintu yang terbuka dengan kakinya, sementara kedua tangannya masih menutupi telinga kakak iparnya.


"Sumpah aku muak dengan pertentangan ini. Jangan libatkan orang lain dalam peperangan kalian!" teriak Arfi geram.


Arfan terkekeh, ia menggelengkan kepalanya saat melihat adik bungsunya itu.


"Orang lain?" tanya Arfan sinis. "Siapa yang orang lain di sini?"


"Hazel gak tahu apa-apa tentang masa lalu kalian. Jangan libatkan dia yang sedag hamil. Itu bisa pengaruh pada janinnya."


"Hamil?" Arfan memandangi wanita itu dari atas sampai bawah.


"Baguslah, itu artinya perperangan ini sangat adil."


"Kak Arfan, hentikan! Kumohon hentikan semua ini sebelum hubungan kalian semakin hancur, Kak."


"Hubungan ini memang sudah hancur tujuh tahun lalu, Arfi. Mau hancur lagi? Memang aku peduli?"


"Kak, Hazel gak tahu apa-apa. Dia bukan orang yang ada di masa lalu kalian. Kenapa Kakak harus limpahin ini sama dia? Jangan sakiti orang yang gak ada hubungannya dengan masalah kita, Kak."


"Tentu dia ada hubungannya, Arfi. Karena dia istri Ardan, dan wanita yang paling Ardan cintai saat ini. Jadi, dia yang harus menangung dosa suaminya dulu."


Arfi menggelengkan kepalanya, ia menekan kedua telinga Hazel lebih kuat. Berharap agar iparnya itu tidak mendengar ucapan kakaknya.


Namun, Hazel masih terlalu peka. Bahkan saat ini, sudah beberapa kali air matanya melintasi pipi putihnya.


"Kak, ini gak adil buat dia! Kalau Kakak mau perang cari Kak Ardan dan selesain dengan cara yang jantan! Jangan menyakiti wanita!" teriak Arfi geram.


"Arfi kamu lupa? Kakakmu itu menyakiti wanita juga. Apa kamu pikir keadaan itu adil buat Ferla?"


"Adil! Tentu saja adil. Kak Ardan gak tahu apa-apa. Kalian berdua yang melakukan kesalahan. Kenapa kalian limpahkan pada Kak Ardan? Bukannya Kakak yang menidurinya? Kenapa Kakak tidak mengakuinya?"


"Tapi, Ferla tidak menginginkanku. yang dia inginkan--"


Bugh


Sebuah tumbukan mendarat di perut Arfan. Kini wajah lelaki yang lebih nuda itu telah memadam. Mencoba menghentikan ucapan Kakaknya yang mungkin akan sangat menyakitkan untuk didengar oleh iparnya.


"Hentikan! Sebelum aku mengatakan ini pada kak Ardan. Hentikan!"


Arfan terbatuk, matanya masih menatap lekat ke arah wanita dengan drees putih itu. Bergeming dengan aliran air bening yang tidak berhenti menyapa pipi.


"Arfi, apa kamu sangat menyanyangi Kakakmu itu? Apa aku ini bukan Kakakmu lagi?"


"Karena kamu adalah Kakakku. Karena aku lebih menyanyangimu dibandingkan Kak Ardan. Aku tidak ingin kamu terus berada dalam dendam tanpa tuan. Membuat hatimu terus kotor selama bertahun-tahun. Bahkan kamu selalu terusik dan tidak bisa bahagia. Apa Kakak pikir aku bisa bahagia melihat kalian tersiksa? Kalian saudara, Kak. Kita besar bersama, kenapa? Hanya karena urusan wanita kalian rela terus terpecah?"


Arfan membetulkan letak jasnya, ia memandang sengit ke arah Hazel. Tak lama tangannya menepuk punggung Arfi dan berjalan keluar pintu.


"Pembual!" ucap Arfan sembari menutup pintu berwarna cokelat itu.


Arfi menghela napasnya, ia masih bergeming. Detik kemudian ia melihat ke arah Hazel. Wanita itu masih berdiri dengan menahan tangis.


Lembut ia menarik lengan wanita itu untuk duduk di atas sofa. Memberikan segelas air ke tangan wanita berdarah Turki tersebut.


"Jangan menangis. Kalau kamu ingin berdampingan dengan lelaki tangguh, maka kamu harus menjadi tangguh terlebih dahulu."


Hazel menganggukan kepalanya, meminum air yang diberikan oleh Arfi.


"Kak Ardan itu lelaki tangguh. Jadi, harus bisa mengimbangi ketangguhannya, agar langkahnya tidak lagi lambat, kamu harus menjadi kuat."


"Terima kasih," ucap Hazel lembut.


Arfi tersenyum, menghela napas dengan sedikit berat. Rasanya sangat jengah berada di antara perperangan saudara seperti ini.


Bahkan saat berdiri di tengah pun, ia masih bisa terseret ke pinggir.


Matanya lekat memandangi wajah cantik Hazel. Tangan wanita itu sesekali menyeka sudut dagu. Memainkan bibirnya, sampai tercetak lesung di pipi.


'Kenapa? Melihatnya mengingatkan aku pada dia? Khadijah, di mana kamu berada?'