
"Sekarang makan dan istirahatlah. Jangan buat kakakmu khawatir lagi, hem." Satu tangan Ardan menepuk pipi gadis itu dengan lembut.
Nigar tersenyum, ia usap pipi menggunakan punggung tangan. Lantas mengangguk pelan.
Lelaki itu tersenyum, memberikan waktu untuk sang adik ipar memikirkan segalanya.
Ardan masuk ke kamarnya dan membiarkan daun pintu terbuka lebar. Memeluk badan mungil istrinya yang tengah menyiapkan baju, lantas menghujani tengkuk leher putih itu dengan ciuman.
"Mas."
"Hmm."
"Bagaimana Nigar?"
"Dia akan baik-baik saja. Jangan khawatir, Sayang." Jari-jari kekar itu menyapu anak-anak rambut di sekitar tengkuk istrinya.
Tidak seperti biasa, wanita itu hanya terdiam. Tidak merespons.
"Hazel," panggil Ardan lembut.
Ibu beranak dua itu memutar badan, menatap wajah sang suami sendu.
"Apa ... kita tidak usah jadi pergi saja ya, Mas? Kalo Nigar gak mau keluar, bagaimana saat kita pergi ke acara Nara dia juga akan pergi ke bandara?"
Ardan menarik napasnya, menangkupkan kedua tangannya di pipi wanita cantik itu.
"Mau pergi atau tidak itu terserahmu. Dia sahabatmu, bukan? Tetapi jika alasannya hanya untuk menahan Nigar, aku rasa itu tidak perlu."
"Kenapa begitu?"
"Biarkan Nigar di sini, kamu dan aku cukup percaya atas apa yang dia putuskan. Jika dia ingin bertahan, maka dia tidak akan pergi. Tetapi jika dia ingin pergi, itu adalah kebebasannya."
"Tapi, Mas--"
"Nazha, tidak akan baik menahan apa yang ingin pergi. Sekuat apa pun kamu menahan langkah seseorang, dia akan tetap pergi sebagaimana keinginan dia. Tak usah dipaksa, dia yang ingin pergi, biarkan pergi dengan kebebasan yang dia pilih."
Pandangan wanita bermata madu itu menunduk. Sementra ada bibir yang terkembang mendengar ucapan itu.
"Tapi Pedro juga dokter Surya, bukan? Pikirkan perasaan mereka juga. Kita memiliki hubungan jangka panjang dengan mereka, Sayang."
"Aku tau. Aku hanya .... " Hazel memeluk badan kekar itu erat. Entah bagaimana rasanya, namun mencium aroma tubuh itu mampu membuat perasaannya sedikit lebih tenang.
Ardan tersenyum, sepasang tangan kekar itu memeluk bahu mungil wanita berdarah Turki tersebut. Mencium pucuk kepala Hazel lembut.
"Dengar, Sayang. Nigar memiliki kuasa atas hidupnya. Apa pun pilihannya, itu menjadi hak dia. Kamu sebagai kakak boleh mengarahkannya, namun jangan memaksa apalagi mengekangnya. Dia akan bahagia dengan caranya, apa pun pilhannya, itulah yang membuat dia bahagia."
"Aku tak ingin kehilangan Nigar, Mas."
"Tak ada kata kehilangan karena dia adalah adikmu. Sejauh apa dia melangkah, suatu saat dia akan kembali padamu. Karena sejauh apa pun jarak, yang namanya darah tetap akan berpulang, tak peduli raganya ada di mana, kita masih bisa menjemputnya pulang suatu masa nanti," kata Ardan lembut.
'Namun berbeda jika jiwanya yang hilang. Bukan meninggalkan, namun berubah sejauh jarak yang tak kasat mata. Saat jiwa itu memudar, hilang bersama bayangan yang perlahan meredupkan kehangatan. Entah bagaimana caranya untuk meminta pulang?'
Mata Ardan menembus ke arah luar jendela. Jauh di dalam hatinya dia jauh lebih takut kehilangan. Adiknya, yang menghilang, meski raganya selalu berada di dalam pandang.
Entah kapan dia akan berpulang? Bukan raganya yang bisa direngkuh tangan, melainkan kehangatannya yang membeku bersama kepingan luka di masa kelam.
Nigar melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti di depan kamar Ardan, membawa sisa piring kotor sarapan tadi.
Hatinya mendadak menjadi lebih tenang. Lelaki yang dinikahi oleh kakaknya adalah seseorang yang sangat dewasa dalam bertindak, pun dalam memberi nasihat.
Seharusnya dia tidak usah khawatir. Tanpa bantuan dia sekalipun, Ardan pasti akan kuat untuk mempertahankan apa yang dia miliki.
"Nigar." Panggilan itu mengalihkan perhatian gadis keturunan Turki tersebut.
Gadis bergamis itu mendekat ke arah pantry. Mendekati Mbok Darmi yang sedang membereskan dapur.
"Kamu sudah baik-baik saja?" tanya wanita gempal itu.
Bibir ranum itu terkembang, dia mendekati Mbok Darmi dan memeluk tubuh bulat itu dengan erat.
Sedikit terkejut, wanita paruh baya itu sempat terdiam. Lalu sepasang tangan membalas dekapan sang gadis.
"Aku bersyukur, Mbok. Allah telah mengirimkan orang-orang terbaik untuk mendampingi Hazel."
...***...
Beberapa kali lelaki berkacamata itu melirik jam di pergelangan tangan, menghela napas berulang-ulang. Sudah setengah jam lebih, teman janjian yang ditunggu tak kunjung datang.
Entah mengapa ia malah mengajak Sasy untuk menghadiri resepsi karyawannya itu.
Jika benar yang dulu Ardan katakan, bahwa Nara pernah menyukai dirinya, maka lebih bagus dia membawa pasangan untuk menghadiri acara.
Namun, mengapa harus Sasy? Mengapa harus belia itu?
Ferdi mengacak rambutnya yang telah disisir sedemikian rapih. Bingung dengan perbuatan yang kadang tak sesuai dengan pikiran.
Dan lagi, mengapa juga Sasy memintanya untuk dijemput di halte? Seperti seorang pecundang, membawa anak gadis orang tanpa persetujuan.
Bersama dengan belia nakal, perlahan sikap dan sifatnya pun ikut-ikutan nakal.
Tak lama sebuah bus berhenti di depan lelaki itu terduduk. Beberapa orang turun dengan berebut pintu, lalu langkah dengan high heels menyusuli para kerumunan itu dari belakang.
Sebelah alis Ferdi menaik, menatap tampilan belia itu yang sangat berbeda dari biasanya.
Dress hitam di atas lutut yang membentuk tubuh mungilnya sangat ketat. Dengan bagian bahu terbuka dan juga sedikit rendah. Hampir memperlihatkan garis tengah.
Rambut hitamnya tergerai, dengan make-up natural, namun bibirnya dilapisi lipstik merah merona. Sangat dewasa, tak seperti belia sama sekali.
Ferdi hanya terdiam, bahkan sampai tubuh mungil itu berada di hadapannya.
"Kak," panggil Sasy dan lelaki itu tersadar.
"Bagus, gak?" tanyanya malu-malu.
"Bagus. Tapi kau tampak sangat dewasa. Apa pergi denganku menjadi beban untukmu?" tanya Ferdi datar.
"Maksudnya?" tanya Sasy tak mengerti.
"Gayamu sedikit berbeda. Lebih dewasa dari umurmu. Dan juga, bajumu sangat ketat. Apa kau tak risi?" tanya Ferdi terus terang.
Belia itu menunduk, sedikit kesal ia menggulum bibir. Padahal menurutnya ini sudah sangat bagus. Bahkan ia rela mendatangi pacar sang abang untuk minta didandani.
Tajam iris di balik lensa itu menatap dari atas sampai bawah. Memang cantik, walau tampak dewasa, namun tampilannya tak cocok dengan usia.
"Maaf Sasy, bisa kau ikut aku dulu?" tanya Ferdi seraya melepaskan suitnya, detik kemudian ia memakaikan ke bahu mungil itu.
Menarik sisi-sisinya sampai tubuh itu tertutup sempurna.
"Ayo," ajaknya lembut.
Bibir belia itu memanyun, sedikit kesal ia menghentakkan kaki. Berjalan mendekati mobil Ferdi yang terparkir di tepi jalan.
"Jadi menurut kakak ini tidak cantik?" tanyanya setelah lelaki berkemeja cokelat itu duduk di balik kemudi.
"Cantik. Sangat cantik," jawab Ferdi lembut.
"Jadi kenapa mau diubah?"
Lelaki berkacatama itu tak lagi menjawab. Hanya memutar kemudi dan menjalankan mobilnya ke salah satu salon milik sahabatnya.
Wanita berambut merah cola itu tersenyum saat melihat Ferdi berjalan ke arahnya. Dia menutup laptop dan bangkit seraya menyilangkan kedua tangan di dada.
"Aku sangat terkejut saat mendapatkan pesanmu, Fer. Setelah seumur hidup, akhirnya ada yang membuatmu mengunjungi salah satu cabang salonku."
Lelaki berkacamata itu berdecak kesal, gadis cantik yang berprofesi sebagai make-up artist itu masih tak berubah.
"Aku tak punya waktu mendengar godaanmu, Riska. Aku harus mendatangi ijab karyawati perusahaan kami."
"Manis, ayo ikut denganku," ajak Riska lembut.
Sasy melirik ke arah Ferdi, lelaki berkacamata itu hanya mengangguk. Lalu langkahnya mengikuti detak high heels wanita berambut merah itu menuju ruangan ekslusif.
"Dena, tolong hapus make-up gadis ini, ya," perintahnya lembut pada salah satu gadis pekerja.
"Baik, Mbak. Ini mau di make-up untuk acara apa?" tanya gadis berseragam biru itu.
"Hapus saja, nanti biar saya sendiri yang mendadaninya." Setelah mengatakan itu Riska pergi, sementara gadis bernama Dena itu terus memerhatikan tubuh semampai sang Bos sampai hilang di balik pintu kaca.
Demi apa seorang Riska mau mendadani seorang gadis biasa? Bahkan make-up artist itu jarang sekali mau menerima panggilan untuk keluarga kolongmerat. Kecuali, Erlangga.
Gadis itu menumpuhkan ujung bahunya di ambang pintu, memerhatikan Ferdi yang tengah memilih gaun di jajaran koleksi butiknya, sengaja dibuat khusus untuk para pelanggan salon.
"Apa kali ini seleramu pun belia juga?" tanyanya.
Lelaki berkacamata itu mendesis. Tangannya sibuk membalik-balik jajaran gaun.
"Kenapa kau di sini? Bukan mendadani dia?"
Hentakan high heels itu mengeluarkan irama. Menghampiri Ferdi yang asyik memilih gaun.
"Tentu saja melihat pilihanmu. Bukannya make-up juga harus senada dengan gaunnya?"
Ferdi hanya memainkan bibirnya, satu tangannya mengeluarkan dress berwarna cokelat muda.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Ferdi meminta pendapat Riska.
"Apa kau ingin terlihat couple?"
Ferdi berdecak, ia kembali menggantung gaun itu. Memilih yang lainnya.
"Ayolah Ferdi, aku hanya bertanya kenapa kau kembalikan lagi?" tanya Riska seraya mengeluarkan dress yang tadi dari rak.
"Apa waktumu cukup senggang untuk menggodaku? Bukannya hanya dua bulan sekali kau ke sini? Mengapa tak kau gunakan untuk jalan-jalan?"
"Kurasa menggodamu lebih menyenangkan." Gadis itu memainkan matanya, genit.
Ferdi terkekeh, ia menggeleng pelan.
"Dasar genit, bagaimana kabar suami dan anakmu?"
"Ya, tentu saja baik. Memang bisa bagaimana lagi?"
"Kau tak takut suamimu melirik wanita lain saat kau pergi begini? Karirmu sudah melejit, mengapa tak kau luangkan waktu untuk mereka. Keluarga adalah segalanya, Riska."
"Awas saja jika dia berani melirik gadis lain. Akan kubotakkan segalanya. Lagian, dia seharusnya bersyukur mendapatkan istri secantikku, benar tidak?" tanyanya seraya menumpuhkan sebelah siku di bahu lelaki itu.
Ferdi tertawa sinis. Tangannya mengeluarkan sebuah dress berwarna putih. Simple dan elegan.
"Bagaimana dengan yang ini?"
Sepasang mata gadis itu menatap gaun yang dipilih Ferdi. Lalu bibirnya terkembang lebar.
"Seleramu masih sangat simple seperti dulu, bagaimana jika aku yang memilih dressnya?" tanya Riska.
"Jangan! Aku tak ingin dia menjadi penyihir sepertimu."
"Hahaha, sialan kau," umpat Riska geram.
Gadis itu hanya memerhatikan wajah Ferdi lekat dan lamat.
"Lalu, bagaimana kabar Arfan?"
Seketika gerakan tangan Ferdi terhenti, ia melirik sekilas. Lalu tersenyum.
"Entahlah, sudah lama aku menetap di sini. Yang kutahu keadaan dia dan Ardan terus bermasalah."
Gadis itu memanyunkan bibirnya.
"Kenapa? Kau merindukan cinta pertamamu?"
"Ck ... ayolah. Aku bertanya sebagai teman lama."
"Kupikir kau akan menceraikan suamimu jika mengetahui Arfan berpisah."
Wanita berambut merah itu kembali berdecak. Ia menarik sebuah gaun berwarna peach.
"Yang ini saja, bagaimana?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Sepasang mata di balik lensa itu menatap wajah Riska lamat.
"Tentu saja, kau yang paling mengerti."
Sebelah bibir gadis itu menaik, meninggalkan Ferdi dengan berdecak kesal.
Tiga puluh menit, gadis yang dibawa Ferdi tadi kembali keluar. Kali ini tentu saja dengan tampilan yang jauh berbeda.
Rambut hitamnya terkepang indah, lalu disanggul dengan sedikit hiasan di atasnya. Bibir yang awalnya terlapisi lipstik merah menyala, kini terlihat lebih natural dengan warna merah muda pudar. Dipenuhi oleh riasan, namun tetap mempertahankan paras belia yang dia miliki.
Ferdi terkesima, gaun berwarna peach itu sangat cocok di kulit belia tersebut. Dengan bagian bawah yang kembang, lengan setengah siku dan dihiasi beberapa payit di bagian pinggang. Lebih elegan dibandingkan dress hitam yang melekat di badan.
"Cantik bukan? Tanganku adalah keajaiban," ucap Riska membuat lelaki itu membuang wajahnya.
Semburat kemerahan mulai muncul di kedua pipi Ferdi. Lelaki itu berdehem pelan, ia menarik jas yang ada di lengan Sasy.
"Ya, ya. Nanti aku akan transfer bayarannya."
"No! Melihat semburat kemerahan di wajahmu saja itu sudah menjadi bayaran buatku."
Gadis itu mengeluarkan ponselnya, memotret wajah Ferdi yang terus memerah.
"Riska apa yang kau lakukan?" tanya Ferdi terkejut.
"Melihat wajahmu memerah adalah hal langkah yang menakjubkan. Aku akan tunggu undangan kalian berdua, oke."
"Riska, hapus fotonya!"
Gadis itu mendorong badan Sasy ke dekapan Ferdi. Lalu tubuhnya hilang di balik pintu.
Ferdi mendesis geram, ia menarik napas dan kembali menatap wajah Sasy.
"Sudah siap?" tanya Ferdi lembut.
Gadis itu hanya mengangguk, satu tangannya tergenggam erat. Perlahan bibir mungil itu mengembang, ada yang mendesir dengan sangat kuat. Saat sebuah genggaman ia dapat.
Sampai langkah itu berhenti di depan pintu.
"Kak tunggu," tahan Sasy.
"Ada apa?"
"Kakak itu make-up artis, kan? Pasti bayarannya mahal, kan? Kenapa Kakak gak bilang aku saja, kalau dandanan yang tadi harus diubah? Jadi Kakak gak perlu ngabisin uang?"
"Sebenarnya yang tadi juga cantik."
"Bohong! Kalo cantik kenapa harus ke salon?"
"Aku serius. Hanya saja wajahmu terlihat sangat dewasa. Aku tidak suka."
"Kenapa?"
"Karena yang aku suka adalah wajahmu yang belia, dengan pakaian yang tertutup seperti ini. Bukan yang tampak dewasa dengan pakaian terbuka."
Ferdi mendekatkan bibirnya ke telinga sang belia. "Aku tidak rela memperlihatkan kulitmu pada para pria yang lainnya."