For My Family

For My Family
202



Gerald terpaku di depan sebuah kaca toko. Memandangi sebuah gaun mungil berwarna merah muda. Tampak elegan dengan sebuah slayer dan topi yang menghiasi manequuen balita di dalam toko.


Pikirannya melambung, terus teringat akan wajah cantik cucunya. Dulu, dia pernah berangan tentang cucu dari Ardan.


Akan seperti apa rupanya? Akan seperti apa wajahnya? Tingkahnya dan juga kebijakannya? Karena si kembar dari dulu memang sangat kentara perbedaannya.


Dan kini, ia melihatnya sendiri. Bayi Ardan bahkan lebih mengagumkan dari apa yang pernah dia bayangkan dulu.


"Opa!" teriak Percy dan Gerald terkejut.


"Opa mau belanja baju? Tapi ini toko bayi, kan, Opa? Opa mau beli baju buat Adek?" tanya gadis kecil berumur enam tahun.


Bibir keriput itu mengembang, kembali memandangi gaun merah muda di sana. Apa kata Ardan jika dia ketahuan telah sangat jatuh hati pada sang putri?


***


"Om Ardan!" Gadis berumur empat tahun itu berlari seraya menenteng paper bag yang cukup besar untuk ukuran tubuh mungilnya.


Ardan menoleh, satu tangan kecil langsung memeluk pahanya.


"Hei, Pelin. Sama siapa ke sini?" tanya Ardan seraya berjongkok, menyamai bocah kecil itu.


"Sama Dady."


"Oh, ya?" tanya Ardan dan gadis kecil itu menyodorkan sebuah paper bag besar ke tangan Ardan.


"Apa ini?" tanya Ardan lagi, dan gadis mungil itu malah menyeringai.


Ardan tersenyum, mengambil paper bag itu dan meletakannya sembarangan.


"Om."


"Hmm."


"Katanya Om Ardan ada adik bayi, ya?"


"Ada. Kata siapa?" tanya Ardan seraya menoel ujung hidung mungil itu.


"Cantik?"


"Sangat."


"Sama aku?"


"Hmm." Ardan memutar bola matanya, melirik sekilas. "Cantik mana, ya?" tanya Ardan seraya mengelus dagu.


Gadis kecil itu menyeringai, menampilkan jajaran giginya. Lalu, tatapan itu teralih pada paper bag yang dibawa tadi.


"Ini dari Mommy?" tanya Ardan.


Pelin menggeleng, gadis itu malah tertawa kecil.


"Hei, kenapa malah tertawa?" tanya Ardan bingung.


Satu jari mungil itu ia letakan di depan bibir. "Ssstttt ...," katanya seraya menyeringai.


"Dari Dady?"


Gadis itu hanya meletakan satu jarinya di depan bibir, membuat alis lelaki dewasa itu bertautan. Bingung, terlebih melihat seringai imut dari wajah bocah itu.


"Pelin?"


"Nah, Yena udah seger, kan." Perkataan itu membuat sang gadis kecil langsung berlari ke belakang Ardan. Bersembunyi di balik punggung kekar itu seraya memerhatikan Hazel yang baru keluar dari kamar mandi. Selesai memandikan Yena.


Langkah Hazel sempat terhenti, melihat gadis kecil yang memeluk punggung sang suami.


"Hai, ada siapa ini?" tanya Hazel mendekat dan sang gadis malah menyembunyikan wajah di punggung Ardan.


"Ini Pelin, Tante. Pelin, ini Mommy-nya---istri bahasa pahaman Pelin---Om Ardan. Dan itu, bayi yang kamu tanya tadi."


Malu-malu gadis kecil itu mengangkat wajahnya. Melihat Hazel dan Yena bergantian, saat gadis keturunan Turki itu mengulurkan tangan untuk berkenalan, Pelin malah melesat berlari keluar kamar Ardan.


Ardan terkekeh, perlahan tubuh kekar itu bangkit dan mengambil paper bagnya.


"Dia memang sangat pemalu. Dulu saat aku berbulan-bulan di luar kota. Dia tidak mau mendekat saat aku pulang."


"Itu anak Pak Arfan?"


Ardan hanya mengangguk, tangannya sibuk mengecek bawaan Pelin tadi.


Alis tebal itu bertaut, melihat baju mungil berwarna merah muda lengkap dengan fascinator---topi ala bangsawan Eropa---berukuran mungil di dalamnya.


"Melihat dari pilihannya, ini pasti bukan Ferla," gumam Ardan sendiri.


Lelaki itu melihat sang istri yang tengah sibuk memakaikan baju pada sang bayi.


Cepat gerakannya memberikan paper bag itu dan berkata.


"Jika kamu suka simpanlah, kalau tidak maka buang saja." Lelaki itu langsung melengos, berjalan ke luar kamar.


Sementara Hazel masih terbengong, sedikit bingung dia membuka paper bag itu. Bibir mungilnya terkembang lebar, melihat baju berwarna merah muda tersebut.


"Yena, ini hadiah pertamamu dari Kakek. Seneng gak?" tanya Hazel.


Di sisi lain Ardan masih mencari keberadaan sang ayah. Langkahnya terhenti saat kaki memijak sebuah mainan.


"Ish, Om Ardan! Kenapa dipijak? Ini baru beli!" bentak sang gadis kecil yang tengah asyik bermain barbie sendiri.


"Sorry, i didn't see. You are to small, Lady," kata Ardan dan sang gadis memanyun. (Maaf, aku tidak melihat. Kamu sangat mungil, Nona)


"Hei, kenapa kamu dan Pelin sudah di sini sepagi ini? Apa Mommy mau pergi?"


"No! Oppa yang minta kami datang. Opa membelikan kami semua ini dan juga baju buat adik, ups .... " Kedua tangan itu langsung menutupi mulut, matanya memandangi Ardan yang tersenyum sinis.


"Im so sorry, Om. Can you promise dont tell to Opa?" (Aku minta maaf, Om. Bisakah kamu berjanji tidak mengatakannya pada Opa?)


Ardan tersenyum dan mendekatkan wajah ke arah Percy. "No!"


Seketika mata gadis berumur enam tahun itu mendelik. Ardan terkekeh geli, dan tawa itu memudar saat Bi Indri mendekatinya.


"Maaf, Mas Ardan," ucap sang ART gelisah.


"Kenapa, Bi?"


"Itu, Nyonya marah-marah sama Mas Arfi."


"Kenapa?" tanya Ardan bingung.


"Mas Arfi cuma mau ngasih obat, lalu Mas Arfi ngenalin istrinya dan Nyonya malah marah-marah."


Lelaki itu langsung bangkit, sedikit tergesa berjalan menuju kamar sang Mama. Melupakan niatnya yang ingin sekali mengejek sang Papa.


Kewalahan tubuh tegap sang adik memeluk tubuh tua itu. Entah apa yang salah, tatapan mata yang kosong milik Aulia kini menyimpan amarah.


"Ma, tenanglah. Dia istriku, Ma. Dia gadis baik," ucap Arfi dan Aulia masih berontak, ingin meraih Nigar, namun tertahan Arfi.


"Mama!" panggil Ardan dan seketika wanita itu menoleh. Melepaskan dekapan Arfi secara paksa dan berlari ke arah putra sulungnya.


"Ardan, kamu pernah mengatakan bahwa kamu akan membunuh siapa pun yang menyakiti Arsy, bukan?" tanya Aulia mendekati sang putra yang berada di ambang pintu.


"Dia!" bentak Aulia menunjuk ke arah Nigar.


"Dia yang membunuh Arsy, Ardan. Bunuh dia juga, bunuh dia!"


Tatapan mata Ardan mengarah pada Nigar, gadis di sana hanya menggeleng. Masih terkejut oleh kejadian ini. Hanya mengantarkan makanan sesuai keinginan Arfi, siapa duga kalau ibunya malah salah mengira.


Ardan menarik napasnya, mendekap tubuh tua yang semakin lama semakin mengurus. Wajah Aulia ia benamkan di dalam dada, lalu kepala itu menyentak.


Meminta Arfi dan Nigar untuk berpindah lebih dulu. Saat Nigar berselisihan dengan sang kakak ipar.


"Minta Hazel ke sini."


Nigar hanya mengangguk, sedikit menarik napas, Ardan mendudukan Aulia di tepi ranjang.


"Mama bicara apa? Tidak ada yang membunuh Arsy. Arsy pergi karena keinginannya sendiri."


"Enggak, Ardan! Enggak! Mama tau ada wanita lain yang menyuruh Arsy bunuh diri! Ada!"


"Tidak ada, Ma. Tidak ada yang seperti itu. Itu hanya khayalan Mama."


"Mama gak gila, Ardan. Dia ada, wanita itu ada! Ada!" teriak Aulia.


"Ma, tolong jangan seperti ini! Sadarlah, Ma! Arsy sudah pergi!" tekan Ardan sedikit ketus.


Mendengar ucapan sang putra Aulia menggeleng. Bulir-bulir itu bebas menjelajahi pipi. Tatapannya kosong dengan racauan yang semakin tidak jelas.


Lalu tangan itu mengempas, menjatuhkan semua barang-barang di atas nakas. Membuat suara pecahan yang lumayan besar dan Ardan mulai kehilangan kesabaran.


Ia raih kedua bahu itu dan sedikit menyentakkan badan Aulia.


"Mama! Berhentilah seperti ini! Sudah hampir delapan tahun kapan Mama akan melepaskan Arsy?!" bentak Ardan geram.


Kedua tangan kekar itu memegang ujung bahu Aulia. Kuat.


"Sadarlah, Ma! Kumohon sadar!" sentak Ardan geram.


Aulia terdiam, terpaku menatap wajah Ardan dengan linangan air mata yang membanjiri wajah.Detik selanjutnya dia terkekeh sendiri.


Ardan menarik napas dan mengusap wajah kasar. Menendangi kaki kasur dengan membabi buta. Lelah, entah sampai kapan tempat dia bermanja harus terus seperti ini.


Sebuah tangan menyentuh bahu Ardan, mengelus lembut dan lelaki itu menoleh. Hazel menggeleng.


"Jangan seperti ini, Mas. Dalam keadaan apa pun. Mas gak boleh kasar sama Mama."


Ardan menggeleng dan satu air mengalir begitu saja dari mata tajam itu. Baru kali ini, wanita berdarah Turki itu melihat suaminya menangis menghadapi sesuatu. Biasa, mata dan pundak kekar itu sangatlah kuat.


"Sumpah aku lelah, Hazel," lirih Ardan seraya menjatuhkan badan di atas ranjang.


"Sangat-sangat lelah."


Hazel menoleh, melihat lempengan-lempengan obat yang berceceran di lantai. Gadis itu memunguti satu persatu, perlahan ia mendekati Aulia yang menyudut di bawah kasur.


Matanya tak berhenti mengeluarkan cairan, namun bibirnya terus meracau dan sesekali terkekeh sendiri.


"Mama," panggil Hazel ragu.


Nyonya Erlangga itu tidak menyadari, masih asyik dalam imajinasi. Pelan, gadis itu berusaha mendekati. Berjongkok di depan sang mertua.


Bibir mungil itu mengembang, memperlihatkan lesung di kedua pipinya yang dalam. Karena lesung itu, sama seperti yang dimiliki sang putri.


"Mama," panggil Hazel lembut dan Aulia menoleh.


"Mama kenapa?" tanya Hazel, seketika Aulia mendekap badan mungil itu. Sampai tubuhnya limbung dan terduduk di lantai.


"Arsy, kamu pulang, Nak? Arsy pulang, Sayang?"


Hazel hanya mengangguk, hangat pelukan itu terasa menyakitkan. Karena pada dasarnya mereka sama-sama saling merindukan.


Merindukan mereka yang sudah tidak lagi bernyawa. Satu pada sang anak dan satu lagi pada ibunya.


Terkadang, rasa yang lebur bisa saja kembali hadir pada raga yang berbeda. Bukan hanya karena kemiripan rupa, namun karena beban yang ditanggungnya sama.


Cinta, rindu dan kasih sayang, pada mereka yang telah menghilang.