
Lelaki itu merengkuh bahu Nigar, memandangi Gerald dengan tatapan tajam. Mengajak sang istri untuk kembali ke kamarnya.
Lelaki itu hanya diam, tidak membahas apa pun lagi. Hanya melepaskan jas dan bersiap untuk memasuki kamar mandi.
"Arfi ...."
"Diamlah! Aku tidak ingin membahas apa pun tentang masalah itu."
Gadis itu tertunduk seraya meremat kedua jemari tangannya. Takut melihat perubahan suasana hati sang lelaki.
"Aku ... hanya ingin bertanya, apa Arfi mau aku buatkan minum?"
Arfi menarik napas, mengusap wajah itu kasar lantas menarik salah satu handuk dari dalam lemarinya. Menyelempangkan di bahu, lalu badan tegap itu berbalik.
Nigar masih memerhatikan tubuh tegap itu, terduduk di tepi kasur dengan mengusap sudut dagu.
"Aku ingin makan di sini. Bisa kamu bawakan makan malam ke atas?"
"Baiklah."
Lambat gerakan gadis itu keluar dari kamarnya, meninggalkan Arfi untuk menenangkan diri. Mata sayu itu terpejam, menjatuhkan badan di atas kursi dan menarik napas.
"Mengapa dia selalu semudah itu melepaskanku?" lirih Arfi sendu.
...***...
Ardan membuka pintu kamar Aulia, menggendong Yena dan menggandeng Surya memasuki kamar sang Oma.
Wanita paruh baya itu menoleh saat menyadari ada yang mendekat, bibirnya langsung mengembang ketika melihat Yena datang.
"Cucu Oma, sini Sayang," ucap Aulia dan Ardan memberikan putrinya ke pangkuan sang mama.
Mata tua itu teralih menatapi bocah berumur lima tahun yang digenggam Ardan. Detik kemudian tatapannya beralih ke putra sulungnya.
"Dia siapa?"
Ardan tersenyum dan mendekat, mendudukkan Surya di tepi ranjang milik Aulia.
"Dia putra Ardan, Ma."
"Tapi Mama gak ingat kamu sudah menikah, Ardan."
Tubuh tegap itu berlutut, mengambil jemari Aulia dan mengecup punggung tangannya lembut.
"Salah Ardan tidak memberitahu Mama saat Ardan menikah. Maaf, Ma. Karena Ardan tak mengacuhkan kehadiran Mama di momen sakral itu."
Bibir wanita itu terkulum manis, satu tangannya meraih pipi Ardan dan mengelus rahang sang putra penuh kasih. Perlahan mata elang itu terpejam, merasakan sentuhan yang telah lama menghilang.
"Apa kamu bahagia menikahi dia, Nak?"
"Sangat, Ma." Aulia kembali tersenyum, menarik kepala Ardan dan mencium dahi anak sulungnya itu.
"Kalau begitu restu Mama selalu menyertai kalian berdua, Nak."
Seketika pandangan Ardan memburam, terkadang Aulia memang masih memiliki kesadaran, padahal selama ini dia sering menganggap Aulia mulai tidak waras. Ternyata, perkiraannya selama ini salah besar.
Sepasang mata tua itu menatapi wajah Surya. Lalu menarik kepala cucunya dan mengusap kepala bocah itu lembut.
"Ganteng sekali anak ini, Ardan. Pasti ibunya sangat cantik sampai dia bisa memikat hati anak sulung Mama ini."
Ardan tersenyum, mengusap sudut mata dan memindahkan tubuh Surya ke atas pangkuannya.
"Ardan tidak ingin menyembunyikan lagi, Ma. Tetapi dia bukan darah daging Ardan. Ardan menikahi ibunya yang telah memiliki dia."
Aulia hanya memandangi wajah Surya, memerhatikan setiap inci paras bocah kecil itu. Polos tatapan matanya, melembutkan hati rapuh milik Aulia.
"Kamu sudah menikahi ibunya, itu artinya dia juga bagian dari keluarga kita. Dia masih kecil, Ardan. Kelak dia akan lebih mirip denganmu, karena dia besar dalam didikanmu."
Ardan mengangguk, mengusap kepala Surya. Tak luput matanya terus memandangi wajah sang mama. Tampak lebih ceria dan lebih tenang dari sebelumnya. Terlebih saat mata tua itu menatap Yena, tergambar sebuah pendar harapan ada di sana. Mungkin dia masih belum mengikhlaskan putrinya, perlahan dia akan melepaskan bayangan sang anak dengan kehadiran orang-orang baru yang meramaikan hidupnya.
.
.
Arfi keluar dari kamar mandi seraya mengusap kepalanya yang masih basah, sudah tertata beberapa makanan di atas meja. Sementara Nigar masih sibuk mengupasi kulit buah.
Tak banyak bicara, lelaki itu duduk di sebelah dan mulai memakan hidangan yang ada. Walau tak memiliki selera, tetapi ia memaksakan saja.
Terlalu lelah jika Nigar mengajaknya membahas masalah Ayla. Seketika, atmosfer hubungan mereka jadi lebih beku dari sebelumnya.
Memikirkan itu, Arfi membanting sendok kasar. Muak, baru saja dia menikmati perubahan sikap Nigar. Manjanya gadis itu dan sifat centilnya yang mulai timbul walau terkesan dipaksakan.
Kini, gadis itu jadi pendiam lagi. Hanya menuruti, tidak berani memulai apalagi melawan.
"Kamu sudah makan?" tanya Arfi dan Nigar menggeleng.
"Nanti saja. Aku belum lapar." Sebuah suapan mengarah ke depan mulut sang gadis. Nigar hanya menatapi tanpa membuka mulutnya.
"Nanti saja."
"Makan!" perintah Arfi datar. Tak banyak melawan gadis itu membuka mulutnya. Menerima setiap suapan sampai isi piring di tangan Arfi habis tak bersisa.
"Kamu masih lapar?" tanya Arfi dan Nigar menggeleng.
"Tapi aku masih lapar."
"Kalau gitu Arfi saja yang makan, dari tadi Arfi terus nyuapi aku."
"Kalau aku makan berarti kamu juga harus makan."
"Kenapa?"
"Karena saat ini aku dan kamu satu. Jadi kalau aku lapar, kamu juga pasti lapar."
"Terus kenapa aku makan, tapi Arfi enggak?"
"Karena liat kamu makan, aku sudah kenyang." Lelaki itu memainkan kedua alis matanya, berusaha kembali menggoda.
Tak sia-sia, karena semu merah kini menghiasi wajah gadisnya.
"Makan ini, aku bereskan sisa piring dulu." Lembut tangan itu mengulurkan sepiring buah. Mata sayu itu hanya memandangi wajah Nigar.
Tetap ada yang berbeda, meski wajah itu sempat merona.
"Nigar," panggilnya dan gadis itu mendongak.
Arfi tertunduk, menggeleng pelan seraya bangkit dari sofa.
"Tidak ada. Lanjutkanlah."
"Oh."
Bergeming, hanya suara peraduan susunan piring yang terdengar. Lalu, derap langkah kaki itu menjauh. Arfi mengusap wajahnya, bingung harus bersikap bagaimana.
Ingin menyakinkan Nigar, pasti masalah ini akan berbuntut panjang. Kalau tidak, bisa saja Gerald terus mendesak gadis itu untuk menyerah.
Tubuh tegap itu terduduk lemas di tepi ranjang. Ingin menyerah dan mengatakan pada Ardan. Sayangnya, Arfan melarang dia untuk membocorkan masalah.
Ardan sudah memilih untuk membangun perusahaan sendiri. Mengatakan hal ini sama saja menyerah pada peperangan mereka. Katanya.
Memang benar awalnya dia tidak akan meminta Arfi menceraikan Nigar. Lalu, dia yang akan memaksa Nigar untuk menyerah. Lelaki itu tertawa sinis, mengapa harus seberat ini cobaan di awal pernikahannya?
Terasa pijatan jari-jari lembut menyentuh pelipisnya, Arfi menoleh, melihat Nigar ada di belakangnya.
Nigar tersenyum sendu, lentik jemari itu telaten memijat pelipis lelaki berambut pirang tersebut.
"Arfi," panggil Nigar lembut.
"Hmm."
"Aku ... aku ...."
"Apa?" tanya Arfi ketus. "Mau bahas masalah poligami lagi?"
Gadis itu menggigit bibir, ketus jawaban itu baru pertama kali dia dengar semenjak menikah.
"Kenapa, Nigar?"
"Hah?"
"Kenapa selalu semudah itu kamu melepaskanku?"
"Arfi, itu ... itu. Aku tidak melepaskanmu. Tidak."
"Lalu, apa maksudnya kamu berkata begitu?"
"Aku ... aku hanya ingin membantumu," jawab Nigar lirih.
"Kalo kamu memang ingin membantuku, cukup diam dan menetap di sisiku."
Pijatan pada pelipis Arfi terhenti, gadis itu menggeser duduknya lebih dekat. Memeluk bahu Arfi dari belakang, lantas wajah itu terbenam di helaian rambut pirang sang suami.
Terdiam, menikmati aroma shampo yang Arfi gunakan. Perlahan kelopak mata itu terpejam. Memikirkan Arfi akan terbagi sebenarnya sangat membuat hatinya perih. Namun, haruskah dia membiarkan suami kembali melawan papanya lagi?
Gadis itu menarik napas, mengusap-usap wajahnya di kepala Arfi. Lalu, kepalanya berpindah ke atas bahu sang lelaki.
"Arfi lelaki yang tegas. Aku percaya Arfi bisa adil."
Lelaki itu melepaskan tawanya getir, miris mendengar ucapan Nigar.
"Kamu yakin?" tanyanya ketus.
Nigar hanya mengangguk, walau dia tidak yakin bisa sanggup menerimanya atau tidak.
"Tidak akan meninggalkanku walau aku menikahi Ayla?" tanya Arfi lagi.
"Tidak akan. Aku janji tidak akan meminta cerai."
"Kenapa?"
"Karena aku yakin Arfi bisa memperlakukan aku dan Ayla sama."
Tubuh tegap itu berbalik, menatap wajah Nigar tajam.
"Maksudku kenapa? Kenapa saat wanita-wanita lain menentang suaminya menikah lagi. Kamu bisa sangat mudah membiarkan aku melakukan itu? Nigar, sebenarnya adakah cintamu untukku?" tanya Arfi getir.
Gadis itu tertunduk, menelan salivanya getir.
"Pernahkah kamu berpikir, atau memikirkannya sedikit saja. Sekeras apa aku berjuang untuk bisa menikahimu? Atau pernahkah sedikit saja terlintas di pikiranmu, bahwa apa yang aku korbankan agar bisa bersamamu itu tidak mudah? Aku membayar mahal untuk semuanya. Nigar, apakah tidak seberarti itu aku untuk kamu pertahankan?"
Kedua tangan gadis itu saling meremat. Terdiam, tak mampu menjawab.
Arfi tersenyum getir, menggeleng dan ingin bangkit. Kedua tangan itu meraih jemari Arfi, mendongak seraya menggelengkan kepala.
"Bukan, Arfi. Bukan aku tidak pernah memikirkan itu. Hanya saja, aku merasa terlalu buruk untukmu."
Arfi mengempaskan tangan itu, membuka lemari dan mengeluarkan jaketnya. Ingin pergi, terlalu sesak membahas masalah itu di sini.
"Arfi." Panggilan itu membuat langkah Arfi menuju pintu terhenti.
"Aku mencintaimu, sungguh. Tapi jika berbagi dirimu bisa mengeluarkanmu dari ancaman sebagai anak durhaka, aku ikhlas menjalaninya."
Kedua tangan itu mengepal, sangat geram.
"Aku hanya tidak ingin menjadi penyebab Arfi terus-terusan durhaka. Aku tidak ingin menjadi halangan untuk Arfi meraih surga. Untuk itu, jika memang harus menjadi madu. InsyaAllah aku rida."
"Lalu, kamu membiarkan aku masuk neraka karena telah menzalimimu, begitu?" tanya Arfi meradang.
"Kamu membiarkan aku disiksa karena setiap air matamu yang jatuh karena ketidakadilanku akan menjadi cambuk buatku, begitu?"
Tubuh itu berjalan mendekati Nigar, gadis itu menggeleng pelan. Memundur karena amarah yang ditahan sang lelaki membuat wajah tampan itu menyeramkan.
"Kamu berbicara keadilan. Kutanya padamu, adilkah saat yang kunikahi pertama kali itu kamu dan yang mendapatkan pengakuan adalah Ayla? Adilkah saat kamu istri pertama, lalu kamu malah menjadi madunya? Adilkah saat dunia mengakui statusnya, tetapi tidak dengan statusmu? Adilkah?" bentak Arfi dan gadis itu terduduk di tepi ranjang. Tersudut badan Arfi yang terus mendekatinya.
"Adilkah, Nigar? Saat dia bisa mendekapku di mana saja. Lalu, kamu hanya mendapatkan aku di belakangnya? Kamu mau pernikahan yang seperti itu?" Tubuh tegap itu membungkuk, mendekap Nigar yang terus tersudut.
Berulang kali kelopak mata itu mengerjap, menjatuhkan bulir-bulir bening dari kedua matanya.
"Sebenarnya, pentingkah pernikahan ini buatmu? Atau kamu hanya terpaksa menikahiku yang terlanjur menjadi suamimu?" tanya Arfi melunak.
"A-a-aku ... aku tidak bermaksud seperti itu, Arfi."
"Lalu?"
"Aku, aku hanya tau diri. Aku yang tak bisa memberikan hakmu. Mau sampai kapan terus menyiksamu? Jika ada wanita lain yang bisa memenuhinya, aku berpikir, aku akan baik-baik saja. Mendapatkan sisa cintamu, aku ikhlas menjalananinya."
Lelaki itu geram, ia menarik selimut kasur dan menyampaknya kasar. Menendang kain tebal itu berulang-ulang.
"Sudah berapa kali aku bilang! Aku tak peduli! Aku tidak menikahimu hanya karena nafsu, Nigar!" bentak Arfi lantang.
Memilih mengalah sebelum amarahnya pecah bersama gadis itu. Arfi melangkahkan kakinya menuju pintu. Sebuah dekapan kembali menghentikan langkahnya.
"Jangan pergi, Arfi," pinta Nigar lembut.
"Dan membiarkan aku terus membantakmu di sini?" sahut Arfi ketus.
"Baiklah jika kamu tidak ingin menikah lagi. Tapi, tolong jadikan aku milikmu seutuhnya malam ini."
Sebelah alis lelaki itu menaik, tidak mengerti maksud perkataan Nigar.
Pelan gadis itu membalikan badan kekar Arfi. Tersenyum lembut dengan kedua tangan yang melingkari pinggang lelaki itu.
"Ayo kita coba lagi dan jangan berhenti sebelum kamu menyelesaikannya dengan benar." Gadis itu tersenyum manis. Menarik tangan Arfi menuju kasur.
"Tunggu dulu." Lelaki itu menarik tangannya, melihat Nigar dengan terheran-heran.
Mengapa jadi begini?
"Pilihanmu hanya dua, Arfi. Menikah lagi atau sentuh aku malam ini?"
Lelaki itu bergeming, hanya memandangi Nigar dengan tatapan bingung. Mengapa wanita sangat susah dimengerti apa inginnya?
"Nigar?"
Gadis itu tersenyum simpul, berjalan mendekat, kaki itu berjinjit, berbisik lembut di telinga lelakinya.
"Touch me, Arfi. Cause i'm yours."