
Tangan yang tengah memegang mouse itu bergetar. Berat ia meneguk saliva. Lalu tatapan itu mengarah pada kamera pengawas yang berada di sudut ruangan.
Detik selanjutnya, ia menatap ke arah layar monitor. Data yang tercopy masih berjalan setengah.
"Dre, putar otakmu untuk menahannya. Tak mungkin aku mencabut flashdisknya!" tekan Arfi kelabakan.
Peluh di pelipisnya semakin mengucur dengan deras. Beberapa kali punggung tangan mengusapnya kasar.
"Ayolah, ayolah, ayolah," lirih Arfi resah, melihat progres pemindahan data.
"Arfi, sebutkan nomor ponsel Kak Arfan."
Lelaki itu langsung menyebutkannya seraya memandangi progres pemindahan data.
Di dalam lift, Arfan menaikan sebelah alis matanya saat mendapati panggilan masuk.
Nomor asing, awalnya ia enggan untuk mengangkat. Setelah panggilan kedua lelaki itu mengurungkan langkah yang ingin keluar dari dalam lift.
Cepat jarinya menggeser tombol hijau pada layar. Seketika wajahnya memerah padam, bukannya mendapat salam malah mendengar suara aneh di seberang sana.
Suara seorang wanita, manja dengan desahan menggoda dalam kenikmatan dunia. Lelaki itu mengusap wajahnya, lantas mematikan ponselnya.
"Apa-apaan ini?" katanya malu sendiri.
Sementara Dre tengah terkekeh melihat gelagat Arfan dari dalam layar laptopnya.
Membuat keresahan Arfi sedikit berkurang.
"Ada apa? Kenapa kau tertawa?" tanya Arfi penasaran.
"Tak ada. Lucu saat melihat wajah Arfan Erlangga memerah," jawabnya, sementara iris itu masih memerhatikan gerakan Arfi dan Arfan secara bersamaan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Tidak melakukan apa-apa. Hanya menelponnya."
"Lalu?" tanya Arfi, bibirnya sedikit mengembang, melihat progres yang hampir selesai.
"Kuberikan suara desahan perempuan."
Arfi terkekeh. "Dasar, otak mesummu belum hilang ternyata."
Di dalam sini, Arfan masih bergeming. Lalu ia kembali mengeluarkan ponselnya. Menelpon video seseorang di seberang sana.
Walau dia yakin suara manja itu bukan milik wanitanya, namun dia belum tenang sebelum memastikannya.
Lelaki berkulit putih itu menelpon sang istri. Setelah panggilan ketiga, wanita beranak tiga itu baru mengangkatnya.
"Ya, Arfan," jawabnya seraya menghapus peluh di pelipis. Rambut itu masih digelung dan tampak berantakan.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa baru mengangkat panggilanku?"
"Apalagi? Jika tidak mengurus tiga anakmu. Si kecil baru selesai makan dan Kakak sepertinya demam. Jika kamu tidak sibuk, cepatlah pulang, Kakak rewel sekali," ucap Ferla seraya menoleh, suara tangisan bocahnya kembali terdengar.
Wanita itu berlari dan meletakan ponselnya di atas kasur. Membentuk seulas senyum di wajah ganteng suaminya.
Setelah mengangkat putra bungsu mereka, wanita itu kembali mengambil ponselnya. Memperlihatkan wajah sang putra ke pada Dadynya di seberang sana.
"Baik-baik di sana, Nak. Jangan repoti Mommy. Setelah meeting Dady akan pulang," kata lelaki itu dan hanya dijawab senyum oleh sang istri.
Lalu panggilan itu mati, selama bertahun-tahun menikah. Selain sibuk mengurus anak-anak mereka, wanita itu memang tak acuh akan segalanya.
Pernikahan mereka hanya berjalan sebagaimana semestinya. Tak menghangat, pun tak mendingin. Hanya mengambang mengikuti alur berjalan.
Lelaki itu memasukan ponselnya ke dalam saku jas lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Di dalam sini Arfi menutup laptop milik Gerald dan meletakannya kembali ke tempat semula. Menggeser sedikit ujungnya, agar letaknya sama seperti semula, mengusap seluruh permukaan dengan tisu.
"Arfi, Kakakmu sudah berjalan di koridor, apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku kenal siapa Gerald. Dia akan sangat teliti pada barangnya."
Setelah mengelap permukaan laptop lelaki itu berjalan ke arah pintu. Lantas tertahan oleh Dre.
Lelaki berambut pirang itu menoleh, mencari jalan keluar yang lainnya.
Lalu langkah itu berlari ke arah balkon. Membuka pintu balkon dan menutupnya segera.
Jari-jari kekar itu mencengkeram besi pembatas jendela, melompat dengan mengcengkeram besi itu. Perlahan-lahan tangannya berpindah. Sampai pada sudut bangunan, kakinya mencoba mendarat pada pembatas beton yang hanya selebar jengkal tangan.
Kedua kaki itu hanya berdiri dengan gamang, perlahan-lahan ia lepaskan pegangan dan embusan angin membuat tubuh itu sedikit terempas. Tangan-tangannya meraba dinding dengan cepat. Mencoba mencari keseimbangan.
"Wo ... wo," lirihnya takut. Seketika aliran darahnya menurun, membuat nyalinya menciut. Terlebih saat mata itu menatap ke arah bawah.
Hanya berdiri di pembatas beton yang sebesar jengkal tangan. Di atas lantai tujuh belas, jika sedikit saja gamang? Maka habislah sudah.
Lelaki itu bergidik ngerih, seketika lututnya melemas. Dadanya bergemuruh dengan cepat. Terlebih saat suara itu mengatakan.
"Kau gila, Arfi."
Seketika embusan angin membuat tubuh itu bergoyang. Telapak tangan itu menahan di dinding-dinding bangunan. Kepala lelaki itu menggeleng pelan.
"Ini semua demimu, Ardan. Jika setelah ini kau membiarkan aku menjadi gelandangan yang memakan pasir di pinggir jalan. Maka ke neraka pun, akan kukejar," rutuk Arfi, keringatnya semakin deras membanjiri. Terlebih saat iris itu menatap ke arah bawah. Darahnya seketika menurun begitu saja.
Hampir lemas namun harus tetap berdaya.
***
"Haaaatcciiih." Ardan menggosok ujung hidungnya yang terasa gatal.
Menarik napas dengan sedikit menyentak. 'Sialan, siapa yang sedang mengutukku di sana?' batinnya memaki kesal.
Lalu gosokan tangannya di ujung hidung tehenti saat merasakan sentuhan lembut di dahinya.
"Mas, sakit?" tanya sang istri cemas.
Bibir itu terkulum manis, mengambil jemari Hazel lantas mencium telapak tangannya.
"Tidak, Sayang," sahutnya lembut. "Bagaimana aku bisa sakit jika memiliki istri yang sangat perhatian sepertimu." Sebelah mata Ardan mengedip, menggoda sang istri.
Hazel tersenyum lembut, lalu tatapan itu teralih pada sepasang pengantin yang sedang duduk di depan. Masih membacakan doa-doa sebelum akad dimulai.
Setelah memindahkan letak posisi Surya pada pahanya. Jemari lelaki itu menarik tangan sang istri. Hazel menoleh, menatap wajah Ardan yang tersenyum sendu padanya.
"Maafkan aku, Nazha."
"Hem, maaf kenapa, Mas?"
"Pernikahan kita dulu, tak mengadakan resepsi seperti ini."
Hazel membalas genggaman sang suami. Lalu kepala itu terjatuh di atas bahu Ardan. Sepasang mata madu tersebut masih menatap ke arah mempelai.
"Bukannya dulu pun kita ada resepsinya, ya, Mas?"
"Itu bukan resepsi. Hanya ucapan terima kasih karena akad kita terlaksana."
"Tapi aku tidak penah menganggap itu bukan apa-apa. Saat ini, bagaimana pun cara kita menikah. Aku sangat mensyukurinya."
Ardan terdiam, mata elangnya masih memerhatikan wajah Hazel yang menatap sahabatnya di sana.
"Kamu tidak iri melihat Nara? Bagaimana jika resepsi kita diulang?"
Hazel menumpuhkan dagunya di atas pundak Ardan. Menatap wajah sang suami yang kini ikut memerhatikan sepasang pengantin di depan.
"Apa itu penting?" tanya Hazel.
Ardan melirik, lalu mengangguk. "Apa pun yang kamu inginkan menjadi kepentinganku, Sayang."
"Tapi bagiku pernikahan itu bukanlah tentang seberapa besar resepsinya. Melainkan sekhidmat apa akadnya," kata Hazel lembut.
"Pernikahan bukanlah ending bahagia kehidupan, Mas. Tetapi pernikahan adalah jenjang di mana hidup berjalan lebih berat dari sebelumnya. Tentang cobaan, tentang dua kepala, dua keinginan dan dua keegoisan. Pernikahan buatku bukanlah akhir bahagia yang diimpikan para putri dalam dongeng kisah cinta. Tetapi pernikahan adalah awal, di mana jenjang yang lebih tinggi akan dimulai. Awal, di mana langkah yang sendiri, mulai saat ini akan bersama menghadapi." Hazel tersenyum ke arah Ardan, lalu kepala itu ia angkat dari bahu sang suami.
"Pernikahan adalah, di mana yang dulu hanya ada tentang aku, saat ini menjadi tentang kita. Awal di mana yang dulu hanya harus aku, sekarang ini juga harus kamu. Di mana yang menjadi prioritas bukan hanya keinginan diri sendiri. Melainkan juga keinginan berdua denganmu. Pernikahan bukanlah akhir, namun awalan. Di mana kehidupan yang sebenarnya, baru dimulai."