
Ardan meleraikan pelukan Arfan, sedikit memaksa karena lelaki itu sudah masuk dalam isakannya.
Arfan tertawa seraya menahan isak, mengusap ujung hidung yang berair.
"Hei, Boy. Di mana ketangguhanmu yang melawanku selama ini?"
Lelaki berkulit putih itu terkekeh, kembali menarik bahu Ardan dan mendekapnya erat.
Ardan tersenyum, membalas dekapannya dengan sesekali menepuk kepala belakang Arfan.
"Sudahlah, malu jika dilihat anak-anak," hibur Ardan. Karena jika terlalu lama seperti ini dia pun akan ikut terisak.
"Aku lelah, Dan. Sungguh lelah, bantu aku. Bisakah?" tanya Arfan getir.
"Tenanglah. Kita akan menghadapinya bersama-sama. Katakan padaku ada apa?" Ardan kembali meleraikan pelukannya. Menepuk lembut sebelah pipi sang adik. Memberi kekuatan dan semangat.
Susah payah Arfan menghentikan isakannya. Walau pernah serenggang itu dulu, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa Ardan adalah pundak itu. Tempat bagi anggota Erlangga menumpahkan beban selain pundak Gerald.
"Tolong seret Arfi pulang. Aku khawatir jantung Papa tidak akan bertahan." Serak suara itu memohon iba.
"Tunggu dulu. Sejak kapan Papa ada riwayat jantung?"
Arfan menggeleng, ia mengenadahkan kepala sekadar menguapkan rasa gundah.
"Papa memang gak ada riwayat jantung. Tapi keadaan akhir-akhir ini sangat membuat stres dirinya. Papa memaksakan diri yang jelas-jelas sudah tak sanggup karena semakin tua. Papa tidak akan bertahan jika lebih lama lagi didesak, Dan. Aku takut Papa kenapa-napa."
"Apa yang terjadi, jelaskan padaku, Fan," desak Ardan tidak tahan.
Lelaki dengan paras ganteng itu menarik napas. Memilih duduk di kursi taman dan Ardan mengikuti. Menunggu ucapan Arfan selanjutnya.
"Guard Law Firm, tidak ingin melanjutkan kontrak kerja samanya lagi."
Seketika kening Ardan mengerut, menatap Arfan bingung.
"Kenapa? Bukannya Erlangga sudah memakai jasa mereka bertahun-tahun? Bahkan turun temurun?"
Arfan mengangguk. "Karena itu Papa gamang, tidak memiliki jalan keluar dan terus memaksakan keadaan. Jika Guard tidak ingin memperbarui kontrak, maka Erlangga tamat sudah. Banyak rahasia perusahaan berada di genggaman mereka."
"Tunggu dulu, kenapa mereka melakukan ini? Bukannya selama ini hubungan kerja sama kita baik-baik saja?"
Arfan menoleh, menarik napas, lalu berkata. "Pembatalan pernikahan Arfi dan Ayla yang menjadi penyebabnya. Bukan, pernikahan Arfi lebih tepatnya."
Ardan terdiam, kini dia mulai paham mengapa keadaan rumah menjadi kacau. Pantas saja Arfi memilih pergi, mana mungkin dia mau mengorbankan Nigar setelah apa yang diperjuangkan sangat berat untuknya.
"Pantas saja Arfi sangat marah. Jelas dia tidak akan mengorbankan istrinya," lirih Ardan.
"Ayla tidak meminta dia untuk menceraikan Khadijah, Dan. Ayla hanya meminta Arfi untuk menikahinya dan membiarkan Khadijah menjadi madunya."
Ardan tertawa getir, dia menggelengkan kepalanya. Heran dengan pemikiran perempuan.
"Mana mungkin Arfi mau. Bukan hal yang mudah untuknya bisa menikahi, Nigar. Jangan paksa dia, Fan. Karena kau hanya akan menghancurkan hidupnya di masa depan."
"Aku tau. Dan rasanya tidak mungkin Guard Firm memutuskan kontrak hanya karena masalah ini," kata Arfan lembut.
"Sedikit banyaknya, tetap ada maksud dari pernikahan aliansi kali ini." Sambung Arfan lagi.
"Lalu, apa yang kau pikirkan?"
"Menurut pengamatanku dari desakkan mereka. Yang mereka inginkan adalah perusahaan Erlangga Grup. Mereka tau kau akan memisahkan diri, otomatis Papa akan memindahkan hak waris pimpinan. Dan menurut pengamatanku, mereka akan menargetkan Arfi sebagai CEO selanjutnya. Selain relasi Arfi yang lumayan banyak, kedudukan Arfi akan kuat karena dia anak kesayangan Papa. Pada akhirnya Arfi akan menjadi alat mereka untuk mengendalikan Erlangga."
Ardan tertawa getir, menggeleng dan tanpa sadar kedua tangannya mulai menggepal.
"Terus kau masih ingin memaksa Arfi untuk menikah lagi?" tanya Ardan kesal.
"Aku dari awal tidak pernah meminta dia untuk menikah lagi. Aku hanya meminta dia untuk membantuku, Dan. Sumpah aku bingung, Erlangga hampir colaps."
Arfan menegakkan badannya, menyandar di kursi dengan usapan tangan pada wajah lelahnya.
"Apa rencanamu ke depannya?" tanya Ardan.
"Entahlah. Papa memintaku untuk terus membujuk mereka selama Papa belum bisa melunakan hati Arfi."
Lelaki berkulit sawo matang itu tertawa miris.
"Kalian ini, jika ingin bermain maka jadilah penguasa. Jika tidak bisa menguasai permainan maka hancurkan. Jangan pernah mengikuti permainan orang lain, terlebih terjebak dalam siasat mereka."
"Maksudnya?" tanya Arfan tak mengerti.
Ardan tersenyum, ia menepuk sebelah bahu sang adik.
"Tidurlah, istirahtkan tubuhmu. Kau sudah terlalu lelah belakangan ini, Fan."
"Oh." Datar, Arfan hanya mengangguk, bangkit dan kepala itu menoleh. "Kau tak ikut masuk?" tanyanya saat Ardan masih terduduk santai.
"Nanti. Aku mau mengancam adikmu dulu."
Arfan tersenyum dan mengangguk, berjalan meninggalkan Ardan sendiri. Lelaki beralis tebal itu menarik napas.
Pikirannya mulai mengawan, mengingat wajah putranya dan Hazel. Bahagia keluarga mereka yang mungkin akan berubah saat ia mengambil keputusan lainnya.
"Allah, aku bingung."
...***...
Berulang kali gadis dengan hijab marun itu melihat perggelangan tangan. Jam menunjukkan kian larut, sayangnya lelaki yang ditunggunya belum muncul hingga saat ini.
Nigar mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan dengan cepat dan tersadar jika ponsel sang suami tidak ada lagi.
Sebuah lengan kekar mendekap dari belakang, melingkari bahu kecilnya dengan sebuah ciuman hangat menyentuh samping kepalanya.
Nigar terkejut, sedikit menoleh, tetapi tak bisa karena lelaki itu masih membenamkan ujung hidung di kepalanya.
"Hmm," jawaban itu membuat dia menghela napas lega.
"Kenapa lama sekali?"
"Maaf, sebelum ke sini aku mengambil hadiah untuk kita dulu."
"Hem, hadiah?"
Satu tangan Arfi yang lain mengeluarkan dua buah buku, terdiam. Nigar hanya menatapi dua buku yang ada digenggaman Arfi nanar.
Lelaki itu melepaskan dekapannya, memutar badan langsing itu berhadapan dengannya.
"Simpanlah ini. Mulai saat ini aku tidak perlu khawatir akan apa pun. Karena selamanya kamulah istriku yang kesatu dan hanya satu-satunya."
Sepasang mata indah itu menatapi buku nikah yang ada digenggamannya.
"Kapan Arfi ngurus ini?"
"Hem, pulang kerja tadi."
"Secepat ini?" tanya Nigar tak percaya.
"Ya berkasnya, kan sudah dimasukin duluan sama ayah. Sedikit memaksa, biar siapnya bisa saat ini juga."
Gadis itu tersenyum dan menggeleng pelan. "Dasar keluarga Erlangga ini. Hobinya selalu memaksakan kehendak sesukanya."
Arfi tertawa, merengkuh bahu itu berjalan menuju toko ponsel di mall tersebut.
"Aku hanya berpikir, Nigar. Bagaimana jika terus ditunda-tunda ternyata kamu hamil lebih dulu?"
"Kenapa? Kan, kita udah nikah?"
"Iya. Tapi percuma jika tidak sah di mata negara. Anak pertama kita bakalan dipertanyakan nantinya. Anak pernikahan agama sulit mengurus akta dan berkas lainnya. Aku juga tidak ingin jika anak kita diremehkan di masa depan."
Seketika langkah kaki itu terhenti, Nigar memandangi wajah Arfi lamat-lamat. Benar-benar tidak pernah menduga, jika lelaki yang katanya manja ini mampu menata masa depan secara matang. Bahkan hal seperti ini mampu dipikirkannya.
"Kenapa berhenti?" tanya Arfi dan Nigar hanya menggeleng.
"Bukannya kamu buru-buru karena kamu takut aku akan jadi madu, ya?" tanya Nigar menggoda.
"Itu tidak akan terjadi selama aku tidak mau," sungut Arfi kesal. "Dari pada memikirkan itu, aku lebih memikirkan kapan kira-kira benih-benihku akan bertumbuh?"
Gadis itu memejamkan matanya, malu mendengar perkataan Arfi yang jelas sekali menyindir dirinya.
"Hem?" tanya Arfi memainkan kedua alis matanya menggoda.
"Arfi, sudahlah. Cepat masuk dan pilih ponselmu. Aku ingin pulang dan tidur."
"Lalu, menanam benih lagi?"
Seketika wajah putih itu memerah, satu tangannya menarik kulit perut Arfi geram.
Lelaki itu terbahak, mendatangi salah satu etalase untuk memilih ponsel baru yang akan dibeli. Tak memakan waktu lama, kini lelaki itu mulai menyalakan bendah pipih tersebut.
Sialnya, hal pertama yang dia terima adalah panggilan dari Ardan.
Secepat kilat dia menggeser layar. Belum sempat menempelkan di telinga, suara Ardan sudah memerintah lebih dulu.
"Pulang sekarang!" perintah Ardan tanpa basa-basi.
"Apa?" tanya Arfi bingung.
"Aku bilang pulang!" teriaknya lagi.
"Kak, ada apa denganmu? Apa kau kesurupan?"
"10 menit, jika kau tak pulang akan kuseret kau untuk pulang."
"Ish, Ardan! Kau itu kenapa? Aku baru saja beli ponsel dan malah kau yang menelpon."
"10 menit Arfi, jika kau tak pulang. Maka bersiaplah menerima konsekuensi!"
Ardan mematikan panggilannya, terbodoh, Arfi menatap ke arah Nigar.
Gadis itu juga hanya diam, tidak tahu berkata apa dan Arfi menarik napas lelah.
.
Tepat sepuluh menit, ferrari merah itu memasuki pekarangan rumah Erlangga. Ardan tersenyum, tak lama Arfi keluar dan menghampiri Ardan.
"Ada apa, Kak? Kenapa tiba-tiba kau menyuruhku pulang?" tanya Arfi kesal, padahal tubuhnya belum sampai ke hadapan Ardan.
Ardan hanya tersenyum, berjalan melewati Arfi dengan sebelah tangan menepuk bahu.
"Tidak ada. Ini sudah sangat larut. Tidurlah dan nikmati ranjangmu," kata Ardan berlalu memasuki teras rumah.
Arfi terbodoh, menatapi punggung itu pergi.
"Oh Lord, ini maksudnya?" tanyanya bingung sendiri.
Seketika tubuh tegap itu berbalik seraya berkata, "aku melarangmu keluar dari perkarangan ini. Sempat kau lakukan itu tanpa seizinku, bersiaplah untuk mati!" ancam Ardan dan Arfi hanya diam.
"Ardan, tunggu dulu. Ini maksudnya apa?" teriak Arfi bertanya.
Ardan hanya mengangkat sebelah tangannya, melambai seraya terus berjalan ke dalam rumah.
Bungsu Erlangga itu mendesis geram, menendang kotak rokok dengan kesal.
"Dasar, Ardan!"