For My Family

For My Family
183



Gadis bermata madu itu mengangkat tubuh mungil putrinya. Mencium aroma tubuh gadis kecil yang terbalut batik senada dengan kemeja sang papa.


Sementara lelaki itu hanya berdiri di depan lemari. Memerhatikan Hazel yang menyiapkan putri kecil mereka.


"Mas kalo udah siap tolong .... " Ucapan itu terhenti saat sepasang matanya menatap Ardan yang masih berdiri melipat tangannya di depan dada.


Masih berkaus ketat, tidak memakai kemejanya walau Hazel sudah menyiapkankannya lebih awal.


"Mas kenapa belom pake baju, sih? Ini udah jam berapa?" tanya Hazel sedikit ketus.


"Memang Yena saja yang harus dipakein? Aku juga mau," kata Ardan manja.


Wanita berdarah Turki itu menarik napas. Meletakan sang bayi kembali ke kasur dan berjalan menghampiri Ardan.


"Kenapa Mas jadi manja seperti ini, sih?" lirihnya bertanya.


Cepat tangannya membuka kancing-kancing kemeja batik itu. Lalu melebarkannya di depan Ardan, meminta sang suami untuk segera memakainya, namun lelaki itu masih bergeming.


Hazel berdecak kesal, ia menarik tangan Ardan dan memaksanya untuk masuk. Cekatan jari-jari itu mengaitkan setiap kancingnya.


Saat jari itu mengaitkan kancing dua teratas. Satu tangan Ardan menarik pinggang ramping itu merapat.


"Kenapa, Sayang? Apa kamu tidak ikhlas memakaikan baju untukku?"


Seketika jari itu terhenti, iris berwarna madunya menatap wajah Ardan.


"Bukan tidak ikhlas, tapi bisa gak Mas jangan ikut rewel saat anak-anak pun belum siap."


"Kamu lelah?" tanya Ardan lembut.


"Bukan lelah, Mas. Hanya saja--"


"Apa?" tanya Ardan sedikit ketus.


"Aku repot."


"Jadi mengurusku merepotkanmu?"


"Bukan seperti itu, Mas."


"Kamu kelelahan, Hazel."


"Aku tidak lelah, Mas."


"Kamu lelah," sungut Ardan lagi.


"Enggak, Mas. Aku gak lelah," jawab Hazel tak mau kalah.


"Kamu lelah, Hazel. Katakan padaku kalau kamu lelah mengurusku," sahut Ardan ketus.


"Sudah kukatakan aku tidak lelah, Mas."


"Kamu lelah, Hazel!"


"Mas .... "


Wanita itu menatap wajah Ardan, detik kemudian bibirnya terkembang. Kedua tangannya menarik pinggang Ardan dan memeluk badan lelaki itu erat.


"Iya aku lelah, Mas. Untuk itu, bisakah jangan semanja ini dulu?"


Ardan menarik napasnya, merengkuh tubuh mungil itu erat.


"Pikiranmu yang lelah, bukan? Kenapa tak kamu dengarkan ucapanku, Sayang? Percayalah, Nigar akan memilih dengan sangat tepat." Bibir tipis itu mendarat di pucuk kepala sang istri.


Hazel merenggangkan pelukannya dan kembali menatap wajah Ardan. Bibir mungilnya terkulum, sampai dua lesung itu terlihat dengan jelas.


"Apa aku salah jika aku takut kehilangannya lagi, Mas? Aku hanya tidak ingin menjadi sendiri. Sebatang kara lagi."


Ardan menangkupkan kedua tangannya di pipi sang istri. Lalu dahi itu ia tempelkan ke dahi Hazel.


"Siapa yang mengatakan kamu akan sendirian, Nazha? Ada aku, ada Surya dan juga Yena. Kami selalu berada di sisimu, dan kami adalah orang-orang yang selalu menyanyangimu. Tak peduli apa pun keadaannya."


"Maksudku--" Ucapan itu terhenti saat bibir itu menggulum bibirnya.


Ardan menarik napas, lalu meleraikan ciumannya.


"Ada saatnya sesuatu yang rekat akan berjarak, Sayang. Semua di dunia ini pernah sangat dekat, perlahan mulai berjarak dan menghilang dari dekapan. Itu hukum dunia, Hazel. Kita tidak tau kapan jarak itu akan memisahkan, namun kita harus selalu menyiapkan hati yang lapang untuk mengikhlaskan."


Dua ibu jari kekar itu mengelus lembut pipi sang wanita.


"Saat seseorang mulai dewasa. Dia akan menentukan pilihan hidupnya. Dan saat itu, kita yang selalu menjaganya harus menyiapkan diri untuk berjarak dengannya. Bukan untuk tidak peduli lagi dengannya, namun karena setiap orang butuh ruang untuk menata hidupnya."


Sepasang mata berwarna madu itu menundukkan pandanganya.


Ardan mengangguk pelan saat sepasang mata itu kembali menatapnya. Satu air lolos dari binar jernih wanita itu. Ardan mengecup air mata yang sempat tumpah membasahi pipi sang istri.


"Ayolah, kamu memiliki tanggungjawabmu, pun Nigar. Biarkan dia mandiri, karena suatu saat nanti dia akan menjadi pundak untuk anak-anaknya, Nazhaku."


Bibir mungil itu tersenyum, ia mengangguk pelan dan meraih jemari Ardan yang menangkup di pipinya.


"Kamu benar, Mas. Tak seharusnya aku terlalu berlebihan mengkhawatirkannya."


"Kalau aku benar. Mana ciumnya?"


Kaki pendek itu berjinjit, mencoba meraih bingkai di wajah sang suami. Kedua tangan Ardan menarik pinggang sang istri.


Bergerak nakal dan berhenti dengan cengkeraman lembut di bokong Hazel.


"Mas ih," sungut Hazel kesal dan Ardan terkekeh.


"Aku sudah siap. Aku turun duluan bersama Yena, dan kamu segeralah bersiap."


Gadis berdarah Turki itu mengangguk, dua tangannya mengelus bahu kemeja Ardan dengan lembut.


Hal yang tak pernah ia pikiri, namun sangat dia syukuri. Adalah menjadi milik Ardan. Bukan hanya arogan, namun dewasanya dalam menyelesaikan masalah membuat dia tampak sangat sempurna sebagai pendamping kehidupan.


...***...


Ferdi melepaskan seatbeltnya saat mobil itu sudah terparkir di halaman tempat acara.


Memilih konsep outdoor, Nara memilih menggelar resepsi pernikahan di pinggir danau kota.


Mata Ferdi memaling, melihat belia itu yang masih duduk dengan meremat-remat kedua jemarinya.


"Ada apa?" tanya Ferdi melihat wajah belia itu yang penuh dengan peluh.


"Aku deg-degan, Kak."


Ferdi terkekeh, satu tangannya menarik tisu di atas dashboard dan mengelap pelipis Sasy.


"Kenapa kamu yang deg-degan? Memang kamu yang mau menikah?" tanya Ferdi geli.


"Bukan. Awal-awalnya memang nemeni datang ke acara nikahan."


"Terus?"


"Terus besok-besok, nemeni Kak Ferdi nikahan. Eeaaak!"


Seketika suasana di dalam mobil pecah. Ferdi terbahak, ia menggelengkan kepala pelan. Digombali bocah. Geli rasanya.


"Kak Ferdi aku ada permainan, mau coba?" tanya Sasy lagi.


"Kita mau masuk ke acara, masih aja mikirin main. Dasar bocah."


"Ish, ayo main dulu. Selesai main aku temeni ke kondangan, deh."


Ferdi memutar bola matanya, lalu ia melirik ke arah wajah.


"Baiklah, katakan bagaimana cara mainnya?" tanya lelaki itu mengalah, dari pada makin lama.


"Tidak susah, Kak Ferdi hanya perlu membuka telapak tangan saja."


Tak ingin berdebat, lelaki itu membuka telapak tangannya lebar-lebar.


"Lalu?"


Belia itu mengangkat kedua tangannya. "Lihat, Kak. Tanganku kosong, kan?"


"Hmmm."


"Tapi hanya dengan tangan kosong ini aku bisa membuat sesuatu menghangat."


"Oh, ya?"


Gadis itu mendekatkan sebelah jemarinya, lalu jari-jari itu masuk ke sela jari kekar milik Ferdi. Mengenggam jemari lelaki itu erat.


Ferdi kembali terbahak, ia menggelengkan kepalanya, geli melihat ulah Sasy yang memodusinya hanya untuk sebuah genggaman tangan saja.


Dan benar saja, ada yang menghangat saat bibir belia itu menyentuh punggung tangannya.


Sendu, tatapan belia itu menatap Ferdi dalam dan lekat. Lalu dia mendekat dan berbisik.


"Sungguh, Kak. Senyummu itu telah menghipnotisku."