
Gadis berkemeja putih itu menghela napasnya saat menatap tulisan yang ada di depan pagar.
Tangannya yang tengah menggenggam beberapa kantung plastik mengerat.
Perlahan langkah itu berjalan memasuki perkarangan rumah sakit tempat pria berdarah setengah Spanyol itu bekerja.
Beberapa kali badannya memiring ketika anak kecil berlarian di koridor rumah sakit.
"Kenapa banyak banget anak kecil?" lirihnya bingung sendiri.
Gadis itu melanjutkan langkah, kepalanya memaling ketika melihat sebuah ruangan terbuka.
Gadis cantik dengan name tag Abel di dadanya tengah tersenyum manis seraya mengusap lembut kepala seorang bayi. Menangis, sehabis diimunisasi.
"Pantas saja ramai anak-anak, ternyata ada jadwal imunisasi." Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.
Tersenyum ramah saat melewati beberapa gadis berseragam putih di koridor.
"Aku dengar Dokter Pedro akan menikah?" tanya salah satu gadis yang berselisihan dengan Nara.
Membuat gadis itu berhenti dan menatap ke arah dua gadis berseragam putih tersebut.
"Malah ada yang bilang kalo Dokter Pedro sudah menikah di bawah tangan."
"Beneran? Kasihan dong Dokter Abel yang udah nunggu bertahun-tahun."
Kinara menaikan sebelah alis matanya mendengar percakapan itu sekilas. Ingin mendengar lebih banyak, tapi sayang ia tidak berani untuk menanyakan atau sekadar mengikuti mereka.
Gadis berkucir kuda itu menghela napas. Perlahan kakinya bergerak ke arah depan sebuah kamar.
Memerhatikan wajah dan lekuk badannya pada kaca kamar. Memang wajahnya tidak terlalu cantik, jika gadis yang digosipkan oleh dua perawat tadi adalah Dokter berparas manis itu.
Jelas sekali dia kalah, kenapa juga Pedro harus mempertahankan pernikahan mereka?
Sementara ada gadis yang lebih cantik, bahkan lebih pintar darinya. Mengingat dia juga Dokter di rumah sakit ini. Lantas, dirinya hanyalah seorang karyawan biasa.
Perlahan kepala itu tertunduk, menghela napas dengan sedikit berat. Mungkin, lebih baik pernikahan ini diakhiri saja.
"Kenapa malah melamun di sini?" bisikan itu membuat Kinara terlonjak, kaget. Ia memegangi dadanya dengan napas yang memburu kencang.
"Astaga, Dokter! Kenapa ngageti begitu?" tanya Nara kesal.
Pedro tersenyum, ia meraih kantungan plastik yang ada di genggaman Nara.
"Siapa yang ngageti? Aku hanya bertanya? Bahkan aku berbisik pelan," bela Pedro.
Gadis itu mencebik kesal, mengikuti langkah Pedro yang tengah menggandeng tangannya menuju ruangan.
Pekat iris berwarna hitam itu memerhatikan Pedro dengan lamat. Matanya, hidungnya, rahang dan parasnya yang kentara dengan khas Spanyolnya.
Tampan, ditambah dengan jajaran giginya yang sangat menawan ketika bibir itu mengembang dengan lebar.
Sebenarnya dia memang lebih pantas bersanding dengan Dokter berwajah manis tadi. Dibandingkan dirinya yang terkesan biasa saja.
Menyadari mata Kinara yang terus memerhatikan dirinya. Pedro meletakan sendok makannya dan berdehem pelan.
"Kenapa lihati aku begitu? Kamu gak suka makanan lagi?" tanyanya lembut.
"Dokter," panggil Nara seraya memainkan sendok di tangannya.
"Hem."
"Udah tumbuh belum?"
Satu alis Pedro terangkat. "Maksudnya?"
Gadis itu menggigit bibir bawah, satu tangannya meraih gelas air di sebelah piring. Meneguk pelan, sekadar membasahi kerongkongan.
"Kinara, maksudnya apa?" tanya Pedro lagi.
"Cinta di hati Dokter untukku. Udah tumbuh belum?" tanya Kinara lagi.
Dokter tampan itu tersenyum, satu tangannya menyendokki nasi dan menyuapnya. Kembali menyantap makanan tanpa menjawab ucapan sang istri.
"Dokter."
"Hem."
"Kok gak jawab?"
"Gak harus buru-buru, kan. Biarkan cinta datang dengan jalannya. Perlahan, dia akan hadir dan menjelma. Memasuki dan mengisi apa yang tak pernah ada sebelumnya."
Gadis itu menundukkan pandangan. Satu tangannya mengenggam sendok dengan erat.
"Aku pikir, jika memang sesulit itu untuk membuka hati. Mengapa tidak kita akhiri saja?"
Gerakan bibir Pedro terhenti tiba-tiba. Matanya mulai tajam menatapi gadis di depannya.
"Maksudnya? Kamu ingin kita tetap berpisah?"
Kinara mengangguk, tak berani menatap wajah Pedro.
Lelaki bermata cokelat itu mendesah panjang. Meletakan sendok dengan menyandarkan punggung pada kursi.
Terdiam, irisnya memandang dalam keheningan. Tak tahu harus bagaimana? Karena gadis itu memang selalu ingin mengakhiri apa yang baru saja mereka bina.
"Kamu sudah pikirkan ini matang-matang? Pernikahan kita baru saja dimulai. Kita masih membutuhkan waktu untuk sama-sama saling terbuka. Menerima satu sama lain dan membiasakan diri atas sifat pasangan. Kenapa terburu-buru ingin mengakhiri?"
Kinara meneguk salivanya, perlahan ia menaikan pandangan mata.
"Kinara," panggil Pedro lagi. "Bagaimana dengamu? Apakah sudah tumbuh?" tanya Pedro lembut.
Gadis itu menggeleng lemah, membuat tarikan napas lelaki itu terasa lebih berat.
"Ayo kita coba lagi. Memulainya lagi, mungkin kita memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk membiasakan diri, Nara."
Lelaki itu tersenyum, satu tangannya merapikan helaian cokelat yang jatuh ke depan dahi.
"Kamu cemburu?" tanya Pedro lembut.
Gadis itu kembali mendongak, cepat kepalanya menggeleng.
"Bukan. Maksudku bukan begitu Dokter. Aku hanya ... hanya--"
Lelaki itu tersenyum dengan lebar, lantas ia bangkit dan berjalan menghampiri Nara. Membungkukkan badan dengan salah satu tangan tertumpuh pada meja.
"Jika iya, juga tidak masalah. Malah aku senang mengetahuinya," bisik Pedro lembut di sebelah Nara.
Mata gadis itu membulat, menatap Pedro yang sangat dekat dengan dirinya.
Wajahnya memerah, dengan detakan jantung yang tidak lagi seirama. Berdebar dengan sangat kencang, terlebih aroma maskulin lelaki itu yang tercium sangat pekat.
"Jika kamu cemburu, itu tandanya sedikit cinta telah mengetuk pintu hatimu, hem." Bibir lelaki itu mengembang, menampilkan jajaran gigi menawannya.
Pendar mata bundar itu menatap dalam. Pesona yang dihadirkan lelaki berdarah Spanyol itu membuatnya terpukau. Bergeming, memandang wajah tampan itu dalam hening.
"Mengetahui kamu sudah bisa cemburu aja. Itu sudah membuat aku yakin. Bahwa pernikahan ini pasti akan berhasil."
"Kenapa kamu bisa yakin."
"Karena istriku itu adalah kamu. Aku ingin terus yakin, bahwa kebahagiaan itu akan teraih bersamamu. Karena wanita itu kamu, Kinara. Aku yakin bahwa pernikahan ini akan sangat indah kedepannya."
Bibir wanita itu melengkung indah, kepalanya tertunduk. Semburat kemerahan tergambar di wajah cantiknya.
Ada yang menghangat di sini. Dalam segumpal darah yang begitu sensitif. Bisa merasakan senang, saat hati yang lainnya mengungkapkan ketulusan.
"Bersabarlah sedikit lagi. Sampai cinta itu bisa menyapa hati keduanya. Saat rasa nyaman itu bisa hadir dengan sendirinya, saat rasa percaya itu tumbuh untuk mengukuhkan hubungan kita. Bersabarlah sedikit lagi, Kinara. Agar aku bisa menumbuhkan rasa cinta itu pada tempatnya."
Pedro menarik satu tangan Kinara dan membedirikan gadis itu berhadapan dengannya.
Meraih kedua jemari Kinara, dan meletakan di atas kedua bahu kekarnya.
"Di hatimu. Wanita yang telah aku nikahi di hadapan walimu dan juga Tuhanmu. Yang telah aku ucapkan janji untuk selalu kudampingi saat sedih dan bahagia. Kamu, gadis yang berdiri di belakangku ketika kita menghadap-Nya. Menyambut tanganku setelah doa yang kita panjatkan berdua. Berharap agar jodoh kita, akan terus berlanjut sampai ke jannah."
Binar jernih itu mengembunkan lara. Tak tahu bagaimana mengungkapkan, ada perasaan bahagia menembus relung terdalamnya. Berharap bahwa apa yang diucapkan oleh lelaki itu bukanlah dusta semata.
"Dokter, kenapa kamu bisa seyakin ini padaku? Setelah banyak kata yang kuucapkan untuk menyakitimu, tidakkah kamu menganggap aku ini jahat padamu?"
Pedro kembali mengembangkan senyumnya. Satu jari kekarnya merapikan anak rambut yang berantakan.
"Aku sama sekali tidak pernah menganggap ucapanmu itu sungguhan, Kinara. Bagiku itu hanyalah ungkapan atas rasa sakitmu. Bagaimana juga, aku yang lebih dulu menyakitimu, bukan?"
Kedua tangan Kinara yang terkalung di pundak Pedro mengerat. Bersamaan dengan bibirnya yang terus terkembang dengan lebar.
"Kamu pernah dengar jika tulang rusuk itu bengkok? Maka untuk meluruskan harus dilakukan dengan kesabaran dan juga kelembutan. Karena kekerasan hanya akan membuatnya patah dan merusak apa yang telah disandingkan bersama."
"Menurutmu, apa aku ini adalah tulang rusukmu?" tanya Nara lembut.
"Tentu saja. Aku ini adalah imammu. Saat salat aku adalah yang didepanmu. Saat berjalan aku yang ada di sebelahmu. Saat terjatuh akulah yang dibawahmu, dan saat tersakiti, akulah yang akan mendekap dan melindungimu, Nara."
Kinara menggeleng dan melepaskan rangkulan tangannnya.
"Berhentilah untuk menggombaliku, Dokter."
Gadis itu ingin berbalik, satu tangan Pedro mencekal lenganya dan memutarnya kembali. Merengkuh pinggang ramping Nara dan mendekapnya erat.
"Aku tidak sedang menggombalimu, Nara. Kamu adalah istriku. Mau kamu meresmikannya atau tidak. Itu hanya sebatas surat untuk pengakuan negara. Tetapi di mata Tuhan, kamu adalah makmumku, wanitaku, milikku dan jantung di rumahku."
Semburat kemerahan kembali menghiasi wajah berseri itu. Kinara menundukkan wajahnya, merasakan debaran jantung yang kembali menggebukan irama.
Pedro meraih kedua pipi Kinara. Mendonggakkan wajah gadis itu agar mata mereka bisa bertemu.
Tersenyum, memperlihatkan jajaran gigi menawannya. Lembut ibu jari Pedro mengusap pipi chubby itu.
"Nara, bersabarlah untuk menyemai cinta kita. Semua butuh waktu, dan aku tidak ingin terburu-buru. Karena aku ingin mencintaimu dengan cara yang utuh. Aku tidak ingin jenuh memudarkannya kelak. Untuk itu, bertahanlah sedikit lagi bersamaku, ya."
Gadis itu mengangguk pelan, perlahan Pedro menarik wajah itu mendekat. Semakin dekat sampai buruan napas keduanya terasa menghangat.
Menembus kulit wajah masing-masing. Kinara memejamkan matanya, terlalu berdebar saat berada di posisi seperti ini.
Pedro kembali tersenyum, lembut ia mengecup sekilas, lalu melepaskannya begitu saja.
Setumpuk kekecewaan tergambar di wajah gadisnya. Ia memandang Pedro yang kembali duduk dan memakan sisa nasinya.
Hanya tersenyum, sesekali memggeleng pelan. Seperti hanya mempermainkan.
Melihat wajah Kinara, lelaki itu kembali tertawa.
"Aku juga inginnya menciummu, Kinara. Tapi bisa bahaya jika aku ketahuan menciummu di saat jam kerja. Bersabarlah, piketku akan selesai sebentar lagi."
Gadis itu menarik tasnya, menatap Pedro dengan sinis.
"Siapa yang menantikan ciumanmu, Dokter? Aku hanya terkejut, kau ... tidak sopan!"
Kinara menghentakkan kakinya seraya berjalan keluar. Membuat senyum Pedro kembali terkembang.
Dentuman suara pintu beradu itu malah membuat tawa lelaki itu pecah. Pedro kembali menggeleng, dengan satu jari menyentuh bibirnya.
"Raut wajah itu?" lirih Pedro seraya mengingat wajah Kinara.
"Sudahkah kamu menerimaku, Kinara?"
Sementara di luar sini Kinara mengambil napasnya dengan memburu kencang.
Jantungnya tidak bisa berhenti berdebar. Terlebih ketika ingatan itu terus terputar. Bukan hal yang pertama kali mereka berciuman.
Akan tetapi mengapa? Kali ini rasanya begitu berbeda. Ada getaran yang menembus sampai ke dalam jiwa. Entah apa namanya.
Mungkinkah? Ini yang namanya cinta pada tempatnya?