For My Family

For My Family
190



Gadis dengan balutan jeans putih dan baju rajut lengan panjang itu berlari. Menapaki paving trotoar menuju taman kota yang tidak jauh dari kampusnya.


Badan mungil itu membungkuk, menarik napas ngos-ngosan setelah memaksa langkahnya untuk datang secepat yang ia bisa.


Setelah napasnya sedikit lebih lengang, gadis belia itu berjalan menghampiri Ferdi yang tengah asyik duduk di tengah taman.


"Kenapa Kakak nunggu di sini? Kenapa gak langsung ketemu di depan gerbang?"


Lelaki berwajah teduh itu menggeleng. "Kasihan kamu. Nanti dikira pergi sama Om-Om."


Sasy tersenyum kecut, satu tangan Ferdi menyodorkan sekotak susu UHT. Sepasang mata bundar itu hanya melihat tanpa menyentuh.


"Susu?" tanyanya.


Ferdi melepaskan sedotan yang menempel di sisi kotak. Lalu, menyobloskannya, kembali menyodorkan ke hadapan Sasy.


"Susu lagi. Kenapa selalu ngasih aku susu, sih? Memang aku bayi?" tanyanya kesal, namun masih menerima uluran tersebut.


Ferdi tersenyum, satu tangannya mengacak puncak kepala sang belia.


"Emang bukan bayi, ya?"


"Bukan, dong," sahut Sasy langsung. "Tapi kalo Kak Ferdi suka bayi, aku mau kok jadi bayinya Kak Ferdi," sambungnya seraya menggelayut manja di lengan Ferdi.


Ferdi hanya terkekeh, kepalanya menggeleng pelan.


"Sasy."


"Hmm."


"Boleh aku nanya?"


"Sure."


"Sebelumnya, kamu pernah pacaran?"


"Belum."


"Suka sama cowok?"


Gadis itu menggeleng, lalu kedua kakinya bermain-main.


"Gak dikasih sama ayah."


"Terus kalo gak dikasih gak pingin coba?"


"Enggak," sahutnya langsung. "Tapi kalo pacarannya sama Kak Ferdi pingin coba," jawabnya terkikik.


Ferdi hanya tersenyum, mengacak puncak kepala gadis itu lagi.


"Menurutmu, apa pacaran itu penting?"


Gadis belia itu menggigit ujung sedotan. Ferdi melirik, tingkahnya memang tak ubah Arsy. Bahkan saat berpikir ia melakukan hal yang sama seperti Arsy lakukan.


"Penting, gak panting, sih."


"Kok gitu?"


"Hum, pentingnya ... bisa saja kalau pacaran itu menambah semangat. Menambah keceriaan, dan bisa juga menambah motivasi baru?"


"Hem?" tanya Ferdi tak mengerti.


"Iya. Kayak misalnya, bangun pagi yang biasa itu males-malesan karena jalani hari yang itu-itu mulu kegiatannya. Bisa jadi lebih semangat saat terpikir, mungkin hari ini bisa ketemuan. Bisa jalan, bisa kencan, atau bisa kirim pesan sayang-sayangan." Gadis itu terkekeh, matanya menatap kosong ke rerumputan dengan gigitan pada ujung sedotannya.


Lalu tatapan itu teralih pada Ferdi. "Kak, apa kita hari ini akan kencan?" tanyanya manja.


'Tidak bisa. Aku masih banyak pekerjaan."


Seketika bibir itu memanyun, kembali menyedot susu di dalam kotak.


"Lalu tidak pentingnya?" tanya Ferdi lagi.


"Buang-buang waktu, sih. Memang katanya pacaran bisa menjadi pendekatan dan pemahanan satu sama lain. Tapi dari yang aku lihat, mau seberapa lama pacaran, sifat asli tetap akan terlihat setelah menikah."


"Jadi menurutmu, lebih bagus menikah dari pada pacaran begitu?"


"Yaiyalah. Pacaran sedikit banyaknya pasti melibatkan nafsu di dalamnya. Alasan kenapa aku gak dikasih pacaran ya karena itu. Perempuan pasti adalah yang paling dirugikan saat pacaran lama, eh taunya cuma jagain jodoh orang."


"Kalo gitu jangan mau pacaran diapa-apain. Harus punya prinsip untuk tidak disentuh sebelum nikah."


Bibir belia itu tersenyum, getir mendengar ucapan Ferdi.


"Munafik itu namanya, Kak. Saat rasa suka dan sayang sudah tertanam. Hal yang tidak ingin dilihat adalah kekecewaan pada pasangan. Kadang sifat cewek ini sayangnya beneran, eh si cowok sayangnya karena ada yang mau dirasakan."


Ferdi berdehem pelan mendengar ucapan Sasy. Ternyata pikiran dia cukup terbuka untuk masalah ini.


"Lalu kenapa kamu tidak marah saat aku cium? Dan malah kamu yang terus nyium duluan?"


Sasy melirik ke arah Ferdi, lalu bibir gadis itu terkulum. Malu-malu ia menyembunyikan wajahnya di lengan Ferdi. Jari-jarinya menarik sisi kemeja lelaki itu.


"Ish ... Kakak! Jangan ingati itu, aku malu," katanya terkikik sendiri.


Ferdi ikut terkekeh, ia menarik kepala itu. Lalu menatap wajah Sasy yang memerah.


"Kenapa baru sekarang malunya?" tanya Ferdi menggoda.


Jari-jari itu masih meremat sisi kemeja di bagian pergelangan tangan Ferdi. Mata bundarnya menatap dalam.


"Jika seperti itu, apa lelaki juga yang salah?"


"Ish, Kak Ferdi." Jemari itu membuang pergelangan tangan Ferdi yang ia buat untuk menutupi mulut.


Ferdi terkekeh, detik kemudian ia menarik kepala Sasy dan menjatuhkannya di atas bahu. Ikut meletakan kepalanya di atas kepala belia tersebut.


"Sasy, jika suatu saat nanti ada lelaki yang kamu sukai selain aku bagaimana?"


"Kak Ferdi maunya bagaimana?"


"Kok nanya aku?"


"Bukannya hubungan itu milik berdua? Saat menjalaninya berdua, maka melepaskannya juga harus berdua?"


"Jika kamu suka dia, nyaman dan cinta padanya. Apa kamu masih peduli pada keputusanku?"


Sasy menarik napasnya, terdiam sejenak.


"Sebenarnya aku sendiri juga gak tau cinta itu apa, Kak. Jika cinta itu nyaman, bersama Kakak aku sangat nyaman. Jika cinta itu kebutuhan, aku membutuhkan Kakak. Jika cinta itu keluhan, selama ini, hanya sama Kakak aku bisa menceritakan segala hal. Jika cinta itu semua rasa bahagia. Jangankan untuk bisa bersama, bahkan melihat Kakak saja aku sangat bahagia."


Ferdi terdiam, mencerna setiap ucapan yang belia itu lontarkan.


"Jadi bagaimana kamu bisa tau kalau kamu mencintaiku? Bagaimana jika itu hanya rasa obsesi dan keinginan?"


"Maka biarkan obsesi dan keinginan itu membawaku pada rasa cinta yang sesungguhnya."


Lagi-lagi lelaki itu terdiam, banyak hal yang memang tidak dia mengerti akan wanita. Salah satunya pemikiran mereka.


"Sasy, kira-kira berapa tahun kamu akan bertahan pada rasa cinta ini? Jika ada yang datang, dan dia menawarkan yang lebih dariku? Bagaimana?"


Sasy mengangkat kepalanya, lalu satu jarinya menunjuk ke arah wajah Ferdi.


"Ciye ... Kakak takut kehilangan aku, ya?" godanya dan Ferdi hanya memutar bola mata malas.


Kedua tangan gadis itu menerebos di antara lengan. Memeluk pinggang Ferdi erat, mengusap-usap wajahnya manja pada dada bidang itu.


"Setiap orang akan merasakan tempat ternyamannya masing-masing, Kak. Tentu saja akan banyak yang datang, tetapi rasa nyaman itu tak akan ada pada sosok yang lainnya. Apa pun bisa saja berlebihan, tetapi rasa, dia hanya akan menunjukkan arah pada tuannya. Tidak akan berpindah."


"Memang, tapi kalau ada yang bisa membuat kamu lebih nyaman gimana?"


"Rasa nyaman itu tak akan pernah ada yang sama, Kak. Lebih nyaman? Lebih itu yang bagaimana? Jika aku telah nyaman pada satu hati, apakah harus mencari tempat yang lainnya? Jika nyaman, maka dia hanya akan berada, menetap, dan memandang satu tujuan saja. Itu Kakak."


"Kamu bisa mengatakannya saat ini, Sasy. Karena kamu belum menemukan yang lebih dari aku. Jika sudah? Tidak ada itu semua."


Sasy mendongak, menatap wajah Ferdi lamat-lamat. Sebenarnya ke mana arah bicara Ferdi?


"Kak."


"Hmm."


"Jika Kakak saja bisa menatap hanya pada satu arah selama bertahun lamanya. Tak berpindah meski tak lagi beraga. Apakah tidak bisa juga aku hanya menatap satu lelaki, terlebih saat raganya ada dan bisa dijamah?"


"Sasy, banyak hal di depan sana yang belum kamu temui. Banyak cinta yang akan menyapa dan bisa membuatmu bahagia lebih dari yang aku berikan. Jika seumur hidup kamu hanya bisa menatapku? Apa kamu tak jenuh?"


Sasy menunduk, perlahan pelukannya terlepas.


"Apa Kakak ingin kita putus? Aku ... baru merasa bahagia bisa bersama, Kakak."


"Bukan, bukan itu maksudku. Umur kita berbeda, aku bukan lagi anak remaja yang mau bermain-main dalam cinta. Tapi kamu, kamu bahkan masih dalam fase remaja, masa mudamu masih sangat baru, banyak hal yang bisa kamu temui. Dan itu tidak selalu tentang aku, bukan?"


"Terus kalau aku ingin menghabiskan masa muda dengan Kakak kenapa? Kalau mau menjejaki masa muda bersama Kakak juga kenapa? Kalau aku ingin menemui segala hal baru bersama Kakak juga memangnya kenapa?" tanya Sasy memberondong.


"Jangan ditanya soal jenuh, Kak. Setiap hubungan pasti akan menemukan titik jenuh, pasti akan ada di mana rasa mulai menghambar dan tak lagi indah. Lalu, apa Kakak pikir aku akan menjadikan itu alasan untuk bisa putus sama Kakak?" tanyanya lagi.


"Ngedapeti Kakak itu susah! Apa Kakak pikir aku akan ngelepasin dengan mudah? Dari awal aku yang ngejar Kakak, aku yang ngemis, kalau aku jenuh ya berarti aku hanya butuh waktu. Butuh suport dan dukungan, butuh komunikasi dan kita bicarakan baik-baik. Setelah itu perbaiki apa yang bisa buat jenuh, bukan setelah bicara malah ucapin kata pisah!" Satu bulir lolos begitu saja, cepat punggung tangannya mengusap wajah.


"Menemukan Kakak dalam duniaku yang menyedihkan ini adalah keberuntungan. Ada Kakak tempatku bercerita adalah anugerah Tuhan. Kakak gak tau sesulit apa hidup di rumah itu. Kadang perasaan ingin pergi selalu mendominasi, tapi setelah ada Kakak, rasanya itu nyaman. Ada tempat yang aku datangi, ada tempat untuk kumenangis dan disambut oleh usapan, bukan teriakan. Aku tau, aku memang bukan gadis dewasa. Tetapi selain Kakak, aku bahkan tidak berteman dengan siapapun, Kak. Tidak ada tempat, selain Kakak, aku hanya seorang diri menghadapi semua ini."


Gadis itu tertunduk, meremat-remat jemari tangannya. Sementara lelaki itu hanya terdiam, menerima setiap amarah yang gadis itu lontarkan.


"Aku tau dari awal memang selalu aku yang antusias. Memulai segalanya, dan Kakak gak pernah ngomongin apa pun. Bahkan Kakak juga gak pernah nembak aku. Mungkin, akunya yang terlalu percaya diri. Dan menaruh harapan lebih," katanya emosi.


"Dari awal memang selalu aku yang maksa, yang cari cara biar bisa dekat terus. Kak Ferdi memang gak salah, akunya yang terlalu maksa."


Gadis itu mengusap wajahnya, lalu tersenyum lembut. Meletakan kotak susu itu di atas bangku.


"Maaf, Kak. Aku pulang duluan, ya." Gadis itu bangkit, merapikan bukunya. Namun, terhenti saat Ferdi menahan tangannya dan memakaikan jas ke atas pundak mungil itu.


"Biar aku antar."


Gadis itu menggeleng, tersenyum lembut dengan buliran yang sempat jatuh saat mata itu menyipit.


"Gak usah, Kak. Aku naik bus saja."


"Aku ingin mampir ke rumahmu."


"Hah?"


"Apa ayahmu ada?"


"Eh, kenapa?"


"Jika aku ingin melamarmu, apa kamu bersedia."


"Hah?" teriak Sasy memekak.