For My Family

For My Family
210



Gadis berhijab itu menahan sesak, terseduh seraya menutupi wajah dengan kedua tangannya. Tersentak-sentak menahan isak.


Arfi bangkit dan menjatuhkan badan di sebelah. Mengelus lembut pucuk kepala, lalu menariknya ke dalam dekapan.


"Kok malah nangis, sih?" tanya lelaki berparas tampan itu.


"Aku kesel. Aku benci setiap kali kita jalan, selalu ada aja gangguan. Selalu ada aja yang nyapa Arfi, cium-cium dan peluk-peluk sembarangan. Mau dua tahun yang lalu ataupun sudah menjadi istrimu, sama saja," racau sang gadis kesal.


Bibir sedikit kemerahan itu tersenyum, mengusap geram kepala berbalut hijab gadisnya.


"Arfi itu bisa gak, sih, jangan ganjen. Jangan terima aja saat dicium-cium begitu. Arfi memang lelaki, tapi ada batasannya juga. Tiap hari dicium cewek seksi, apa Arfi gak tergoda?"


"Jadi kamu cemburu?"


Nigar menarik kepalanya, melihat wajah Arfi semakin membuat dia kesal. Jari-jari lentik itu menarik kulit dada sang lelaki, menyubit, memukul, apa saja untuk melampiaskan kekeselannya.


"Arfi jahat, aku benci, aku gak cemburu. Playboy!" rutuk Nigar memukuli dada Arfi.


Lelaki berambut pirang itu hanya tertawa. Menangkap gerakan tangan Nigar dan kembali menarik tangannya untuk mendekap badan langsing tersebut.


"Kalau cemburu juga gak apa. Itu artinya kamu mencintaiku, ya, kan?"


Gadis itu hanya terdiam, memeluk pinggang Arfi. Seakan takut kehilangan, perlahan dekapannya semakin mengerat.


"Nigar," panggil Arfi dan gadis bermata indah itu hanya diam.


Menyadari dekapan tangan Nigar yang sangat kuat. Lelaki itu mencoba meleraikannya. Menangkupkan tangan pada wajah.


"Kamu kenapa?" tanya Arfi mengelus pipi pada wajah cantik keturunan Turki tersebut.


"Arfi, bagaimana kamu tidak tergoda melihat gadis-gadis secantik dan seseksi itu? Kalau aku sebagai istrimu tidak mampu memberikan hakmu, bagaimana bisa Arfi menahannya?" Sepasang mata bundar itu menatap wajah.


Bungsu Erlangga itu menarik kaitan jarum di hijab Nigar, membuka selendang berbahan setin tersebut. Lantas, ia melepaskan ikatan pada rambut. Membiarkan helaian cokelat kemerahan itu tergerai.


Jari-jari kekarnya merapikan, rambut cokelat kemerahan itu terlihat sangat kontras dengan kulit sang wanita. Bibir lelaki itu tersenyum manis, menyingkap rambut Nigar di balik telinga.


"Kamu pun sangat cantik, Nigar. Sangat indah, dan juga seksi." Satu tangan itu membelai lembut, lalu meraih helaian kemerahannya dan menciumnya. Menikmati aroma shampo yang gadis itu kenakan.


"Dan yang paling aku sukai. Kamu yang secantik ini, hanya bisa dilihat olehku."


Bibir ranum itu terkulum, Nigar menggeser duduknya. Menarik pundak Arfi dan menjatuhkan kepala di atas bahu bidang sang suami.


"Kumohon, Arfi. Jagalah dirimu, jangan biarkan kamu tersentuh wanita manapun. Walau hanya sebatas mencium pipi. Aku tak suka, apakah boleh aku melarangnya?"


Arfi hanya mengangguk, membenamkan ujung hidungnya ke dalam helaian rambut sang wanita. Mengelus belakang kepala Nigar penuh kasih sayang.


"Aku akan menjaganya, seperti kamu yang selalu menjaga diri. Aku pun ingin seperti itu." Lelaki berambut pirang itu menarik badannya, mengusap pipi sang wanita dan Nigar hanya memejamkan mata.


"Aku pun ingin menjadi pantas, Nigar. Pantas untuk disebut sebagai lelakimu, pantas untuk menjadi suamimu. Dan pantas, untuk menjemputmu. Di sana, keabadian yang sempurna."


***


Lekat sepasang iris tua milik Irfan memandangi lelaki yang ada di depannya.


Wajah teduh itu tidak menampakan kecemasan sama sekali. Benarkah dia serius ingin menikahi sang putri?


"Apa jaminannya kamu tidak akan menyakiti dia?" tanya Irfan dan Ferdi mendongak, ikut menatap wajah calon mertua.


"Ibu saya juga seorang wanita, Pak. Janda dengan tiga orang anak. Saya juga memiliki dua adik perempuan. Jika saya menyakiti putri Anda. Bukankah saya juga menyakiti mereka," kata Ferdi lembut.


"Saya tidak bisa menjaminkan apa pun. Karena saya pun hanya seorang lelaki biasa. Tidak mungkin bisa terlepas dari kesalahan yang mungkin saja menimbulkan kekecewaan. Jika Anda ingin percaya, saya hanya bisa menjaganya. Tidak bisa menjaminnya."


Irfan terdiam, menilik wajah teduh lelaki itu. Jawabannya sangat tenang. Sama sekali seperti tidak mencemaskan apa pun.


"Benarkah kamu mencintai anak saya?" tanya Irfan lagi.


"Wallahi, saya mencintai dia," jawab Ferdi langsung dan ada seulas senyum yang terbit saat mendengar ucapan itu.


Sasy mencengkeram tepian pintu. Melihat wajah Ferdi yang tenang sekali. Lelaki itu, memang sangat pandai menyembunyikan ekspresinya.


"Tapi kenapa kamu memintanya seperti ringan sekali? Bahkan bisa setenang ini? Seperti sudah terbiasa."


Ferdi hanya tersenyum, pelan ia menggeleng.


"Tidak ada yang ringan, Pak. Karena saya sedang meninta tanggung jawab baru untuk hidup saya. Bukan hanya di dunia, namun juga di kehidupan selanjutnya. Saya juga cemas, tetapi saya percaya. Jika memang jodoh, sekarang atau nanti, dia akan tetap kembali ke sisi saya."


Bibir di bawah naungan kumis tipis itu tersenyum lembut. Yang dia sukai dari lelaki ini adalah, segala ucapannya yang selalu dekat dengan keimanan.


Benar-benar sangat tenang, karena yang dipegangnya adalah ajaran Tuhan.


"Baiklah," kata Irfan menyandarkan punggungnya di kursi sofa.


"Saya menerima lamaranmu." Lelaki itu berdiri dan merentangkan kedua tangannya.


"Selamat datang di keluarga kami, Ferdi."


Lelaki berkacamata itu ikut bangkit, membalas dekapan Irfan. Lalu, tatapannya teralih ke arah kamar Sasy.


Gadis itu menutup pintu kamarnya sedikit kuat, lalu teriakan tertahan terdengar. Membuat lelaki yang ada di sini menghela napas, lega.


***


Sepasang mata bulat itu memperhatikan punggung Ferdi yang tengah menerima panggilan. Sesekali lelaki berwajah teduh itu melihat kebelakang.


Tersenyum, ketika mata mereka berpas-pasan. Setelah beberapa waktu, lelaki itu menutup panggilannya dan kembali mendekati. Duduk di sebelah Sasy yang menyodorkan segelas kopi kepadanya.


"Aku sudah bilang pada Ibu tentangmu."


"Dia ingin bertemu denganmu dulu."


"Oh," kata Sasy memutar badannya ke arah depan. Jantungnya mulai cemas, bagaimana jika sang mertua tidak menerima?


Lalu, bayangan tentang sikap sang mama terhadap menantunya terputar. Bagaimana jika nanti dia juga mendapatkan perlakuan yang sama?


Lamunan itu tersadar saat sebuah usapan lembut terasa di atas kepala.


"Ibuku bukan wanita yang susah. Dia pasti akan menerimamu, percayalah."


Seketika bibir itu memanyun, ia menatap Ferdi dengan ujung jari yang menaut satu sama lain.


"Kak Ferdi," panggilnya manja.


"Kenapa?"


"Nanti kalau mama Kak Ferdi menentang gimana?" tanya Sasy memanyun.


"Sudah kukatakan, ibuku bukan wanita yang seperti itu."


"Tapi, kalau mama Kak Ferdi tau aku masih gadis kecil, terus gak diterima jadi menantu gimana? Terus nanti aku gak boleh nikah sama Kakak, terus kita gimana?" tanyanya tanpa jeda.


Melihat raut wajah belia itu, Ferdi menahan tawa. Satu tangannya membentang di atas sandaran bangku.


"Bagaimana, ya?" goda Ferdi kembali. Kepala gadis itu menunduk, memanyun dengan jemari yang memilin ujung kaus.


"Aku ada ide. Gimana kalo Kak Ferdi bilang sama mama Kakak, umur aku bukan sembilan belas tahun. Tapi ... tapi, dua puluh lima tahun."


"Emang ada wanita berumur dua puluh lima tahun seperti dirimu? Petakilan dan usil." Satu jari Ferdi menoyor dahi, seketika gadis itu menghambur, memeluk badan Ferdi.


Ujung jarinya bermain di atas dada sang pria. Sembari memikirkan, sesuatu yang belum pasti terjadi.


"Aku ada ide lagi," katanya tiba-tiba.


"Apa?"


"Gimana kalau kita kawin lari?"


Ferdi terbahak, kepalanya menggeleng pasrah. Ada-ada saja. Belum siap lagi dia tertawa, gadis itu sudah mengangkat kepala dan memandang wajahnya lekat.


"Tapi kalo kita kawin lari, mau lari ke mana? Terus perusahaan Kak Ferdi gimana? Ketahuan, dong? Gak bisa! Gak bisa!" kata Sasy sibuk sendiri dengan pikiran kacaunya.


Gadis belia itu menggigit ujung kuku jempolnya, berpikir seraya memandangi wajah Ferdi yang terus tertawa. Geli.


"Ish ... Kak Ferdi kenapa tertawa! Bantu mikir kek, kok tenang banget, sih?"


Lelaki itu semakin terpingkal, menoyor kepala Sasy dan membenarkan letak duduknya.


"Memangnya siapa yang mau ngalangi kita nikah selain ayahmu? Astaga, Sasy. Kamu bahkan belum bertemu ibuku, bagaimana bisa kamu memikirkan yang buruk-buruk lebih dulu?"


Gadis itu memukul bahu Ferdi, kesal. Lalu badan itu memutar, duduk membelakangi Ferdi dengan silangan tangan di dada.


"Makanya itu kita mikiri rencana lebih dulu. Jadi kalau tiba-tiba mama Kak Ferdi gak setuju, kita udah ada rencana yang lain."


Ferdi kembali terbahak, satu tangannya menyentuh kepala belakang Sasy. Menoyor lembut.


"Sudah kukatakan ibuku adalah wanita yang baik. Dia tidak akan menghalangi apa pun. Sebaliknya, dia akan mendukung apa pun itu."


"Dari mana Kak Ferdi, tau?"


"Hei, dia ibuku. Wanita yang sekuat tenaga telah membesarkanku, mendidikku, dan menjagaku. Dia tidak seburuk itu, walaupun dia sendirian dalam mendidik kami."


Gadis belia itu menggulum bibirnya, ia menatap wajah Ferdi yang berubah sendu.


"Maaf, Kak Ferdi. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan kalau mama Kak Ferdi itu jahat. Aku hanya takut, kalau kita gak jadi nikah."


Ferdi menarik napas, meraih kedua jemari sang belia. Menatapi wajah imut itu lamat.


"Boleh aku memohon padamu. Aku hanya memintanya sekali, dan kamu harus ingat ini."


Sasy menganggukan kepalanya.


"Kamu mencintaiku, bukan?"


"Tentu saja."


"Sebesar apa?"


"Yang pasti lebih besar dari cinta Kak Ferdi ke aku, wee ...." Gadis itu menjulurkan lidahnya, meledek Ferdi dan kali ini lelaki itu hanya tersenyum sendu.


"Kalau begitu, bisakah kamu juga mencintai ibuku? Lebih besar dari cintamu padaku."


🌷🌷🌷



Mau pamer dulu ah, ini bukan Arfi ataupun Ferdi. Tapi ini Gaza, oh Gaza.


Kenapa ke sini, Thor?


Sengaja, untuk menggoda para pembaca


Muehehehe 😂😂😂