For My Family

For My Family
21



Hazel menyapu lantai keramik dengan kedua kakinya, sesekali ia menghela napas. Memperhatikan bangunan dengan nuansa hijau itu.


Beberapa tahun yang lalu, ia juga pernah berada di sini dengan Iqbal. Mendaftarkan pernikahannya pada kesatuan. Setelah melewati proses panjang, akhirnya ia mendapatkan gelar itu.


Gelar sebagai istri abdi negara, gelar sebagai wanita tangguh yang harus siap siaga. Kapanpun itu, statusnya bisa berubah sekejap mata.


Hazel pernah melewati masa-masa itu, hari-hari di mana ia hanya bisa menanti. Terkadang kabar yang datang sering kali membuat denyut di hati.


Melewati malam-malam dingin sendiri, terkadang saat hamil dan melahirkan juga ditinggal sendiri.


Hari-hari di mana hanya mendengar suara di seberang sanapun harus dibatasi.


Ia pikir, setelah melewati masa itu bertahun-tahun lamanya. Akan ada hari di mana ia bisa berkumpul bersama. Tanpa harus terpisah ataupun harus menahan rindu lagi.


Tapi pada kenyataannya, bahkan tidak dunia dan juga di akhirat nanti. Selamanya, ia tidak akan pernah bisa berkumpul lagi bersama lelaki itu.


Lelaki yang pernah memasang badan saat seluruh keluarganya dihabisi oleh pemberontakan. Lelaki yang menyelamatkan nyawanya dari tangan-tangan jahat yang ingin meraihnya.


Belum sempat ia membalas budi baik Iqbal dulu. Bahkan sekarang hanya sekadar menjaga ikatan yang pernah dibuat oleh Iqbal saja ia tidak sanggup.


Hazel memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya di sisi tembok berwarna hijau itu.


Mengingat sepenggal kisah yang pernah tertinggal di sini.


Ia masih ingat semuanya, pernikahan ia dan Iqbal dulu mengalami banyak sekali cobaan. Bahkan saat melaporkan diri, Hazel mendengar banyak hinaan yang tertuju pada dirinya.


Hinaan karena telah merebut tunangan orang. Hinaan karena telah jatuh cinta pada calon suami orang. Memiliki apa yang seharusnya tidak ia miliki. Atau ia yang dijuluki kutukan indah di ujang negara oleh teman-teman Iqbal.


Kini, setelah lama memudar, suara-suara itu kembali terdengar di telinganya. Hinaan dan cacian yang mengatakan ia wanita serakah. Wanita tidak tahu balas budi ataupun wanita yang kesepian.


Apapun itu, saat itu dan saat ini. Kenapa? Mereka harus melakukan itu semua.


Kenapa mereka mampu berkata tanpa berpikir? Mampu melihat namun tidak mau mengerti.


Bahwa hidup ini bukan hanya berjalan dengan ke indahan saja. Tetapi duni juga berjalan dengan segala cobaan.


Mereka melihat kesusahan, tetapi mereka memilih diam. Mereka melihat kebahagian, tetapi mereka menghakimi dengan cercaan.


Kadang, kebahagian yang terlihat adalah duka yang disamarkan. Namun jika kesedihan yang terlihat, maka itu adalah kenyataan.


"Ezgi Hazel Nazha," panggil seorang wanita.


Hazel menghapus sudut matanya yang berair karena mendengar beberapa ucapan dari teman-teman Iqbal di dalam ruangan ini.


Ia merapikan amplop cokelat yang ada di tangannya dan memasuki sebuah ruangan. Duduk di hadapan seorang pria yang pernah ia temui dulu.


"Ezgi Hazel Nazha, mantan istri dari abdi negara angkatan darat Iqbal Sandyka," ucap lelaki yang pernah diakui Iqbal atasannya itu.


Hazel tersenyun tipis dan menganggukan kepalanya pelan.


"Kamu ada bawa berkas yang saya katakan di telepon?"


Hazel menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat itu. Perlahan lelaki itu menyambutnya, membuka dan memeriksanya kembali.


"Selamat untuk pernikahan keduamu, Hazel," ucap lelaki itu tanpa melihat ke arah Hazel.


Lelaki itu kembali memasukan berkas yang di bawa Hazel ke dalam amplop. Ia menyerahkan beberapa dokumen ke tangan Hazel.


"Tanda tangan di atas nama kamu. Setelah itu, statusmu terlepas dari ibu abdi negara."


Hazel membalik lembaran yang diberikan lelaki paruh baya itu. Membaca setiap poin yang tertera di sana. Perlahan air mata Hazel menetes, entah mengapa, tetapi tangannya terasa berat untuk mengakhiri status ini.


Hazel menghela napas, ia mengambil pena yang diletakan lelaki itu di atas meja.


"Saya tidak tahu apa yang terjadi padamu, Hazel. Tetapi kamu terlihat tidak baik-baik saja. Kamu yakin ingin melepaskan ini?"


Hazel tersenyum getir dan menggelengkan kepala. Menghapus pipinya dengan punggung tangan.


"Saya tidak punya pilihan, Pak."


"Kalau begitu, kuat. Istri abdi negara gak boleh lemah. Jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh mereka," ucap lelaki itu menyemangati


Hazel tersenyum dan melihat ke arah lelaki itu. Kembali setetes air luruh dari salah satu matanya.


"Terima kasih, dari dulu. Bapak adalah atasan yang memperlakukan saya dengan sangat baik."


Lelaki itu tersenyum, memberikan selembar tisu ke tangan Hazel.


"Tidak ada alasan saya untuk membencimu, Hazel. Jika kesalahanmu adalah jatuh cinta. Maka Iqballah yang salah, dia yang terus mencintaimu," ucap lelaki itu sembari tersenyum manis.


"Saya ini kutukan dari ujung negara, Pak. Karena mencintai saya, mas Iqbal berakhir seperti ini."


Lelaki itu menggeleng dan bangkit dari kursinya, meraih pucuk kepala Hazel dan mengusapnya dengan lembut.


"Manusia itu bukan kutukan, Hazel. Dan Iqbal, sudah resiko sebagai prajurit berakhir di medan perang. Dan sebagai prajurit, mati dalam perang adalah kebanggan, hem."


Hazel kembali tersenyum tetapi air matanya terus mengalir dengan deras. Sekuat apapun ia berusaha menahannya, luka ini terus terbuka jika ia menemui orang-orang yang mengerti dengan keadaannya.


"Jangan terlalu sedih, Nak. Lepaskanlah. Kamu harus bahagia setelah ini. Berjanjilah kepada saya."


Hazel mendongakan kepalanya, menatap wajah keriput lelaki yang ada di sampingnya itu.


Perlahan bibir Hazel melebar, ia memganggukan kepalanya pelan.


Tangannya mulai mendirikan pena itu, dengan sedikit gemetar. Ia menandatangi dokumen itu.


Apalagi yang bisa ia lakukan? Bahkan berhenti juga sudah tidak memungkinkan.


"Kuat, Nak. Jangan tunjukan sisi lemahmu di depan mereka. Apa yang dikatakan mereka, jangan didengarkan seluruhnya."


"Saya mengerti, Pak. Saya ... pamit ya." Hazel menyerahkan dokumen itu dan langsung berlari keluar dari ruangan.


Menangkupkan tangannya di depan mulut agar suara tangisannya tak terdengar.


Bagaimana mungkin ia tidak mendengarkan suara-suara itu? Jelas, suara itu sangat nyaring terdengar di telinganya.


Walaupun sudah terbiasa akan perkataan tajam sepertu itu. Tetapi lidah memang lebih tajam dibandingkan apapun di dunia ini.


Bisa melukai, tidak berdarah tetapi sakitnya terasa sangat nyata. Menyayat tanpa irisan tetapi bisa sangat perih dan terus berdarah. Mampu menyengal napas tanpa ganjalan, dan mampu menjatuhkan tanpa perbuatan.


Hazel berjalan dengan gontai memasuki gang area rumahnya. Ia melepaskan senyum saat menemui beberapa wanita yang sedang duduk bergerombol di depan rumah mereka.


Memperhatikan ia dengan sudut mata yang sangat tajam. Entah kenapa, tetapi sepertinya, mengurusi pribadi orang lain sudah menjadi hobinya.


"Hazel, baru pulang bekerja?" tanya salah satu wanita yang duduk di sana.


"Aku tidak masuk kerja hari ini," jawab Hazel sekenanya.


Hazel mempercepat langkahnya, berusaha menjauh dari perkumpulan wanita-wanita di sana.


"Benarkah kamu akan menikah?" tanya seseorang yang mampu menghentikan langkah Hazel.


Hazel menghela napasnya, ia tersenyum getir. Baru saja mengurus beberapa surat di kantor desa. Sudah banyak sekali berita yang bertebaran kemana-mana.


"Benar," jawab Hazel malas.


"Ya ... syukurlah. Setidaknya kampung kita terlepas dari satu janda muda."


Hazel melanjutkan langkahnya, kenapa ia harus selalu merasa sakit saat dikatakan sebagai janda di kampung ini.


"Tetapi, bukankah kamu pernah bilang bahwa Iqbal adalah satu-satunya? Apakah sekarang Iqbal tergantikan dengan lelaki kaya yang beruang dan berharta?" tanya salah satu yang lainnya.


"Tetapi tidak ada yang salah juga. Hazel masih sangat muda dan juga cantik. Akan sia-sia masa mudanya jika tidak mencari lelaki kaya," sambut yang lainnya.


Hazel menarik napasnya, ia membalikan badan dan berjalan mendekati perkumpulan itu.


"Benar, bukankah ibu-ibu di sini takut saya rebut suaminya?" tanya Hazel tersenyum sinis.


"Sekarang ibu-ibu di sini sudah tahu, kan? Kalau selera saya bukan lelaki remahan seperti suami kalian semua. Jadi, jika nanti saya menjanda lagi, jangan takut. Saya pasti akan mencari yang lebih kaya dan lebih muda dari yang akan saya nikahi sekarang ini. Bukan yang lebih miskin ataupun lebih tua, apalagi menjadi istri kedua dari lelaki yang menikahi wanita seperti kalian. Sangat jauh dari perkiraan." Hazel tersenyum dan membalikan badannya.


Berjalan dengan cepat meninggalkan perkumpulan itu. Sementara, wanita-wanita paruh baya di sana hanya terdiam. Tak percaya jika wanita muda yang biasa hanya tersenyum lembut bisa mengatakan itu semua.


Setelah Hazel menghilang dari pandangan mereka, para wanita itu kembali ribut. Membahas ucapan Hazel yang begitu mengejutkan.


Hazel membuka pintu rumahnya, terlihat mbok Darmi yang sedang memasak, sembari menjaga Surya bermain di lantai rumah mereka.


Hazel berjalan mendekati mbok Darmi dan memeluk badan gempal wanita itu. Membenamkan wajahnya di bahu sempit wanita itu.


Melepaskan tangisan yang mampu membuat seluruh badannya bergetar.


"Ada apa, Nduk? Kenapa pulang-pulang nangis seperti ini?" tanya mbok Darmi, mengelus lembut pundak Hazel.


Hazel melepaskan pelukannya dan menatap wajah wanita itu yang semakin keriput dan menua.


"Mbok."


"Iya, Sayang."


"Jika aku katakan aku bukan wanita yang seperti itu? Apa Mbok akan percaya?" tanya Hazel sembari menahan tangisannya.


"Maksdunya?" tanya mbok Darmi bingung.


"Kumohon, percayalah padaku, Mbok. Aku tidak peduli pada apa yang dunia katakan. Asalkan Mbok percaya padaku, itu saja sudah cukup," ucap Hazel kembali memeluk badan gempal wanita itu.


"Apa maksudnya, Hazel. Si Mbok gak paham, Nduk. Tenanglah dan ceritakan pelan-pelan," bujuk mbok Darmi lembut.


"Mbok, aku akan menikah lagi."


Sesaat elusan tangan mbok Darmi pada punggung Hazel terhenti. Ia menarik badan wanita itu dan menatap lekat wajah putih pucat wanita itu.


"Kamu, mau menikah?" tanya mbok Darmi tak percaya.