For My Family

For My Family
258



Ardan memijat pangkal hidungnya saat hangat mentari menerpa wajahnya. Pelan dia mulai membuka kedua mata seraya menarik napas panjang. Tertidur sebelum subuh dan bangun sepagi ini membuat kepalanya berdenyut nyeri.


Sebuah beban berat menimpahi dadanya, lelaki itu menarik napas yang tersengal, lantas bibir tipis itu tersenyum saat mengetahui siapa yang menimpahinya.


"Apa ... apaaaaa!" Badan mungil itu terus bergoyang, menjadikan dada Ardan seperti kuda-kudaan.


Mengetahui putranya mengacau, Hazel langsung mendekati anaknya tersebut.


"Surya, turun! Papa baru tidur, Nak."


Belum sempat Hazel menarik lengan Surya, Ardan lebih dulu meraih badan putra mereka dan menjatuhkannya di sebelah. Menarik selimut tebal itu menutupi diri mereka.


Lalu, terlihat beberapa pergerakan di dalam selimut putih itu. Entah apa yang mereka lakukan, tapi berulang kali Surya menjerit, tertawa renyah, lama kelamaan malah menangis dibuat Papa sambungnya tersebut.


Hazel yang mendengar itu hanya menggeleng pasrah, ia lanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti karena Surya. Memilih beberapa pasang jas dan perlengkapan Ardan untuk berangkat ke luar pulau.


Sementara, dua lelaki kesayangannya itu masih bertengkar di atas kasur. Tangisan Surya tak membuat Ardan menyudahi perang mereka. Semakin besar tangisannya, semakin jahil pula lelaki itu menggangunya.


Tak ada niat Hazel untuk menghentikan, salah Surya yang telah membangungkan sikap usil Papa sambungnya. Sampai pelukan mungil Hazel rasakan di betisnya.


Anak lelaki itu masih termehek-mehek, dengan genangan air yang terus membasahi wajahnya.


"Apa ...," adunya kembali menangis.


Melihat itu Ardan terkekeh geli, ia turun dari kasur dan kembali membawa anak Hazel itu ke atas kasur. Bercanda, bercengkerama dan Ardan selalu menang di atas segala kekesalan Surya.


Anehnya, Surya bisa menangis dan tertawa secara bergantian. Entah apa yang Ardan lakukan, tapi selalu seperti itu mereka setiap paginya. Jika bukan Ardan yang memulai, maka putranya yang lebih dulu mencari gara-gara.


Sampai pertengkaran itu membuat Yena terbangun. Cepat ibu dua anak itu menghampiri box putrinya, mengangkat tubuh mungil itu, lantas memberikan asi seraya terduduk di sudut kasur.


Ardan menghentikan candaanya dan berguling ke arah Hazel, memeluk pinggang wanita itu. Membenamkan wajahnya di pinggang belakang Hazel.


"Aku akan pergi untuk beberapa waktu, Hazel. Aku juga belum bisa memastikan ini akan cepat atau lambat. Kamu ... ingin bagaimana?" tanya Ardan mengeratkan pelukannya yang melingkari perut Hazel.


"Mas inginnya bagaimana?" tanya Hazel kembali.


"Kali ini aku berikan keputusan padamu. Kamu ingin kembali ke kota kita atau tinggal di sini sementara?"


Hazel memutar bola matanya, bukannya menjawab. Dia hanya mengelus helaian hitam milik Ardan.


"Di kota itu aku tak memiliki siapapun selain keluarga kecil kita, Mas."


"Tapi di sana ada teman-temanmu. Mungkin kamu akan merasa lebih nyaman di sana," sahut Ardan masih membenamkan wajahnya di pinggang Hazel.


"Dan di sini ada keluarga kita, Mas. Keluarga kita!" tekan Hazel lembut.


Seketika Ardan membuka dekapannya, dia menatap wajah Hazel bingung. Dia baru ingat, semalam Hazel kembali dengan mata yang membengkak, tapi anehnya Gerald masih merangkul bahu Hazel sampai mereka berpisah di kamar Aulia.


"Aku baru ingat. Apa yang kalian berdua lakukan semalam di belakangku?" Seketika tatapan mata Ardan menajam.


"Apa Mas menuduh aku selingkuh dengan Papamu?"


"Mungkin saja. Gerald lebih banyak uangnya."


Hazel terkekeh, dia elus kepala Ardan gemas. Lalu, kepala lelaki itu berpindah ke atas pangkuan.


"Apakah ada berita baik?" tanya Ardan lembut.


Wanita bermata indah itu memanyunkan bibirnya. "Aku tidak tau ini baik atau buruk untuk kamu dengar, Mas."


"Jangan berbelit-belit, Hazel!"


Hazel kembali tertawa, kali ini lebih geli karena untuk pertama kalinya Ardan menunjukkan ekspresi penasaran.


"Selamat datang di Erlangga kami," kata Hazel lembut.


Sebelah alis Ardan menaik, dia tak paham maksud ucapan sang istri.


"Itu ... yang Papa katakan semalam."


Seketika ekspresi Ardan berubah, dia terduduk dengan tiba-tiba dan menatap wajah Hazel lekat.


"Apa kamu serius?" tanya Ardan sekali lagi.


"Apa mungkin aku berbohong pada Mas untuk hal seperti ini?"


Ardan menarik tubuh itu ke dalam dekapan, ada perasaan lega yang tak bisa dijelaskan. Dia kecup berulang kali puncak kepala sang istri.


Akhirnya, setelah sekian lama dan mengalami kepahitan yang terus mendera. Sedikit demi sedikit ada titik terang untuk keutuhan keluarga mereka. Ardan menarik napas, kali ini helaannya terdengar sedikit lebih ringan.


Sementara di dalam dekapan, mata indah itu sudah memburam. Melepaskan bulir-bulir dari kedua binar indahnya. Satu tangannya mengenggam sisi kaus Ardan dengan kuat.


Terisak tertahan, lama kelamaan semakin tergugu dan membuat badannya bergetar.


"Hem?"


"Sekali lagi ... bisakah sekali lagi aku menjadi seorang putri?" tanyanya parau.


Senyum dari bibir tipis itu terlihat indah, Ardan mengangguk dengan cepat.


"Tentu saja! Tentu saja, Sayang."


Tangis wanita itu pecah, semakin besar saat Ardan mendekapnya lebih erat. Ternyata walau sudah memiliki keluarga, perasaan ingin bermanja ke pada orang tua tetaplah ada. Terlebih, gadis bermata madu itu memang lebih dekat dengan ayahnya dulu.


...***...


Ardan menarik kepala Hazel, mengecup dahi itu lembut. Mata tajamnya sempat terpejam, benar-benar menikmati aroma tubuh wanita itu sebelum pergi.


Detik selanjutnya, dia berjongkok. Berlutut di depan jagoan kecilnya. Menoel pelan pipi gembil putra keturunan Turki tersebut.


"Papa harus bekerja di luar pulau. Papa ingin Surya menjaga adek Yena dan Bunda, bisa?" tanya Ardan pelan ke Surya.


Sepasang binar polos itu menatap Ardan lekat, perlahan matanya berkaca-kaca. Seperti mengerti kalau mereka akan berjauhan untuk sementara waktu.


"Jangan menangis! Jagoan Papa harus kuat, ya."


Kedua tangan mungil itu memeluk pundak Ardan. Erat dan semakin erat. Bibir tipis milik Ardan melengkung, walau tidak banyak berucap, dari segala tingkahnya, Surya memperlihatkan betapa besarnya rasa sayang itu terhadap Papa sambungnya.


"Papa akan bawa pulang banyak mainan untuk Surya dan Adek Yena, jaga Bunda ya, Nak."


Kepala di pelukan Ardan itu mengangguk, sedikit memaksa Ardan mencoba membuka dekapan tangan sang putra. Masih sangat erat dan lelaki itu tak tega jika harus memaksa.


"Papa harus pergi, Nak. Nanti Papa ketinggalan pesawat," bujuk Ardan lembut.


"Lepasin Papa, Nak. Papa harus pergi."


Perlahan dekapan itu merenggang, bibir mungilnya mengecup pipi Ardan.


"Uya ayang Apa." Malu, lelaki kecil itu tersenyum dan berlari ke dalam rumah. Masih kecil lagi, tetapi dia sudah paham bagaimana mengungkapkan rasa.


Mendengar itu Hazel dan Ardan terkekeh, memperhatikan tubuh mungil putranya hilang ke dalam. Berganti dengan tubuh yang lebih tegap keluar dari rumah itu.


Ardan tersenyum, dia kembali fokus pada istrinya.


"Ardan, kau ingin berangkat?"


"Ya dan aku tidak akan mengubah apapun lagi. Keputusanku sudah bulat."


Gerald hanya bisa menarik napasnya, memang benar sikap Ardan keras. Namun, siapa yang menyangka jika kekerasannya terus kentara sampai akhir.


"Mau bagaimana lagi," kata Gerald memalingkan wajahnya. Berniat meninggalkan teras, langkahnya terhenti saat Ardan berkata.


"Untuk terakhir kalinya aku bertanya, tidak bisakah Papa percaya pada kemampuanku?"


Gerald menoleh, melihat wajah Ardan dan Hazel bergantian.


"Apakah ada yang perlu kuragukan? Bukankah selama ini sudah membuktikan bahwa kau mampu melakukan banyak hal?"


"Tapi Anda tidak pernah percaya padaku, kan?"


Gerald berjalan mendekati Ardan, dia perhatikan wajah itu lamat-lamat. Kejamnya perjalan waktu yang tidak pernah disadari, telah membawa putranya sedewasa ini.


Perlahan mata tua itu mulai memburam, ternyata banyak hal yang telah dia lewatkan hanya karena mempertahankan keangkuhan. Salah satunya perkembangan anak-anaknya. Entah sejak kapan Ardan sudah sedewasa ini, terakhir kali mereka bercerita bersama saat anaknya akan memasuki universitas.


Setelah itu mereka merenggang dengan banyak tuntutan yang Gerald ucapkan dan banyak perlawanan yang Ardan tunjukkan. Sampai pada puncaknya, mereka harus berada pada seberang yang berlawanan.


"Sebagai Presdirmu tentu aku sulit mempercayai ini semua. Keputusanmu gila dan aku tak sepenuhnya bisa percaya."


"Sudah—"


"Tapi sebagai ayahmu ...." Gerald memutuskan kalimat Ardan yang ingin menyahut ucapannya.


"Aku bangga pernah merawat dan membesarkan anak sepertimu."


Gerald kembali tersenyum, dia pukul dengan lembut sebelah pundak Ardan. Berjalan ke arah taman.


Sementara Ardan hanya terpaku, bergeming karena ucapan Gerald. Entah sejak kapan sisi seorang ayahnya timbul? Mengapa dia sangat berbeda dari Gerald yang pernah bertentangan dengannya dulu?


Langkah tua itu kembali terhenti, kepalanya menoleh dan berkata.


"Kali ini pulanglah dengan kemenangan, Ardan. Bukan untukku atau perusahaan Erlangga. Tapi demi status putramu yang ingin kau perjuangkan itu. Karena jika kau gagal ...." Gerald mengendikkan bahunya.


"Kau tau persis bagaimana sikapku. Karena itu, jangan sampai gagal! Jangan!"