For My Family

For My Family
127



Khadijah membalikkan badannya ketika melihat Arfi yang baru akan pergi dari kasir kantin kantor.


"Khadijah, tunggu!" Cekal Arfi di lengan tangan gadis itu.


Sekuatnya Khadijah menghempaskan, wajahnya memerah. Dengan tatapan nyalang ke arah Arfi.


"Sudah berulang kali aku katakan. Jangan sentuh aku!" tekan Khadijah tertahan.


Arfi menunduk seraya berkata. "Maaf."


Gadis itu berbalik, kembali Arfi menahannya. Kali ini ia menggunakan tubuhnya untuk menghalangi langkah.


Khadijah menyilangkan kedua tangan di depan dada. Memalingkan wajah agar tidak bertatapan.


"Apa lagi, Arfi? Tak lelahkah kamu terus mencoba mendekatiku?"


"Tidak!"


"Tapi aku lelah, sungguh!"


"Kalo begitu jangan lari lagi, Khadijah. Berhentilah, agar aku bisa meraihmu. Menjagamu dan juga menjadi sandaran bagimu, Khadijah."


Gadis itu semakin memaling, menahan segala kegetiran yang kerap kali menyapa saat mereka bertemu muka.


"Khadijah, beri aku kesempatan untuk memperbaiki apa yang pernah kurusak dulu. Sekali saja, kumohon." Arfi menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Mungkin jika saat ini dia tidak bertemu Ferdi, ia akan sangat sudi memberikan kesempatan itu.


Sayangnya, sudah ada hati yang harus dijaga. Dan dia tidak tega untuk melukainya.


"Khadijah."


"Lupakan aku."


"Apa?"


"Kubilang lupakan aku, Arfi. Atau aku, yang akan pergi lagi. Menghilang! Darimu dan Pak Ferdi. Itu mau kalian?"


"Tapi, Khadijah--"


Gadis itu merentangkan jemarinya di depan wajah Arfi. Tak ingin lagi menatap ke arah Arfi. Karena saat ini, ia mulai goyah oleh kegigihan lelaki itu.


"Hentikan, Arfi. Atau aku akan benar-benar pergi."


Menyadari tatapan para karyawan yang lainnya, Khadijah memilih pergi dari kantin itu. Melangkah memutari pintu, dengan seluruh pandangan karyawan yang terus tertuju mengiringi langkahnya.


Kapan pun itu, saat dia dan Arfi bersama. Pasti, akan banyak mata yang menatapnya. Mungkin, mereka iri atau tak suka.


Atau mereka ingin berada di posisinya? Entahlah, tetapi itu semua membuat tak nyaman. Mencintai dia, yang banyak diinginkan orang lain adalah hal yang paling melelahkan.


Mengapa? Karena akan banyak mata yang menatapinya. Menganguminya, dan mencoba mendekati dan memasuki hubungan yang sekuat tenaga dijaga.


Arfi mendesah panjang, ia mengacak rambut pirangnya dan menjatuhkan bokong di kursi.


Matanya terus menatapi punggung gadis itu yang semakin menjauh. Mengecil, sampai hilang di balik koridor kantor.


Dua tangan kekar itu mengusap wajah. Lantas kepalanya jatuh ke atas sandaran bangku.


"Khadijah, lari dan sembunyilah di sudut dunia mana pun yang kau mau. Sebelum ada yang menjadi imammu, maka jika harus mengejarmu ke dasar samudera pun akan kutempuh," lirih Arfi sendu.


Khadijah menempelkan punggungnya di tembok ujung koridor. Kepalanya tertumpuh pada dinding bercat krem itu.


Perlahan tubuh semampai itu melorot, terduduk di sudut koridor kantor.


Lelah, terus didesak oleh dua pilihan yang sama baiknya. Haruskah dia meninggalkan keduanya?


"Allah, haruskah aku pergi lagi? Meninggalkan dua lelaki yang saat ini terus mengejarku? Sungguh lelah, terlebih saat doa-doaku terjeda untuk mendapatkan sebuah jawaban."


Khadijah mendekap kedua kakinya, matanya menatapi lantai kilat koridor kantor.


"Mungkin, memang aku yang harus pergi. Lelah, ya Allah. Sungguh aku tidak mampu memilih di antara salah satunya."


Di pojok sini, ada dua pasang mata yang memerhatikan mereka. Kinara memalingkan wajahnya ketika bayangan gadis berhijab itu hilang di balik koridor.


"Ra, kira-kira kursi Mbak Hazel itu ada apanya, ya?"


"Maksudnya?" tanya Kinara tak mengerti.


"Kemarin Mbak Hazel direbuti dua atasan. Pak Ferdi dan Pak Ardan, eh sekarang pengganti Mbak Hazel juga direbuti dua atasan. Mana ganteng-ganteng lagi, duh ya Tuhan. Kenapa gak aku aja yang jadi rebutan," ucap Echa gemes sendiri.


Kinara hanya memandangi Arfi yang duduk dengan raut wajah depresi. Kali ini perasaannya kembali berkecamuk, jika Khadijah memiliki hubungan dengan Arfi. Mungkinkah jika Ferdi tengah meredam kecewanya kali ini?


Dan mungkinkah, jika dengan statusnya yang saat ini bisa mengetuk pintu hati lelaki itu lagi? Atau lupakan saja, dan tak perlu peduli pada lelaki berkacamata itu lagi?


"Ra!" teriakan itu membuat Kinara terlonjak kaget.


"Apa?" tanya Kinara kesal.


"Hedeh, inget suami, suami, Ra. Walau pun Pak Arfi sangat menggoda, tapi suamimu juga masih luar biasa. Blasteran, Ra."


Nara mencebik kesal, ia merapikan tasnya dan akan bangkit.


"Siapa yang tergoda sama Pak Arfi? Cukup sadar dirilah. Keluarga Erlangga itu bukan orang yang mudah didekati atau ditakhluki," jawab Nara seraya berjalan menuju kasir.


"Iya, sih. Tapi kenapa keluarga Erlangga sukanya sama yang Timur Tengah, ya?"


Gerakan Kinara yang ingin mengeluarkan uang terhenti. Baru menyadari jika selera Arfi dan Ardan tak berbeda jauh. Garis wajah yang sama, Timur Tengah.


"Sudahlah, itu artinya jika kamu mau menarik perhatian Pak Arfi harus operasi plastik kayak Mbak Hazel dulu," sungut Nara setengah bercanda.


"Hem, mau buat kayak Mbak Hazel gitu harus berapa kali operasi, Nara? Mbak Hazel dan Khadijah, hidungnya mancung ke depan, lah, kita? Mancungnya ke dalam. Udah bisa napas aja syukur alhamdulillah. Gaya-gayaan mau minta batang mancung segala."


Kinara terbahak, merengkuh bahu sahabatnya itu berjalan ke arah pintu.


"Negara Timur Tengah, dan Indonesia bagian Barat itu, ya, beda. Dari nenek, emak, bapak, bude, pak le, opa, oma, semua pada gak ada yang mancung. Lah, kenak aku mau mancung? Bakalan dibilang anak tetangga. Lah dapet cowok juga sebelas dua belas hidungnya, bakalan sama aja keturunannya."


Kinara kembali terbahak, kepalanya menggeleng pelan.


"Eh, tapi suami aku mancung, kok. Berarti bisa jadi anak kami mancung juga."


Echa memalingkan wajahnya, melihat wajah Kinara lekat.


"Ciye ... yang udah ngaku kalo punya suami. Ciye ... yang udah mikirin soal anak. Cerita dong, pasti kalian udah ngelewati malam-malam penuh romansa, kan." Senggol Echa di bahu Kinara.


Seketika wajah Kinara memerah, mencoba menyembunyikan semburat wajah tersipunya.


"Apaan, sih?" Gadis itu mempercepat langkahnya meninggalkan Echa yang terus meledeknya.


Terlebih, saat matanya kembali memandang Ferdi di balik kaca ruangan Ardan. Seperti saat ini.


Lelaki itu tertawa, bercanda. Mencoba menunjukkan sikap baik-baik saja, walau hatinya tengah terluka.


Ada desiran yang sering menyapa hatinya. Ingin mendekat, menjadi bahu untuk kepala lelaki itu bersandar. Namun, posisinya selalu membuat dia sadar.


Walau pernikahannya bukan tanpa cinta. Tidak ada salahnya menjaga dirinya. Mungkin, Pedro juga tengah berusaha meluluhkannya dengan segala cara. Bukankah lebih baik sama-sama belajar mencintai. Dibandingkan berjuang sendiri?


"Hei!" sapaan itu memalingkan pandangan Nara dari arah ruangan Ardan.


"Mbak Hazel, ya Tuhan!" Gadis itu keluar dari mejanya, mengambil anak yang ada di dalam dekapan Hazel.


"Lihat apa, sih? Sampai bengong begitu?"


Hazel menoleh ke arah ruangan suaminya. Bibirnya terkembang ketika melihat lelaki yang sedang dipandangi oleh Nara.


"Kinara, dia akan menikah dengan pilihannya. Dan kamu, sudah mendapatkan jodohmu. Kenapa gak coba untuk melupakannya?" tanya Hazel lembut.


"Aku sedang berusaha, Mbak."


Hazel tersenyum dan menarik salah satu kursi. Duduk bersama Kinara dan Echa. Membelakangi ruangan GM, yang saat ini ada langkah seseorang gadis berhijab sedang menuju ke sana.


"Dengar, melupakan itu memang butuh waktu. Tapi kalo kamu terus pandangi begitu, kapan move on-nya?" ledek Hazel.


Kinara mengendikkan bahunya, ia sibuk pada bayi mungil yang ada di pangkuan. Menciumi pipi tembam itu, gemas.


"Kapan kamu akan resmikan pernikahan kalian? Aku udah gak sabar, loh?"


"He'em, kapan, Ra? Nanti kalo kamu resepsi aku mau jadi bridesmaidnya, dong."


"Aku juga mau, dong," sahut Hazel memanasi. "Sekalian Yena juga, deh."


"Mbak, cantiknya warna apa, ya?" tanya Echa pada Hazel.


"Gold atau silver bagus. Atau biru-silver juga elegan."


"Tapi warna coral juga lagi trend, loh, Mbak."


Kinara memutar bola matanya, mengapa jadi mereka berdua yang berunding soal pernikahannya? Dia dan Pedro saja masih tidak tahu harus dibawa ke mana.


Lebih tepatnya, dia yang belum ingin meresmikannya.


"Ehem! Sebelum nuntut aku buat acara. Kenapa Mbak Hazel dulu nikahnya diam-diam juga?" tanya Nara telak.


Hazel menyeringai, ia bangkit dan mengambil rantang yang tadi ia bawa.


"Titip Yena sebentar, ya. Mbak mau antar makan siang buat GM kalian."


"Hem, kabur!" sungut Nara kesal.


"Ehem! Ehem! Sweet banget, sih!" ledek Echa pada Hazel.


Wanita bermata madu itu hanya tertawa lebar, menampilkan dua lesung dalam miliknya.


Menarik rantang yang ia letakan di atas meja dan berjalan ke arah pintu kaca.


"Mas." Suara manja itu membuat dua lelaki yang ada di sana memalingkan wajahnya.


"Sayang, tumben ke sini?" tanya Ardan kaget.


"Tadi pagi, kan, aku minta anterin ke rumah sakit buat imunisasi Yena, Mas."


"Astaga, aku lupa. Kenapa gak nelpon aku saja?"


"Hem?" Hazel mengangkat ponsel Ardan yang ada di genggamannya. Lelaki itu meninggalkan ponselnya di atas nakas kamar.


Ardan menepuk dahinya, sedangkan Ferdi tertawa, pelan kepalanya menggeleng.


"Kau sudah semakin tua, Teman," ledeknya.


Sementara Khadijah yang masih berdiri berhadapan dengan Ardan dan Ferdi hanya tertunduk.


Pikirannya berkecamuk, antara ingin resign atau bertahan sedikit lagi.


"Khadijah, kamu kembalilah dulu. Nanti akan saya berikan konsep akhirnya padamu." Ardan menutup map yang ada di tangannya, memberikan pada gadis itu.


Cepat tangannya meraih, mendekap map itu di dekapannya. Berbalik dengan pandangan tertunduk ke bawah.


Tak sengaja, punggungnya tertabrak punggung Hazel saat berselisihan. Map yang ada di dekapannya terlepas.


Ia berjongkok, memungutinya satu persatu.


"Maaf, Bu," ucapnya sibuk memunguti kertas-kertas tersebut.


"Kamu baik-baik saja, Hazel?" tanya Ardan lembut.


Seketika kepala Khadijah mendongak. Secepatnya ia berdiri, berhadapan dengan Hazel.


Prank ....


Suara dentingan rantang yang terlepas dari genggaman membuat Ardan dan Ferdi mendekati dua gadis itu.


Pendar iris berwarna madu itu menatap nanar. Terdiam, memandang lekat dan dalam. Untuk beberapa detik mereka hanya saling pandang, berusaha meyakinkan apa yanh dilihat mata masing-masing.


"Hazel," panggil gadis itu lembut.


Hazel mengambil napasnya, berat, ketika seluruh badan ia rasa semakin melemas.


"Hazel." Tahan Ardan pada tubuh yang hampir limbung itu.


Hazel menggeleng, satu persatu air mata mulai bebas menjelajahi wajah. Terdiam, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Sesak, bahkan menghirup oksigen saja ia kesusahan.


"Kalian berdua saling kenal?" tanya Ferdi bingung. Terlebih melihat ekspresi Hazel yang begitu shock.


"Sayang," panggil Ardan lembut.


Hazel berhambur ke dalam pelukan gadis yang ada di depannya. Mendekap seeratnya, terisak pelan, kemudian pecah semakin dalam.


"Syukurlah! Syukurlah kamu masih bernapas, Nigar," ucapnya terisak dalam.


Gadis berhijab itu tersenyum, sama seperti gadis mungil yang memeluknya saat ini. Napasnya terasa berat, tetapi ada kelegaan dari setiap embusannya. Ia membalas dekapan Hazel lebih erat dari gadis yang lebih kecil itu.


"Sungguh aku merindukanmu, Hazel. Sangat rindu, Kakakku."


"Kakak?" tanya Ferdi dan Ardan bersamaan.