For My Family

For My Family
192



Ardan menarik napas panjang, meletakan sendok itu dengan tatapan dalam mengarah pada wajah sang istri.


"Hazel, mau sejauh apa Nigar pergi. Yang namanya hati itu tidak akan bisa berdusta. Jika dulu dia mencintai Arfi, sekarang atau di masa depan, yang dia cintai tetap Arfi."


"Bukan, bukan masalah siapa yang dia cintai, Mas. Aku hanya tidak ingin dia terus-terusan bersedih. Aku hanya tidak ingin melihat dia terluka. Kalau dia kembali ke sana, mungkin saja suasana baru bisa mengurangi luka hatinya."


"Tidak ada luka yang sembuh hanya karena lupa, Hazel. Ke mana pun dia melangkah, hatinya yang tertinggal tetap akan berduka. Luka tidak akan pernah sirna, meski raga mampu berpindah negara. Tidak seperti itu, Hazel."


"Tapi setidaknya dia tidak akan mengingat kenangan pahit. Kalau di sini dia pasti akan teringat semuanya."


"Yakinkah kamu itu bisa?" tanya Ardan lagi.


Gadis bermata madu itu berdiam, perlahan dia menundukkan pandangan.


"Yang membuat ia terus mengingat adalah kenangan yang tinggal. Bukan di mana dia tinggal, Sayang. Yang membuat ingat bukanlah tempat di mana raga berada, yang membuat dia mengingat adalah orang yang selalu menempati hatinya meski dia terluka."


Hazel menatapi gelas susu yang ada di genggamannya, benar yang Ardan katakan. Bukan masalah kita berada di mana, melainkan kita yang masih menaruh harapan pada dia.


Cinta, kasih dan rasa yang terus menyiksa. Tetap dipertahankan walau hati terus terluka.


"Ini masalah hati, masalah rasa yang tidak bisa kita ikut campur ke dalamnya. Kita bisa memberikan arahan, tetapi yang menentukan langkah tetaplah dia yang merasakan." Satu tangan Ardan meraih jemari sang istri.


Gadis itu mendongak, menatap wajah sangar Ardan yang tersenyum lembut padanya.


"Kita harus menarik diri dari segala urusan meraka. Apa pun keputusan mereka, itu hak mereka. Biarkan mereka menjalaninya, jika salah cukup ingati, jika dia terus berjalan, maka cukup dampingi, suatu saat dia akan paham apa itu perjalanan dan kesalahan. Biarkan dia dewasa dengan keputusan yang dia pilih, meski itu salah, tak mengapa. Jika kita tidak pernah salah, maka kita tak akan pernah belajar apa itu yang benar, hm."


Hazel menarik napas, ia membalikkan jemari untuk membalas genggaman tangan Ardan.


"Mas, bantu aku untuk mengajari Nigar tentang banyak hal."


"Apa pun itu, asalkan kamu yang meminta, maka aku akan bersedia."


...***...


Gadis mungil berdarah Turki itu menarik napas, melihat sang adik yang terduduk di tepi ranjang seraya membaca mushaf kecil yang ada di genggaman.


Pelan jemari itu mengetuk daun pintu, Nigar menoleh, tersenyum lembut lalu kembali membaca mushaf tersebut.


Hazel menghampiri, menjatuhkan badan di sebelah Nigar, gadis berhijab itu menyudahi bacaannya dan meletakan mushaf di atas nakas.


"Ada apa, Hazel?"


Satu jemari lentik sang Kakak membelai pelipis Nigar dengan lembut. Nanar tatapan Hazel memandanginya.


"Aku akan keluar bersama si Mbok ke pasar, mencari baju-baju daster buat Mbok. Kamu ... ikutlah bersama kami."


"Tidak usah. Aku tidak membutuhkan apa pun. Aku di rumah saja."


Hazel menarik napas, menatapi wajah cantik itu. Ingin memarahi tingkahnya yang menjadi pendiam begini, karena dulu Nigar adalah gadis kecil pembangkang dan juga periang.


"Nigar--" Ucapan itu terhenti, mengingat perkataan Ardan yang memintanya untuk menarik diri dari masalah ini.


"Baiklah. Hati-hati di rumah, telepon Mas Ardan atau aku jika ada hal-hal yang aneh, ya."


Nigar hanya tersenyum lembut, lalu kepalanya mengangguk. Sedikit ragu, Hazel meninggalkan gadis itu di kamarnya.


Mungkin memang dia harus menarik diri, namun tetap saja ada perasaan ingin melindungi.


Setelah melihat Hazel dan Mbok Darmi keluar dari pintu, gadis berhijab itu turun. Mengunci pintu dari dalam, lantas kembali ke kamar.


Sedikit menyibak kain gorden, tatapan itu memandang kosong ke arah langit. Hatinya merindu, namun dia tidak tahu harus mengadu atau hanya menunggu.


Bergeming di depan bentangan kaca kamarnya, menatapi hamparan luas halaman belakang rumah sang Kakak.


Sepasang tangan tertumpuh di atas bentangan kaca. Mengurung tubuh gadis berhijab itu, mata Nigar melebar, ia berbalik dengan cepat, sedikit memundur saat melihat wajah yang tengah mendekapnya.


"Arfi?"


"Ya."


"Kenapa kamu bisa di sini? Hazel tidak ada di rumah, bisakah kamu keluar?" tanya gadis itu pelan.


Sepasang mata sayu itu menatap dalam, memerhatikan wajah sang gadis yang mulai berkeringat. Gelisah, tampak sedikit ketakutan karena hanya berdua.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Arfi sedikit serak. Sepasang mata itu tak lepas memandangi wajah.


"Matamu, Arfi. Jangan memandangi wajahku terlalu dalam."


Seulas senyum terbit di wajah sang lelaki, perlahan badan itu membungkuk. Mendekatkan wajah ke sang gadis.


Punggung Nigar menempel pada kaca, mencoba menciptakan jarak walau tubuhnya semakin terdesak.


"Jangan dekati aku, Arfi."


"Kenapa?" tanya Arfi sedikit berbisik. Kepalanya semakin mendekat sampai deru napasnya menyentuh kulit wajah.


"Arfi, kumohon menjauhlah!" teriak Nigar dan sebuah kecupan mendarat di atas bibirnya.


Gadis itu mendelik, satu tangannya terlayang. Sayang lebih dulu tertangkap tangan Arfi.


"Kenapa? Hanya sebuah kecupan? Kenapa kamu harus semarah itu?" tanya Arfi datar.


"Apa kamu pikir aku ini wanita yang bisa kamu cium seenaknya seperti di luaran sana? Apa setelah pulang dari Rusia kamu membawa tabiat bermainmu ke sini?" tanya Nigar geram.


"Wallahi aku tidak rida atas apa yang kamu lakukan, Arfi!" bentak Nigar kasar.


Melihat perubahan wajah Nigar, satu tangan yang menahan pergelangan tangan gadis itu menguat. Arfi menarik satu tangan Nigar yang lainnya lalu menyatukannya dalam satu genggaman.


Mengunci kedua tangan Nigar dalam satu cengkeraman tangan kekarnya.


"Apa yang kamu lakukan, Arfi? Lepaskan! Lepaskan!" Gadis itu berusaha berontak, malah badan Arfi mendekatinya sampai tak bersisa jarak.


"Pernah kukatakan padamu, buatlah keputusan atau aku yang memaksamu untuk membuat keputusan?"


"Maksudnya?" tanya Nigar tidak mengerti.


Satu tangan yang lainnya mendongakkan wajah cantik itu, lelaki itu mendekat. Mencium bingkai pada wajah dan kali ini lebih intens.


Gadis itu berontak, mencoba melepaskan tangan yang digenggam oleh Arfi. Percuma, malah guluman bibir Arfi semakin dalam memainkannya.


Gadis itu terisak. Sesaat setelah Arfi melepaskan ciumannya Nigar meludahi wajah tampan itu. Geram setengah mati.


"Demi Allah, Arfi. Kamu seperti lelaki bajing*n!"


Tubuh gadis itu melorot, terisak menyembunyikan wajah dalam tangkupan tangannya. Sesenggukkan, sampai napasnya terasa sesak tertahan.


"Khadijah, Khadijah maafkan aku." Tubuh kekar itu ikut berjongkok, mencoba meraih kepala sang gadis. Namun, kepala itu memaling.


"Keluarlah dari sini dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Keluar!" bentaknya kasar.


"Aku tidak mau."


Nigar tersenyum kecut, dengan genangan air yang terus membasahi wajah. Berulang kali dia mengusap bibir, merasa bodoh dan juga gagal menjaga harga diri.


"Kenapa? Apa kamu belum puas? Bukankah apa yang kamu inginkan dariku selama ini telah kamu ambil? Jadi apalagi?"


"Tapi yang aku inginkan bukan hanya ciumanmu---"


"Lalu apa, ha? Setelah kita tidur bersama apa kamu akan pergi, begitu?"


"Khadijah, jangan bicara seperti itu. Aku minta maaf jika becandaku kelewatan padamu."


Gadis itu terkekeh geli, nyalang tatapannya menatap wajah Arfi yang tampak kacau.


"Becanda? Enak sekali kamu mengatakan itu becanda? Kamu menciumku, Arfi!" bentak Nigar kasar.


"Lalu? Apakah aku tidak berhak atas bibirmu setelah aku menjadi suamimu?"


Nigar terdiam, usapan punggung tangan pada bibirnya terhenti.


"Suami?" tanyanya bingung.


Arfi mengeluarkan ponselnya. "Aku telah menikahimu. Berjabat tangan dengan walimu. Omer Kemal Demir dan disaksikan ayah angkatmu. Regan Bagaskara."


Lelaki itu menunjukkan rekaman di dalam ponselnya ke hadapan Nigar. Prosesi pernikahan yang dilakukan sederhana, Arfi berjabat tangan dengan adiknya. Lalu ada Regan dan juga ibu angkatnya yang menyaksikan sekaligus memberi restu.


Nigar menatap wajah Arfi, lalu ia memberikan ponsel itu dengan sedikit gemetar.


"Dan ini ... maharmu." Arfi mengeluarkan sejuntai tasbih batu safir biru itu, memberikan ke genggaman tangan Nigar.


"Tunggu dulu, tunggu dulu." Gadis itu kembali memberikan tasbih tersebut.


"Itu tidak sah, bagaimana Omer mau menikahkan aku jika tanpa persetujuanku?"


Arfi hanya tersenyum, lalu ia kembali memutar rekaman dirinya dan gadis itu di sebuah kafe. Saat Arfi bertanya tentang mahar batu safir yang ia tunjukkan.


Tangan gadis itu semakin bergetar, ia menatap Arfi lekat dan dalam, ternyata Arfi tengah menjebaknya kala senja itu. Pantas saja dia tidak memberikan tasbih itu sekuat apa dia memintanya.


Melihat reaksi Nigar yang tampak terkejut, Arfi tersenyum. Perlahan dia mendekat, ingin meraih kepala sang gadis, namun Nigar kembali memaling.


"Enggak. Gak mungkin Omer percaya hanya karena sebuah rekaman itu. Aku belum menyetujui apa pun, berkas-berkasku? Bagaimana bisa tanpa persetujuan apa pun?"


Arfi hanya tersenyum. "Kamu sudah menyetujuinya, Sayang."


"Tapi aku tidak merasa," kata Nigar lagi.


Arfi menyerahkan selembar kertas, perjanjian persetujuan pernikahan tanpa ada kehadiran Nigar di acara itu. Lalu tatapan mata indah tersebut melihat ke arah bawah, nama Nigar Hatice Sezin telah menyetujuinya dengan bubuhan meterai.


Nigar mencoba mengingat, kapan dia pernah menyetujui perjanjian itu? Hanya sekali Arfi pernah menyodorkan sebuah surat dan itu saat penyerahan sumbangan untuk panti asuhan.


"Arfi."


"Hmm."


"Kamu menjebakku?"