For My Family

For My Family
42



Ardan memijit pangkal hidungnya lembut, memejamkan matanya yang semakin memanas karena ia memaksakan untuk menatap layar datar itu terus menerus.


Ardan membuka matanya saat mendengar peraduan gelas di atas mejanya. Ia melihat segelas air dingin dengan irisan lemon di sebelah laptopnya.


Lelaki itu menarik bibirnya, tersenyum lembut saat melihat Hazel berada di depannya.


"Terima kasih," ucap Ardan lembut.


"Saya lebih mudah mengingat saat melihatnya langsung. Maaf karena melupakan tanggung jawab saya."


Ardan meneguk gelas air itu sedikit, menghela napas panjang dengan menjatuhkan kepala di atas sandaran sofa.


"Lupakan saja, saya tidak akan memaksakan apapun padamu lagi. Ingat yang ingin kamu ingat, lupakan jika itu tidak penting," jawab Ardan malas.


"Apa ... anda mendapatkan masalah karena saya?"


"Hah? Maksudnya?" tanya Ardan bingung.


"Saya lihat, setelah pertemuan anda dengan pak Gerald. Anda selalu terlihat murung dan memaksakan diri untuk bekerja."


"Ini tidak ada hubungannya denganmu, Hazel."


Hazel berjalan mendekati lelaki dewasa itu, duduk di sebelahnya sembari menyentuh pelipis lelaki itu. Memijitnya lembut dengan jari-jari lentiknya.


Ardan membuka matanya, melihat ke arah Hazel yang tiba-tiba peduli terhadap keadaannya.


"Ada yang salah denganmu?" tanya Ardan bingung.


Hazel menggeleng pelan, ia memijit kepala Ardan dengan sangat lembut.


"Anggap saja ini bayaran untuk perhatian yang sudah anda berikan ke Surya. Setidaknya, karena anda saya bisa tahu bahwa Surya masih memiliki sesuatu yang bisa saya banggakan."


Ardan menghela napas dan menjauhkan jari Hazel dari kepalanya.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Ardan lembut.


"Sangat baik," jawab Hazel langsung.


"Saya bisa mengajarinya piano kapanpun kamu mau. Selain itu, dia juga bisa belajar alat musik yang lainnya, kebetulan saya bisa memainkan beberapa alat musik."


"Anda bercanda? Bagaimana bisa saya mengganggu anda di tengah padat aktifitas anda. Terlebih lagi, saat ini anda banyak sekali hal yang harus diawasi."


"Saya menyukai musik, bermain musik terkadang bisa membuat lelah dan stres saya sedikit berkurang. Haya saja, saat ini ada kamu dan Surya, saya takut menganggu kalian berdua jika terlalu sering memainkannya."


"Ini rumah anda, kenapa anda harus mengalah demi kami?"


"Rumah kita," ralat Ardan lembut.


Hazel kembali tersenyum, bibir mungilnya terlihat sangat cantik saat ia melebar dengan besar.


"Kalau begitu bisa anda memainkan itu?" tunjuk Hazel pada sebuah gitar yang ada di sudut kamar Ardan.


"Baiklah, bawa Surya kemari. Saya akan memainkan lagu untuknya," ucap Ardan lembut.


Ardan berjalan mendekati gitar berwarna cokelat tua itu, mulai menyatukan kabelnya dengan listrik, perlahan ia menyetel satu persatu senarnya agar suara yang dihasilkan terdengar sempurna.


Hazel kembali ke kamarnya sembari mentatih Surya di depannya, suara lembut Hazel terdengar menghitung tiap langkah mungil putranya itu.


Ardan tersenyum dan menggeleng pelan, kapanpun itu, Surya adalah satu-satunya alasan kenapa ia bisa terus tersenyum saat ini.


Perlahan, jari tangan Ardan mulai memetik senar-senar itu. Menekan beberapa kunci dasar untuk memulai intro permainan.


"Kamu bisa bernyanyi?" tanya Ardan lembut.


Hazel menggeleng, ia menjatuhkan bokongnya di sebelah Ardan sembari memangku anak semata wayangnya itu.


Ardan kembali tersenyum, kali ini senyumnya terlihat sangat sendu. Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang membuat senyumnya terlihat begitu terluka.


Ardan memandangi Hazel dengan lekat, bibir mungilnya terus merekah lebar, menepuk kedua tangannya yang ada jari anaknya di dalamnya. Menepukan suara untuk meriahkan instrumen nada yang dimainkan Ardan.


Perlahan mata Ardan mulai berembun, kapan itu? Terakhir kali ia memainkan gitar dengan tepukan tangan dari seorang gadis di depannya.


Perasaan itu, rasa hangat dan rindu akan gadis itu mulai bersarang di benaknya. Sudah lama semenjak ia pergi meninggalkan rumah tragedi itu, tetapi ia tidak pernah lupa. Ada kenangan yang tidak terhapus begitu saja, kenangan manis yang menjadi pahit. Rasa hangat yang berubah dingin dan rasa rindu yang tak pernah memudar selama apa orang itu menghilang dari pandangan.


Hazel kembali tersenyum lebar saat tanpa sengaja ia melihat Ardan yang terus menatap wajahnya lekat. Mencetak lesung di kedua pipinya yang sangat dalam, dengan tampilan gigi-gigi kecilnya yang bersejajar rapi. Memainkan kepalanya mengikuti alunan instrumen petikan jari Ardan.


'Arsy, Kakak melihat senyum itu kembali di wajah wanita ini. Maaf, Kakak terlalu lemah untuk melindungimu, Sayang,' batin Ardan pilu.


Ardan menarik tangan mungil Surya yang ingin menyentuh senar gitar di tangannya. Menggelengkan kepalanya pelan.


"Jangan, ini tajam, jarimu masih terlalu halus untuk memainkannya, kalau kamu terluka, maka Bundamu akan marah sama Papa," ucap Ardan lembut.


Hazel menarik tangan Surya menjauh dari senar gitar itu. Ia melirik ke arah Ardan tajam. Entah kenapa, ia risih dengan panggilan papa itu sendiri.


"Sudah malam, ayo kita kembali tidur, Sayang."


Ardan menarik tangan Hazel yang ingin bangkit dari sofa. Wanita itu memalingkan wajahnya, melihat Ardan yang masih terduduk di sana.


"Malam ini tidurlah di sini," pinta Ardan lembut.


"Hem, baik. Saya akan mengantar Surya kembali dulu."


"Tidak perlu. Tidurkan Surya di sana."


"Tidurkan saja!" perintah Ardan kembali.


Hazel mengangguk, perlahan ia berjalan ke arah kasur dan menidurkan putranya di sana. Entah apa yang salah, tetapi sepertinya Ardan sedang tidak baik-baik saja.


Sampai malam jauh membawa kegelapan dan kesunyian. Ardan masih terjaga dengan menatap langit-langit kamarnya.


Pertemuannya dengan sang papa selalu meninggalkan bekas luka dalam hatinya. Membuat luka yang tidak pernah mengering sebelumnya kembali berdarah.


Perlahan Ardan berjalan ke arah samping kasur, membuka laci nakas dan mengambil kotak kaca yang menyimpan sebuah kalung tanpa tuan itu selama tujuh tahun ini.


Perlahan ia membukanya, menarik kalung dengan liontin huruf A itu dari tempatnya.


"Arsy," lirih Ardan perih. Matanya menatap lekat liontin dengan beberapa berlian di setiap sudut angka A itu.


"Maaf Kakak membiarkanmu, pergi," sambungnya getir. Ardan meletakan kalung itu dengan sedikit membanting, berjalan ke arah kamar mandi dengan sedikit tegesa.


Menyeka wajahnya yang terasa semakin memanas setiap kali ia mengingat wajah gadis itu.


Hazel membuka matanya, melihat benda bercahaya yang terletak di atas nakas. Entah kenapa perasaan dia sedikit kecewa saat tahu kalung itu bukan Ardan simpan untuknya.


"Siapa Arsy? Dan kenapa aku harus peduli?" tanya Hazel bingung sendiri.


Ia kembali menarik selimutnya, membalikan badannya. Berusaha kembali masuk kedalam mimpinya.


***


Ardan membuka pintu rumahnya dan menjatuhkan bokong di atas sofa ruang tengah. Menghela napas dengan sedikit berat, akhir-akhir ini tajinya mulai tumpul. Otaknya tak bekerja dengan baik, bahkan ia kewalahan saat menangani masalah yang kerap timbul di perusahaan kecilnya itu.


Sebuah tangan mungil menarik ujung celana hitam yang ia kenakan. Matanya terbuka, melihat manusia kecil yang sedang merangkak di bawah kakinya.


"Hei, kenapa main sendiri? Bundamu mana?" tanyanya lembut.


Surya sama sekali tidak mendengarkan ucapan Ardan. Tangannya meraih benda-benda di sampingnya, berusaha mencari tumpuhan agar badannya bisa berdiri.


Ardan mengangkat tubuh bocah kecil itu dan menggendongnya naik ke kamar. Meletakan Surya di atas karpet kamarnya.


"Main saja di sini. Tunggu Papa selesai mandi, kita akan main musik bersama," ucap Ardan lembut.


.


.


Ardan menghentikan petikan gitarnya saat ponselnya berdering keras. Ia menjauh untuk mengangkat panggilan dari atasannya itu.


Setelah lima menit, ia kembali dan membuka laptopnya, mengecek email yang dikirim oleh sahabat sekaligus Direkturnya itu.


Kepalanya kembali berdenyut saat melihat laporan yang dikirim oleh Ferdi. Ia memijit sudut dahinya lembut.


"Sepertinya aku harus benar-benar kerja keras untuk mengembalikan perusahaan ini. Tak kusangka Arfan meninggalkannya setelah separah ini."


Ardan mengeluarkan beberapa file dari dalam mapnya, mencari kontrak-kontrak dari mitra usahanya yang mungkin masih memiliki celah agar ia bisa menahannya agar tetap tinggal di perusahaan itu.


Pandangannya teralih saat mendengar suara benturan benda, ia langsung berlari ke arah Surya yang masih bermain sendiri di kamarnya.


"Aduh ... kenapa aku bisa lupa kalau anak Hazel masih di sini?" tanyanya sendiri.


Ardan memindahkan gitarnya dan menurunkan beberapa guling ke bawah. Membiarkan bocah kecil itu bermain dengan benda yang lebih aman.


Ia menghela napas, turun ke bawah untuk membuat kopi. Saat seperti ini, hanya hisapan tembakau dan pahitnya kopi yang bisa menenangkan pikirannya.


Matanya teralih, sejak dari sore tadi ia belum melihat Hazel. Ia bahkan tidak menemui putranya yang saat ini sedang ada di kamar Ardan.


Dengan membawa secangkir kopi, lelaki itu berjalan mencari istrinya itu. Membuka pintu kamar Surya, tetapi yang ia cari tidak ada. Hanya ada mbok Darmi yang sedang melipat beberapa pakaian.


"Hazel ke mana, Bu?" tanya Ardan mengangetkan wanita gempal itu.


"Eh itu, katanya tadi dia mau ke supermarket untuk beli sayur dan ketan," jawab mbok Darmi kaku.


"Oh, yasudah kalau begitu. Kalau dia kembali dan menanyakan Surya, dia ada di kamar saya," ucap Ardan meninggalkan wanita itu.


Sementara yang ditinggal masih menganga dengan lebar, ia pikir Surya dibawa oleh Hazel. Bagaimana mungkin lelaki angkuh sepertinya menjaga Surya selama itu.


Ardan kembali ke kamarnya, meletakan secangkir kopi di sebelah laptopnya. Sementara bocah kecil itu sudah merangkak mengelilingi kamarnya yang luas.


Ardan tersenyum dan mengangkat tubuh bocah kecil itu. Mendudukannya di atas salah satu pahanya.


"Jangan main lagi, ikutlah Papa mengerjakan ini. Kelak kalau kamu sudah sembuh, harus bisa bantu Papa urus ini, mengerti?" tanya Ardan lembut.


Ardan kembali sibuk pada layar datarnya, sedang bocah kecil dalam pangkuanya itu tidak bisa diam. Aktif memainkan kedua kakinya dan mengoceh asal. Menghentakan kedua kakinya, bermain sendiri dalam imajinasinya.


Karena aktifnya, tanpa sengaja kakinya menendang cangkir kopi yang dibawa Ardan tadi. Mengotori berkas-berkas yang ada di atas meja.


Mata Hazel membulat seketika, ia baru saja ingin masuk dan mengambil putranya itu. Tetapi lebih dulu anak semata wayangnya itu membuat masalah.


Ardan terdiam, ia melihat genangan air hitam yang mulai meresap ke dalam kertas putih itu.


Ardan memindahkan Surya ke atas sofa, ia berlutut di depan anak kecil itu, memandang wajah polos itu lekat.


"Lihat, bagaimana aku akan menghukummu."