For My Family

For My Family
142



Arfi menyugar rambut pirangnya kebelakang, menyelipkan kacamata hitam itu di kerah kaus.


Tegap, langkah itu menghampiri gadis berblouse rajut tersebut. Tersenyum manis saat dia telah berdiri berhadapan dengan si gadis kecil itu.


"Sayang, kamu masih marah padaku?" tanya Arfi seraya mengerling nakal.


Gadis itu menganga, bingung dan juga terkejut oleh perlakuan Arfi.


"Maaf, tidak seharusnya aku menyakitimu. Kamu mau memafkanku, kan?" Arfi menangkupkan kedua tangan di dada.


Memohon iba gadis kecil itu. Gadis itu bergeming, bingung dengan sikap Arfi.


"Sasy," panggilnya lembut. "Maafkan aku, Sayang."


"Om, apa yang Om lakukan?" tanya Sasy sedikit berbisik.


Lelaki itu membungkuk, menyejajarkan wajah. Satu tangannya menyelipkan helaian rambut ke balik telinga Sasy.


"Tentu saja untuk menjemputmu, Bocah Kecil," bisik Arfi di telinga gadis itu.


Arfi berdehem pelan, menegakkan badan dengan tangan merengkuh bahu sempit itu.


Berjalan menuntun ke arah Mclaren oranye miliknya.


"Permisi, Nona," kata Arfi saat melewati para gadis belia yang masih terpaku di dekat Mclarennya.


Pria itu membuka pintu untuk Sasy. Gadis kecil itu menoleh, melihat Arfi yang masih merangkul bahunya.


"Hem." Arfi mengangguk, memerintah Sasy untuk masuk.


"Makasih, Om."


Arfi mengedipkan sebelah matanya. Membuat tiga belia yang memerhatikan mereka berdua semakin memanas.


Iri dan tidak suka. Bagaimana mungkin Sasy mengenal lelaki sesempurna itu?


Lelaki tegap itu memutari mobil, membuka pintu yang lainnya.


"Ehem! Ehem, permisi!" Merisa berdehem pelan.


Arfi menoleh, melihat belia yang tengah menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Anda itu pacarnya Sasy?" tanya Merisa sinis.


"Ya. Ada masalah?" tanya Arfi.


"Asal Anda tau saja. Dia membawa lelaki lain saat acara penerimaan mahasiswa kemarin."


Arfi terdiam, satu tangannya mengelus dagu.


"Benarkah?" tanyanya berlagak.


"Ya. Dia mempunyai pacar selain Anda."


Arfi tersenyum sinis, matanya melirik ke dalam mobil Mclaren oranye itu.


"Ya, selama dia menjadi pacarku. Tidak peduli sebanyak apa lelaki yang mendekati dia. Aku yakin, selama aku mau, dia hanya akan menjadi milikku."


"Oh, ya. Apa Anda tidak peduli walaupun dia selingkuh di belakang Anda?" tanya Merisa angkuh.


"Mau sebanyak apa dia selingkuh. Aku berani bertaruh jika yang jadi prioritasnya tetaplah aku."


Arfi membuka kacamata hitamnya dan memakai di depan Merisa.


"Karena selain aku, dia tidak akan dimiliki siapa pun itu." Arfi tersenyum sinis, satu tangannya mengibas, mengusir Merisa yang berdiri menghalangi pintu mobil.


Gadis itu terperangah, ia pindah dengan wajah yang memerah. Satu tangan mengibaskan rambut kecokelatan miliknya.


Dari spion Arfi memerhatikan wajah yang tengah kesal itu. Dia tertawa terpingkal, sesekali menggeleng dengan memukul setir.


"Astaga Tauge-Tauge itu kenapa bisa begitu angkuh?" tanyanya geli.


Sasy yang melihat itu sedikit tersenyum, tidak perlu berbuat apa-apa. Arfi telah membalas dendamnya dengan cara yang sangat indah.


"Dia itu gadis paling cantik di SMA dulu, Om," kata Sasy.


"Dia?" tunjuk Arfi ke kaca spion.


"Oh ... Lord. Ternyata hanya sebatas ini gadis-gadis di sini?"


"Jangan terlalu sombong, Om. Nanti kamu jadi bucinnya dia baru tau."


Arfi menginjak rem, lalu badan kekar itu memiring. Melihat Sasy yang ada di sebelah.


"Heh, Bocah Tauge. Kau pikir aku ini siapa?" tanya Arfi angkuh.


"Hanya Kecambah yang ekornya saja masih pendek. Mau dibucini seorang Arfi? Hahaha dalam mimpi pun itu tidak mungkin!"


Sasy menggerakkan bibirnya, mengejek setiap perkataan Arfi.


"Om itu sombong sekali! Seperti bisa saja dapati cewek-cewek kayak Merisa."


"Hahahaha! Kau meremehkanku?" tanya Arfi sinis.


"Memang!"


Arfi mengacak rambutnya, membuat dirinya terlihat memesona.


"Heh anak Tauge, kau tau! Bahkan model-model ibu kota saja mengantre untuk jadi pacarku. Kau tau model? Gaya, bentuk, lekuk badannya yang seribu kali lebih aduhai dari temanmu itu? Ha?"


Sasy memutar bola matanya. "Ya, ya," ucapnya mengalah.


"Sekarang hidupkan mobilnya dan pulanglah. Aku takutnya jika terlalu lama Om bersamaku, Om akan jadi bucinku."


Arfi mengangkat sebelah bibirnya, luar biasa. Ia menyesali, kenapa dia bisa merasa bersalah pada gadis ini. Sekarang tingkahnya malah membuat ia geram sendiri.


Mata itu menatap sinis, benar-benar anak kecil yang satu ini.


"Ayolah, Om. Jangan terlalu lama memandangiku. Atau kau memang benar-benar sudah menjadi bucinku?"


Arfi tertawa sinis, ia menggelengkan kepala.


"Kau waras? Aku masih punya selera. Mana mungkin aku suka sama anak kecambah!" teriaknya lantang.


"Kalo memang Om gak suka aku? Kenapa Om jemput aku?"


Lelaki itu tergagap, bingung mau menjawab.


"Itu ... itu--" Satu jari mungil menghentikan ucapan lelaki itu.


Mata Arfi memandangi jari kecil yang berada di depan bibirnya. Terkejut.


"Ssstttt, sudahlah, Om. Mengelak juga percuma. Aku tau, gadis-gadis muda sepertiku ini memang bisa menggoda imanmu."


Bibir Arfi tertarik sebelah, geli mendengar penuturan si Kecambah.


Ia membuang pandangan ke arah jendela. Lebih memilih mengalah, karena semakin ditantang, gadis ini semakin merepotkan.


"Terserah!" teriaknya seraya memutar kemudi mobil.


Bibir gadis muda itu tertarik, senang melihat wajah Arfi yang memadam karena ulahnya.


***


Lelaki bungsu Erlangga itu tersenyum. Mencium si gadis kecil yang ada di gendongan Ardan.


"Kenapa Mclarenku berubah warna? Apa yang kau lakukan pada mobilku?" tanya Ardan ketus.


Arfi mendesis, ia mengacakkan tangan di pinggang.


"Perhatikan itu mobil siapa?" sahut Arfi ketus.


Mata elang itu memerhatikan, walau pun sama jenis. Namun, plat mobil mereka tetap berbeda.


"Mobilku kau buang ke mana, Arfi?" tanya Ardan garang.


"Mobil Kakak sudah dibawa asistenku kembali ke ibu kota."


Ardan tersenyum sinis, ia menganggukkan kepalanya. Melihat reaksi Ardan, lelaki bungsu itu berlari ke arah dapur. Mencari perlindungan.


Ia sudah sangat hafal, jika Ardan seperti itu. Maka kemurkaannya akan segera dimulai.


"Arfi! Kemari kau!" teriak Ardan lantang.


Arfi terkekeh, berdiri di belakang Hazel yang sedang menyiapkan makan siang.


"Hazel, masak lebih, dong. Bungkus buatku juga," pintanya.


Hazel hanya melirik, kepalanya mengangguk. Lalu lelaki yang lebih tua datang dan merangkul tubuh adiknya. Melilitkan tangannya di batang leher Arfi.


"Sialan, kau! Kenapa kau membawa mobilmu ke sini? Apa kau tidak akan pulang selamanya? Ha?"


Arfi melepaskan cekalan tangan Ardan. Menarik kursi di bar, lalu duduk tanpa rasa bersalah.


"Tentu saja aku akan pulang. Siapa yang sudi terus kau siksa, Kak?"


"Hoo ... buka mulutmu! Akan kumasukan cabe mulut itu!" ancam Ardan.


"Lagian mobilmu sudah waktunya  diservis. Berterima kasihlah pada adikmu ini," ucap Arfi seraya memakan camilan di atas pantry.


"Kau di sini hanya menghabiskan hartaku saja. Pulang sana, perusahaanmu itu bagaimana?"


"Aku pasti akan pulang! Kakak tenang saja, dengan membawa calon istri pastinya." Arfi mengedipkan sebelah matanya saat Nigar berdiri di sebelahnya.


Gadis itu hanya acuh, membawa beberapa makanan untuk di tata di meja makan.


Sementara mata Arfi terus memandangi tubuh berbalut gamis itu.


"Heh! Kau lupa saat ini kau tinggal di mana? Kenapa malah ke sini?" tanya Ardan ketus.


"Memang kenapa kalo aku di sini?"


"Masih nanya lagi! Pulang sana! Kau buatku sakit kepala saja?" usirnya ketus.


Arfi mencebik kesal. "Kau ini sebenarnya Kakakku bukan, sih, Ardan?"


"Salah sendiri. Kenapa menganggu sekali, tidak tau apa aku sudah puasa berapa bulan ini?" lirih Ardan geram sendiri.


Arfi menoleh, ia tidak mendengar jelas ucapan Ardan.


"Kau bilang apa?" tanya Arfi lagi.


"Aku bilang pulang sana! Ngapain kau masih di sini?"


"Dih ... ada apa dengan anak ini? Ganas sekali?"


"Memang kalo aku ganas apa masalahnya denganmu?"


Arfi menggelengkan kepalanya, tangan masih asyik memasukan camilan ke dalam mulut.


Ardan menarik camilan dari tangan Arfi. Menyimpannya di lemari dapur.


"Ardan! Aku sedang makan!" teriak Arfi tidak suka.


"Itu punya istriku! Jika mau beli sendiri!"


"Kau itu kenapa? Aku salah apa?"


"Salahmu? Kau menganggu!"


"Memang aku ganggu apa?" Arfi bangkit dan menggebrak pantry.


Tak ingin kalah, lelaki yang lebih dewasa itu ikut menumpuhkan kedua tangannya di atas pantry.


Sama-sama saling tatap, berperang melalui pandangan. Walau badan masih berseberangan pantry.


Dua gadis yang ada di meja makan hanya melihat. Lalu tertawa geli.


"Sepertinya akan repot jika adik kakak itu, menjadi ipar lagi," ucap Nigar geli.


"Maksudnya?" tanya Hazel tidak mengerti.


"Saudara sekandung aja seperti itu? Bagaimana lagi jika dapat gelar, saudara ipar?" ucap Nigar.


"Tapi iya, sih. Unik juga jika udah sekandung menjadi saudara ipar."


Dua gadis itu tertawa geli, sementara dua saudara lelaki itu masih bersiteru. Sama-sama memiliki ikatan darah, tetapi persaudaraan dua lelaki dan dua perempuan mengapa begitu berbeda?


Pandangan tajam dua lelaki itu teralih saat Hazel meletakan rantang di atas pantry.


Arfi tersenyum dan kembali duduk.


"Hazel, tolong buatkan jus guava juga, ya."


Ardan mendelik, melotot garang.


"Heh! Yang kau suruh itu siapa? Kau pikir dia pembantumu?"


"Memang kenapa? Dia kakak iparku," jawab Arfi tidak bersalah.


"Hahaha, jangan terlalu pede kamu! Belum tentu Nigar akan memilihmu."


"Hei, Ardan. Otakmu pergi ke mana? Walau pun aku dan Nigar tidak menikah, dia tetap Kakak iparku! Dia, kan istrimu, kau lupa?"


Ardan terdiam, tangan yang berkacak di pinggang terlepas.


"Benar juga, sih," jawab Ardan ikut duduk di depan Arfi.


"Aku juga mau, Sayang."


Hazel hanya menoleh, lalu mengangguk pelan.


"Sebenarnya kau itu kenapa, Kak? Marah-marah gak jelas, kepintaranmu juga hilang?"


Ardan mendesis geram. "Semua itu gara-gara kau! Masih berani bertanya?" jawab Ardan lantang.


"Astaga! Kenapa selalu nge gas, sih? Kau waras?" tanya Arfi bingung.


Ardan duduk membelakangi Arfi, melihat badan Hazel yang tengah membuatkan jus.


"Masih berani tanya aku waras? Lihat saja saat kau menikah nanti, dan istrimu melahirkan. Bisakah kau waras saat tinggal sekasur tapi tidak bisa bersatu?" lirih Ardan geram.


Arfi hanya menatap Ardan bingung, ia menggendikkan bahu. Entah apa yang Ardan lirihkan, semenjak menikah memang lelaki itu selalu tidak jelas ulahnya.