
Langkah Nigar mencoba mengejar lelaki berkaus cokelat itu. Tak mempedulikan, Arfi langsung melesatkan mobil oranyenya keluar dari perkarangan rumah Ardan.
Meninggalkan Nigar yang masih menatapnya penuh keheranan. Perasaan cemas mendera hatinya, ia masih sangat hafal tabiat sang lelaki itu.
Arfi akan sangat berbahaya ketika mengikuti segala amarahnya. Lelaki itu manja, dan dia akan melampiaskannya dengan cara yang dianggapnya benar, namun salah.
Rahang Arfi mengatup, keras. Tangannya terkepal, mencengkeram kemudi dengan sangat kuat. Ia geram.
"Kak Ferdi, jika kau meminta Kak Ardan untuk melepaskan Nigar. Aku terlalu memandang tinggi dirimu. Nyatanya kau hanya pecundang di balik wajah teduh yang menenangkan!"
Dia memukul setir itu, geram setengah mati. Mencoba mencari Ferdi, dan menyelesaikan semua ini. Dengan cara jantan, bukan dengan memohon perlindungan.
Mclarent oranye itu melesat kencang, menarik tuas sampai lajunya sangat kencang.
Siku dengan balutan jas itu tertumpuh pada bingkai pintu mobil. Menutupi sebagian bibirnya dengan pandangan mengarah ke arah langit.
Jalanan senja yang senantiasa menyesakkan dada. Membuat pikirannya terus terbang, mengawan mengingat masa lampau.
Dia juga tidak ingin terus seperti ini. Merindukan, mencintai dan memuja dia yang hanya bayangan.
Rindunya semakin menyiksa, cintanya semakin tertancap dalam dan membawa kekosongan yang kian menghampa.
Dia rindu akan suasana indah, ketika desiran hati menggebukan irama. Detak jantung yang membawa kebahagiaan itu tampak nyata.
Kapan terakhir kali dia bahagia?
Entahlah, kehidupan berjalan dan sayangnya, diri dan jiwanya tertinggal di sana. Masa lampau tempat hatinya tepatri akan sebuah nama, dan tidak lekang hingga waktu mengubah segalanya.
Iris itu masih menatap lekat ke arah jingga terhiaskan sandyakala. Sekejap memberikan keindahan, lalu lenyap bersama gelap.
Ferdi mendesah pelan, kembali fokus ke jalanan yang kian memadat saat azan magrib akan berkumandang.
***
Sasy memandangi kertas yang ada di tangannya. Membalik setiap lembaran dengan napas yang terhela berat.
Gadis berjeans biru itu berjalan menyusuri trotoar. Tidak tahu harus melangkah ke mana, karena ia juga bingung harus pulang atau kabur saja dari rumah.
Sekali lagi dia melihat lembaran itu, huruf d terpampang dengan besar di atasnya. Lantas ia mendesah, berjalan gontai tidak tahu arah. Sesekali ia menaikan tali ransel yang terjatuh.
"Kenapa d lagi, sih? Sebenarnya otakku ini kenapa, ya Allah?" tanyanya bingung.
Napasnya tersengal, tangisnya hampir pecah. Ia menarik ingus dengan menyentak. Berusaha untuk tidak terlihat lemah, konyol rasanya jika harus menangis hanya karena nilai quiz.
Langkahnya menyusuri trotoar jalanan kota. Perjuangannya pergi pagi dan pulang petang, entah apa hasilnya selain omelan dan bentakan.
Mata itu memaling ke arah bawah, melihat jajaran pias cahaya kekuningan tampak samar bersama senja yang masih terang, dari atas jembatan jalanan raya ia memandanginya.
Kedua tangannya tertumpuh di atas pagar. Perlahan badannya menempel pada sisi tembok pagar jembatan. Memerhatikan kendaraan yang lewat di bawah sana.
Lumayan, ada yang bisa ditonton sebagai hiburan. Setidaknya, cahaya-cahaya kuning lampu kendaraan di bawah sana bisa menjadi hiburan hati yang tengah menderita.
Padat jalanan kota membuat lelaki itu melamunkan setiap kejadian. Segala ucapan Ardan terputar, lalu pertanyaan itu kembali berulang-ulang.
Benarkah cintanya telah terbagi akan Nigar? Mengapa saat ini dia merasa hampa? Kekosongan hatinya masih sama saja, tidak ada yang spesial, walau dulu dia sempat tertarik akan taatnya gadis itu terhadap Tuhan.
Lembut tutur katanya, indah hiasan hena dan juga kilap bening matanya. Pandangan yang selalu terjaga dan juga, dirinya yang terlihat berharga dengan lindungan kain yang besar dan kuno bagi sebagian manusia, apalagi bagi sebagian wanita modern. Namun, itulah pembedanya, dia tidak silau akan indahnya dunia. Dia lebih tertarik akan iman dan Tuhan.
Lelaki itu menarik napas, dengan ganjalan yang menjadi beban. Luka. Bahkan yang nyata saja sering sekali keliru untuk dibedakan. Bagaimana lagi dengan cinta? Tidak jelas ada, dan arahnya ke mana?
Lelaki itu menjatuhkan kepala di atas jok.
"Ya Allah ... kacau!"
Dia mendesah pelan, matanya memaling. Tanpa sengaja ia mendapati gadis belia itu berdiri di balik pagar jembatan.
Kedua sikunya tertumpuh pada jembatan dengan badan yang condong ke bawah. Lalu sesekali badannya terangkat, sikunya menjadi tumpuan agar kakinya melayang di udara.
Mata Ferdi membelalak lebar jantungnya berdetak tak karuan. Sekilas hatinya mendesir, takut akan kehilangan.
Lelaki itu panik, dia menepikan mobilnya secepat mungkin. Tidak lagi dipedulikan suara klakson dan teriakan yang memaki tingkahnya yang membahayakan pengguna jalanan lain.
Semakin gadis itu bermain-main dengan badannya yang tergantung di atas jembatan. Semakin panik lelaki itu, jantungnya hampir pecah, terlebih saat badannya masih tertahan puluhan kendaraan yang memadati jalanan kota.
"Sasy!" teriak Ferdi dari seberang jalan.
Lebarnya jalanan dua arah dan juga ramainya kendaraan membuat suaranya terbenam di antara kebisingan jalanan penghujung senja.
"Sasy!" Ferdi kebingungan, ia panik tidak karuan. Matanya menyisir, badan itu mondar-mandir mencari celah ingin menyeberang.
"Oh, Tuhan! Jangan lagi," rutuknya panik.
Gadis itu masih asyik, badannya yang sedikit terangkat, bergoyang-goyang dengan lutut yang menendang agar badan itu bisa bergerak pelan.
Memandangi lalu lalang yang ada di bawah. Tidak sadar jika ada yang setengah mati ketakutan karena ulahnya.
"Sasy!" teriaknya lebih lantang.
"Sasy!" Habis sudah kekuatan suaranya, kerongkongannya sakit karena teriakan itu. Dan dia tidak peduli.
Bayang-bayang tentang Arsy kembali terputar dalam ingatan. Semakin membuat hati lelaki itu tidak tenang. Berulang kali dia mendesis, geram dan kesal. Gundah tidak karuan.
Sampai akhirnya dia tidak tahan dan menerobos jalanan, tak lagi peduli akan keselamatannya. Di hadapannya saat ini, rasa takut akan kehilangan gadis itu yang lebih besar bersarang.
Semakin menggila, terlebih ketika gadis itu seperti menikmati akan penghujung hidupnya.
Pada kenyataannya tidak seperti itu, dia hanya jenuh dan mencari hiburan. Sayang kebenaran tidak bisa dibuktikan hanya dengan tatapan. Dan bisa saja, salah satu cara Tuhan membukakan jalan.
Beberapa kali klakson berbunyi nyaring, bahkan satu motor sempat menyempret kaki lelaki itu. Tidak terasa, karena rasa takut telah lebih dulu membuncah.
Deru napasnya memburu kencang, menyentuh hangat ubun-ubun sang belia. Sasy terdiam, terbodoh karena tiba-tiba saja ada tubuh lelaki mendekapnya.
Sampai aroma itu menembus hidungnya, perlahan bibirnya terkembang dengan lebar. Dia hafal aroma tubuh ini, karena yang mengingatnya bukan lagi memori atau pikiran. Namun, hati dan sukmanya.
"Apa yang kamu lakukan? Ha? Apa kamu tidak waras? Umurmu masih belia, jangan hanya karena luka kamu mau mengakhiri segalanya?" bentak Ferdi kalut.
"Kak Ferdi, ini kamu?" tanya Sasy riang.
Ferdi melepaskan dekapannya, satu tangannya menyentuh pipi Sasy. Lantas ia mengecup dahi itu.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu baik-baik saja? Katakan padaku, kamu baik-baik saja, bukan?" Kedua tangan itu kembali mendekap, ia ketakutan, hatinya tidak tenang. Bagaimana mungkin pikiran anak remaja selalu seperti ini?
Napasnya hampir terhenti saat gadis itu bermain di pagar jembatan. Jantungnya menderu kalut, ketakutan, pikirannya menggila. Satu kata, trauma.
"Kenapa kamu mau melakukan ini Sasy? Kenapa pikiranmu pendek sekali? Ha?"
"Aku hanya berpikir itu .... "
"Apa, ha? Apa kamu pikir mati itu mudah? Bahagia?" tanya Ferdi memberondong. Satu tangannya memeluk kepala Sasy sangat erat. Beberapa kali bibirnya mendarat di atas puncak kepala.
Jantungnya berdetak tak karuan, nadinya berdenyut menyakitkan. Kadang, cinta membutuhkan perbuatan gila untuk menyadari perasaan yang lainnya.
"Tapi di dunia sama saja menderitanya," jawabnya lirih.
"Jangan pernah berpikir seperti itu, jangan menyerah, jangan lakukan itu Sasy! Jangan dan jangan. Kau paham! Jangan!"
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kau tidak perlu melakukan apa pun kau hanya cukup bertahan! Kau dengar? Hanya bertahan?!"
"Kalau aku tidak mau?" tanya Sasy sedikit tersenyum.
Kedua tangan Ferdi menarik bahu mungil itu. Badannya membungkuk, menyamakan wajah belia itu. Sasy memberengut, tetapi hatinya bersorak gembira.
"Kau mau apa? Katakan! Kita kencan? Kau mau kita kencan? Ya?"
Sasy mengangguk dengan cepat. Ferdi kembali menarik badan belia itu, mendekap dengan sangat erat. Perlahan napasnya terhela dengan lepas, lega dan juga lebih tenang setelah angin menyejukkan sukmanya.
"Baiklah kita akan kencan. Sekarang juga kita akan kencan, kau dengar! Kita akan kencan dan jangan pernah berpikir untuk melakukan itu lagi ... dengar!" Dekapan itu semakin mengerat, kuat dan sangat erat.
Gadis itu menarik napas, wajahnya terbenam di dada Ferdi. Sedikit sesak, ia mencoba menarik badannya. Sayang, tangan kekar itu semakin erat mendekapnya.
"Jangan lepaskan! Jangan lepaskan dekapanku, Sasy. Kumohon! Dengar ... kumohon!"
"Kak Ferdi. Kamu mendekap kuat sekali."
"Kalau begitu bertahanlah sekuat apa pun dekapanku. Kau tak boleh pergi! Tidak boleh!"
"Tapi aku gak bisa napas, Kak. Baiklah, renggangkan saja, sedikit saja. Aku butuh udara," pintanya melas.
Ferdi menarik napasnya, perlahan kewarasannya kembali singgah. Ia menelan saliva dan melepaskan dekapan itu.
Menatap wajah belia itu dengan sendu. Wajahnya sangat teduh, dan perlahan jari-jari itu merapikan anak-anak rambut yang terbang terbawa angin.
"Kenapa kamu lakukan ini, Sasy? Sesakit itukah aku melukaimu?"
Gadis itu menggulum bibir, bukan niatnya untuk bunuh diri. Terlintas saja tidak, namun jika ini agar Ferdi tetap di sisi. Mungkin berbohong ada baiknya. Pikirnya.
"Aku cinta mati sama Kak Ferdi, tapi Kak Ferdi menolakku. Jika tidak dapat cintanya, biarkan saja aku nikmati matinya."
Kedua tangan kekar itu menarik bahu Sasy. Mendekapnya kembali. Tidak peduli sepadat apa jalanan dan sebanyak apa mata menonton mereka. Lelaki itu tidak peduli.
"Jangan! Jangan! Waraslah, mati itu tidak mudah!" teriak Ferdi kalut.
"Kalo Kak Ferdi gak mau aku mati. Jadi Kak Ferdi mau aku bagaimana?" tanya Sasy lagi, bibir belia itu terkulum. Bersorak senang saat mendengar degup jatung lelaki itu menggebukan irama ketakutan.
"Bertahanlah! Tidak peduli sesulit apa bertahanlah! Mengadu dan katakan apa pun padaku. Tapi janji, janji untuk jangan menyerah dan pergi."
"Kalo begitu Kak Ferdi juga harus janji."
"Apa?"
"Jangan pernah mengatakan hal yang menyakiti aku lagi. Harus selalu nuruti apa kataku. Janji?"
Teguk salivanya terdengar berat, lelaki itu mengangguk. Satu kecupan mendarat di puncak kepala gadis belia itu.
"Baiklah." Tanpa sadar peluh di pelipisnya mengalir bersama bulir dari matanya.
Gadis belia itu terkikik, kedua tangannya mendekap badan tegap Ferdi. Menang atas segala rasanya.
Dari balik kaca hitam, ada sepasang mata yang memerhatikan. Dia melihat sendiri bagaimana paniknya lelaki itu saat melihat Sasy berdiri di jembatan.
Sesaat emosi yang meluap pada lelaki itu lenyap. Ketika salah satu betisnya tertabrak ban motor dan dia masih sanggup berlari tanpa peduli akan sakitnya.
Mata itu menatap nanar, ia menarik napas dan menjatuhkan kepala di atas jok mobil.
"Ardan, seandainya kau melihat ini. Bagaimana bisa kau meminta aku melepaskan Nigar?" Teguk salivanya terasa getir. Lelaki itu menahan napas.
"Cintanya dan cinta Nigar tidak akan pernah bertemu. Karena mereka berada pada aliran yang tak akan berujung pada muara yang sama. Memaksa mereka berdua, hanya akan membuat hati keduanya terluka. Ada pembatas, sayang kau tidak lihat itu."
Arfi menarik napasnya, ia kembali menatap Ferdi dan Sasy di atas jembatan. Beberapa kali bibirnya mendarat di puncak kepala sang belia. Menciptakan tawa getir di bingkai si bungsu Erlangga.
"Dek, seandainya kau masih di sini. Kuyakin kau akan berteriak dan mengatakan pada dunia. Bahwa kau adalah gadis paling beruntung di dunia." Napasnya tersengal, ada luka yang masih mengganjal.
"Karena lelaki itu ... bukan hanya mencintaimu dengan apa yang dia miliki. Tetapi dia juga mencintaimu dengan apa yang tidak dia miliki."