
Gadis bermata madu itu tersenyum saat melihat sang adik yang sudah sibuk di dapur. Ia berjalan menghampiri, saat Nigar berbalik sebuah cokelat mengarah di depan bibir ranum tersebut.
Nigar sempat terdiam, lalu mulut itu terbuka. Menerima suapan cokelat dari tangan sang kakak. Hazel memeluk tubuh yang lebih tinggi darinya itu erat.
"Selamat, Nigar." Peluk Hazel semakin mengerat.
"Terima kasih, Hazel." Pelan ia meleraikan pelukan sang kakak.
Tersenyum sendu, lalu mengangkat piring masakan menuju arah meja. Sudah ada Arfi di sana, tidak seperti layaknya pengantin baru, bahkan mereka berdua terlihat lebih dingin dari sebelumnya.
Arfi hanya sekilas tersenyum saat sang istri meletakan piring di depannya dan Nigar kembali ke dapur dengan wajah muram.
Langkah Nigar kembali terhenti saat Hazel menghadang langkahnya.
"Nigar ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Jangan bohong." Kedua tangan Hazel menangkup di pipi Nigar, memerhatikan wajah cantik milik adiknya lekat dan dalam.
"Hazel---" Ucapan itu terhenti saat suara Ardan dan Surya saling bersahutan.
Terkekeh, bercanda seraya menuruni anak tangga.
"Aku sudah memasakan bubur untuk Surya," ucap Nigar berlalu ke arah pantry.
Hazel masih terpaku, memerhatikan segala gerakan Nigar yang sama sekali terlihat tidak baik-baik saja. Bahkan Arfi menjadi lebih pendiam.
Entah tidak menyadari atau memang tidak peduli. Ardan masih asyik bermain bersama putranya. Menaikan tubuh mungil bocah itu di atas meja.
Lalu berhadapan dan saling mencubit pipi di wajah keduanya.
"Ini sarapan Surya."
"Makasih, Tante," jawab Ardan masih sibuk menganggu bocah yang ada di depannya.
"Mas jangan kebiasan dudukan Surya di atas meja!" ketus Hazel menurunkan tubuh itu.
"Ada Om Arfi makan, gak sopan!"
Ardan hanya memutar bola matanya malas. Lalu, beralih menatap sang adik.
"Hei, Pengantin Baru," panggil Ardan dan Arfi hanya melirik sinis.
"Kau ada rencana apa?" tanya Ardan memainkan kedua alis matanya. Menggoda.
"Mencari pekerjaan."
"Mencari pekerjaan?"
"Aku bukan lagi bungsu Erlangga. Jadi tak mungkin menumpang hidup padamu terus," jawabnya malas.
Ardan berdecak malas. "Pergilah bulan madu. Aku akan memberikan cuti untuk istrimu."
Bungsu Erlangga itu menarik tisu, mengusap sudut bibirnya dan bangkit.
"Gak usah buang-buang uang, Kak." Badan tegap itu menarik jaket yang sebelumnya berada di atas sandaran kursi.
"Aku sudah menjadi imam, harus lebih serius untuk mencari uang." Ujung mata itu melirik ke arah Nigar.
"Nanti istriku mau makan apa?"
Beberapa kali mata Ardan berkedip, tak percaya ucapan seperti itu akan terlontar dari bibir adiknya yang manja.
"Hei, kalau mau pergi honey moon. Ya, pergi saja. Biar aku yang memberikannya. Aku belum mengucapkan terima kasih karena bantuanmu."
Arfi tersenyum dan menepuk pundak Ardan lembut. Berjalan ke arah pintu seraya berkata.
"Kalau begitu, jangan biarkan para keponakanku terluka. Karena yang kukorbankan bukanlah hal yang mudah."
Ardan dan Hazel saling memandang, bingung oleh kelakuan dua adik mereka yang menjadi aneh tiba-tiba.
"Arfi," panggil Nigar saat lelaki itu hampir keluar dari teras.
Arfi menoleh, lalu tersenyum tipis.
"Kamu mau pergi?"
Arfi mengangguk. "Aku mau mencari pekerjaan baru."
"Tapi aku rasa tidak perlu terburu-buru. Arfi masih sakit, kan? Istirahat saja dulu."
Lelaki itu menarik napas, langkahnya mendekat dan sepasang mata indah itu tampak ketakutan.
"Aku akan kembali sebelum makan siang. Kamu istirahatlah." Lelaki itu ingin meraih puncak kepala sang istri, namun terhenti dan kembali mengepalkan tangannya.
"Assalamualaikum."
"Tunggu, Arfi." Cekal Nigar di lengan Arfi.
Lelaki itu kembali menoleh, lalu terasa jemari gadis itu gemetaran. Arfi menatap cekalan tangan Nigar, secepatnya gadis itu melepaskan pegangan.
"Tidak."
"Maaf Arfi, aku akan berusaha. Ayo kita coba lagi."
"Tak usah dipaksa, Nigar." Satu tangan kekar itu meraih saku jeansnya.
"Oh, ya. Ini maharmu."
Tangan putih itu meraih, lekat mata Arfi menatapi pergerakan Nigar yang tampak gemetaran. Bibirnya tersenyum kecut, bagaimana bisa mencoba? Bahkan saat berdekatan saja dia gemetaran dan berkeringat.
"Terima kasih, Arfi," ucap Nigar mengenggam tasbih itu di depan dada.
"Aku pergi."
Sepasang mata indah itu hanya bisa menatap punggung Arfi yang berlalu. Menjauh dan semakin mengecil sampai hilang di balik gerbang rumah kakaknya.
Banyak hal yang dia korbankan, bahkan dia rela mengganti Mclarent oranye kesayangannya dengan kaki.
Gadis itu membuka genggamannya, melihat butiran-butiran biru yang Arfi berikan. Merasa bersalah, bagaimana juga lelaki itu berhak atas haknya.
***
Lelaki berkacamata itu meremat kedua jemari tangannya saat sepasang mata tajam terus menelik wajahnya.
"Kamu serius?" tanya Irfan tegas.
"Sangat serius, Pak."
"Berapa usiamu?"
"34 tahun, Pak."
"Kamu tau usia Sasy berapa?"
"Tau, Pak."
"Mengapa kamu berani melamarnya? Apa yang kamu punya?" tanya Irfan dan Ferdi mendongak. Menatap wajah tua itu, sangat tegas, terlihat bijaksana walau Sasy sering mengatakan ayahnya sangat keras terhadapnya.
"Hanya iman di dalam dada."
Irfan menganggukkan kepalanya. "Lalu, dengan apa kamu akan menafkahi putri saya?"
"Janji Allah, yang telah mengatur rezeki setiap hambanya."
Sudut bibir keriput itu tertarik, lalu tatapannya teralih pada Sasy yang bersembunyi di balik sekatan pintu. Tampak khawatir menunggu keputusan.
Badan lelaki itu menegak, lalu menarik napas panjang.
"Begini Ferdi, walau mungkin saya keras dalam mendidiknya. Namun, bagi saya dia tetaplah putri kecil saya. Umurnya masih sangat belia." Irfan menatap wajah Sasy kembali, tampak cemberut dengan jari-jari yang meremat sekatan pintu.
"Dia bahkan masih kuliah ditingkat pertama."
"Saya tau, Pak. Saya berjanji untuk tetap membiarkan dia kuliah. Bahkan saya yang akan membimbingnya untuk bisa sampai wisuda."
"Kamu yakin?"
Ferdi mengangguk mantap.
"Pikirkan sekali lagi, dia masih sangat belia. Bagaimana jika dia akan merepotkanmu? Dia sangat nakal, Ferdi."
Kepala lelaki itu menoleh, melihat wajah Sasy lekat. Perlahan bibirnya terkembang, seakan ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Dia tidak nakal. Hanya sedikit usil dan petakilan. Tak masalah, karena saya yakin dia cukup dewasa dan paham apa itu ikatan."
Irfan ikut menatap ke arah putrinya, semu kemerahan menghiasi pipi sang putri. Pandangannya tertunduk dengan bibir yang dimainkan. Sedikit tersenyum, malu-malu, lalu berlari ke belakang.
Melihat itu Irfan terseyum tipis, lalu kembali menatap Ferdi. Memang cara dia keras, namun Sasy adalah gadis satu-satunya. Masih tidak rela jika ada yang melamarnya terlalu cepat.
"Terus terang saya masih ingin melihat putri saya berkembang. Belajar dan menggapai cita-citanya. Saya tahu dia suka menggambar, saya hanya mendidiknya untuk bisa belajar tentang kehidupan, jika setelah dewasa dia memilih itu. Maka itu adalah hak dia."
Pandangan Ferdi tertunduk, sedikit banyaknya dia paham. Terkadang kasih sayang seorang ayah memang terbalut oleh kekerasan yang dirasa.
"Memikirkannya menikah secepat ini. Di hati kecil saya, saya masih tidak rela. Dia satu-satunya putri saya. Saya ingin jika menikah, dia bahagia menjalaninya."
"InsyaAllah, jika Anda percaya. Saya akan membahagiakan sekuat tenaga. Apa pun kebahagiaan dia saya akan mendukungnya, selama itu tidak melanggar ikatan di antara kami. Tetapi jika Anda ingin dia selesai kuliahnya dulu. Baiklah, saya paham dan akan menunggu."
Irfan menganggukkan kepalanya, menatapi wajah lelaki yang ada di hadapannya. Sangat dewasa, bukan hanya penampilan, namun juga ucapan dan kelakuan.
Jika dipikir, sangat bertolak belakang dengan putrinya yang urakan. Namun, siapa yang bisa menghalangi cinta?
"Maaf, sebelumnya. Nak Ferdi ini, kan, sudah dewasa. Apa kamu memiliki pekerjaan tetap?" tanya Luna dan Irfan menoleh ke arah sang istri yang ada di sebelahnya.
"Alhamdulillah ada."
Luna menatap wajah Ferdi lekat, menunggu lelaki dewasa itu menyelesaikan ucapannya.
"Saya ... Direktur Green Kosmetik, Bu."
Sepasang mata itu melebar, lalu ia menatap sang suami. Irfan hanya membuang wajahnya, paham maksud dari tatapan sang istri