For My Family

For My Family
200



Sepasang mata elang itu terus memandangi wajah sang istri dan dua anaknya yang tertidur di jok belakang mobil. Setelah perdebatan panjang, akhirnya ia mengalah. Menuruti keinginan Hazel yang menginginkan mereka semua ikut kembali ke ibu kota.


Sekilas Arfi melirik ke arah Ardan, detik selanjutnya ia menatap kaca spion. Melihat wajah Nigar yang masih mengarah ke arah luar. Memerhatikan jalanan malam.


"Kenapa kamu belum tidur, Nigar?"


Kepala gadis itu menoleh, lalu bibir ranumnya tersenyum lembut.


"Aku masih belum mengantuk."


"Ada yang kamu khawatirkan?" tanya Arfi menatap wajah gadis itu dari spion.


Nigar menundukkan pandangan, lalu mengeleng pelan.


Melihat itu Ardan hanya terdiam, gadis itu memang tidak sekuat dan seberani sang kakak. Detik selanjutnya, iris hitam itu menatap sang adik yang masih terfokus oleh jalanan.


"Mau gantian?" tanya Ardan. "Mungkin Nigar akan tertidur jika ada kau di sebelahnya," goda Ardan dan Arfi hanya menarik napas.


"Saat seperti ini pun Kakak masih bisa bercanda."


Ardan memutar badannya, ikut menatap jalanan di depan.


"Apa rencana, Kakak?"


"Tidak ada."


"Lalu, apakah kita akan menyerah begitu saja?"


Ardan menggeleng pelan, dengan helaan napas panjang yang terdengar berat.


"Entahlah, tapi aku juga seorang ayah. Aku memiliki Surya yang bukan darah dagingku, Arfi. Aku menyanyangi dia, bahkan lebih besar dari aku menyanyangi Yena. Entahlah, mungkin karena aku lebih mengenal dia lebih dulu. Banyak hal yang aku lakukan untuk dia, untuk kesembuhan dia. Aku hanya berpikir, jika suatu saat nanti Surya memperlakukan aku sama seperti apa yang kita lakukan pada papa. Itu bagaimana?"


Pendar binar tajam itu mengembunkan kaca. Ardan menarik napasnya berat, dadanya terasa sesak membayangkan jika suatu saat hal itu akan terjadi, bagaimana perasaannya nanti?


"Membayangkannya saja membuat hatiku hancur. Sesak, sakit dan ... entah. Kau akan tau saat kau punya anak nanti."


Arfi hanya diam, lalu tatapan matanya teralih pada spion. Di belakang sana sang istri juga tengah memandang ke arahnya. Sepasang mata indah itu berkaca, seperti ada rasa bersalah menyambangi hati setiap kali menyinggung soal anak.


Gumaman suara Hazel membuat pandangan mata Nigar menunduk.


"Mas," panggil Hazel setengah sadar.


"Iya, Sayang."


"Bisa berhenti di toilet gak? Aku mau buang air, sekalian ganti pampers Yena."


Arfi hanya mengangguk, mencari pom bensin terdekat. Seraya menunggu, lelaki berambut pirang itu berjalan menjauh. Membakar sebatang rokok di luar pom bensin. Matanya menatap ke arah langit, lelah. Entah bagaimana harus bersikap ia pun bingung.


Sampai sebuah sentuhan dingin terasa di lengannya. Arfi menoleh, Nigar tersenyum seraya memberikan sekaleng soda.


"Arfi ngantuk?"


Bungsu Erlangga itu hanya menggeleng.


"Arfi, boleh aku mengatakan sesuatu?"


"Ya."


Gadis berhijab itu menunduk, meremas ujung hijabnya. Bingung harus mengatakannya dari mana.


Melihat gelagat Nigar, lelaki berkaus ketat itu paham apa yang ingin diutarakan, pasti ....


"Jika ... nanti Arfi memang harus meninggalkan aku. Ambillah dulu hak Arfi sebelum---" Ucapan itu terhenti saat bibir Arfi mendarat di atas bingkai ranum yang dia miliki.


Sepasang mata indah itu melebar, mencerna perbuatan Arfi yang sangat spontan. Detik selanjutnya lelaki itu menjauhkan wajahnya.


"Berhentilah berbicara. Jika itu hanya menyakiti perasaanku, maka jangan pernah katakan lagi," kata Arfi.


Gadis itu masih bergeming, sedikit tersipu. Malu-malu, ia tersenyum.


Melihat ekspresi wajah Nigar yang memerah membuat perasaan lelaki itu sedikit lebih senang. Arfi menangkupkan kedua tangan di wajah. Memikirkan ucapan Pedro, mungkin dia memang harus mencobanya.


"Dengar Nigar, aku minta maaf karena sudah bersikap dingin setelah kejadian pagi itu. Aku, baik-baik saja dan ikhlas jika harus menunggumu lebih lama. Jangan dipikirkan, aku akan menunggumu sampai kapan pun itu. Tapi berjanjilah jangan tinggalin aku, ya."


"Nanti Arfi duduk di sebelah aku, ya.


Lelaki berambut pirang itu tersenyum, menarik badan semampai itu ke dalam dekapan.


"As you wish, baby."


***


Lelaki berbadan tegap itu menghela napas, memandangi rumah besar itu lekat. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat, cemas, takut jika Gerald nekat dan melukai keluarga kecilnya.


Sedikit ragu, lelaki itu melepaskan seatbelt, saat ingin membuka pintu mobil, Ardan berbalik dan menarik tuas mobil, terhenti saat tangan Hazel menghalanginya.


"Jangan lari lagi, Mas. Kita harus berani menghadapinya. Ada aku dan anak-anakmu. Kami akan selalu mendampingimu."


"Tapi bagaimana jika papa menyakiti kalian?" tanya Ardan cemas.


Bibir mungil itu melebar. "Yakinlah, ada Allah yang Maha melunakan hati manusia. Kita hanya harus berusaha, berdoa, aku yakin bahwa seorang ayah. Tetaplah ayah."


Hazel membenarkan letak posisi Yena dan membuka tuas pintu. Mau tidak mau Ardan mengikuti gerakan sang istri.


Dengan menggendong Surya, lelaki itu membuka pintu rumah Gerald. Seperti selama ini, hanya ada asisten rumah tangga yang menyambut, walau malam sangat larut sekalipun.


"Mas Ardan, Mas Arfi? Kenapa pulangnya tengah malam seperti ini?" tanya salah satu ART di rumah itu.


"Nanyanya besok pagi saja, ya, Bi. Aku minta tolong siapin satu kamar tamu, ya," pinta Ardan.


"Siap, Mas. Bibi siapin di sebelah kamar Mas Ardan, ya?"


Ardan hanya mengangguk, lalu tatapan itu beralih ke Mbok Darmi. "Mbok ikuti Bi Indri, ya. Malam ini biar Surya tidur sama saya dan Hazel."


Mata tajam itu memerhatikan gerakan Mbok Darmi yang mengikuti langkah sang ART, sementara ada mata yang terus memerhatikan mereka dari lantai dua.


Ardan menoleh, menilik Gerald yang berdiri di pagar depan kamarnya. Lalu, lelaki itu menatap sang istri.


Baru akan melangkah, bayi mungil yang ada di dekapan Hazel membuka matanya. Jernih bola mata sang bayi menatap lurus ke arah langit-langit rumah.


"Ayo, Sayang." Satu tangan Ardan merangkul bahu sang istri.


"Mas, aku bisa naik sendiri. Mas bisa bantu aku ambilkan air hangat? Sepertinya Yena haus." Sepasang mata berwarna madu itu menatap ke sekeliling, "aku gak berani," katanya menyeringai lebar.


Ardan hanya mengangguk, meyerahkan Surya ke dekapan Arfi, bersamaan Hazel menjejaki anak tangga menuju lantai dua.


Di tangga tanpa sengaja Gerald dan Hazel berselisihan. Saat Gerald berada di sebelah Hazel, bayi mungil itu menjerit, membuat pandangan Gerlad teralih.


Bening matanya menatap lelaki tua itu, dengan jari-jari yang ia masukan ke dalam mulut. Mengemut jemari itu sampai lesung di pipi gembil sang bayi tercetak.


Gerald terpaku, melihat gadis kecil yang sangat cantik di dalam dekapan tangan Hazel. Bayi itu mengoceh dengan jemari yang memenuhi mulutnya, gemas. Sesekali ocehannya terdengar nyaring, seperti memanggil sang kakek, lalu tersenyum dengan mulut yang terbuka lebar sampai gusi merah miliknya terlihat jelas.


Ada desiran yang menghangatkan dada tua itu, matanya terus terpatri akan bayi mungil di dekapan Hazel. Baru akan mendekat, lalu Hazel menunduk dan berkata.


"Maaf, Pak." Gadis itu melanjutkan langkah, dengan ocehan suara sang bayi yang menggema ke mana-mana.


Gerald terus memerhatikan Hazel, tangan mungil yang terselip di bawah lengan Hazel, terbuka sekejap, lalu tergenggam lagi. Seperti meminta sang kakek untuk bermain.


Gerald menarik napasnya, lalu mendekati dua putranya yang ada di ruang tengah.


"Ternyata keberanian kalian cukup besar untuk membawa istri-istri kalian ke sini."


Ardan tak peduli, ia menarik tubuh Surya dari dekapan Arfi.


"Ini sudah sangat malam. Jika mau membentak atau menampar, besok pagi saja."


Tak acuh, Ardan langsung membawa sang putra menuju kamar. Sementara Arfi masih terpaku di sana.


"Aku naik dulu, Pa," katanya seraya merangkul Nigar, melewati Gerald yang hanya terdiam.


Pikirannya mulai mengacau, bukan lagi tentang kedua putranya, melainkan tentang bayi perempuan yang ada di dekapan Hazel.


Gerald mengusap wajahnya kasar, mencoba membuang bayangan bayi itu. Suara jeritan dan juga ocehannya. Mengapa selalu terbayang?