For My Family

For My Family
270



Pemuda blasteran itu mengibaskan sneli yang ada di tangan sebelum memakainya dan memasuki gedung kesehatan yang akan menjadi tempat kerja barunya kini.


Langkah tegap itu berjalan melewati meja administrasi tempat perkumpulan anak koas sebelum pergantian jam piket pagi ini.


Beberapa anak koas yang memperhatikan saling sikut, mencuri pandang pada dokter baru yang akan aktif bertugas minggu depan.


"Siapa?" tanya salah satu dokter koas di sana pada teman sejawatnya.


Mereka hampir bebarengan saling mengendikkan bahu, melihat kericuhan teman-temannya. Ferni menoleh, bertepatan dengan Pedro yang berjalan melewatinya.


Pena yang awalnya hanya gadis itu pegang, kini menjadi sebuah gigitan ketika wajah tampan itu tepat tertangkap oleh binarnya.


Setelah tubuh tegap itu menghilang di perempatan koridor rumah sakit, para koas muda itu saling berbisik pelan. Menggosipkan sang dokter baru yang masih misterius itu.


"Ehem." Perawat yang biasa bertugas di administrasi mulai berdatangan.


Tersenyum-senyum saat mendengar kericuhan para koas muda tersebut.


"Pada gibahin siapa pagi-pagi?" tanya perawat yang baru datang itu.


"Ada dokter baru, ya?" tanya salah satu koas di sana.


Yang ditanyai hanya mengerutkan dahi, mencoba memikirkan siapa yang sedang dimaksud para gadis-gadis itu.


"Oh, iya, ada. Dokter yang dipindah tugaskan karena orang penting," ledek perawat itu terkekeh.


"Maksudnya?" tanya mereka tak sabar.


"Dokter pribadi Erlangga Grup."


Jelas yang tinggal di ibukota pada berteriak histeris. Semakin penasaran oleh dokter tampan yang misterius itu.


Sementara dahi Ferni mengernyit, Erlangga Grup adalah tempat di mana abangnya mengabdikan diri selama ini. Mungkinkah abangnya juga mengenal dokter muda itu?


Sekilas senyum tercetak di bibir gadis muda itu, dia melongok ke arah koridor tempat Pedro menghilang tadi. Berharap dokter itu kembali lagi dari sana.


...***...


Sebuah tangan lentik menyentuh perut rata milik Nigar, senyum dari bibir mungil itu terus mereka dengan sangat lebar.


"Kandunganku masih sangat kecil, Hazel. Kenapa kamu terus memeganginya? Terasa pun belum," kata Nigar sedikit risih melihat tingkah kakaknya.


"Aku nggak sabar mau lihat bayinya, bakalan secantik apa anakmu nantinya?" kata Hazel sedikit terkekeh.


"Bukankah sudah ada contohnya?" tanya Arfi pada wanita yang duduk di sebelah Nigar.


"Eh, mana? Arfi jangan-jangan sebelum ini kamu sudah punya anak, ya?"


Pemuda berambut pirang itu menggeleng dengan mengusap sudut bibirnya.


"Bukankah Yena sudah jadi contohnya?"


Mendengar itu Gerald menaikan pandangannya ke arah Nigar.


"Tapi, kan, Nigar jauh lebih cantik dariku. Pasti anaknya juga akan lebih cantik, kan?"


"Terlebih, ayahnya juga lebih ganteng daripada Ardan, ya, kan?" tanya Arfi seraya memainkan alis matanya.


"Kalo itu aku nggak setuju," kata Hazel membuang wajahnya.


Tawa sepasang suami istri itu pecah, Arfi kecup perut rata itu, lantas berpindah ke dahi gadis itu detik selanjutnya.


"Aku berangkat, ya. Jangan tunggu aku pulang, mungkin akan sangat malam."


"Hem, jagalah kesehatanmu, Arfi," kata Nigar lembut.


Bungsu Erlangga itu hanya mengedipkan sebelah matanya, menarik jas yang sebelumnya dia sangkutkan di sandaran kursi.


Gerald susuli langkah putra bungsunya itu. Memanggil Arfi saat tubuh itu akan keluar dari rumah besar mereka.


"Arfi."


"Ya?"


"Kau yakin bisa urus perusahaan sendirian? Atau biar Papa bantu kamu mengawasinya."


"Aku mampu, Pa," jawab Arfi lembut.


"Kau yakin? Kau tidak pernah serius sebelumnya, apakah kau bisa mengatasi masalahnya?"


"Mungkin aku tidak akan sanggup jika mengatasi semua ini sendiri. Tapi, saat ini ada Kak Arfan dan Kak Ardan yang ikut berjuang mempertahankan segalanya."


Gerald terdiam, dia menilik wajah tampan itu lamat. Bukan hanya Ardan, bahkan kini putra bungsunya pun sudah tumbuh sebesar ini. Tak lagi merengek dan mengeluh hanya karena tak ingin mengatasi masalah.


"Mungkin aku memang tak sepintar Kak Arfan atau sekuat Kak Ardan dalam menjalani dan menjaga perusahaan, Pa. Tapi aku juga ingin berjuang keras bersama mereka."


"Tapi Papa masih mampu membantumu."


"Mau sampai kapan, Pa? Aku akan menjadi ayah sebentar lagi. Bukankah sudah seharusnya aku berjuang dan berdiri di kakiku sendiri? Tenang saja, Pa. Kami pasti bisa."


"Tapi, Arfi—"


"Pa," putus Arfi seraya tersenyum lembut.


"Aku bukan lagi anak kecil yang tak ingin dewasa. Aku bukan lagi anak bungsu yang selalu meletakan masalah pada pundak kakak-kakakku. Aku sudah bukan lagi lelaki manja yang tak bisa bekerja, Pa. Mungkin aku memang harus banyak belajar dari Kak Ardan dan Kak Arfan. Tapi aku bisa, Pa. Aku mampu! Karena itu Kak Ardan percaya padaku dan aku tak ingin kepercayaan Kak Ardan runtuh. Aku akan berusaha, aku akan berjuang. Demi kita semua."


Gerald menarik napasnya, lantas sudut bibir tua itu mengembang. Dia pukul sebelah pundak Arfi, seperti mengatakan bahwa restunya juga ikut merestui perjuangan mereka.


Arfi hanya mengangguk, dia sempat mengecup pipi Yena sebelum berjalan menuju garasi rumah. Sepasang mata tua itu memperhatikan mobil sang anak yang melesat keluar dari perkarangan.


Saat ingin masuk, Aulia keluar bersama dengan Hazel. Menghabiskan waktu di taman bunga persik seperti biasanya.


Gerald ikuti langkah mereka dan duduk bersebelahan dengan Aulia. Saat melihat Yena, wanita senja itu menarik tubuh cucunya dari dalam dekapan sang suami.


"Aulia," panggil Gerald lembut.


Wanita itu tak merespons, dia sibuk bermain dengan sang cucu.


"Anak yang kamu lahirkan sudah beranjak dewasa. Mereka sudah tidak membutuhkan punggung kita lagi untuk berlindung."


Gerald terdiam, kelopak matanya memanas. Menahan kaca-kaca yang menghiasi netra tuanya.


"Anak-anak yang pernah kita perjuangkan kini tengah berjuang juga."


Sang istri tak mendengar, terus bermain dengan Yena di dalam dekapannya. Gerald raih wajah itu dan mengamitnya. Membuat mata mereka saling berpandangan.


"Bukankah sudah saatnya kita juga harus berjuang? Bukankah sudah saatnya untuk sadar? Aulia, mau berapa banyak lagi kamu membuang waktu seperti ini, Sayang?"


"Gerald," panggil Aulia lembut.


"Hem?"


"Aku rindu Arsy."


Gerald tarik kepala itu ke dalam dekapannya, mengeratkan dekapannya saat Aulia terisak tertahan, makin lama semakin dalam. Dia juga merasakan sakitnya merindukan.


"Aku juga, Aulia. Bagaimana jika kita pergi ke makam Arsy nanti?"


"Arsy belom mati."


"Ikhlas, Aulia. Kumohon ikhlaskan putri kita. Arsy juga harus tenang, dia tidak akan tenang jika kamu terus seperti, ya," bujuk Gerald lembut.


"Arsy belum mati."


"Tidak lelahkah terus seperti ini? Kita harus sama-sama berbenah, Aulia. Ayo kita habiskan masa tua bersama. Untuk itu ayo sadar, Sayang. Berjuanglah mengembalikan ingatanmu, kita akan berjuang bersama, ya."


Mendengar itu Pedro mendekati mereka berdua, lelaki berdarah setengah Spanyol itu tersenyum saat Gerald mengalihkan pandangannya pada dia.


"Boleh saya memulai terapinya?" tanya Pedro dan Gerald hanya mengangguk. Jari tuanya sempat menghapus sudut mata.


Saat tubuh itu berniat akan meninggalkan Pedro.


"Pak Gerald," panggilnya lembut. Gerald hanya berhenti melangkah, namun tak menoleh.


"Terima kasih, karena kesabaran Anda mengajak nyonya bercerita, itu berperngaruh pada imajinasinya."


Gerald hanya diam, dia lanjutkan langkah.


"Setidaknya, terapi pada Nyonya Aulia berjalan lebih baik karena Anda. Mungkin ini terdengar sedikit mengada-ada buat Anda. Namun, Nyonya Aulia sangat merespons jika lawan bicaranya itu Anda."


Gerald meneguk salivanya dengan getir.


"Bersabarlah sedikit lagi. Saya akan mengembalikan dia pada Anda, Pak."


Gerald hanya mengangguk pelan.


"Pasti!"