
Bungsu Erlangga itu bergeming, memerhatikan Nigar yang perlahan menunduk.
Satu tangannya menangkup di depan bibir. Detik selanjutnya menyentuh dada bagian atas. Sesak.
Terisak pelan, perlahan menjadi tangisan yang kian dalam. Bukankah Arfi memintanya untuk jujur mengungkapkan rasa?
Bagaimana bisa? Luka bisa diungkapkan tanpa derai air mata yang menyertainya.
Tegap langkah itu menghampiri, lelaki dengan kaus ketat itu berdiri di depan Nigar. Memandangi wajah yang tengah tertunduk dengan isakan tertahan.
Perlahan ia menurunkan Surya dari atas dekapan. Satu tangannya menarik kepala Nigar. Mengecup dahi gadis cantik itu. Lantas, kedua tangannya merengkuh bahu Nigar. Mendekap seerat yang ia bisa.
"Arfi jangan sentuh aku, kumohon Arfi," pinta Khadijah terisak.
Lelaki itu menggeleng, mengeratkan dekapan tangannya.
"Menangislah, Khadijah. Tampar aku, maki atau lakukan apa pun agar lukamu tidak lagi sakit."
"Lepaskan aku, Arfi. Kumohon jangan begini," ucapnya serak.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu, Khadijah. Lakukan apa pun yang kamu mau, selamanya aku akan mendekapmu. Aku akan melindungimu, karena aku sangat mencintaimu."
Bibir itu kembali mendarat di atas hijab Nigar. Erat kedua tangan gadis muda itu mendekap Yena. Bayi itu masih menjadi penghalang tubuh Arfi dan dirinya.
Perlahan isakan yang ditahan pecah. Sesenggukkan yang mampu membuat tubuh semampainya bergetar.
"Percayalah aku sangat menderita berada di posisi ini Arfi. Percayalah aku tidak ingin menyakiti satu di antara kalian berdua."
"Aku percaya, Khadijah. Aku percaya padamu, Sayang."
"Demi Allah aku sesak. Aku terdesak, Arfi. Kenapa? Tidak kamu pertahankan aku dulu?"
Lelaki itu memejamkan matanya, ada penyesalan yang kian bersarang dalam benaknya. Mengapa? Dia yang dulu sangat naif? Labil dan tidak bisa mengendalikan perasaan dan hati.
Ternyata, ada sakit yang masih menghunjam sang gadis. Getir saliva itu terteguk. Egois sikapnya telah membuat gadis yang dicintainya itu terluka.
"Aku menyesal. Sumpah aku menyesal, Khadijah."
"Tapi keadaan telah membawa kita berada pada rumit kisah ini. Bisakah? Aku tidak memilih kalian berdua?" tanya Khadijah terisak.
Dekapan kedua tangan Arfi mengerat. Lelaki itu menumpuhkan dagunya di atas puncak kepala.
"Yang kamu cintai adalah aku, bukan? Dan yang kucintai hanyalah kamu. Beri aku kesempatan, aku akan bicara pada Kak Ferdi, aku yakin dia akan mengerti."
Kepala di dalam dekapan itu menggeleng.
"Dia lelaki berhati lembut, Arfi. Jangan sakiti dia, aku tidak tega."
"Lalu kamu bisa? Bisa menikah dengannya? Baiklah jika kamu mengatakan cinta akan tumbuh dalam ikatan yang sudah sah. Tapi bukankah menikah bukan hanya sekadar perkara cinta saja? Kamu tau apa kewajibanmu, bukan? Yakinkah, kamu bisa lepas dari trauma itu? Jika yang kamu nikahi adalah lelaki asing yang tidak kamu cintai?"
Nigar bergeming, tangannya semakin erat mendekap Yena. Alasan kenapa dia terus mengulur waktu untuk menjawab lamaran, adalah dia yang tidak sanggup melepaskan trauma itu dari dalam ingatannya.
***
Ferdi menjabat tangan dua orang lelaki yang ada di depannya. Lantas, dia duduk dengan senyum yang terkembang sangat lebar.
"Di mana Pak Ardan?" tanya salah satu klien itu.
"Oh, dia sedang ada keperluan pribadi. Bisakah saya sendiri yang menggantikannya?"
"Tentu saja. Direktur muda yang sangat kompeten, siapa yang meragukan kepiawaan Anda."
Lelaki berkacamata itu tersenyum, satu tangannya merapikan rambut yang jatuh ke dahi.
Di luar sini, gadis berkaus longgar itu menaikan tali ranselnya. Matanya menyisir, memandangi jalanan malam hari.
Suara dari gemuruh perutnya berbunyi. Gadis itu memanyun, tidak mendapatkan bus terakhir. Ia harus jalan untuk kembali ke rumah.
Kepala itu memaling, melihat ke arah kafe dari balik kaca. Matanya melebar, melihat seorang lelaki yang sedang tertawa di dalam sana.
Dia terpaku, bergeming. Perlahan bibir mungilnya mengembang.
"Ya Allah, ganteng banget," ucapnya seraya memandangi Ferdi dari balik kaca.
Sementara yang dipandangi tidak berhenti tertawa. Sesekali kepala itu menggeleng, lantas ia menoleh. Tak sengaja mata mendapati seorang gadis di balik kaca.
Satu alisnya menaik, kepala itu memiring. Membuat sang gadis secepatnya berbalik. Menggigit bibirnya seraya menghentakkan kaki. Kegirangan tak menentu.
Ferdi kembali tertawa, lalu perhatian kembali fokus pada dua kliennya. Bercengkerama, sehabis menandatangi kontrak kerja sama.
Tidak sadar, bahwa masih ada gadis yang memandangi dia dari luar kaca. Setia, berdiri selama beberapa waktu lama. Karena senyum itu sangatlah memesona, ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sampai pertemuan itu berakhir, Ferdi berjalan bersisian keluar dari restoran. Langkah kecil itu mengikuti, melihat Ferdi yang masih sibuk bercengkerama dengan dua orang lainnya. Sampai mobil hitam membawa tamunya pergi.
Lelaki berkacamata itu mengendurkan dasinya, membuka satu kancing teratas. Lantas ia membuka jas dan menggulung lengan kemeja sampai sebatas siku.
Membuat mata belia itu melebar, satu tangannya menutupi mulut yang menganga. Tidak percaya, bahwa lelaki yang berwibawa itu bisa menjelma sangat keren. Terlebih saat ia mengacak rambut yang tersisir rapih menjadi berantakan.
"Sexy," ucap belia itu terpesona.
Saat ingin berbalik, langkah lelaki berkemeja cokelat itu terhenti. Melihat tubuh mungil yang sedikit bersembunyi di sudut gedung.
Langkah tegap itu menghampiri, secepatnya sang gadis ingin pergi. Tertahan, karena ranselnya lebih dulu teraih oleh Ferdi.
Belia berumur delapan belas tahun itu memejam. Perlahan kepalanya menoleh, menyeringai lebar saat menyadari Ferdi ada di belakangnya.
"Kenapa, ngelihati saya dari tadi?" tanya Ferdi lembut.
Gadis itu ingin lari, kembali ranselnya tertahan oleh Ferdi.
"Ingin kabur?" tanya Ferdi lagi.
Kedua tangan gadis itu menangkup di depan dada.
"Ampun, Kak. Ampun, aku gak niat jahat, kok," ucapnya lemas.
Ferdi melepaskan pegangannya, lantas memutar badan gadis kecil itu.
Netra di balik lensa itu menatap lekat. Seperti pernah bertemu, entah di mana?
"Kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ferdi bingung.
Gadis itu terdiam, ia memutar bola matanya. Memang wajah lelaki tampan ini tidak asing. Pun suara lembutnya.
"Ah ....," ucap mereka berdua serentak.
"Kakak yang datang sama Pak Ardan ke kelab, bukan?"
"Benar, kamu Sasy si anak Letkol, kan?"
Sasy mengangguk, satu tangannya tertangkup di pipi lalu dia tersenyum sendiri.
"Ah, pantas Kakak tampan ini gak asing lagi. Ternyata dia teman Om Arfi," lirih gadis itu tersenyum sendiri.
"Apa kamu bilang?" Badan tinggi itu membungkuk, membuat Sasy sedikit memundur untuk membuat jarak.
Jantungnya berdegup, bahkan gemuruh rasa lapar itu berganti irama jantung yang berdebar.
"Kakak temannya Om Arfi, kan?"
Ferdi tertawa, ia menangkupkan satu tangan di dahi. Geli mendengar panggilan Om yang tertuju pada Arfi.
"Ya Allah, luar biasa." Pendar mata bundar itu berbinar. Terpesona oleh senyum Ferdi yang sangat manis.
"Apanya yang luar biasa?" tanya Ferdi.
"Senyum Kakak, luar biasa indah."
Lelaki itu terbahak, satu tangannya mengacak puncak kepala.
Lagi-lagi belia itu terpesona, raut wajah yang lembut dan senyum yang sangat menawan.
"Sempurna." Tanpa sadar kedua tangan gadis itu teremat di depan dada.
"Apanya yang sempurna?" tanya lelaki itu lagi.
"Ketampanan Kakak, paripurna." Sasy menangkupkan satu tangannya di pipi.
"Astaga! Kamu sedang menggoda saya?" tanya Ferdi berusaha menahan tawa.
Sasy menggeleng.
"Aku tidak menggoda Kakak, tapi bagaimana bisa Om Arfi dikelilingi cowok kayak Kakak?"
"Tunggu dulu, kamu memanggil Arfi, Om? Lalu memanggil saya, Kakak?"
"Memang kenapa?"
Ferdi tertawa, geli.
"Arfi itu adik saya. Jika kamu memanggil Arfi, Om. Berarti kamu memanggil saya bukan Kakak, dong. Pak De misalnya?"
Bibir imut itu memanyun, lalu badannya bergoyang manja.
"Mana mungkin. Kakak terlalu muda untuk dipanggil Om. Apalagi Pak De."
"Arfi itu baru 28 tahun. Kamu tau umur saya berapa?"
Belia itu mennggeleng, Ferdi mendekat. Sedikit membungkuk, ia berbisik lembut.
"Saya sudah 33 tahun. Kamu tau?" bisiknya lembut.
"Tapi kok mudaan Kakak dibandingkan Om Arfi? Apa Kakak sudah menikah?" tanyanya lagi.
Ferdi mengelus sudut dagunya, lantas matanya memutar.
"Menurutmu?"
"Belum."
"Kenapa?" tanya Ferdi lagi.
"Karena jodohnya masih di sini!"
Ferdi terbahak, ia menggelengkan kepala. Geli ya Allah.
"Sudahlah. Saya harus pulang, ingat anak kecil gak boleh kelayapan malam-malam."
Sasy mengangguk, membiarkan Ferdi berbalik dan berjalan menjauh.
"Eh, tunggu dulu, Kak." Langkah kecil itu mengejar Ferdi.
Lelaki itu berbalik, melihat Sasy yang berlari mengejarnya.
Bugh
Gadis itu menabrak lelaki yang berbalik tiba-tiba tersebut. Kepalanya terbenam di dada Ferdi. Harum dari parfum yang lelaki berkacamata itu gunakan menyeruak.
Gadis itu terdiam, matanya memejam. Menikmati aroma maskulin yang lelaki itu gunakan.
"Eheem, ehem!" dehem Ferdi kuat.
Sasy tersadar, ia memundur dan menyeringai lebar.
"Ada apa?" tanya Ferdi datar.
"Ada yang mau aku berikan sama Kakak."
"Apa?"
"Sebentar." Gadis itu melepaskan ranselnya.
Membuka dan satu tangannya masuk ke dalam ransel. Bola matanya memutar, mencari sesuatu di sana.
Ferdi menaikan satu alis matanya, bingung dengan yang dikerjakan gadis itu.
"Bantu aku, Kak!"
Lelaki berkacamata tipis itu menghela napas. Satu tangannya ikut memengangi ransel sang gadis. Saat ingin melihat isinya.
"Ahjussi, saranghaeyo!" Sasy mengeluarkan jari jempol dan telunjuknya membentuk lambang cinta.
Memberikan ke depan mata Ferdi. Lelaki itu terdiam, terpaku. Masih mencerna perbuatan sang belia itu.
Sasy menarik tasnya dan berlari meninggakan Ferdi sendiri. Malu dan geli setelah mengucapkan kata itu.
Ferdi terbahak, melihat punggung badan Sasy yang semakin mengecil meninggalkannya.
Geli dan lucu, dia tidak habis pikir akan digoda oleh belia bau kencur.
Lelaki itu memegangi perutnya, gejolak itu membuat perutnya sakit. Berusaha menghentikan tawa yang kian pecah. Nyatanya susah. Ia masih terbahak bahkan saat gadis itu telah menghilang dari pandangan.
"Astaga! Apa itu makhluk yang tercipta dari puingan kelopak sakura?" tanya Ferdi geli sendiri.