For My Family

For My Family
233



"Aku pergi, Sayang." Arfi bangkit seraya menarik selembar tisu. Mengusap lembut sudut bibirnya.


Nigar hanya mengangguk, ikut bangkit, tetapi sibuk membereskan sisa piring bekas makanan. Satu lengan kurus itu tercekal, Arfi menarik badan Nigar yang tengah sibuk, berhadapan dengannya.


"Aku mau berangkat kerja, loh, Sayang," kata Arfi lagi.


Nigar tersenyum, merapikan ikatan dasi yang kendur.


"Iya, hati-hati."


Sepasang mata sayu itu menyisir sekeliling rumah. Menarik kepala belakang Nigar ingin mencium dahi. Saat akan mendekat lelaki itu malah menarik dagu dan mendaratkan kecupan di atas bingkai ranum kekasihnya.


Mata Nigar terbelalak, ia menoleh ke arah belakang.


"Arfi, kalau Cakra lihat bagaimana?"


"Memang kenapa? Hanya kecupan juga."


Gadis itu menarik lengan Arfi, berjalan keluar pintu.


"Cakra masih sangat cemburu padamu, kalau dia lihat kamu cium sesukanya begitu, bisa makin tidak mau dia bicara denganmu."


Arfi terkekeh geli, mengacak puncak kepala istrinya gemas.


"Lagian Kakak angkatnya secantik ini. Siapa yang rela jika dimiliki lelaki lain. Jika aku Cakra, aku juga tidak rela."


Nigar hanya tersenyum, mengambil jemari Arfi untuk dicium.


"Hati-hati."


"Always, Baby."


Sepasang mata indah itu memerhatikan mobil merah sang suami yang meninggalkan halaman. Sebuah tangan meyentuh lembut pundaknya.


Nigar menoleh, Amira tersenyum seraya menangkupkan kedua tangan di pipi putri sulungnya itu.


"Kalian terlihat lebih dekat dari terakhir kali berkunjung ke sini. Apa ...  semuanya sudah baik-baik saja?"


"Sangat baik, Ma."


Amira menghela napas lega, menarik kepala putrinya untuk di dekap erat.


"Syukurlah, Khadijah. Mama sangat bahagia melihatmu bisa melewati ini semua. Mama sudah tidak sabar ingin mendapatkan cucu darimu, pasti sangat cantik dan ganteng."


Nigar hanya tertawa, melihat wajah Amira. Tangan keriput itu mengusap sudut mata, haru.


"Kok, Mama malah nangis?"


Amira mendongakkan wajahnya, menarik napas lega.


"Mama hanya sangat bahagia, Sayang. Mengingat bagaimana pertama kali Ayah membawa kalian pulang rasanya Mama hampir tak percaya bahwa hari ini akan tiba. Mama mau menelpon Omer, dia pasti sangat bahagia mendengarnya."


"Eh, Mama .... " Belum sempat Nigar mengatakannya, Amira telah lebih dulu masuk dan meninggalkannya. Gadis itu hanya tersenyum, lantas deringan ponsel mengalihkan perhatiannya.


Cepat jari lentik itu menggesernya setelah tahu siapa yang menelpon.


"Assalamualaikum, Nigar. Apa Arfi ada bersamamu?" tanya lelaki itu langsung.


"Waalaikum salam. Arfi baru saja pergi ke kantor."


Terdengar tarikan napas berat dari seberang sana.


"Aku bolak-balik menelpon ponselnya, tapi tidak tersambung, apa dia baik-baik saja?"


"Iya."


"Lalu kenapa ponselnya mati?"


"Ponselnya ... dibanting."


"Dibanting?"


"Dipijak sama dia, Kak?"


"Dipijak?" tanya Ardan histeris. "Ck, ada apa dengan anak itu?"


"Kak Ardan ada perlu apa? Sepertinya dia ada di kantor, Kakak temui saja langsung."


"Hem, aku masih ada urusan. Aku lupa menyerahkan beberapa data soft perusahaannya kemarin. Kamu bisa tolong berikan padanya? Akan kukirimkan padamu saja."


"Apa harus sekarang?"


"Ya. Aku takut dia membutuhkannya."


"Baiklah."


...***...


Suara ketukkan dari balik pintu kaca mengalihkan perhatian Arfi. Seorang wanita muda menyembul dari balik pintu.


"Pak Arfi, ada yang ingin bertemu."


"Siapa?"


"Aku." Gadis dengan pakaian ketat itu berdiri di belakang sang Sekretaris. Arfi menarik napas, membuang wajah.


"Aku tidak ada waktu."


Ayla menatap sekretaris Arfi sinis, paham akan pandangan itu sang gadis meninggalkan Ayla dan Arfi berdua.


"Semua orang di perusahaan pusat mencari keberadaanmu. Dua hari ponselmu mati. Kamu itu benar-benar ingin perusahaan bangkrut, ya?" tanya Ayla seraya menyilangkan tangan di depan dada.


"Itu inginmu, kan? Kenapa masih bertanya?"


Lelaki itu memutar kursinya, membelakangi Ayla dan itu membuat sang gadis mulai terbakar amarah.


"Arfi!" teriaknya dan lelaki itu malah menyumpal telinga dengan earphone.


Gadis itu kehabisan kesabaran. Ia menghampiri Arfi dan memutar kursi itu. Mengurung Arfi di dalam dekapan tangannya, badan yang sedikit membungkuk membuat harum tubuhnya tercium, pekat.


Kedua tangannya membuka earphone Arfi secara kasar.


"Apa lagi maumu? Aku sudah mengalah, tak memintamu untuk menceraikan gadis itu. Kenapa kamu masih sekeras ini?" tanya Ayla melunak.


Arfi menarik napasnya, ia mendorong tubuh Ayla dan akan berjalan keluar. Sebelah lengannya tercekal, saat Arfi menoleh tubuh molek itu langsung berhambur ke dalam pelukan.


"Kumohon, Arfi. Aku sangat mencintaimu. Bisakah jangan tinggalkan aku? Aku benar-benar menginginkanmu, hanya kamu."


Arfi jenuh, ia berusaha melepaskan dekapan Ayla. Sayang gadis itu masih bersikeras semakin mengeratkan dekapannya.


"Aku rela berbagi hati dan dirimu, walau hanya kepingan terkecil hatimu. Aku hanya mau kamu, Arfi."


"Ayla, mau sampai kapan terus begini? Kamu cukup terhormat untuk terus merendahkan diri seperti ini. Tidak bisakah kamu menghargai diri sendiri?"


Gadis itu mendongak, menangkupkan tangan di kedua pipi Arfi.


"Aku tidak peduli, mau dipandang bagaimana. Aku tidak peduli, Arfi. Aku hanya mau kamu."


Arfi menarik napas, mencoba melepaskan tangkupan tangan Ayla dan gadis itu kembali mendekap tubuh kekarnya. Kali ini sampai membuat napas dia sesak.


"Ayla .... "


"Tak mengapa, Arfi. Jika aku hanya mendapatkan satu hari dari seminggu waktumu. Walau aku hanya bisa bertemu sejam dari seharimu. Aku tidak keberatan. Kumohon, nikahi aku."


Arfi mengusap wajahnya kasar, satu tangan yang mencengkeram tepi meja di belakang bokongnya semakin menguat. Geram.


Pandangannya teralih saat pintu kaca ruangannya terbuka kembali. Langkah Nigar terhenti saat melihat sang suami dipeluk erat oleh gadis lain. Gadis berhijab itu menoleh, menghindari pemandangan yang mampu membuat dadanya sesak.


Mata Arfi terbelalak, ia paksa Ayla melepaskan dekapannya dan tergesa menghampiri Nigar.


"Sayang, ada apa?" Gelagapan lelaki itu mulai panik.


Nigar menoleh, sepasang mata indah itu menatap Ayla yang masih berdiri di tengah ruangan. Baju ketat yang dikenakan menampilkan lekuk tubuhnya.


Dia sempat mengikhlaskan Arfi untuk menikah lagi, tetapi kenapa baru seperti ini rasanya sudah sangat perih? Terlebih gadis itu sangat menggoda dan seksi.


Melihat Nigar yang hanya terdiam, Arfi menangkupkan kedua tangannya di pipi sang istri.


"Sayang, hei. Ada apa?" tanya Arfi lembut.


Ada yang teremas, lembut ucapan Arfi pada Nigar membuat Ayla cemburu. Bagaimana mungkin lelaki itu bisa sangat berbeda memperlakukan Nigar.


Sekilas Nigar menoleh. "Oh, ini." Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah ponsel dan perhatiannya kembali terpaku saat Ayla mengusap pipinya. Menahan sesak, perlahan air matanya lolos begitu saja.


"Sayang," panggil Arfi lagi dan gadis itu hanya diam. Lelaki itu menoleh ke arah Ayla, detik selanjutnya kembali menatap sang istri.


Mendapati Nigar yang terus terpaku pada Ayla, Arfi membungkuk. Mencium bibir ranum itu, seketika mata Nigar membelalak. Terkejut, terlebih saat ada orang lain di dalam ruangan ini.


Gadis dengan pakaian ketat itu menarik napas, tersenyum getir melihat cara Arfi menolaknya. Sakit, ingin memaki namun tak bisa.


Hentakan suara heels berjalan menjauh, melewati Nigar dan Arfi yang sedang asyik sendiri. Nigar menjauhkan wajahnya, menatap Arfi kesal.


"Arfi, kenapa kamu lakukan ini? Walau kamu tidak suka, tapi tidak baik menyakiti dia sedalam ini." Tatapan indah itu masih melihat bayangan Ayla yang berlari keluar dari kaca ruangan Arfi.


"Aku benci saat ada yang mengalihkan perhatianmu dari aku."


Bungsu Erlangga itu menarik lengan Nigar, menyudutkan tubuh itu di dinding dan kembali menciumi setiap inci wajah istrinya.


Hasratnya tertantang lebih dulu karena Ayla yang terus menggoda. Sayangnya, itu menjadi menggebu saat mendapati sang istri di sini.


"Arfi, aku ke sini karena ingin ...." Ucapan Nigar terhenti saat Arfi menggulum bibirnya dengan intens. Satu jari kekar itu ingin menarik kaitan jarum di bawah dagu, terhenti saat gadis itu mengeram.


"Jangan buka di sini, Arfi. Ada cctv, kamu rela kalau auratku terlihat lelaki lain?"


Arfi mengacak rambutnya, tersenyum malu.


"Aku mau mengantar data soft dari Kak Ardan, dia kebingungan menghubungimu."


"Nigar, kamu cemburu?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Karena aku percaya padamu."


"Tapi dia tadi memelukku, Sayang."


Gerakan jari Nigar yang tengah menscrool layar ponsel terhenti. Menatap wajah Arfi.


"Tapi aku mampu melakukan yang lebih dari itu," kata Nigar dan seulas senyum terbit di wajah sang suami.


"Kalau begitu ikut aku."


"Ke mana?"


Arfi merengkuh bahu itu menuju sudut ruangan, membuka pintu yang ada di sana.


Mata Nigar melebar, melangkah perlahan ke dalam ruang istirahat sang suami. Kamar khusus dengan sebuah ranjang besar dan sofa. Ditambah rak buku yang membuat ruangan itu tampak nyaman.


"Aku baru tau kalau ada ruang tidur di kantormu."


Arfi tersenyum, mendekatkan kepalanya ke samping kepala Nigar.


"Aku mau kamu, Be Mine," bisik Arfi dan gadis itu tersenyum menunduk.


Melirik Arfi yang ada di belakangnya. "Dengan satu syarat," kata Nigar mengalungkan kedua tangannya di pundak kekar itu.


"Apa?"


"Akan kuberi tahu saat kamu sudah menyelesaikannya."


...***...


Lentik jari-jari itu menscrool tampilan layar ponselnya, memperlihatkan beberapa dokumen ke sang suami yang masih mendekapnya di belakang. Bertumpuh kepala pada tangan yang dilipat di atas kepala Nigar.


"Arfi, gak mau benerin ponselnya? Nanti kalau ada client yang mau hubungi gimana? Aku bantu bawa ke counter, ya."


Lelaki itu mencium puncak kepala sang istri yang ada di depannya.


"Ngapain dibenerin, nanti kita beli baru aja."


Seketika gerakan tangan Nigar yang sedang bermain di atas layar berhenti. Melirik Arfi yang ada di belakangnya.


"Hem. Anak sultan mah bebas."


Arfi terkekeh geli, mengacak kepala Nigar gemas. Menciumi rambut gadis itu. "Bukan begitu. Kan, udah remuk redam. Mana bisa dibenerin lagi."


"Lagian kenapa harus dibanting, sih? Kan, bisa dimatiin aja. Arfi gak mikir." Gadis itu kembali memiring, memunggungi suaminya.


Detik selanjutnya gadis itu mulai berpikir, kehidupan lelakinya memang semudah itu. Tidak pernah berpikir panjang, karena apa pun yang diinginkan bisa dengan mudah didapatkan.


Lalu, perkataan Gerald kembali terngiang, bahwa kehidupan Arfi bisa saja berubah tiba-tiba. Bagaimana bisa dia menjalani hidup susah?


"Arfi."


"Hmm."


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Tidak ada."


"Jujurlah padaku, Arfi. Aku ingin tau."


Lelaki itu menarik napas, merubah posisinya sedikit menjauh.


"Arfi," panggil Nigar manja. "Apa ... dengan menikahi Ayla perusahaan kamu bisa selamat?"


"Aku tidak ingin membahas ini."


"Tapi aku ingin," balas Nigar.


"Buat apa?"


"Aku ingin tau, Arfi. Katamu pernikahan itu bukan lagi menyimpan sendiri-sendiri, lalu kenapa sekarang kamu keras kepala begini?"


Lelaki itu terduduk, mengusap wajahnya malas. Lantas kepala itu menoleh, melihat Nigar yang masih setengah berbaring di sebelahnya.


"Apa ini syarat yang kamu inginkan tadi?"


Gadis itu mengangguk cepat, membuat tarikan napas Arfi terhela berat.


"Ayla akan menarik sahamnya jika aku tidak mau menikahi dia."


Gadis itu tercekat, walau sudah menyiapkan diri. Tetap saja ada perih yang melintasi hati.


"Papa gamang saat mengetahuinya, karena mereka sudah menjadi mitra selama belasan tahun."


Gadis itu ikut duduk, memandangi wajah Arfi yang terlihat suntuk. Mengacak rambut pirangnya berulang-ulang.


"Aku bingung, papa dan Kak Arfan merahasiakan ini dari Kak Ardan. Mereka takut lebih kalah dalam perperangannya. Karena itu Kak Ardan gak boleh tau."


"Arfi." Gadis itu menyentuh punggung tangan suaminya.


"Aku akan berusaha, kamu tenang saja, Sayang." Bibir tipis itu terkulum, namun raut wajahnya terlihat sangat bingung.


"Aku tau Arfi gak terlalu mahir dalam mengurus bisnis. Jangan paksakan dirimu, Arfi. Jika memang harus, aku ... bisa apa?"


Seketika lelaki itu lemas, menyandarkan punggung pada sisi kasur.


"Kamu akan merelakan aku menikah lagi?" tanya Arfi getir.


"Ya. Aku akan baik-baik saja."


"Tidak akan ada kata baik-baik saja saat kamu hanya menerima separuh, bukan sepenuh."


Nigar tersenyum lembut, mengenggam jemari lelakinya.


"Aku rasa itu tidak seburuk apa yang ada pikiran, Arfi."


"Kali ini apa lagi alasanmu, Nigar? Dulu kamu memintaku melakukan ini karena kamu yang tidak mampu melayani. Saat ini kamu sudah menjadi istriku yang sesungguhnya. Apa lagi?"


"Karena aku tidak bisa melihatmu kesusahan begini, Arfi."


Arfi menarik napas malas, membuang wajahnya sekilas.


"Ini bukan jalannya, Nigar."


"Lalu? Apa kamu memiliki cara lain?"


"Pasti ada! Aku yakin itu, menikah lagi bukan solusi. Karena itu hanya akan menambah masalahku di masa depan nanti." Lelaki itu bingung, mulai lelah untuk meyakinkan istrinya.


"Nigar, pernikahan itu bukan untuk sehari dua hari. Masalah yang datang juga bukan hanya sekali. Saat ini jika kita menyerah, mau jadi apa pernikahan kita ke depannya?" tanya Arfi kesal.


"Pernikahan itu mengarungi berdua. Saat ada badai masalah yang datang, kita harus menyelami berdua, memperbaiki yang salah dan bertahan dalam badai yang menerpa. Bukan hanya menyerah dan mengikuti ke mana arah angin membawa. Jika seperti itu, untuk apa ada nahkoda? Bukankah nahkoda ada untuk melindungi, bukan hanya mengikuti?"


"Aku tahu, Arfi. Tapi ...."


"Masalah yang datang tidak akan sekali, Sayang. Masalah tidak akan menemukan pelabuhan untuk berhenti, dia hanya akan menemukan pelabuhan untuk berganti. Entah itu masalah yang lebih besar atau lebih kecil nantinya."


Gadis itu menunduk, meresapi perkataan sang suami, satu tangan Arfi menarik dagunya.


"Dengar, Nigar. Jika kamu percaya pada nahkodamu, maka pertahankan kapal kita agar jangan tenggelam. Pernah kukatakan padamu bukan? Jika aku harus berlutut di hadapan gadis lain, itu adalah saat aku harus mengikatkan tali sepatu untuk putri kita."


Lelaki itu menarik wajah kekasihnya, mengecup lembut.


"Sama. Saat kita harus menerima tamu baru dalam kapal kita. Itu bukan saat aku memiliki pendamping kapten yang baru, tapi itu saat pendamping kaptenku harus melahirkan penerusku."


Gadis itu melepaskan senyumnya, meloloskan buliran bening begitu saja. Haru.


"Terima kasih, Arfi." Nigar mendaratkan kepalanya di atas dada tanpa alas lelakinya.


"Hanya saat berada di dalam pelukanmu aku benar-benar merasa pantas untuk dicintai."


Bungsu Erlangga itu menarik napas lega, merengkuh bahu polos itu lebih erat.


"Mau sampai kapan terus meragukanku? Tak bisakah kamu kuat berdiri dan mendampingiku, Nigar? Aku lelah, jika harus meyakinkanmu berulang kali, Sayang. Aku juga ingin diyakinkan, ingin dipertahankan."


Kepala dalam dekapan itu mengusap-usap manja. "Maaf, Arfi."


"Aku cukup lelah menghadapi masalah ini. Bisakah aku memintamu untuk membasuh lelah ini? Bukan semakin menambah bebanku dengan terus-terusan meyakinimu?"


"Emm." Kepala itu mengangguk pelan.


"Mulai saat ini belajarlah untuk sedikit lebih egois, Sayang. Pertahankan cintamu, karena mengalah tak akan membuatmu selalu bahagia. Bahagia itu kamu yang harus memperjuangkannya, bukan hanya menunggu untuk aku bawakan untukmu. Aku juga ingin diperjuangkan, Nigar. Bolehkah?"


Gadis itu mendongak, tersenyum saat Arfi juga melihat ke arahnya.


"Aku akan berjuang untukmu, tapi dengan cara yang berbeda."


"Emm. Maksudnya?"


Lentik jemari itu mengusap sebelah pipi sang suami.


"Aku akan berjuang dengan memberikan kehidupan baru untuk penerusmu. Untuk itu, kamu hanya boleh memberikan benih-benihmu padaku."


Sayu sepasang netra itu menatap sinis, mata Nigar memejam dengan gigitan di bibir bawahnya. Cepat ia melepaskan dekapan Arfi dan bergeser sedikit demi sedikit ke tepi kasur. Sedangkan Arfi hanya menatapi pergerakan itu lamat.


Baru lelaki itu ingin bergerak, Nigar langsung melesat seraya menarik selimut mereka.


"Aku salah ngomong, Arfi!" teriaknya memasuki kamar mandi.


Di atas kasur Arfi tertawa terpingkal. Geli, gadisnya memang tidak pernah bisa membalas keromantisan.