For My Family

For My Family
146



Gadis berkemeja putih itu langsung membuka pintu mobil saat kendaraan berwarna silver itu terparkir di halaman rumah.


Tertahan, karena Pedro kembali menarik tuas mobil dan menutupnya kembali.


Kinara menegakkan badannya, mencoba menciptakan jarak antara dia dan sang Dokter.


"Em ... em, ada yang ingin kamu bicarakan lagi, Dokter?"


"Berhenti memanggilku Dokter, Kinara!"


"Oh, ya. Maksudku, Kak?" ralat Nara kaku.


Lelaki bermata cokelat itu menghela napas. Ia kembali menegakkan badan.


"Anggukkan tadi, itu artinya kamu setuju untuk meresmikan pernikahan kita, kan?"


Gadis itu mengangguk, membuat lengkungan lebar di wajah sang lelaki.


Pedro meraih jemari Kinara, mengecup punggung tangan gadis itu.


"Terima kasih, Kinara."


Gadis itu hanya tersenyum, bingung. Sebenarnya apa yang sedang dia rasakan saat ini?


***


Gadis berpiyama itu mengetuk daun pintu kamar Pedro yang memang terbuka.


Lelaki yang ada di dalam sana menoleh. Tersenyum, lalu kembali sibuk pada layar ponselnya. Terduduk di tepi ranjang dengan menonton sesuatu di dalam gawai.


"Aku bawakan kopi, Kak."


"Kemarilah, dan terima kasih sebelumnya."


Gadis itu mendekat, meletakan gelas kopi di atas nakas. Penasaran dengan apa yang di lihat Pedro dalam ponselnya. Gadis itu mendekat.


Pedro menoleh, lalu ia menepuk space kosong di sebelahnya.


"Kakak nonton apa?" tanya Nara penasaran.


"Ini, aku sedang mempelajari beberapa ilmu psikologi lanjutan."


Gadis itu sedikit terkejut, ia memandangi wajah tampan lelaki itu.


"Setelah jadi Dokter, aku pikir tidak ada lagi yang perlu dipelajari. Ternyata masih harus belajar juga ya?"


Mendengar ucapan sang istri, Pedro tersenyum, ia menyimpan ponselnya. Lantas memutar badan berhadapan dengan Nara.


"Di dalam dunia ini banyak hal yang harus terus dipelajari. Bukan hanya ilmu kedokteran atau pun ilmu pelajaran lainnya. Tetapi juga tentang kehidupan."


"Maksudnya?" tanya Nara bingung.


"Belajar mencintai pasangan, belajar memahami dan mengerti karakter dan sifat pasangan. Belajar memperbaiki diri, belajar dan terus belajar. Hidup ini bukankah belajar sepanjang masa?"


Gadis itu memutar bola mata, lalu kepalanya mengangguk pelan.


"Kak, boleh aku bertanya?"


"Hem?"


"Kakak lahir dan besar di Spanyol, kan? Kenapa Kakak memilih tinggal di sini?"


Pedro mengubah posisi duduknya, lalu ia berpikir sejenak.


"Kenapa, ya? Mungkin aku suka dengan budayanya, kental agamanya dan mungkin lingkungannya."


"Terus bahasa Indonesia Kakak juga fasih gitu. Apa Kakak sudah lama di sini?"


Pedro tertawa. "Ibuku, kan, orang Idonesia. Jadi dari kecil kami berbicara bukan hanya bahasa Spanyol dan Inggris saja. Tapi juga bahasa Indonesia."


Gadis itu mengangguk, matanya memandangi wajah tampan itu lamat-lamat. Tidak pernah bermimpi bisa menikahi lelaki seperti Pedro.


Padahal dia suka lelaki berwajah lembut seperti Ferdi. Lokal dan tidak mencolok saat diajak jalan.


"Terus kenapa keluarga kamu tinggal di sana, Dokter?"


"Ayahku seorang Arsitek. Tidak hanya tinggal di Spanyol saja, sih. Terkadang mereka juga berpindah-pindah ke satu negara dan negara lainnya."


Mata gadis itu berbinar, ia meneguk salivanya berat.


"Huwaa ... enaknya bisa berkeliling dunia dan menyicipi setiap masakan di sana."


Lelaki beriris cokelat itu tertawa, satu tangannya mengacak puncak kepala Nara.


"Nanti kapan-kapan kita akan pergi. Menemui orangtuaku setelah aku minta cuti pernikahan."


Gadis itu bergeming, dia tersenyum kaku.


"Itu, Dokter. Apakah orangtuamu akan setuju denganku? Maksudku kamu yang menikahi gadis biasa sepertiku?"


Pedro menghela napas. Ia menyugar rambutnya kebelakang.


"Orangtuaku bukan tipe yang suka memaksakan kehendak. Entahlah, tetapi setelah berumur delapan belas tahun. Kami bebas memilih apa pun yang kami sukai. Termasuk warga negara, pekerjaan dan pasangan hidup."


"Benarkah? Menjadi Dokter adalah pilihan Kakak sendiri?"


"Tentu saja. Dulu setelah lulus High school, kebetulan Ayah pindah ke Jerman. Dan di sana yang paling digemari adalah bidang kedokteran. Walaupun sekarang aku bukan Dokter bedah, tapi aku pernah kuliah dua tahun di Jerman di kedokteran umum. Tidak sanggup, dan akhirnya aku melanjutkan kuliah di sini pada bidang yang lainnya."


Gadis itu tertawa, lantas kepalanya menggeleng lemah.


"Hah, ternyata ada juga yang tidak sanggup kamu kuasai, Kak."


Gadis itu terpingkal, entah apa yang lucu. Setidaknya dia tahu, bahwa lelaki yang dia nikahi tidak sepenuhnya sempurna. Ada kekurangan dan mungkin akan semakin terbuka setelah mereka bersama dalam waktu yang lama.


Pedro memandangi wajah yang tengah tertawa itu. Bingung, apa yang gadis itu tertawai sebenarnya.


"Apa yang lucu? Apa kamu pikir kuliah di bidang kedokteran itu mudah?" tanya Pedro ketus.


"Hahahaha, aku tau itu susah. Melihat gayamu, aku pikir tidak akan ada hal yang membuat kamu kesusahan. Eh ternyata, ada." Gadis itu kembali tertawa.


"Memang gayaku kenapa?"


"Terlalu sempurna. Bahkan kadang aku berpikir kamu bukan manusia. Ternyata ada juga yang tidak bisa kamu kuasai. Ada juga yang buatmu kesusahan dan menyerah."


Pedro tersenyum, ternyata seperti itu dia dalam pandangan Nara selama ini. Pantas saja gadis itu selalu ingin menjauh.


"Tapi ada yang membuat aku selalu kesusahan. Namun, aku tidak ingin dan tidak akan menyerah."


"Apa?" tanya Nara berusaha menghentikan tawanya.


"Meluluhkan hatimu," ucap Pedro seraya memandangi wajah cantik itu.


Nara langsung terdiam. Dia menutupi mulutnya, lantas memutar arah badan.


"Em, sudah malam Dokter. Aku kembali ke kamar dulu, ya."


Tidak lagi menoleh, Nara langsung bangkit dan berjalan ke arah pintu.


Lebih dulu Pedro menutup daun pintu. Mengurung Nara di dalam dekapan tangannya.


Gadis itu terdiam, ia memejamkan mata seraya menghela napas. Menetralkan debaran jantung yang bergemuruh tak karuan.


Perlahan gadis itu berbalik, menyeringai lebar saat mendapati Pedro tengah menatapnya.


"Kenapa? Mau sampai pagi kamu di kamarku juga tidak masalah, kan?"


Kepala gadis itu memiring, satu jarinya menggaruk sudut pelipis.


"Ah, itu. Sebenarnya aku ke sini mau ucapin itu."


Alis tebal itu bertaut. "Ucapin apa?"


"Selamat ulang tahun, Dokter," ucap Nara kaku.


Mata tajam itu menatap dalam dan intens. Perlahan badannya membungkuk, mendekatkan wajah ke arah Nara.


Beberapa kali kelopak mata Nara berkedip dengan cepat. Menyudutkan kepala di pintu agar jarak tercipta.


"Hanya ucapan? Apa kamu tidak ingin memberi hadiah untukku?" bisik Pedro di telinga Nara.


Gadis itu memejamkan mata, bergidik. Merinding saat deru napas itu menyapu kulit lehernya.


"Em, besok pagi!" Gadis itu menolak dada Pedro.


"Iya, besok pagi akan kubuatkan sarapan spesial!" Gadis itu langsung berbalik, satu tangannya meraih kenop pintu.


Kembali tertahan, karena tangan Pedro masih tertumpuh di sana.


"Dokter ... izinkan aku keluar," pinta Nara lemas.


"Baiklah. Aku akan mengizinkan kamu keluar. Tetapi setelah kamu memandangi mataku selama lima detik."


Kinara menghela napas, perlahan badan itu berbalik. Berhadapan dengan Pedro yang ada di belakangnya.


Gadis itu mengangkat wajah, lalu menautkan matanya ke iris cokelat lelaki berdarah Spanyol itu.


Ada yang hidup, getaran di dalam dada mulai berdegup. Pelan, lalu semakin menggebu saat kepala lelaki itu semakin mendekat.


Menghapus jarak antara keduanya, sebuah sentuhan dingin menyentuh kulit lehernya.


Kinara bergidik, geli. Lalu, dekapan tangan Pedro terasa erat. Lelaki itu menyapu setiap kulit leher gadis itu. Menggigit ceruk leher gadis itu dan spontan Kinara memeluk tubuh tegapnya.


"Em, Dokter," panggil Nara tertahan.


Tidak terlalu peduli pada panggilan itu. Ciuman lelaki itu semakin liar menjelajahi setiap inci leher wanitanya.


"Kak Pedro," panggil Nara lagi.


Kedua tangan lelaki itu semakin erat mendekap. Helaan napas panjang terdengar semakin berat. Jelas lelaki itu telah berhasrat.


"Bisakah aku meminta hakku sebagai suami, Nara?"


Gadis itu meneguk salivanya berat.


"Malam ini, aku mau kamu menemaniku menghabiskan hari ulang tahunku. Bisakah?"


"Itu, Kak--"


Lelaki itu melepaskan dekapannya, lalu menarik kepala Nara dan mendaratkan kecupan di dahinya.


Dia tersenyum, satu tangannya merapikan rambut Nara yang sempat dibuat berantakan.


"Tidurlah, aku tidak akan memaksa," ucapnya mengalah.


Pedro membuka pintu kamarnya, membiarkan gadis itu untuk keluar meninggalkan dia.


Kinara terdiam, memandangi wajah yang tersenyum dengan segala kekecewaan yang berusaha diredam.


Tidak lagi menahan, Pedro kembali duduk di tepi ranjang dan mengeluarkan ponselnya.


Satu detik, dua detik. Kinara hanya terpaku, bergeming di depan pintu.


Tidak tega, melihat ekspresi Pedro yang kecewa membuat ia terluka.


Lantas kakinya melangkah, menghampiri Pedro. Menjatuhkan badannya di atas pangkuan lelaki itu. Satu tangannya membelai rahang tegas sang lelaki.


Pedro terdiam, terkejut oleh kelakuan gadis itu.


"Nara?" tanya Pedro bingung.


"Hem?" Gadis itu tersenyum, ciuman mendarat di bibir lelaki itu.


Lembut sesapannya, perlahan menjadi lebih liar untuk membangkitkan hasrat yang telah teredam sebelumnya.


Pedro menarik kepala gadis itu, tidak percaya oleh perlakuan Kinara yang menjadi liar.


"Kinara? Apa yang kamu lakukan?" tanya Pedro bingung.


Gadis itu mencebik, kesal. Bukankah tadi dia yang memulai?


Dasar lelaki hanya liar saat dia menggoda saja.


Gadis itu bangkit dari atas pangkuan Pedro. Satu tangannya tercekal, lantas Pedro menariknya dan menjatuhkan di atas kasur.


Lelaki itu tersenyum sinis, meletakan Nara di bawah dekapan kedua tangannya.


"Kamu yang menyerahkan diri. Jangan menyesal besok pagi," ucap Pedro tersenyum sinis.


"Jangan tersenyum seperti itu, Dokter. Kamu menyeramkan bagiku."


Pedro tertawa. "Mau lihat aku yang lebih menyeramkan?" tanyanya.


Gadis itu menautkan kedua alis matanya.


"Dokter, apa kamu akan berubah jadi monster?" tanya Nara menggoda.


Pedro menyipitkan matanya. "Hem, kita lihat saja."


Satu kecupan lembut mendarat di dahi gadis itu. Lalu turun ke ujung hidung dan berhenti pada bingkai di wajah.


Perlahan tangan kekarnya mulai menjamah segalanya. Bukan hal yang pertama kali melakukan ini.


Akan tetapi, kenapa rasanya berbeda? Terlebih debaran jantung yang membuatnya susah mengendalikan segalanya.