
Sepiring buah potong diletakan di sebelah laptop milik lelaki berambut pirang itu. Arfi menoleh, tersenyum saat sang istri juga menatap ke arahnya.
"Terima kasih, Sayang."
Nigar hanya tersenyum, kepalanya menoleh, menatap ke dalam layar datar milik Arfi. Dari sehabis datang tadi lelaki itu sibuk pada laptopnya.
Lalu, deringan ponsel lelaki itu berdering keras. Secepatnya Arfi mereject panggilan tersebut.
"Arfi," panggil gadis itu.
"Apa perusahaan Arfi baik-baik saja?"
"Ya. Baik, memang apa yang bisa terjadi saat ada Kak Ardan di sini?" Tak terlalu peduli, dia kembali memainkan mouse.
"Boleh aku bertanya?"
Kembali suara deringan ponsel mengalihkan perhatian Nigar. Lelaki itu mematikan panggilannya, kembali fokus pada laptop.
"Sampai kapan kita akan tinggal di sini?" tanya Nigar lembut.
"Kenapa? Apa ayah tidak mengizinkan?"
"Bukan. Tapi ranjang di kamar ini kecil. Aku takut kamu akan masuk angin kalo terus-terusan tidur di lantai."
"Siapa yang mau tidur di lantai?"
"Hah?"
Arfi menyeringai nakal, memainkan kedua alis matanya. Baru akan melanjutkan godaan ponselnya kembali berdering.
Arfi menarik napas, menolak panggilan itu dengan cepat. Sementara mata indah milik istrinya terus menelisik wajah. Tahu, jika ada masalah yang tengah dipikul suaminya.
"Arfi ...."
"Sayang, coba lihat," kata Arfi berusaha mengalihkan perhatian Nigar.
Satu tangan kekarnya menarik gadia berhijab itu. Mendudukkan tubuh semampai itu di atas pangkuan.
Sementara satu tangan yang lain sibuk menggerakan mouse. Memperlihatkan tampilan 3D hasil kerjaanya.
"Kamu ada yang mau ditambahi, gak? Kemarin temen aku ada yang nawari lahan kosong. Setelah aku pikiri desain ini cocok banget sama lahannya, ada danau di belakang, kamu ingin aku buatkan pondok yang bagaimana?"
Sepasang mata indah itu melirik ke arah laptop, melihat desain arsitektur buatan sang suami. Dari dulu hobi Arfi masih sama, malah semakin kelihatan mahir walau tanpa pendidikan khusus di bidang ini.
"Kalau aku letakan taman kecil di sini bagaimana menurutmu?" tanya Arfi kembali.
Nigar hanya mengangguk, menatapi wajah Arfi lamat-lamat.
"Arfi, sebenarnya apa yang terjadi? Apakah perusahaan kalian dalam bahaya jika kamu tidak menikah lagi? Aku ingin tau, Arfi."
"Tidak ada. Semua akan baik-baik saja. Jangan tanya lagi, cukup percaya padaku."
"Tapi, Arfi ...." Belum sempat mengatakan, suara deringan ponsel kembali terdengar.
Geram lelaki itu mengempaskan ponselnya, terkejut, Nigar langsung bangkit.
Ingin mengambil ponsel yang Arfi lemparkan karena benda itu masih berbunyi panggilan dari Gerald. Lebih dulu Arfi menginjaknya dan seketika suasana menjadi hening.
Gadis yang sudah berjongkok itu sempat terdiam, perlahan ia mendongak, melihat Arfi yang ada di belakangnya.
"Aku balik ke kantor dulu," pamitnya seraya menarik jas dan pergi meninggalkan gadis itu sendiri. Ngeri, tidak Ardan atau Arfi sama saja kerasnya.
...***...
Sebuah tangan mengusap pelipis mata, gadis belia itu menghela napas. Memerhatikan seisi rumah yang tampak bersih hasil kerja kerasnya.
"Selesai," katanya sembari menjatuhkan badan di atas sofa. Lelah setengah hari membereskan rumah calon suaminya.
Satu tangannya meraba majalah di atas meja. Mengibaskan di depan wajah sekadar mengusir lelah. Pendingin yang baru dihidupkan belum terlalu berpengaruh.
Gerakan tangan Sasy terhenti, melihat cover depan majalah dengan seksama. Wajah seorang gadis cantik di bawah naungan nama perusahaan yang Ferdi pimpin.
Gadis itu terduduk dengan benar, membuka beberapa majalah lainnya yang ada di meja. Melihat edisi-edisi majalah tersebut.
Satu tangannya terulur mengambil biskuit cokelat di atas meja. Saat ingin memasukkan ke dalam mulut, terhenti. Melirik biskuit cokelat itu dan gambar di dalam majalah.
Pikiran liar mulai memasuki saraf di otaknya. Gadis itu berlari ke kamar mandi. Memoles wajahnya mengikuti riasan di dalam majalah.
"Sepertinya wajahku gak kalah cantik dari model di sini. Kalo cuma poto close up aku bisa."
Cepat gerakan tangannya memoles lipstik berwarna merah menyala ke atas bingkainya. Menggulum bibir beberapa kali agar terlihat semakin menawan.
Mata bulat itu menyipit, dengan senyum sinis yang ia sunggingkan.
"Sasy, kau seksi sekali," katanya centil. Satu tangan mengambil biskuit cokelat, meletakan di depan bibir mengikuti gaya model di dalam majalah.
"Kayaknya kurang dewasa." Gadis itu menyepit biskuit itu di antara bibir. Tangannya terangkat dan ingin mengikat rambut.
Bersamaan dengan Ferdi yang masuk ke dalam kamar mandi. Lelaki itu terdiam, melihat pantulan gadisnya di dalam kaca. Sangat menggoda dengan bibir yang merah merona dan gigitan pada biskuitnya.
Sementara mata Sasy melebar, seketika gerakan tangannya yang mau mengikat rambut terhenti. Sejak kapan Ferdi kembali?
Wajah belia itu bersemu, malu, ingin berlari ke dalam toilet. Lebih dulu tangan Ferdi mencekal lengannya. Menyudutkan badan mungil itu sampai menyentuh wastefel.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ferdi lembut. Badannya semakin merapat, membuat degup jantung berdetak lebih cepat.
Sepasang mata bundar itu menatap wajah Ferdi. Tak bisa menjawab karena bibirnya masih menahan biskuit.
Ferdi tersenyum lembut, menarik pinggang mungil itu merapat ke tubuhnya. Teguk saliva Sasy memahit. Takut jika Ferdi akan memarahi, terakhir kali lelaki itu tidak suka melihatnya berdandan dewasa.
Perlahan tubuh tegap itu membungkuk, menatapi biskuit cokelat yang ada di bibir Sasy. Deru napasnya menerpa wajah, membuat mata Sasy mengerjap berulang kali.
Mata Sasy membelalak, dengan debaran jantung yang kian kuat memompa darah.
Dia melepaskan gigitan biskuitnya dan berlari memasuki toilet. Menutup daun pintu dengan kuat, lantas tubuh itu menyandar di daun pintu. Memegangi dada yang bergemuruh tak karuan.
Kedua tangannya menepuk pipi. Masih tak habis pikir, kenapa hari ini Ferdi menjadi agresif sekali.
"Ya Tuhan, dia bukan Kak Ferdi. Bukan, bukan," katanya menahan debaran di dalam dada.
Sedang, di luar Ferdi tertawa, mengusap sudut bibir yang kotor dengan cokelat. Geli, melihat belia itu yang ada saja ulahnya.
.
"Kak, mau konsep outdoor atau indoor?" tanya Sasy seraya menggeser layar tablet di tangannya.
"Kamu suka yang mana?" tanya Ferdi kembali.
Gadis itu memutar bola matanya, "kayak Kak Nara bagus, sih. Tapi kalo di masjid juga indah. Menurut Kakak?"
"Menurut kamu bagus di masjid atau di pinggir danau?" tanya Ferdi lagi. Kedua tangannya masih terus memijat betis belia itu.
"Kayaknya enakkan di pinggir danau, deh. Ya gak, sih?"
"Iya."
"Jadi di danau, nih?"
"Boleh," jawab Ferdi lembut.
"Terus mau undangan warna apa? Gold atau silver?"
"Kamu suka yang mana?"
"Gold."
"Kalau gitu gold."
Bibir mungil itu memanyun, menatap Ferdi yang masih tak acuh, sibuk memijat kedua betisnya dengan lembut.
"Terus mau wardrobenya warna apa? Broken white atau hitam?"
"Kamu suka yang mana?"
"Hitam," sahut Sasy geram.
"Hitam juga boleh."
"Ish, Kak Ferdi. Kita tuh mau nikah, bukan mau ke pemakaman," sungut Sasy kesal. Dari tadi lelaki itu sama sekali tidak memberikan jawaban yang benar.
Ferdi terkekeh, menggelengkan kepalanya pelan. "Aku nurut aja. Asalkan kamu suka, aku juga suka."
"Kita tuh nikah berdua. Emang bisa cuma satu pihak aja. Aku tuh nanya biar Kak Ferdi juga ada pilihan. Gak semuanya aku, gimana kalo selera aku gak sesuai sama selera Kakak?" tanyanya semakin kesal.
Lelaki itu menurunkan kaki Sasy dari atas pangkuannya. Menggeser tubuhnya menjadi lebih dekat. Kedua tangan Sasy menyilang di depan dada, membuang wajah. Kesal.
"Aku hanya ingin kamu bahagia. Jadi apa pun yang kamu mau, aku iya. Yang penting kamu suka, aku gak ada masalah."
"Ish, tapi gak bisa kayak gitu. Pernikahan kita yang biayai semua Kakak, Kakak kayak gak peduli sama sekali."
"Bukan gak peduli. Kalau aku suka yang sederhana saja. Tapi mamamu tidak mau, bukan? Aku tidak mengerti seleranya, jadi kamu atur saja, ya."
"Ish." Gadis itu mendesis, sebal.
Ferdi menarik napas, perlahan wajahnya mendekat ke telinga sang gadis.
"Lagian aku tak butuh acaranya, yang aku butuh adalah malam setelah acaranya."
Seketika kepala Sasy menoleh, Ferdi mengedipkan sebelah matanya dan mulut gadis itu menganga.
Tubuh tegap itu bangkit tanpa melihat ekspresi sang gadis. Membuka kemeja berjalan ke arah kamar.
"Aku mandi dulu, nanti kita makan siang di luar saja sekalian mengantarmu ke kampus." Seperti tanpa rasa bersalah lelaki itu meninggalkan Sasy di sana.
Gadis itu menarik napas terengah, napasnya sempat terhenti saat mendengar perkataan Ferdi tadi.
"Tunggu dulu, itu maksudnya?" tanya Sasy bingung. Sejenak dia mengingat kejadian di kamar mandi tadi, bagaimana mungkin?
Gadis itu memejamkan matanya, mendesis seraya menggigit bibir bawah mengingat ucapan Ferdi. Satu tangannya menepuk dahi, menggeleng lemas.
"Ya Tuhan, sepertinya aku salah memancing umpan. Dia bukan lelaki tenang, hanya si mesum berwajah menawan."
.
Ferdi keluar dari kamar mandi dengan mengusap kepalanya. Mengambil ponsel dan membaca beberapa pesan yang masuk ke dalam gawainya.
Gerakan tangan yang membasuh rambut terhenti saat membaca pesan dari gadisnya.
[Kak Ferdi aku pergi dulu. Aku baru ingat kalau ada kelas setengah jam lagi]
Sebelah alis Ferdi menaik, terduduk di tepi ranjang tertawa pelan.
"Dulu dia yang terus menempel dan menggoda selalu. Saat sudah begini kenapa dia selalu menghindariku?" tanya Ferdi bingung.
Baru akan membalas, satu pesan lainnya masuk ke dalam gawai.
[Aku mencintaimu] ditambah emoticon cium memenuhi layar.
Ferdi terkekeh dan menggeleng.
"Dasar."