
Lima belas menit sudah wanita itu berdiri di depan lemari besar di kamar suaminya. Ia mengeluarkan sebuah kemeja berwarna abu-abu terang.
Perlahan, ia terkekeh saat membayangkan kemeja itu melekat di badan tegap suaminya.
Ardan yang melihat Hazel mengkhayal di depan kemeja, hanya bisa menggeleng kepala, mengeluarkan kemeja berwarna marun dari deretan kemejanya.
"Ep ... berhenti." Wanita itu menahan tangan suaminya yang ingin mengeluarkan kemeja berwarna marun tua.
"Pakai ini." Dia menyerahkan kemeja berwarna abu-abu terang itu ke hadapan Ardan.
"Hazel, yang benar saja? Aku tidak pernah memakai warna terang selain putih."
"Makanya dicoba, apa salahnya pakai kemeja warna terang sekali-kali?"
"Gak mau! Lihat warna kulitku yang eksotis ini, menurutmu? Cocok dengan warna itu."
"Belum juga dicoba." Hazel mengerucutkan bibirnya, menyilangkan kedua tangan di dada.
"Baiklah," jawab Ardan mengalah.
Ia mengambil kemeja berwarna abu-abu itu dan memakainya, melihat pantulan diri yang sangat aneh dipandang mata.
Hazel membenarkan kera leher kemeja lelaki itu. Menggulung lengan panjangnya sampai ke siku.
"Ambil jasku."
"No."
"Kenapa?"
"Jangan pakai jas, begini saja."
"Hazel, yang benar saja? Aku ke kantor dengan kemeja seperti ini?"
Wanita itu hanya memandang Ardan dengan mata bulatnya. Ardan mencebik kesal, ia menarik salah satu dasi dari laci nakas.
"Jangan pakai dasi." Hazel membuka kancing atas kemeja Ardan, membetulkan kerah kemeja dan merapikan bagian bahu kemeja lelaki itu.
Ia membalikan badan Ardan, melihat pantulan badan tegap lelaki itu. Memperhatikan dari atas sampai bawah. Jarinya mengelus dagu, sudah cukup keren tetapi ada yang kurang.
Ia menarik badan Ardan, mendudukan di atas kursi depan cermin. Perlahan rambut hitam legam yang tersisir rapi nan mengkilap itu diacak.
Menyisirnya dengan menurunkan sedikit poni yang miring ke kanan.
"What?" Ardan berteriak, ketika melihat tampilan wajahnya yang didandani oleh istrinya tersebut.
"Ini keren," ucap Hazel manja.
"Hazel, aku ini lelaki dewasa berkepala tiga? Kamu mendadaniku seolah aku ini masih anak remaja."
"Siapa yang bilang ini terlihat seperti anak remaja? Ini terlihat lebih keren saja, wajahmu juga tidak terlalu tua, Mas."
"Aku mau ke kantor loh, bukan mau piknik. Aku mau meeting, bukan mau main. Apa kata orang kantor saat aku begini?" tanya Ardan mulai kesal.
"Tapi aku ingin lihat kamu seperti ini? Ya." Hazel menarik lengan tangan Ardan, menggoyangkan tangannya dengan manja.
"Tidak bisa, Hazel!" balas Ardan sedikit menekan.
Wanita itu menggoyangkan lengan tangan Ardan manja, perlahan bibirnya mengembang, memperlihatkan jejeran gigi kecilnya dengan lesung di kedua belah pipi.
Ardan menghela napas, tidak bisa menjawab dan membantah. Bukan karena takut, tetapi karena egonya telah kalah.
Perlahan kepala lelaki itu mengangguk. Hazel mencubit lembut pipi pria itu.
"Tunggu ya, jangan diapa-apain penampilannya. Aku akan segera siap. Lima menit." Wanita itu berlari ke arah kamar mandi, gesit.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh bagaimana?" teriak Ardan lemas.
Ia kembali memandang pantulan diri dari dalam cermin. Perlahan jarinya memijat pangkal hidung mancung miliknya, bersiap mendapati pandangan yang berbeda hari ini.
Ia menghela napas, kembali menggeleng pelan.
"Apa yang bisa kulakukan lagi? Egoku pun kalah dengan senyuman manis itu."
.
.
Ardan menghela napasnya berkali-kali saat seluruh mata para karyawan memandang ke arah dia yang baru datang. Ingin lari dan bersembunyi di lubang semut rasanya, tetapi tidak bisa.
Terpaksa tersenyum dan membalas sapaan dengan ramah. Bersikap seolah semua baik-baik saja.
Ferdi melepaskan kacamatanya dan mengelap beberapa kali. Melihat sekali lagi, sahabatnya dengan penampilan yang sangat berbeda hari ini.
"Ardan, what the--" Ferdi memainkan jarinya, menunjuk ke arah kemeja dan tampilan rambut Ardan.
Ardan mengusap wajahnya dengan kasar, melirik ke arah Hazel yang sudah duduk tenang di balik layar komputernya.
"Keinginan bumil, aku bisa apa?" Ardan tertunduk lemas."Egoku pun kalah," sambungnya menyedihkan.
"Tapi, penampilanmu--" Ferdi mengangkat kedua jempol tangannya. "Keren, Kawan."
"Sudahlah, jangan meledekku lagi. Ayo mulai rapat pagi ini."
Ferdi melihat ke arah Hazel, ia mengancungkan kedua jempol tangannya saat Hazel melihat ke arahnya. Melambaikan tangan dengan memainkan alis matanya naik turun. Sebelum lengan kekar sahabatnya itu memaksanya masuk ke dalam.
"Itu, pak Ardan, kan? Kenapa lelaki sekeren dia harus menjadi suami dari seorang janda?" tanya wanita sepermainan Ibel, masih memandangi pria berbalut kemeja abu-abu yang telah hilang di balik pintu.
"Ternyata, Pak Ardan bisa sekeren itu saat berpakain santai," sambung Ibel yang masih terpesona.
Hazel berdehem kuat, kenapa penampilan baru Ardan yang seperti ini semakin membuat ia jealous sendiri.
"Perhatikan mata kalian! Pria itu sudah menikah!" tekan Hazel sedikit geram.
Sementara dua wanita yang duduk di sebelah Hazel menganga dengan lebar. Sejak kapan Hazel wanita yang lembut dan sabar itu, menjadi agresif dan sekasar ini?
Memang, kadang cinta mampu merubah karakter seseorang menjadi lebih ganas dan menyeramkan.
***
Hazel memakai earphone di kedua telinganya. Memasukan tangan di dalam saku dress rumah yang ia kenakan. Berjalan mondar-mandir di taman depan rumah Ardan.
Lelaki yang baru keluar dengan baju tanpa lengan dan training di atas lutut itu menghentikan langkahnya, melihat wanita berdrees putih itu, menendang beberapa kerikil kecil.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ardan.
Hazel melepaskan sebelah earphonenya, ia tersenyum lembut.
"Katanya mendengarkan musik dan menghirup udara pagi, bagus untuk kesehatan janin."
"Kenapa? Kamu takut kalau janinnya kenapa-kenapa, dan kamu harus mengulangi hamil lagi?"
"Jaga mulutmu! Kalau janin ini kenapa-kenapa, itu artinya aku juga bertaruh nyawa di dalamnya."
"Hem, maaf."
"Pergilah, aku tidak ingin diganggu olehmu." Hazel melambaikan tangannya, mengusir lelaki berbadan tegap itu dari hadapan.
Ardan menarik earphone yang dikenakan wanita itu.
"Mau jalan ke tempat yang lebih asyik?"
"Kemana?"
"Lebih hijau dan lebih sejuk. Pasti kamu suka."
"Hem."
"Tunggu, sebentar."
Ardan kembali berlari ke arah garasi rumahnya, mengeluarkan sepeda dari dalam garasi rumah itu.
Lelaki itu tersenyum, berhenti tepat di depan Hazel.
"Naiklah, tempatnya agak jauh. Aku dengar saat hamil muda, tidak terlalu bagus jika kamu berjalan jauh."
Hazel memasukan earphonnya ke dalam saku dress, menaiki boncengan belakang sepeda tersebut.
Perlahan, kaki Ardan mulai mengkayuh sepeda itu. Melewati area perkomplekan dan memasuki kawasan hijau yang baru Hazel tahu hari ini.
Perlahan, Hazel menutup kedua matanya, menghirup udara dengan dalam dan mengembuskannya ke atas.
Kekehan kecil mulai terdengar dari bibirnya, sejuk udara pagi ini membuat suasana hatinya terasa lebih baik dari sebelumnya.
Ardan mengalihkan pandangannya, melirik ke arah belakang. Senyumnya mengembang saat melihat istrinya itu bisa menikmati suasana yang ia hadirkan.
"Suka?"
"Hem. Sejuk banget, rasanya adem banget ada di sini."
"Ini kawasan go green, sejauh delapan kilometer kedepan, mobil dan motor tidak diizinkan memasuki kawasan ini. Hanya boleh sepeda dan pejalan kaki."
"Benarkah? Aku baru tahu ada tempat seperti ini."
"Ini baru dibangun dua tahun lalu, dulu aku sering ke sini. Karena jarak tempuh yang lumayan jauh, jadi sekarang agak malas."
"Hem, kenapa sekarang ke sini lagi."
"Kan ada kamu yang menemani. Sekalian, biar kamu juga bisa menikmati udara yang bersih."
Hazel hanya tersenyum, kembali memejamkam matanya sembari merentangakan kedua tangan. Merasakan setiap embusan nikmat dari Sang Maha Pencipta.
Udara dan alam yang luar biasa indah. Diciptakan hanya untuk manusia yang terkadang mampu merusak apa yang telah dititipkan Semesta.
"Pegangan, aku akan mengkayuhnya dengan cepat agar bisa sampai di danau kilometer empat."
Perlahan kedua tangan itu melingkari perut sixpack Ardan. Melihat sekilas ke belakang, Ardan mengkayuh sepedanya lebih cepat dari sebelumnya.
Terdengar teriakan dari suara berat lelaki itu memecahkan jalanan hijau sejauh jarak yang ia tempuh.
.
.
Ardan menjatuhkan badannya di atas rumput hijau. Mengatur napasnya yang memburu kencang setelah menempuh jarak empat kilometer.
Sementara Hazel, duduk bersilah di sebelah Ardan. Menikmati pemandangan indah yang disuguhkan alam.
Beberapa kali ia menghirup napas dengan memejamkan mata. Menikmati udara segar kasih Sang Maha Pemilik Alam.
"Kamu suka tempat ini?" tanya Ardan sembari mengatur napasnya.
"Em." Hazel memgangguk. "Sejuk dan damai."
"Dulu aku juga suka ke sini, semenjak jalanan ditutup untuk kendaraan bermotor, aku jarang ke sini."
"Tapi aku rasa, di sini sangat nyaman karena tidak bersisik suara motor dan polusi. Jika tidak, mungkin di sini hanya lapangan yang jorok dan berisik."
Ardan melipat satu tangannya untuk dijadikan bantal. Memandangi langit biru nan luas di atas sana.
"Hazel."
"Iya."
"Kamu masih marah padaku?"
"Iya, sebenarnya. Tetapi, sebagai pihak kedua. Aku tidak berdaya."
"Maaf, aku bersalah. Aku telah melukaimu."
"Sudah tahu salah. Masih saja dilakukan."
"Kalau aku tidak melakukannya? Lalu aku harus melakukan apa? Aku bingung dengan perubahan sikapmu yang begitu tiba-tiba."
"Hem, bagaimana?" tanya Hazel bingung.
"Kamu yang berubah dingin seketika, tidak banyak bicara dan tidak banyak melakukan apa-apa. Kamu setiap harinya hanya ingin menghindar dan terus menghindariku. Aku bukan lelaki lembut, aku orang yang kasar, aku akan kembali seperti itu saat aku bingung menghadapi sesuatu."
"Oh, itu. Sebenarnya--"
"Aku tahu. Arfan menemuimu, kan?"
"Mas, tahu?" Hazel memalingkan wajahnya. "Jadi kenapa Mas gak bilang apa-apa?"
"Aku hanya ingin melihat keterbukaanmu saja. Tetapi, seharusnya aku juga tahu. Bahwa dari awal, kamu selalu menyimpan semuanya sendiri, di dalam hati."
Ardan menghela napas, memejamkan matanya yang mulai silau dengan cahaya mentari.
"Aku tidak tahu seberapa tajam lidah Arfan menusukmu. Jika kamu bisa mempercayaiku, seharusnya kamu jujur padaku."
Hazel hanya diam, ia menautkan kedua ujung jarinya. Sedikit merasa bersalah terhadap suaminya itu.
"Percaya atau tidak, sebelumnya aku tidak pernah jatuh cinta pada siapapun. Aku tidak pernah mengucapkan kata cinta pada wanita manapun. Aku memang banyak memainkan wanita, tetapi aku tidak pernah menyuguhkan cinta pada mereka."
"Kenapa?"
"Karena aku menganggap, cinta itu bukan mainan. Aku bisa bermain dengan wanita, tetapi aku tidak ingin bermain dengan cinta. Karena cinta adalah hal yang murni, aku tidak ingin merusak kemurniannya."
Hazel memalingkan pandangannya, melihat Ardan yang masih terpejam. Baring dengan santai di sebelahnya.
"Aku hanya mengucapkan cinta padamu. Soal aku yang jatuh cinta padamu, aku tidak pernah main-main terhadap itu. Terserah, percaya atau tidak, tetapi selain dirimu, aku tidak pernah merasa gila dengan seseorang ataupun sesuatu, Hazel. Seperti kamu yang terlukai oleh tingkahku, akupun sama, merasakan sakit yang lebih dalam karena tangisanmu."
Ardan membuka matanya, melihat Hazel yang masih terduduk di sebelahnya.
Wanita itu hanya terdiam, sesekali memainkan bibirnya sampai membuat lesung di pipinya kelihatan.
Ardan menghela napas, ia kembali memejamkan mata.
"Aku akan kembali ke ibukota."
"Kapan?"
"Siang ini."
"Kok, tiba-tiba?"
"Mama menelponku dan menangis, ingin bertemu. Aku tidak bisa menentangnya."
"Berapa lama?"
"Belum tahu."
"Yasudah, menyetirnya hati-hati, ya."
"Aku akan membawamu ke sana."
"Hah? Kenapa?"
"Aku ingin memperkenalkanmu dengan mama."
"Tapi, Mas--" Hazel melihat ke arah Ardan, perlahan ia memejamkan mata dengan menghela napas berat.
"Baiklah," sambungnya mengalah.
"Jangan takut, aku akan melindungimu di sana. Tetapi, kita tidak bisa membawa Surya, tidak apa, kan?"
"Hem, akan lebih baik jika Surya tetap di sini."
"Aku akan menyuruh Ferdi untuk menemani Mbok Darmi, jangan khawatir."
"Boleh, gak? Suruh Nara dan Echa juga?"
"Kenapa? Kamu takut mbok Darmi diperkosa sama Ferdi."
"Jaga mulutmu, Mas!"
Ardan terkekeh, ia menggelengkan kepala dan kembali membuka mata, memandangi langit biru di atas sana.
"Terserahmulah, apapun yang membuat kamu tenang. Maka lakukan."
Hazel tersenyum, ia mengambil lengan tangan Ardan dan merentangkannya. Berbaring di sebelah Ardan dengan berbantalkan lengan kekar pria itu.
Perlahan ia mendekat, membenamkan wajah di badan lelaki itu.
'Inilah kamu yang menjadi suamiku, Mas. Lembut dan harum bau ini yang selalu aku rindui. Andai aku bisa menghentikan detik ini, maka aku ingin waktu berhenti di sini. Agar kamu tetap menjadi lembut seperti ini, agar harummu tetap menenangkan seperti ini. Agar kamu, tetap menjadi Ardanku yang posesif dan arogan seperti selama ini.'