For My Family

For My Family
103



Kinara terkekeh, ia menggelengkan kepalanya seraya memandangi wajah blasteran itu.


"Dasar lelaki pembual! Jangan menipu aku, Dokter. Bagaimana mungkin kamu mencintaiku?" tanya Nara ketus.


"Karena lukamu, dan lukaku, sama."


"Maksudnya?" tanya Nara tak mengerti.


"Kita dua orang yang kecewa oleh keadaan, Nara. Takdir mempertemukan kita dan semesta memainkan dramanya. Tak ada kesalahan atau pun kebetulan. Yang terjadi adalah sebuah rancangan. Kamu pikir, untuk apa kita dipertemukan?"


"Tunggu dulu, maksud Anda, kita? Memang ditakdirkan bersama begitu?"


Pedro mengangguk, jarinya merapikan anak rambut gadis itu yang terlihat berantakan.


"Coba pikirkan dari awal. Aku melihatmu menangis di rumah sakit karena Ardan. Karena di sana hanya ada Ardan, mengapa aku tak melihat temannya di sana?"


"Karena Pak Ferdi lebih dulu pergi."


"Bukankah Tuhan telah merancangnya begitu? Ada sesuatu yang membuatku salah paham padamu. Mengikatku agar terus bersama denganmu, sampai malam itu kebenarannya terungkap dan kita malah terjebak sebuah kesalahan yang memaksa untuk saling berjanji sehidup semati."


Gadis itu terdiam, sejenak ia memikiran apa yang Pedro katakan. Mencoba menyusun setiap penggalan kenangan yang terjadi antara dia dan lelaki berdarah Spanyol itu.


"Sama sepertimu, aku juga mencintai dia yang tak termiliki. Jauh, sebelum dia memiliki suami. Aku telah melamarnya lebih dulu. Jika memang tak jodoh, selama apa kamu menanti juga akan percuma. Karena dia yang berjodoh, bukan pasal siapa yang paling lama mengenal. Namun, seberapa dekat namamu dan namanya tertulis di lauful mahfuz."


Gadis itu mulai mengerti, sifat keras kepala dan egoisnya perlahan mulai mencerna dengan logika.


Tatapannya beralih pada lelaki bermata cokelat itu. Teduh dan sangat tenang, tapi kenapa? Ia belum bisa merasa nyaman?


"Apa menurut Anda Pak Ferdi berjodoh dengan Khadijah?"


Pedro mengangkat bahunya, lalu ia menggeleng pelan.


"Entahlah. Setiap kisah punya perjalanannya sendiri. Aku tak peduli pada kisahnya, atau pun pada jodoh dia. Karena saat ini, aku hanya peduli pada apa yang dijodohkan untukku."


Nara bergeming, dengan jari yang memilin ujung piyama berwarna pinknya.


"Menurut Anda kita berjodoh?" tanyanya lagi.


"Tentu saja. Kau makmumku saat ini. Jika bukan karena kita berjodoh, mungkinkah kita berada di dalam kamar yang sama saat ini?"


"Tapi Anda tidak mencintai aku. Jangan berdusta, aku tau Anda tak memiliki rasa padaku."


Pedro menarik napasnya, ia menjatuhkan badan di atas kasur. Mata cokelat itu menatap ke arah langit-langit kamar.


"Kadang cinta itu rumit." Lelaki itu melipat kedua tangannya untuk dijadikan bantal.


"Sudah tau sakit, tetap saja berusaha bangkit. Sudah tau tak dibalas tetap saja menunggu kesempatan. Kadang cinta bisa sangat indah, kadang juga sangat menyiksa. Kadang ceria, lalu kecewa. Sebenarnya cinta itu yang mana? Bahagia karena memilikinya, atau bahagia karena rasa kita berlabuh pada asa yang sama?"


Pedro melirik ke arah Nara. Gadis itu hanya tertunduk. Memandangi kelopak bunga yang terlukis di atas sprai miliknya.


Entahlah, terkadang jika cinta telah melibatkan lebih dari dua hati. Maka akan banyak hati yang terluka dan juga patah. Karena cinta hanya mengenal dua hal. Mencintai untuk bertahan, atau mencintai dengan cara melepaskan.


"Hazel pernah mengatakan, jangan jatuh cinta. Karena jatuh akan sangat sakit saat kamu tidak bisa membangunnya bersama."


"Dokter," panggil Nara lembut.


Pedro hanya memalingkan pandangannya, menunggu sang istri untuk melanjutkan kalimatnya.


"Jika boleh aku bertanya. Wanita yang Anda cintai itu ... Mbak Hazel, bukan?"


Pedro tersenyum, menampilkan jajaran giginya yang sangat menawan. Terlihat tegukan salivanya berat sekali.


"Ya," jawabnya singkat.


"Hem, gak heran. Walau janda sekali pun. Mbak Hazel tetap jadi rebutan."


"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" tanya Pedro.


"Mbak Hazel wanita istimewa. Cantik, dewasa, tangguh dan juga sabar. Dia ... wanita yang sangat sempurna."


Pedro meraih sebelah tangan Nara, seketika pandangan gadis itu menajam. Menatap Pedro tak suka.


"Kamu juga sempurna. Cantik dan terjaga. Pandai menutupi rasa dan juga sangat setia. Andai lelaki itu aku, pasti aku akan sangat bahagia."


Nara menghempaskan tangannya, tak ingin bersentuhan dengan lelaki yang telah halal baginya itu.


Pedro terkekeh, ia memiringkan badannya dan kembali mengenggam jemari istrinya.


"Sakit hati juga gak akan mengurangi kebahagiaan mereka, kan? Toh, saat mereka bahagia pada pernikahannya, mereka gak akan peduli pada hidup orang lain."


Nara mentapi wajah tampan itu, pelan ia memainkan bibirnya.


"Mereka bahagia, tidak akan terusik dan terganggu. Mau kamu sakit hati atau bahagia. Memang dia peduli? Tidak, Nara. Karena yang dia pikiri bukan lagi kita atau orang-orang yang bercerita tentangnya. Dia hanya akan peduli tentang hidupnya dan orang yang dia cintai. Itu saja."


"Kenapa Anda bisa berpikir begitu?"


"Nara, mereka yang hidupnya bahagia gak akan sibuk mengurusi yang bukan urusannya. Bagi mereka, waktu yang ada hanya akan terbuang untuk menciptakan kebahagiaan yang lainnya. Entah itu hal-hal kecil atau pun besar. Mereka akan mengumpulkan kepingan demi kepingan cerita indah yang menjadi kisah abadi perjalanan mereka."


Pedro kembali terduduk, mendekati gadis itu perlahan.


"Jangan pernah iri pada kebahagiaan yang mereka tunjukkan padamu. Atau jangan pernah merasa sakit saat seseorang memamerkan kebahagiaannya di depanmu. Percayalah, mereka yang benar-benar bahagia tak akan pernah peduli akan itu semua. Seperti Ardan dan Hazel, mereka tak pernah melihatkan apa pun pada siapa pun, tapi kenapa kamu bisa mengira pernikahan mereka bahagia?"


"Entahlah, aku merasa bahwa pernikahan mereka sempurna."


"Karena itu mereka berdua yang membuatnya. Tak peduli orang lain, tak sibuk pada kehidupan orang lain. Di dunianya hanya ada tentang keluarganya, tentang kisahnya. Tak perlu diperlihatkan. Karena kebahagiaan itu bukan ajang pameran. Cukup dirasakan dan dijaga seterusnya. Bahagia itu bukan tentang siapa yang paling mesra di depan orang lain. Sejatinya, bahagia itu bukan tentang penilaian orang lain terhadap hidupmu."


Pedro menarik kepala Nara dan mencium dahi gadis itu lembut. Ia membuka telapak tangan kanannya.


"Untuk itu, maukah kamu mengukir bahagia bersamaku?"


Gadis itu hanya memandangi telapak tangan yang dibentangkan oleh Pedro.


Lalu tatapannya menaik pada wajah tampan lelaki tersebut. Seulas senyum yang sangat meneduhkan. Sayang, hati dan egonya masih bertentangan.


"Pikirkan, Nara. Kapan terakhir kali kamu bahagia? Lepaskan beban yang terus mengurungmu dalam belengu itu. Selama apa kamu mencintainya? Pernahkah kamu merasakan bahagia yang sesungguhnya?"


"Tapi bukankah saat ini Anda juga tidak mencintai aku, Dokter?"


"Aku akan belajar untuk mencintaimu."


"Bagaimana jika tidak berhasil?"


"Berhasil atau tidaknya, kita tidak akan tahu sebelum mencobanya, bukan?"


"Tapi sebelum aku menerimamu, aku tak ingin Anda sentuh."


"Tapi itu hakku. Aku berhak memintanya."


"Tak bisakah Anda menunggunya?"


Pedro menghela napasnya, ia mengacak rambut. Matanya menatap gadis itu lekat.


"Kita akan semakin dekat saat hubungan ini berjalan seperti semestinya."


"Tapi aku belum siap, aku butuh waktu. Hatiku, jiwaku, semuanya. Butuh waktu untuk terbiasa dengan ini semua. Aku butuh waktu untuk melepaskannya, dan aku butuh waktu untuk melupakannya."


Pedro menghela napas dan kembali menutup telapak tangannya yang terbuka.


"Baiklah, terserah kamu." Ia berbalik dan tidur di sisi kasur sebelah lagi. Memunggungi Nara yang duduk seraya menatapi dirinya.


Perlahan gadis itu bangkit dan berjalan ke arah jendela. Mengambil handuk yang suaminya letakan di sana sehabis mandi tadi.


Matanya kembali menatap nanar ke arah bentangan alam. Luas, hitam dan pekat.


Memang kebahagiaan bukan ajang pameran. Atau kebahagiaan bukan sesuatu yang harus diperlihatkan.


Akan tetapi, kebahagiaan hanya bisa dirasakan saat dua hati bisa terbuka dan saling memiliki satu sama lain.


Bahagia itu sederhana, cukup mencintai dan dicintai. Selebihnya semua akan berjalan dengan indah sesuai warnanya.


Kadang hitam, kadang pekat dan juga tak terlihat. Sering kali dia berwarna, indah sampai harimu terasa sempurna.


Bahagia itu bisa jadi hal yang sangat sulit kamu dapati. Bisa juga menjadi hal yang selalu kamu miliki.


Intinya hanya satu, bahagia itu adalah saat kamu mampu mensyukuri apa yang kamu miliki saat ini.


Entah itu tawa atau duka. Saat kamu syukur atas segala rasa itu. Maka, bahagia itu akan meliputi hati. Tak nampak, tapi dia terasa. Karena hidup itu tak harus selalu diperlihatkan pada mereka. Cukup jalani, nikmati, dia yang bahagia dengan dirinya, tak akan sibuk pada urusan yang lainnya.