
Peluh keringat membanjiri dahi Hazel saat mimpi buruk itu kembali muncul dalam tidurnya. Membuat malam-malam lelahnya menjadi tidak tenang.
Hazel membuka matanya saat mendengar jeritan dalam delusi mimpinya. Ia menghela napas panjang dan terduduk di atas ranjang. Mengambil gelas yang berada di atas nakas.
Hazel melirik jam yang ada di dinding kamar itu. Masih dinihari pagi, tetapi mimpi tentang kisah kelam masalalunya itu mampu menghilangkan kantuk yang ia rasa dalam sekejap.
Membuat ia takut untuk memejamkan mata walau hanya sedetik saja.
Hazel kembali menghela napas, membuka selimut yang ia kenakan dan berjalan ke luar kamar.
Tujuan ia hanya satu, ke tempat putra semata wayangnya yang masih terbaring di dalam ruang ICU.
Hazel tersenyum lembut saat melihat mbok Darmi yang tertidur di bangku stainles depan ruang tunggu. Hanya berselimut kain panjang tipis yang membalut tubuh gempalnya.
Perlahan Hazel mendekat, mencoba memabangunkan wanita paruh baya itu.
"Hazel, kenapa kamu ada di sini?" tanya mbok Darmi sesaat setelah ia membuka mata.
"Mbok, pindahlah ke kamarku. Istirahat sampai siang di sana. Aku yang akan menjaga Surya di sini."
"Jangan, Hazel. Kamu juga masih pasien di sini. Kamu sebaiknya kembali ke kamar kamu, Sayang."
"Aku, tidak bisa tidur lagi, Mbok."
Mbok Darmi meraih helaian rambut Hazel dan mengelusnya lembut. Menyingkap sebagian rambut wanita itu ke balik telinga.
"Mbok tidur saja, aku akan menjaga Surya di sini."
"Hazel," panggil mbok Darmi lembut.
"Hem."
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya mbok Darmi sendu.
"Aku memimpikan kejadian itu lagi, Mbok. Aku mendengar suara itu lagi. Suara tangisan pilu dari masalaluku."
Mbok Darmi terdiam, ia menjauhkan tangannya dari kepala gadis itu.
"Cobalah untuk tidur lagi, Hazel. Perlahan, semua itu akan menghilang dari ingatan kamu."
Hazel mengedipkan matanya, menjatuhkan beban dari salah satu matanya.
"Ini sudah enam tahun lamanya, tetapi aku tidak pernah melupakan apapun dari tragedi pahit itu. Ayah, Bunda adik-adikku dan rumah hampa itu. Selalu kembali hadir setiap kali aku menutup mata."
"Hazel, si Mbok paham perasaanmu, Sayang. Tetapi kamu juga harus terus berjalan di kehidupan ini. Lepaskan masalalu menyakitkan itu, Nak."
Hazel memalingkan pandangannya, menatap lekat wajah wanita yang ada di sampingnya itu dengan mata yang memerah menahan air mata.
"Apakah Mbok bisa melupakan bang Reza? Bisakah?" tanya Hazel pahit.
Mbok Darmi terdiam, mana mungkin ia bisa melupakan putranya itu. Ibu mana yang sanggup melupakan darah daging yang mereka perjuangkan lebih dari nyawanya.
"Pergilah, Mbok. Istirahat dengan baik, Mbok bisa sakit jika terus tidur di sini."
Mbok Darmi menganggukan kepalanya, mengalah saat berdebat dengan wanita muda itu.
Bagaimana juga, Hazel telah banyak kehilangan karena konflik masa itu. Bukan hanya keluarga yang telah merawatnya, tetapi juga suami yang baru ia dapatkan setelah mengalami luka panjang.
Hazel terus berdiam, membiarkan waktu berlalu begitu saja. Memutar satu persatu kenangan yang terus membuat lukanya kembali berdarah.
Nigar Hatice dan Omer Kemal, dua saudara yang sangat ia sayangi itu. Masa-masa indah yang pernah ia habiskan bersama mereka berdua, kini menjadi luka yang paling dalam di antara yang lainnya.
Kesukaan yang selalu mereka makan, wangi badan dan juga suara mereka yang sering bertengkar. Semuanya, Hazel masih ingat itu semua.
Enam tahun lalu, saat ia masih baru saja masuk universitas dan memutuskan tinggal di asrama kampus.
Hari itu, hari di mana Omer yang selalu menggandeng tanganya tanpa mau melepaskan sedikitpun. Hari di mana Nigar memasukan banyak kacang kenari ke dalam kopernya.
Hari di mana kedua orang tuanya menggantarkan ia ke depan gerbang kampus. Adalah Hari di saat semua kebahagiaannya berakhir begitu saja.
Andai ia tahu jika tragedi ini akan menghilangkan seluruh keluarganya. Ia tidak akan mau tinggal di asrama kampus.
Ia pasti akan memilih untuk tetap tinggal dan lenyap bersama mereka semua. Karena pada akhirnya, hidup yang saat ini ia jalani tak ubah dari sebuah takdir yang menyeramkan.
Hazel menghapus sudut matanya saat melihat Dokter Pedro memasuki ruangan milik putranya.
Mencoba untuk kembali pada kehidupan ia yang nyata.
Setelah beberapa waktu berada di dalam sana. Dokter Pedro keluar dan tersenyum lembut saat melihat Hazel duduk di kursi itu sendiri.
"Mau bicara sebentar?" tanya Dokter Pedro lembut.
Hazel menganggukan kepalanya, berjalan mengikuti langkah Dokter muda itu menuju ke arah taman depan rumah sakit.
Dokter Pedro meletakan bokongnya di kursi panjang taman rumah sakit itu. Diikuti Hazel yang duduk di sebelahnya.
"Apa ... ada masalah dengan kesehatan Surya, Dokter?" tanya Hazel cemas.
Dokter Pedro tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan hanya mengkhawatirkan anakmu saja. Khawatirkan dirimu sendiri juga. Saya dengar dari Suster yang merawatmu, kamu jarang sekali makan."
"Bukan jarang, tetapi saya memang makan sedikit telat."
"Benarkah?" tanya Dokter Pedro tak percaya.
Hazel hanya menghela napas dan menganggukan kepalanya.
"Hazel, apa yang kamu mimpikan setiap malam?" tanya Dokter Pedro langsung.
Seketika Hazel memalingkan wajahnya, melihat Dokter Pedro yang menatapnya dengan sendu.
"Maksudnya?"
"Setiap hari, Suster penjaga selalu mengatakan kamu menangis setiap malam. Apakah kamu memimpikan sesuatu yang sangat menyeramkan?"
Hazel menggelengkan kepalanya pelan. Pedro menghela napas, Hazel selalu tertutup seperti ini dari awal mereka kenal.
"Hazel, mau sampai kapan kamu menyimpannya sendiri? Izinkan saya membantumu," bujuk Pedro lembut.
"Saya benar-benar, baik-baik saja, Dokter."
"Benarkah?" tanya Pedro tak percaya.
"Hazel, ayolah. Selain Dokter dari putramu, saya juga adalah temanmu. Sebagai teman, izinkan saya menggunakan ilmu psikologi yang sedang saya dalami untuk membantumu," ucap Pedro membujuk.
"Saya tidak apa-apa," jawab Hazel menundukan pandangannya.
"Kamu yakin?"
Hazel menganggukan kepalanya, menundukan pandangan sembari mengenggam kedua jemari tangannya.
Pedro menghela napas, ia benar-benar kehabisan cara untuk membuka beban wanita itu.
Sesaat suasana hening seketika. Hanya embusan angin pagi yang menyapa keduanya. Memberikan cerita dalam kisah tanpa warna.
Untuk beberapa menit, suasana hanya berjalan begitu adanya. Hampa tanpa sebuah percakapan cerita.
"Benarkah anda bisa menghapusnya?" tanya Hazel lirih.
"Apa?" tanya Pedro kembali.
"Bisakah anda membuat saya melupakan kenangan itu? Kenangan buruk masalalu itu?"
"Melupakan atau tidak, itu pilihanmu. Saya hanya akan membantu kamu untuk mengatasinya, Hazel."
"Kalau begitu, bagaimana saya harus memulainya?"
Pedro tersenyum, ia menatap binar bening mata Hazel dengan lekat dan dalam.
"Ceritakan perlahan. Apa yang membuat kamu bisa tersiksa seperti ini?" tanya Pedro lembut.
"Tragedi masalalu."
"Apa yang terjadi di masalalumu?"
"Konflik berdarah yang menghilangkan seluruh keluarga saya," jawab Hazel lembut.
Pedro menghela napas, pantas saja ia tidak tidur dengan tenang selama di sini.
"Baiklah, saya akan memulai perkenalan denganmu kembali."
Hazel masih memandangi wajah teduh lelaki itu. Entah kenapa, ia seperti terhipnotis oleh lelaki itu.
"Siapa kamu di masalalu?"
"Ezgi Hazel Nazha, putri sulung Ibrahim Pasha."
"Siapa Ibrahim Pasha?" tanya Dokter Pedro kembali.
"Imigran dari perbatasan Turki Barat Laut. Pengusaha kilang kayu di perbatasan negara ini."
"Kamu ... bukan orang sini?"
"Bukan. Tetapi aku lahir di sini," jawab Hazel sembari menelan salivanya pahit. Matanya mulai berhiaskan genangan kaca yang melapisi netra mata.
Melihat reaksi Hazel, Pedro menarik pergelangan tangan wanita itu. Mengecek denyut nadinya yang mulai terasa lebih kencang karena rasa cemasnya kembali hadir.
Sebuah tangan besar menarik tangan Hazel secara paksa. Membedirikan wanita itu dan menjauhkan badannya dari lelaki yang ada di sebelah calon istrinya.
"Apa ini? Pagi-pagi kamu sudah di sini bersama dengan lelaki lain?" tanyanya ketus.
"Anda," ucap Hazel, kaget.
"Iya saya. Kenapa? Kamu terkejut?"
Hazel menggelengkan kepala, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Ardan yang terasa sakit memegang lengan tangannya.
"Kamu sudah sembuh? Hm? Pagi-pagi sudah ada tenaga untuk kencan dengan Dokter ini?"
"Bukan begitu. Saya hanya konsultasi dengan dia."
"Hoo ... konsultasi di taman sepagi ini? Ha ha, kamu pikir saya percaya?" tanya Ardan sinis.
"Tetapi memang itulah kenyataannya," jawab Hazel lembut.
"Oh. Siapa yang akan percaya?"
"Hazel benar," bela Dokter Pedro lembut.
"Kami--"
"Diam! Saya sedang berbicara dengan calon istri saya," putus Ardan garang.
"Anda hanya salah paham, Pak Ardan."
"Oh, saya memang salah paham. Untuk itu, kamu ikut saya untuk membuktikannya." Tarik Ardan di pergelangan tangan Hazel.
"Tunggu dulu, kita mau ke mana?" Tahan Hazel menghentikan langkah Ardan.
"Menikah!"
"Apa? Kenapa?" tanya Hazel terkejut.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk menikah? Apa kamu lupa?" tanya Ardan ketus.
"Saya tidak lupa. Tetapi saya tidak bisa menikah sekarang. Beri saya waktu beberapa minggu lagi."
"Untuk apa? Agar kamu bisa berdekatan lebih lama dengannya?"
"Apa?" tanya Hazel tak percaya.
"Kenapa anda berpikir seperti itu?"
"Jadi kamu mau saya berpikir seperti apa? Hm? Berpikir senang saat kamu selingkuh di depan mata saya."
"Tetapi saya tidak selingkuh!" teriak Hazel kesal.
"Hanya duduk dan berkencan, begitu?"
"Anda, kenapa sepicik ini berpikir tentang saya?" tanya Hazel sedikit kecewa.
"Kalau kamu tidak ingin saya berpikir seperti itu. Ayo menikah sekarang, jika kamu mencari lagi alasan, maka apa yang saya pikirkan memang benar."
Hazel menatap Ardan dengan mata yang memerah padam. Berusaha meredam amarah yang kian berkobar besar.
"Saya, saya belum bisa menikah. Saya mohon mengertilah."
Ardan tersenyum sinis, ia melepaskan cengkeraman tangan pada lengan Hazel.
"Kasih saya alasan, kenapa?"
"Saya, belum benar-benar sembuh."
"Sudah cukup! Cukup kamu membohongi saya. Jika kamu tidak bersedia, maka batalkan saja!" teriak Ardan keras.
"Kenapa?"
"Apa kamu pikir saya mau menikahi wanita yang berkencan dengan banyak pria?"
Hazel menjatuhkan airmatanya, sadis sekali ucapan yang keluar dari mulut tipis lelaki arogan ini.
"Baiklah, ayo kita menikah!"