For My Family

For My Family
87



Nara berjalan seraya mengusap wajahnya yang terus basah. Air matanya terus luruh mengingat bagaimana terkejutnya wajah Ferdi.


Ada sebuah panah yang merajam hati, sakit, perih, sesak dan sangat sulit dijelaskan oleh rasa dan logika.


Mendapatkan sebuah hukuman atas sebuah rasa yang tak berbalas. Cinta, bisa menjadi luka yang sangat dalam saat kepakan dua sayap itu tak pernah seirama. Jangankan untuk terbang menjelajahi angkasa, bahkan berdiri seimbang saja susah.


Lantas, mengapa masih memaksa? Karena sebuah rasa perlu pengorbanan. Bukan hanya waktu yang terbuang sia, pun hati yang siap terluka.


Sebuah tangan menarik badan gadis itu dan menbenamkan kepala di atas dadanya. Mendekap erat agar sakit tak lagi mendera.


Seketika gadis itu terdiam, detik kemudian ia kembali menangis, dalam dan semakin dalam. Perlahan isakan yang berusaha ditahan keluar. Menjadi suara tangisan yang sangat memilukan.


Perjuangannya harus mengalami banyak rintangan. Mengingat bagaimana ia menyimpan perasaan selama ini. Bertahan dan hampir saja salah paham, merusak sebuah hubungan pertemanan. Bukanlah waktu yang singkat dan juga bukan perjuangan yang mudah.


Berat, sulit dan sangat menyesakkan. Kini, semua menjadi sangat berat hanya karena satu perbuatan yang ia terima dari lelaki asing.


"Maafkan saya, Nona." Seketika Nara menolak dada itu sampai lelaki berbadan tegap tersebut mundur beberapa langkah kebelakang.


"Apa maksud anda? Belum cukup anda mencium saya, sekarang anda mau memeluk saya? Kamu itu sakit jiwa, Dokter!" teriak Nara lantang.


Pedro hanya diam, menerima segala luapan amarah dari gadis yang ia sakiti. Sementara beberapa mata memandang heran ke arah mereka. Bertengkar di tengah trotar jalanan.


"Pergilah, jangan dekati saya lagi atau menampakkan batang hidung anda di depan saya," usir Nara ketus.


"Apa kamu bersedia memaafkan saya, Nona?" tanya Pedro lembut.


"Tidak akan!" balas Nara sedikit berteriak.


"Kalau begitu saya akan memohon sampai kamu mau memafkan saya."


"Sebenarnya anda itu maunya apa? Kenapa? Kenapa anda membuat saya begitu terlihat murahan di depan lelaki yang sekuat tenaga saya perjuangkan? Kenapa?" Nara menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Lantas ia berjongkok di tengah trotoar jalan, menyembunyikan wajah di dalam dekapan kedua lengan.


Manik berwarna cokelat itu menaruh rasa iba, perlahan kaki jenjangnya kembali mendekat, ia berjongkok di depan Nara menangis, tergugu, membuat badan langsingnya bergetar begitu kuat.


"Jangan nangis di sini lagi. Saya tahu telah melukaimu, tapi jangan buat dirimu menjadi tontonan umum seperti ini."


Nara mengangkat kepalanya, melihat Pedro yang berjongkok tepat di depannya.


Sebuah desiran menyapa hati lelaki berdarah setengah Spanyol tersebut. Menatap wajah cantik yang begitu pias, basah dengan semua air yang luruh dari mata indahnya.


"Bastard!" Nara mendorong badan Pedro dan kembali berlari, meninggalkan lelaki yang sedang dilanda rasa bersalah itu sendiri.


Sedang, lelaki itu hanya bisa menggeleng kepala. Perlahan senyuman tercetak di wajah tampannya. Kenapa? Dia begitu peduli pada wanita itu.


Kadang permainan semesta memang sangat unik dan susah ditebak akan berakhir bagaimana.


Dari sebuah salah paham berujung luka dan dibasuh cinta?


Mungkinkah?


***


Hazel memandangi punggung tanpa alas itu, sibuk mencari kaus dalam yang akan ia kenakan di balik jaket.


Setelah setahun menikah, Ardan tak pernah berada jauh darinya, ada rasa tak rela, ada rasa cemas dan khawatir yang mengelayuti kalbu. Membenam di dalam pikiran dan menjadi sugesti tersendiri.


Hazel mendesah panjang, mengelus kandungannya yang sering sekali kram lalu berhenti setelah beberapa waktu.


Tak mempedulikan desahan istrinya tersebut, Ardan masih sibuk sendiri. Menyemprotkan parfume di bagian dada dan juga lengan. Seketika harum maskulin memehuni ruangan kamar.


Hazel mendekat, memeluk erat dari belakang. Membenamkan wajahnya di punggung tanpa alasan itu. Menghirup bau yang sangat menyengat di rongga hidung.


Sejenak Ardan terdiam, membiarkan lengan kecil itu mendekapnya. Sampai isakan terdengar, lelaki itu tersenyum tipis dan membalikan badannya. Memindahkan kepala wanita itu ke dalam dada.


"Aku hanya sebentar di ibukota. Kenapa nangis seakan aku akan meninggalkanmu selamanya?"


Plaaak


Tangan kecil itu menampar dengan sedikit keras.


"Jaga ucapanmu, Mas!"


Wajah cantik itu memerah, tak lagi menangis, kini raut wajahnya berubah padam, seketika.


"Kamu kenapa?" tanya Ardan berusaha tenang, entah kenapa, ia sangat kesal saat sifat kasar Hazel masih bersisa.


Wanita itu hanya menunduk, tak lagi menjawab. Menjauh dari Ardan dan berdiri di ujung jendela. Menatap ke arah luar.


Masih ada trauma yang membekas, dalam, pernah terkubur, namun, tak pernah tertutup dengan sempurna.


Menjadi sugesti yang sangat menyeramkan, menganggu pikiran dan juga tak pernah membuat tenang.


Melihat ulah Hazel, Ardan hanya mendesah panjang. Terkadang wanita memang sangat sulit untuk dimengerti. Terlebih, saat ada ruang yang tak bisa tersentuh oleh siapa pun itu.


Ardan meraih pucuk kepala Hazel, mengacak puncak kepalanya dengan sedikit geram.


"Kamu kenapa?" tanya Ardan lagi.


Tak menjawab, hanya sebuah embun yang menetes dari mata.


"Hei, kamu kenapa, Sayang?" tanya Ardan sedikit menekan.


"Malam itu," jawab Hazel lirih.


"Hem?"


"Malam itu Mas Iqbal pergi, dia mengatakan akan menyelesaikan tugas terakhir, setelah itu dia akan mengurus pindah tugasnya. Kami juga sudah mengumpulkan uang untuk segala keperluannya. Dia bilang gak akan lama, dia akan pulang dan berkumpul lagi dengan kami." Hazel menatap kosong ke depan, ada beberapa hal yang masih ia takuti sampai saat ini.


Perpiasahan, itu adalah kata yang paling menyeramkan. Sebuah jarak, akan terasa sangat menyesakkan. Terlebih, mereka yang terpisah bukan karena pengkhianatan, namun, karena keharusan. Menanggung beban penderitaan yang menjadi duka berkepanjangan.


"Tugas terakhir, benar-benar menjadi tugas terakhir, karena setelah itu Mas Iqbal gak pernah kembali. Gak pernah, Mas." Hazel menelan salivanya, ada luka yang masih tidak tersembuhkan.


Berlubang dan tetap akan begitu selamanya. Karena sebuah ingatan menyakitkan, akan abadi dengan sendirinya. Bukan karena lukanya, namun, karena sakitnya. Dia istimewa, karena itu, dia akan terpatri di sudut hati yang terdalam.


Hazel melirik ke arah Ardan, menahan getaran dari bibirnya, kelu untuk bersuara.


"Meninggalkanmu selamanya? Aku baru saja bahagia, tidak bisakah kamu membiarkanku bahagia, Mas? Tidak bisa?" tanya Hazel sengit.


Ardan menghela napas, ia berusaha menarik kepala wanita itu. Belum sempat tersentuh, Hazel menghempaskan tangan suaminya.


"Aku takut, takut anak di dalam kandunganku akan menjadi seperti Surya selama ini. Tak mengenal wajah ayahnya sendiri. Aku takut!"


"Ssstttt ...." Ardan menarik badan mungil itu dan membenamkannya di dalam dada.


"Maaf, Hazel. Aku hanya bercanda, maaf, ya."


"Kamu seharusnya tahu, Mas. Mana yang bukan bercandaan dan mana yang mainan. Kamu yang bilang jangan ucapkan hal yang buruk, kamu yang bilang, Mas."


"Aku tahu, maafkan aku." Ardan semakin mengeratkan pelukannya.


Ia lupa, bahwa yang ia nikahi adalah wanita dengan seribu luka. Terlihat baik-baik saja. Namun, tidak seperti itu sepenuhnya, banyak yang masih harus ia samarkan hanya sekadar untuk menyembuhkan.


Banyak hal-hal yang masih menjadi trauma dalam. Salah satunya adalah kehilangan.


Seperti apa bertahan, seperti apa berusaha memudarkan. Bahkan memikirkannya saja masih sangat mengerihkan.


Karena kehilangan itu tak pernah mudah, dan tak akan ada yang baik-baik saja, ketika seseorang pergi dengan mematahkan sebuah hati.


"Aku mohon jangan pergi! Jangan tinggalin aku, Mas. Bukan tak mengizinkanmu, bisakah kamu tunda? Sehari saja, aku mohon, Mas. Hatiku cemas, aku tak bisa melepaskan."


Ardan hanya menghela napas berat. Mengusap pundak istrinya dengan lembut.


"Tak ada yang ingin melepaskanmu, Hazel. Aku hanya ingin kembali ke ibukota. Tiga hari atau seminggu paling lama. Sekalian mau tukar mobil juga," bujuk Ardan lembut.


Di dalam dada itu kepala Hazel menggeleng, semakin mengencangkan pelukannya.


"Gak mau! Gak boleh!"


"Hazel, ayolah. Aku tidak bisa membawamu karena kandunganmu terus kontraksi dan kram. Hanya beberapa hari saja, aku akan selalu menelponmu, aku janji."


"Enggak, Mas. Enggak boleh, tolonglah, Mas." Hazel kekeuh pada keinginannya, sementara Ardan mulai kesal karena tidak memiliki kebebasan.


"Aku yang minta tolong, Hazel. Kumohon tolonglah mengerti, agar perusahaan ini cepat selamat dari pengakuisisian dan biar semua berjalan sesuai keinginanku lagi. Aku capek, aku lelah, Hazel. Kepalaku mau pecah, kamu tahu itu?"


"Mas, aku gak mau. Kamu harus tetap di sini. Harus!"


Ardan menghela napas, menarik badan Hazel dan menekan kedua ujung bahu kuat.


"Dengar Hazel, jangan rewel begini. Aku tahu kamu trauma, tapi aku bukan mau perang. Aku mau nyelesain masalah di keluargaku. Pahamilah! Aku lelah terus berperang dengan pikiran!"


"Tanpa berperang kamu pun bisa meninggalkanku, Mas."


"Siapa yang mau mati?" tanya Ardan kesal. "Aku mau pergi sebentar, setelah itu kembali. Kamu terlalu parno, Hazel!" bentak Ardan ketus.


Hazel tercekat, air dari matanya luruh begitu saja saat mendengar bentakan Ardan.


Hening, hanya tatapan mata yang saling bertautan. Terdiam, mencoba meredam amarah yang terus meluap di dalam diri. Embun dari mata madu itu terus luruh, bibir wanita itu kelu. Tak lagi bersuara sampai pandangannya terpaling.


Bulir itu kembali luruh saat kelopak matanya terpejam, cepat punggung tangan putih itu menyambutnya. Mengusap pipi yang basah.


Tanpa mengucapkan kalimat apa pun lagi, ia berjalan meninggalkan Ardan sendiri. Keluar dari kamar itu dan menghilang di balik pintu.


Ardan mendesah panjang, mengacak rambut dengan kasar. Kadang, wanita akan sangat merepotkan saat cintanya mulai menunjukkan sikap yang melarang kebebasan seorang pria.


Kadang tak dapat membedakan, kapan harus bermanja dan kapan harus mandiri.