For My Family

For My Family
269



Setelah mengantarkan berkas yang diminta Ferdi ke ekspedisi, gadis belia itu menekan sederet angka. Tersenyum manis seraya berjalan menyusuri trotoar.


Tidak seperti biasa, panggilan itu tidak terangkat setelah dua kali panggilan. Seketika bibir mungil itu memanyun, dia ulangi panggilan sekali lagi dengan memeluk buku pelajaran di dadanya.


"Halo," sahutan dari seberang sana membuat buku yang ada di dekapan terlepas.


"Maaf, tapi Ferdi sedang berada di toilet. Aku pikir kamu ingin berbicara penting sampai menelpon tiga kali? Ada pesan?"


Sasy berjongkok, dia raih buku yang sempat jatuh dan meneguk saliva yang memahit.


"Hm, tidak ada. Nanti aku akan kirim pesan pada Kak Ferdi saja."


"Baiklah," jawab Nola tanpa beban di seberang sini.


Sementara yang di sini telah menahan remuk, hatinya gusar. Pertanyaan demi pertanyaan buruk terus berdatangan. Bagaimana dia bisa tenang saat hubungan mereka sudah sedekat itu? Bahkan seperti tanpa privasi karena gadis itu bebas mengangkat telepon sembarangn.


Gadis itu usap air yang sempat melintasi pipi, berjalan menuju kampus walau pikirannya mulai berkecamuk.


Ada tunas yang mulai layu, bukan karena kurangnya siraman dari tuan yang menanam. Melainkan terlalu banyak mendapatkan sinar yang tak diperlukan. Salah satunya, kedatangan tamu yang tak diundang di dalam sebuah hubungan.


Nola menaikan bahunya saat panggilan itu terputus, menunggu Ferdi yang masih berada di toilet.


Saat pemuda itu kembali, gadis itu menyerahkan ponselnya kembali.


"Lain kali bawalah ponselmu ke mana pun kau ingin pergi."


Ferdi meraih ponselnya tanpa peduli pada ucapan Nola.


"Aku tak ingin dicap perebut pacar orang oleh Your Sassy Girl."


Mendengar ucapan Nola, Ferdi langsung mengecek panggilan masuk di ponselnya. Pemuda itu hela napas saat melihat name May Sassy Girl dalam kontaknya menerima jawaban.


"Lain kali hormati privasi orang lain. Takkan ada salah paham jika kamu tak berusaha masuk ke dalamnya."


"Hei, ayolah! Aku cuma risih saat mendengar ponselmu berdering. Lagian aku juga sudah memutuskan akan fokus pada desainku."


Gadis itu kembali membalik lembaran-lembaran desainnya. Menyerahkan beberapa jenis desain ke tangan Ferdi.


"Aku sudah menulis catatan di gambar itu akan dikirim ke mana saja. Aku juga sudah menentukan sesuai tema. Kau lihat saja."


Tak banyak berdebat, iris dibalik lensa itu memeriksa beberapa desain yang Nola buat.


Bukan dari pakar desain, dia juga tak terlalu paham dengan dunia ini. Namun, bakat Nola memang menakjubkan.


"Terima kasih." Ferdi bereskan desain-desain itu dan menyatukannya dalam satu map.


"Mengapa kau yang berterima kasih?"


"Karena kau telah profesional. Tak mencampuri urusan pekerjaan dan perasaan."


Nola tersenyum dan menggeleng pelan.


"Bagaimana juga memiliki brand sendiri adalah impianku. Mana mungkin aku melewatkan ini hanya karena perasaan yang mengganggu. Padahal jika bisa, aku ingin menghajarmu sampai patah-patah. Biar kau paham bagaimana sakitnya penolakan tanpa melihat ke arahku sedikit saja."


"Maaf untuk itu."


Nola pandangi wajah yang ada di depannya lamat. Seulas senyum terukir indah dari bibir tipisnya.


"Kau tau Ferdi? Dari dulu wajahmu memang terlihat tenang dan lembut. Tapi aku selalu melihat ada kekejaman yang tersimpan di balik senyummu."


Gadis itu palingkan wajahnya, menatap keramaian di pesisir pantai.


"Dan setelah bertahun-tahun akhirnya kita bertemu lagi. Senyumanmu mulai melembut, dan aku pikir ada alasan mengapa kamu jadi lebih lunak. Sayangnya, alasan dibalik perubahannya masih bukan aku."


Ferdi diam, dia hanya perhatikan apa yang Nola bicarakan.


Gadis itu merenggangkan otot-otot badannya.


"Kompetisi akhirnya di Jepang, kan? Bagaimana jika aku pergi ke sana duluan?"


"Hei, Nola. Jangan main-main."


"Aku butuh inspirasi untuk menyiapkan semuanya. Dan aku ... butuh jeda untuk membenahi hati yang patah."


Gadis itu bangkit dari kursinya, menikmati semilir angin yang menerpa dirinya.


"Aku sudah berusaha keras sampai detik ini. Jangan paksa aku untuk terus kuat, Ferdi."


Gadis itu menoleh dan tersenyum, tak seperti biasa. Kini senyumnya terlihat polos beserta luka dari sorot matanya.


"Aku juga hanya seorang gadis yang bisa patah hati karena cinta."


***


Sedari sore, dua orang sahabat itu terus fokus dalam pekerjaannya. Selain mengurus kompetisi Nola. Mereka berdua masih terikat segudang pekerjaan yang dilaporlan via online.


Ardan jatuhkan kepala di atas sandaran. Memejamkan matanya yang sangat lelah saat dipaksa fokus pada semua pekerjaannya.


"Aku lelah sekali. Ingin pulang dan mencium anak istriku biar tenagaku pulih kembali."


"Tinggal cari penerbangan dan pulang. Bukan hal yang sulit untuk dilakukan oleh anggota Erlangga," sahut Ferdi yang masih fokus pada pekerjaannya.


"Gampang sekali kau mengatakannya. Seakan-akan tiket pesawat kumenangkan dari undian saja."


"Berapalah harga tiket pesawat dibandingkan uangmu?"


Ardan tutup laptopnya dan memijat pangkal hidungnya. Membenarkan letak posisi duduk agar lebih nyaman.


"Walau terbilang masih ada, tapi mulai sekarang aku harus merencanakan pengeluaran lebih baik lagi, kan."


Mendengar itu tatapan Ferdi berpaling, demi apa seorang Ardan memikirkan uang yang akan dia keluarkan? Biasanya juga main keluarkan seenak yang dia suka.


Ardan tersenyum lembut, dia menggeleng pelan.


"Kau mungkin belum merasakannya, Fer. Saat kau memiliki keluarga dan orang-orang yang ingin kau buat bahagia. Maka tak peduli sesusah apa kau pasti akan mengusahakannya."


Ardan buka kembali laptopnya, melihat tampilan desktop. Foto keluarga kecil mereka yang menghiasi layar depan itu. Hatinya merindu, namun masih tertahan karena ada kerjaan yang harus dia selesaikan.


"Aku tidak tahu sampai kapan pengobatan Surya akan berjalan. Mungkin seumur hidupnya, dan aku harus mem-prepare itu semua dari sekarang. Biar suatu saat, apa yang seharusnya kupenuhi pada Surya, akan selalu bisa."


"Surya bukan anakmu, Dan. Aku tak menyangka kamu akan berusaha sekeras itu buatnya."


Ardan palingkan pandangannya ke arah Ferdi.


"Dia anakku, Fer. Terlepas dia darahku atau bukan. Selamanya dia akan tetap menjadi anakku. Tak peduli pada apa pun, aku akan selalu mengatakan bahwa dia anakku. Mungkin dia bukan bagian dari darahku, tapi dia bagian dari jantung dan nadiku. Karena detakan jantungnya lah, sampai saat ini jantung Hazel masih berdetak. Aku tak bisa kehilangan mereka berdua, mereka adalah bagian terpenting dari jiwaku. Bukan hanya separuh, mereka berdua seluruh napasku."


Ferdi terdiam, terkadang cinta memang bisa membuat logika lumpuh akan kenyataan yang ada.


Mendengar curahan Ardan dia juga rindu pada bagian dari jiwanya yang tertinggal di sana. Lelaki berkacamata itu tarik ponselnya, lantas mengambil jarak untuk menelpon Sasy.


Tak seperti biasa, kali ini gadis itu sangat lama mengangkatnya. Setelah panggilan ketiga tak terangkat. Ferdi menulis pesan singkat. Baru akan mengirim saat ponselnya kembali berdering.


"Maaf, Kak. Aku habis dari kamar mandi tadi," kata Sasy sesaat setelah mengangkat panggilannya.


"Yakin dari kamar mandi? Bukan karena marah padaku."


Gadis itu berdiam, hatinya semakin panas saat Ferdi menanyakan hal itu.


"Sebenarnya ada hubungan apa Kakak sama dia?"


"Sebatas teman kerja."


"Jadi kenapa dia sampai berani mengangkat telepon Kakak? Bahkan aku saja yang calon istri Kakak tak seberani itu."


"Entahlah, apa kamu ingin aku tanyakan padanya?"


"Kak Ferdi!" bentak Sasy tak suka.


Ferdi terdiam, untuk pertama kalinya gadis itu berani berbicara dengan nada tinggi padanya. Itu, malah membuat sudut bibir Ferdi melengkung.


"Kenapa sampai semarah ini?"


Sasy diam, dia gigit bibir bawah agar isakan yang dia tahan tak terdengar.


"Sasy?"


Belia itu masih tak menjawab, malah menangkupkan tangan di depan bibirnya.


"Sasy jawab aku!"


"Sasy," desak Ferdi.


"Aku tak suka saat posisiku tergantikan di sana!" jawab Sasy parau.


"Takkan ada yang menggantikanmu. Takkan pernah ada."


"Lalu, mengapa dia bersikap seperti itu? Aku benci saat harus mendengar suara wanita dari nomormu, Kak."


Gadis belia itu terisak-isak, akhirnya dia menangis setelah menahannya mati-matian.


Ferdi biarkan Sasy menangis sendiri. Batinnya geram, dia benci saat harus berada jauh dari belia itu di saat begini. Di saat bulirnya jatuh dan kini dia menjadi alasannya.


Setelah berjeda panjang, Sasy mulai tenang. Tak terdengar lagi isakannya. Perbedaan usia yang jauh membuat Ferdi lebih dewasa menghadapi segala kelabilan tingkah pasangannya.


"Sayang," panggil Ferdi selembut mungkin.


"Hem," jawab Sasy sekenanya, padahal kini dia tengah menahan senyum karena panggilan itu.


"Dengar, aku minta maaf atas keteledoranku yang meninggalkan ponsel sembarangan. Tapi aku tidak akan meminta maaf atas sikap yang dia lakukan."


"Hem."


"Aku tak bisa mengatur sikap dia, karena itu adalah hak dia. Tapi aku bisa mengatur sikapku dan aku tak mendekati dia lebih dari sebatas teman."


Sasy hanya diam, kadang tak adilnya perasaan. Dia bisa memaafkan hanya atas sebuah penjelasan yang kadang masih diragukan kejujurannya.


"Kamu percaya padaku, kan?"


Sasy menarik napas, apalagi yang bisa dia lakukan jika bukan menaruh kepercayaan.


"Aku akan ke Singapura, Sasy. Mungkin akan ke beberapa negara yang lainnya karena mengikuti kompetisi-kompetisi klien kami. Pun juga ingin menghapus jejak agar pergerakan kami tak terlihat. Kedepannya, biar aku yang akan menghubungimu duluan, akan kusesuaikan perbedaan waktunya."


"Beberapa lama Kakak akan pergi?"


"Doakan saja. Paling cepat aku akan kembali dalam waktu empat bulan."


Gadis itu diam, kenapa makin jauh saja jarak yang memisahkan mereka kedepannya? Memikirkannya saja sudah sangat menakutkan, bagaimana jika akhirnya setelah empat bulan Ferdi takkan kembali?


"Kak, jangan tersesat."


"Hm?"


"Jangan tersesat di tempat yang aku tak mampu membawamu kembali."


Ferdi tersenyum. "Kalau begitu jangan pernah berpaling."


"Apa?"


"Karena aku takkan pernah tersesat jika arahku pulang itu kamu."