For My Family

For My Family
63



Ardan menggenggam gelas wine yang ada di tangannya. Sesaat setelah pemakaman Arsy, bukannya mengirim doa. Ia malah memilih untuk mendatangi kelab.


Mendengarkan suasana ricuh musik ditemani beberapa botol wine. Dua wanita datang, bermanja dan memeluk badan tegapnya itu.


Beberapa kali Ardan terkekeh, ia melemparkan gelas itu ke lantai. Suara pecahan membuat dua gadis di sisinya terkejut, memperhatikan wajah Ardan yang memadam parah.


"Ada apa, Ardan?" tanya gadis dengan drees merah di sisinya.


"Jangan ganggu aku. Pergi!" usirnya ketus.


Melihat wajah Ardan yang semakin memerah, dua gadis itu pergi meninggalkan Ardan sendiri.


Lelaki itu memejamkan kedua belah matanya, mengusap wajah dengan kasar. Menjatuhkan kepala ke atas sandaran sofa.


Menyesali kebodohannya yang membiarkan Arsy berhubungan dengan lekaki itu. Menyayangkan rengekan Arsy yang selama ini tidak ia hiraukan.


Saat ini Arsy sudah pergi, meninggalkan kekosongan pada rumah besar itu. Menciptakan luka di setiap dada yang menyayanginya.


Kebodohannya sebagai kakak yang tidak mampu melindungi adiknya. Keacuhan yang sama sekali tidak mau mendengar rintihannya.


Ardan meluruhkan segala laranya, menutupi wajah menggunakan kedua tangan. Perlahan isak tangis yang kian mengencang menjadi hiburan.


Di tengah riuh suara musik, ada hati yang sedang berduka. Di antara tawaan yang menggema, ada tangisan yang kian pilu menusuk kalbu.


"Ardan, kenapa kamu di sini? Seisi rumah mencari kamu."


Tak mendengar ucapan wanita itu, Ardan hanya terdiam, sesekali bibirnya melebar. Terkekeh seperti orang yang kehilangan akal.


"Salahku, Arsy membenciku," lirih Ardan pahit.


"Ardan, sadarlah!" Wanita itu menarik tangan Ardan, membedirikan badan tegap yang tidak lagi bertenaga itu.


"Ardan, lihat aku!" Wanita menangkupkan kedua tangannya di pipi Ardan. Mencoba menautkan binar matanya ke mata Ardan.


"Aku tahu Arsy adik kamu, tetapi jika dia melihat kamu seperti ini. Apa dia akan senang. Sadarlah, Ardan." Ardan menghempaskan tangan wanita itu dan kembali duduk.


Mengambil botol winenya dan meneguk langsung tanpa gelas.


Ferla mencoba meraih botol itu, lebih cepat Ardan mengelakannya. Menenggak dengan cepat sampai menumpahi kemeja putih yang ia kenakan.


"Ardan, dengarkan aku!"


"Diam! Diam, Ferla. Kumohon tinggalkan aku di sini."


Ardan menarik botol anggur yang berjajar di atas meja. Berusaha membuang wajah Arsy dari dalam ingatannya.


Namun, semakin ia mabuk, semakin jelas pula gambaran wajah imut gadis itu bermain di pelupuk matanya.


Tersenyum, berteriak, memaki dan memarahi. Hingga beberapa waktu lama, gadis itu berubah, menjadi lebih diam, lebih tenang dan sering menangis.


Ia menyadari itu, akan tetapi dia terlalu angkuh. Ia hanya menepis semua nuraninya yang mengasihani gadis itu. Ia acuh, ia biarkan gadis itu menanggungnya sendiri.


Selama ini, beberapa kali Arsy merengek, mengadu dan memohon padanya. Sebagai kakak, ia terlalu santai menghadapi masalah adiknya.


Ardan kembali terkekeh, namun air matanya tak pernah berhenti luruh. Menangisi kesesakan dadanya yang terasa kian parah saat ia mengingat bagaimana sikap acuhnya selama ini.


"Arsy membenciku, Ferla. Arsy membenciku." Ardan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Melepaskan lara yang terus memupuk gundah.


Gadis itu menyeka sudut mata, hancur saat melihat lelaki yang selama ini ia jaga dalam hati, terluka parah.


Beberapa saat, Ferla membiarkan Ardan terus masuk dalam kesedihannya. Mebiarkan lelaki itu menengguk anggur sebanyak yang ia mau.


Perlahan kesadarannya menghilang, matanya terpejam dengan napas yang ngos-ngosan. Ardan menjatuhkan kepalanya di atas sandaran sofa, sesekali air masih melintasi pipinya walaupun matanya terpejam.


Ferla melihat jam yang melingkari pergelangan tangan. Dini hari pagi, ia berniat untuk membopong tubuh tegap itu.


Ardan melawan, mereka berdua kembali terjatuh di atas sofa. Beberapa kali Ferla mengangkat tubuh Ardan, namun ia terlalu lemah melawan tenaga lelaki itu.


Kembali terjatuh, ia mengambil napas dalam. Melihat Ardan yang sedang meracau. Perlahan ia menangkupkan tangan di kedua pipi Ardan.


Memandangi wajah lelaki yang selalu berada di sudut hatinya itu. Parasnya, kepribadiannya, baik ataupun buruknya, ia mencintai lelaki ini sepenuh hati.


Perlahan gadis itu bangkit, mencium kening Ardan dengan lembut. Terasa sebuah tangan memeluk pinggang rampingnya. Ferla tersadar, perlahan bibirnya mengembang, ia kembali mencium Ardan.


Kali ini ia berani mengecup bibir tipis lelaki itu. Menikmatinya dengan tertidur di atas dada lelaki berbadan tegap itu.


***


Plaaaak


Matanya tajam memandangi gadis yang duduk di depannya itu. Menangis sesenggukan di dalam pelukan sang mama.


"Kamu! Apa yang kamu lakukan, Ardan? Ke mana letaknya akal sehatmu itu?" tanya Gerald garang.


Lelaki itu tidak menjawab, matanya memandang lekat. Perlahan bibirnya tersenyum sinis, dengan tatapan yang mampu menusuk ke hati gadis di depannya.


"Ferla hamil!" teriak Gerald di ujung ke sabarannya.


"Hamil?" Kini mata itu terpaling ke arah lelaki yang berdiri di hadapannya.


Gerald mengkacakan kedua tangan di pinggang. Melihat sikap Ardan yang begitu tenang saat menghadapi masalah, benar-benar membuat ia semakin meradang.


"Nikahi dia!"


"Tidak mungkin."


Plaaak


Satu tamparan kembali menghantam wajah tampan lelaki itu. Ardan terkekeh dengan jari yang menghapus sudut bibir.


Tersenyum sinis sembari memandangi tubuh Ferla yang terus bergetar memecahkan tangisan.


"Apa begini kamu diajarkan? Lari dari tanggung jawab dan kesalahan?" tanya Gerald semakin memadam.


"Kesalahan apa yang kubuat? Aku gak merasa punya salah sama dia."


"Dia sudah hamil! Hamil, Ardan!" teriak Gerald semakin geram.


"Lalu, di mana kesalahanku?"


Plaaak


Kembali tamparan itu terlayang ke pipi lelaki bermata tajam itu. Kali ini, ia kehabisan kesabaran. Pipinya sudah semakin memanas menahan tamparan lelaki yang ia panggil papa itu.


"Masih berani bertanya di mana kesalahanmu? Kenapa aku harus memiliki anak pecundang sepertimu?"


Ardan meremat kedua jemari tangannya, rahangnya menggeretak geram. Ia berdiri dan memandang ke arah Gerald, tajam.


"Cukup! Bukan aku yang menghamilinya."


Sontak gadis itu melihat wajah Ardan yang memerah padam. Sekilas mata mereka bertemu, Ferla menundukan kepalanya. Kembali memecahkan tangisannya.


"Cukup, Ardan! Jangan buat malu lagi, bertanggung jawablah karena kamu itu lelaki!"


"Tapi memang bukan aku yang menghamilinya! Bahkan mendekati gadis itu saja aku gak pernah. Bagaimana bisa kalian menuduh aku menghamilinya?"


"Jangan berbohong! Ferla sendiri yang mengakuinya."


"Lantas?" Ardan memandang tajam ke arah Ferla. "Apakah setiap gadis di dunia ini yang datang ke sini dan mengakui hamil anakku harus selalu aku yang bertanggung jawab? Ha?"


Bugh


Kini tumbukan mendarat di perut six pack lelaki itu. Gerlad memadam, dadanya naik-turun dengan cepat saat emosinya semakin meluap.


"Bagaimana bisa aku membesarkan seorang pecundang?"


"Kalau aku pecundang? Lalu yang menghamili Arsy disebut apa? Ha?"


"Ardan!" Kini teriakan itu keluar dari bibir Aulia.


Wanita yang mendekap Ferla sedari tadi itu bangkit, meluruhkan air mata sembari memandangi wajah anak sulungnya itu.


Tak lama Aulia menghapus jejak bulirnya, meninggalkan ruang tengah yang selalau terasa panas.


"Papa gak mau tahu, nikahi gadis itu atau kamu bukan lagi Erlangga."


"Tidak mungkin!"


Gerald kembali mengangkat tangannya, siap untuk menampar wajah lelaki muda itu.


"Cukup, Om. Jangan pukuli Ardan lagi. Malam itu kami sama-sama mabuk. Mungkin, Ardan tidak sadar melakukan itu padaku."


Ardan mengernyitkan dahinya, melirik sinis ke arah gadis berbalut drees kembang itu.


"Apa?"