
Pandangan Arfan tertunduk, mencoba mencerna ucapan Ardan. Lalu, ia mengempaskan cengkeraman Ardan pada bahunya.
Membalikkan badan seraya merutuk geram.
"Selama ini, kau hanya mengatakan bahwa kau mencintai dia. Tapi pernahkah? Kau menunjukkan rasa cinta itu?" tanya Ardan kembali.
"Jangan menuntut buah dari rasa cintanya. Jika kau tak mampu memupuk tunasnya. Hidupkan benih-benihnya, tumbuhkan dan rawat, Arfan. Setelah itu, kau boleh meminta hasilnya."
Lelaki berkulit putih tersebut mendesis, melirik Ardan tajam.
"Tau apa kau tentang rumah tanggaku? Ini kehidupanku yang kau tak tau sama sekali!" bentak Arfan.
Lelaki berkulit sawo matang itu tersenyum. Perlahan dia menghampiri Arfan dan merengkuh bahu kekarnya. Sang adik tak mau, ia mengempaskan rangkulan Ardan.
Satu tangan kekar itu kembali merangkul, sedikit memaksa. Ia membawa badan bidang adiknya untuk duduk di taman milik Erlangga.
Mengeluarkan sebatang rokok dan menyesapnya pelan. Membiarkan Arfan untuk meredakan amarah yang kian membakar terlebih dahulu.
Setelah beberapa lama, mereka berdua hanya terdiam. Tak ada yang memulai percakapan. Bahkan rokok yang disesap Ardan habis dengan sendirinya.
Arfan menyentil batangan putih itu. Lalu, tubuh tegapnya bangkit. Merenggangkan badan, baru akan mau melangkah. Terhenti kembali saat Ardan berkata.
"Duduklah, jika kau sudah tenang. Mari kita bicara."
Arfan hanya tertawa sinis.
"Aku tak punya waktu."
"Kumohon, Arfan. Mau sampai kapan?" tanya Ardan dan lelaki berwajah putih pucat itu terdiam.
"Apa yang dikatakan Arfi benar. Dunia sudah berbeda, masa kita tidak lagi sama. Aku, kau dan Arfi sudah memiliki istri masing-masing. Mau sampai kapan kita terus seperti ini? Anakmu, anakku dan anak Arfi nanti. Haruskah tidak saling mengenal siapa saudaranya? Haruskah jadi bagian asing, padahal darah mereka sama?"
Sepasang mata tajam milik Ardan memandangi punggung sang adik. Lelaki itu, memang sama kerasnya dengan dirinya. Dan meluluhkannya, pasti juga dengan hal yang sama.
"Yena adalah anakmu, Pelin dan Percy juga anakku. Arfan, jika salah satu kita lebih dulu tiada, anak-anak kita harus tau siapa walinya. Mau sampai kapan? Hubungan ini akan berimbas untuk masa depan. Saat ini, aku tidak berbicara sebagai Kakak ataupun kembaranmu. Tapi aku berbicara sebagai seorang ayah. Demi anakku, demi anakmu, demi keluarga kecil kita. Tidak bisakah kita memulai semuanya kembali ke semula?"
Arfan hanya terdiam, perlahan teguk salivanya terasa sangat berat.
"Apa masalahnya? Apa yang membuat hubungan kita sebeku ini? Jelaskan padaku, karena aku pun tidak tau di mana salahku padamu."
Arfan melirik sinis, menatapi wajah Ardan yang mulai membengkak karena bogeman tangannya.
Lelaki itu menarik napas, kembali menjatuhkan badan di sebelah Ardan. Hanya diam dengan tatapan kosong ke arah taman.
Bergeming, membiarkan suasana malam dengan keheningan yang menjadi penyejuk amarah di hati masing-masing.
Bahkan kali ini Arfan terdiam jauh lebih lama. Memikirkan, dan dia sendiri pun tidak paham kapan semua kehancuran ini bermula.
Padahal dulu mereka sangat dekat dan lekat. Lalu, terpecah dan sangat jauh. Bahkan lebih jauh dari apa pun itu. Tidak ada lagi rasa sayang, melainkan kebencian.
Ardan yang terus memerhatikan wajah Arfan mulai mengerti, bahkan kembarannya itu pun bingung dengan titik permasalahan yang ada. Terlebih saat melihat kepalan tangan Arfan yang masih mengerat. Lelaki beralis tebal itu tersenyum tipis. Menepuk sebelah bahu Arfan lembut.
"Jika semua ini berawal dari Ferla. Maka kau juga harus menambal lukanya dari orang yang sama."
Arfan menoleh, sang kakak tersenyum lembut dan mengangguk.
"Sebenarnya, aku tau. Dulu dia pernah menyukaiku. Karena dari itu, aku tidak pernah merespons apa pun. Bahkan aku menjaga jarak dengannya, mendekati para wanita seksi dan modis, agar Ferla paham. Bahwa tipeku bukan gadis tomboi sepertinya."
"Bajing*n kau!" rutuk Arfan geram.
Ardan menggeleng. "Bukan karena aku ingin menyakitinya. Tapi karena aku tau dari dulu yang ada di dalam pandanganmu hanyalah dia. Tak perlu kau cerita, aku tau. Dari dulu, yang kau cintai hanya dia."
"Lalu? Kau mempermainkan kami berdua? Begitu?"
"Halah ... bulsh*t!"
Ardan menarik napasnya, entah bagaimana menjelaskannya. Dia pun bingung. Yang pasti, rasa benci itu telah menguasai hati.
Lelaki berbadan kekar itu mengusap kepala, tersenyum getir dengan pandangan mengarah ke taman.
Tarikan napasnya terasa sangat berat. Terlebih, saat mengingat bagaimana hancurnya mereka berdua.
"Arfan, taukah kamu?" tanya Ardan pahit.
"Kehilanganmu bahkan lebih sakit dari kehilangan cintaku. Kepergianmu bahkan lebih pedih dari pada harus meninggalkan kekasihku. Aku selalu merindukanmu, merindukan adikku, sebagian dari diriku. Kau selalu ada di dekatku, di hadapanku, kau ada di dalam pandanganku. Tapi aku tak pernah bisa meraihmu, memelukmu atau memarahimu. Kau adalah sesuatu yang sangat jauh dariku. Aku terluka saat harus memukulimu. Aku yang kecewa saat harus berperang denganmu. Arfi benar, tidak ada yang menang ataupun kalah. Karena siapapun yang terluka, kita hanyalah menghancurkan diri sendiri. Karena bagianku adalah kau, dan bagian kau adalah aku."
"Arfan, aku hancur. Aku kehilangan saudaraku dan aku tidak tau bagaiamana cara mengembalikannya. Aku merindukan dia, dia yang memilih pergi karena suatu masalah. Kau tau, saat ragamu yang pergi, aku masih bisa menyeretmu untuk kembali, memarahimu atau menahanmu, lalu, hubungan kita masih akan sama hangatnya seperti dulu. Tapi ... saat kehangatanmu yang pergi, entah bagaimana caranya memintamu untuk pulang."
Satu air lolos dari mata tajam itu, ia memalingkan wajah. Sudah cukup lelah, entah bagaimana cara meminta Arfan untuk mau menyerah. Berdamai dengan keadaan yang saat ini.
Punggung tangan kekarnya menyeka wajah. Perlahan luka hatinya kembali terbuka. Jika menjadi lemah bisa membuat Arfan menyerah, maka dia akan melakukannya.
"Arfan," panggil Ardan getir.
"Aku merindukan adik-adikku. Entah bagaimana mengatakannya? Jika kau geli mendengarnya, maka tertawalah. Ejek dan hina saja, tapi bisakah? Setelah itu kau ke sini. Basuh luka itu, luka yang kau ciptakan di antara kita. Hanya karena asmara."
Arfan hanya diam, lalu pandangan itu tertunduk. Dengan kedua tangan yang ia remat kuat.
"Aku akan memaafkanmu. Asalkan Ferla mau melepaskanmu. Aku cemburu Ardan, kenapa setelah delapan tahun, hatinya masih terisi olehmu saja? Dan terus namamu."
Ardan menggeleng, ia menepuk bahu Arfan lembut.
"Tapi aku tidak lagi melihat cinta ada di mata Ferla. Dia sadar akan posisinya dan kurasa dia telah melepaskan harapan itu, Arfan."
Arfan tertawa getir dan menggeleng. Kembali menatap Ardan nyalang.
"Kau tau apa? Kami yang menjalaninya dan dia selalu terpaku akan dirimu."
"Dia? Atau kau?"
"Maksudnya?" tanya Arfan kesal.
"Aku rasa bukan Ferla, tapi kau. Kau yang terus terpaku padaku sampai kau lupa kewajibanmu."
"Bajing*n ini!" sungut Arfan semakin geram.
"Pernikahan, bukan hanya tentang menuntut cintanya. Tapi tuntut juga cintamu, kau memang mencintainya, tapi pernahkah kau menunjukkan rasa cinta itu? Kutanya padamu, selama delapan tahun ini. Berapa banyak kalian kencan berdua?"
Arfan terdiam, pandangannya tertunduk dalam.
"Pernikahan butuh kehangatan, Arfan. Dan itu tidak bisa kau harapkan dari pasangan. Kau yang harus menciptakannya sendiri. Bahagia itu sederhana, cukup senangi hatinya, maka jika kau cinta padanya. Kau akan bahagia hanya dengan melihat tawanya."
"Aku ... aku ...."
"Tak pernah, bukan?" putus Ardan langsung.
"Kau salah. Ferla tidak lagi terpaku padaku. Saat ini dia terpaku pada keluarga kalian, anak-anak kalian. Sayangnya, kau tidak melihat itu. Kau fokus pada rasa bencimu, ambisi untuk menghancurkanku. Sampai kau lupa bahwa ada keluarga yang lebih butuh perhatianmu."
Satu jari Ardan mengetuk sudut kiri dada Arfan. "Perlakukan mereka dengan ini."
Lalu satu jari kekar itu berpindah ke sudut pelipis. "Bukan dengan ini."
Lelaki berkulit putih itu tak menjawab. Hanya diam dengan pandangan tertunduk ke bawah.
"Ferla butuh hatimu. Anak-anakmu butuh kasih sayangmu. Keluargamu tidak kekurangan apa pun. Keluarga kalian sempurna, tapi kau tak melihatnya. Karena hatimu fokus pada apa yang aku punya. Tetapi luput pada apa yang kau punya. Sampai kapan? Mau terus membandingkan?"