
Seketika kepala Hazel menoleh. Lelaki yang mengatakan itu sudah tidak lagi berada di sana. Bibir mungilnya mengembang. Mendengar ucapan Gerald, mungkinkah lelaki itu telah mengakui kehadirannya?
Hazel berjalan memasuki kamar Surya, mengangkat tubuh bocah itu yang terus rewel.
"Kenapa Surya nangis terus, Nak? Bunda gak tenang dengar kamu rewel, Sayang." Kedua tangan kurus itu mengangkat tubuh sang putra.
Bocah berumur lima tahun itu langsung menjatuhkan kepala di bahu sang Bunda. Memeluk erat, seperti tidak ingin berpisah.
"Surya, kok, nangis terus, ya, Hazel? Mbok khawatir," ucap wanita gempal itu mengelus kepala belakang Surya.
"Mungkin Surya rindu rumah kita, Mbok. Rindu sama dokternya, ya, Nak?" Hazel menaikan badan Surya, semenjak dia menikah lagi, bobot bocah itu naik dengan pesat.
"Tapi dulu saat kita pindah rumah, Surya gak serewel ini, kan? Si Mbok rasa, Surya tidak nyaman karena dia bagian asing di sini."
Hazel terdiam, memang benar Gerald mulai mau mengakui dirinya. Lalu, bagaimana dengan putranya?
Setelah selama ini, bahkan lelaki tua itu tidak pernah menanyakan Surya. Jangankan bertanya, bahkan sekadar melihat saja dia enggan.
Hazel menarik napas, membawa tubuh sang putra keluar dari rumah besar itu. Mengajak bermain di taman depan, lamat sepasang iris bermata madu itu menatapi putranya yang sesekali tertawa ke arahnya. Lantas, kembali sibuk pada bola yang sedang ia mainkan.
Terkadang perasaan sakit menguasai hati. Melihat keadaan putranya yang kerap kali dipandang sebelah mata. Entah oleh dunia ataupun penghuninya.
Sering kali logika bertanya, apa salahnya dia dilahirkan seperti itu? Jika kelahiran adalah pilihan, mungkin setiap nyawa yang baru keluar menginginkan kesempurnaan.
Hazel menarik napasnya, sesak, lalu sebuah air menetes begitu saja. Bagaimana juga, Surya tetaplah anaknya, ada perasaan tidak rela saat melihat dia mendapatkan perlakuan yang berbeda.
Gadis itu cepat-cepat menghapus sudut mata saat melihat Gerald berjalan ke arah dia. Menggendong Yena yang tampak seperti biasa, mengemut jari-jari tangannya seraya mengoceh.
Hazel tersenyum ketika tubuh tua itu berdiri di depannya.
"Anakmu terbangun, apakah dia mau diberikan asi dulu?" tanya Gerald dan Hazel menggeleng.
"Jika dia tidak rewel, maka biarkan saja dulu."
Gerald memerhatikan wajah gadis itu, air wajahnya terlihat berbeda. Lebih sendu dari sebelumnya.
Gerald menarik napas, ia duduk di ujung kursi panjang yang sama dengan Hazel. Matanya mengikuti pandangan Hazel. Menatap ke Surya.
Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam. Membiarkan keheningan mendominasi suasana.
Sampai bola yang Surya mainkan menggelinding ke arah sang Bunda. Bocah itu menjerit seraya berlari ke arah wanita yang telah melahirkannya.
Larinya semakin kencang saat melihat tangan sang Bunda terbentang menunggunya. Kekehan yang keluar dari bibir putranya membuat Hazel geram.
Ia mengangkat tubuh itu lalu menciuminya, gemas.
Sementara Gerald hanya memandangi menggunakan ujung mata. Ia lupa, jika Hazel adalah janda dengan satu anak.
Kekehan itu semakin membesar, kedua tangan kecilnya tertangkup di pipi Bundanya. Mencium pipi wanita itu, seperti yang diperintahkan oleh Bundanya.
Detik selanjutnya bocah itu menoleh, melihat Yena yang ada dipangkuan Gerald.
"Nena," katanya melihat ke arah sang Bunda.
"Iya, Yena."
Sepasang mata jernih itu menatapi Gerald. Dia asing oleh wajah lelaki itu, tubuhnya beringsut, memeluk bundanya seraya menyembunyikan wajah.
"Dia takut melihat saya?" tanya Gerald dan Hazel hanya menggeleng.
"Hal biasa jika anak kecil takut pada orang yang belum pernah diliat sebelumnya."
"Apakah dia juga setakut itu saat didekati Ardan dulu?"
Pertanyaan itu membuat bibir Hazel bungkam. Sejauh yang dia ingat, Surya tidak pernah takut pada papa sambungnya, bahkan dia bisa sangat dekat dengan Arfi. Karena paras Arfi yang memang mirip dengan suaminya.
Gerald tertawa, ia menggeleng pelan.
"Kamu pernah dengar kalau firasat seorang anak kecil itu tidak pernah salah. Mungkin dia takut sama saya, karena dia memang bukan bagian dari darah saya."
Perkataan itu membuat sepasang iris madu milik Hazel mengembun. Walau apa yang dikatakan Gerald tidak salah. Namun, tetap ada irisan yang menghunjam hatinya.
Hazel menarik napas berat, mencoba menahan bulir yang ingin tumpah. Gadis itu mengangkat tubuh sang putra.
"Permisi, Pak. Saya masuk dulu, ingin menyiapkan makan siang."
Sedikit kesusahan, gadis itu mengambil beberapa mainan Surya yang masih tergeletak di atas rerumputan. Memasuki rumah Gerald dengan buliran yang terus jatuh.
Sakit, saat Surya harus terasingi untuk kesekian kalinya.
...***...
Mata hitam pekat itu melebar sempurna. Melihat tampilan meja makan malam mereka yang ditata dengan suasana romantis.
Pencahayaan yang sedikit redup, aroma dari lilin aromaterapi bercampur dengan mawar dan musik yang dimainkan dengan alunan sendu.
Bibir berlapiskan lipstik merah itu mengembang. Melihat ke arah Arfan yang ada di belakangnya. Pria itu tersenyum, satu tangan merengkuh pinggang Ferla.
Suasana sepi di lantai tiga kafe itu membuat ruang semakin lengang.
"Apa kamu membooking satu lantai hanya untuk makan malam?" tanya Ferla dan Arfan hanya tersenyum manis.
"Menurutmu?" tanya lelaki itu mendekatkan wajahnya perlahan. Ferla menoleh, lantas melepaskan rengkuhan tangan suaminya.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan, Fan? Kamu bawa aku makan malam di luar saja, rasanya sudah istimewa."
"Istimewa saja tidak cukup, Ferla. Aku ingin kamu melihat, bahwa selama ini di dalam hatiku dirimu itu sempurna."
Wanita dewasa itu hanya tersenyum, menggelengkan kepala geli. Arfan bukan seorang lelaki yang gombal. Perkataan itu sangat kaku untuk didengar.
"Arfan, kamu benar-benar buang uang," kata Ferla seraya mengambil uluran buket bunga mawar yang Arfan berikan.
"Apa ini sepadan dengan waktu yang telah aku sia-siakan?" tanya Arfan dan perlahan senyum Ferla memudar.
Sepasang mata itu menatap kelopak mawar yang ada di genggaman. Detik kemudian menatapi hidangan pembuka yang tersusun secara sempurna.
Mata itu beralih menatap Arfan yang ada di depannya. Tersenyum manis dengan badan yang sedikit condong ke depan.
"Ayo, di makan!" Satu tangan Arfan menyodorkan pisau kue. Wanita itu tidak banyak berkomentar, hanya menerima lantas memotong cake yang ada di depannya, pisaunya tertahan sebuah benda.
Sedikit memaksa wanita itu terus mencoba, sebuah liontin kalung terlihat, bersamaan dengan cokelat lumer yang keluar dari dalam cake.
Wanita itu terdiam, matanya kembali menatap Arfan yang tampak senang. Lelaki itu mengambil kalungnya, membersihkan di dalam wadah yang sudah disiapkan, lantas ia bangkit.
Berjalan ke belakang kursi sang istri, mengaitkan kalung itu di leher jenjang Ferla. Sedangkan, wanita beranak tiga itu hanya diam. Terus terang dia bingung oleh sikap Arfan yang sangat berbeda.
Setelah selesai, lelaki itu berlutut di bawah kursi sang istri. Meraih tangan Ferla, lantas menciumnya.
"Kamu cantik memakai itu, Sayang."
Wanita dewasa itu menggeleng, satu tangan menangkup di sudut dahi.
"Arfan, tunggu dulu," kata Ferla bingung. Sepasang mata itu masih menatapi wajah sang suami.
"Aku benar-benar bingung. Ini bukan kamu, aku tidak mengenal sisimu yang seperti ini."
"Kalau begitu, ayo kita berkenalan lagi." Tubuh jangkung itu bangkit, satu tangannya terulur ke arah Ferla dan wanita itu masih bergeming.
"Hai, kenalin aku Arfan. Lelaki yang sudah mengagumi semenjak belasan tahun lalu."
Ferla hanya menatapi wajah Arfan. Berulang kali meyakinkan, benarkah ini suaminya?
Melihat Ferla yang hanya diam saja tanpa reaksi apa-apa. Lelaki berkulit putih itu menarik tangannya, memaksa untuk saling berjabat tangan.
"Tunggu dulu. Kamu tidak perlu memberitahukan siapa namamu. Karena aku tau siapa dirimu."
Wanita itu tersenyum, menggeleng kepala dan melepaskan jabatan tangan mereka.
"Ayolah, Arfan. Berhenti bermain-main seperti ini."
Gadis itu menggeser piring bekas kue, lantas membuka menu makanan. Sepasang tangan memeluknya dari belakang, Arfan meletakan kepalanya di sebelah kepala sang istri.
"Ferla, bukankah kamu mengatakan akan memberikan kesempatan untuk aku membuktikan cinta? Tapi kenapa kamu terus sedingin ini?"
Wanita itu menoleh, detik kemudian kembali membaca menu makanan.
"Aku memang secuek ini dari dulu, kan, Arfan. Bukannya kamu bilang mengenalku?"
"Tapi aku ingin kita memulai semuanya. Menghangatkan hubungan kita."
"Sudah kukatakan aku hanya ingin kamu lebih perhatian sama anak-anak. Itu saja sudah lebih dari cukup buatku. Gak perlu menjadi yang bukan dirimu, dan menghabiskan banyak uang seperti ini. Banyak yang masih dibutuhkan, Arfan. Tak perlu membuang uang untuk ...." Perkataan itu terhenti saat bibir Arfan menyentuh bingkai di wajahnya.
Lelaki itu menarik tubuh Ferla, merengkuh pinggang sang istri erat.
"Aku ingin memerhatikanmu lebih dulu, membahagiakanmu, dan menghabiskan banyak uang untuk menyenangkanmu. Aku juga tidak peduli jika harus dikatakan bodoh, menjadi orang lain atau apa pun itu. Terserah," kata Arfan sedikit putus asa.
"Aku tau kamu ibu yang sangat baik, Ferla. Tapi pernikahan kita bukan hanya perkara anak-anak saja."
Ferla menghela napasnya, kedua tangannya terkalung di bahu Arfan.
"Jadi kamu ingin yang bagaimana, Fan? Kamu ingin aku bersikap seperti apa?"
Arfan menggelengkan kepala. "Aku hanya ingin kamu mencintaiku, Ferla." Kedua tangan kekar itu menangkup di pipi sang istri.
"Karena cinta yang akan menuntunmu. Bagaimana sikapmu dan perlakuanmu. Aku tidak tau harus menjelaskan mau yang bagaimana dan seperti apa. Karena hanya segala sesuatu yang didasari oleh cinta setiap perlakuan terbaikmu, akan kamu lakukan dengan suka rela, bukan terpaksa."
Wanita itu menurunkan tangkupan tangan Arfan.
"Sebenarnya kamu kenapa, Fan? Apa kamu melakukan kesalahan?"
"Ya. Aku melakukan kesalahan."
"Kalau begitu jujur saja. Jangan membuat aku bingung seperti ini. Katakan kesalahan apa yang sudah kamu lakukan?"
"Banyak, banyak sekali dan selama bertahun-tahun ini aku tidak menyadarinya. Karena itu aku ingin membenahinya."
"Kalau begitu apa? katakan!"
"Tidak bisa kujelaskan semuanya. Namun, yang paling besar adalah." Lelaki itu kembali menangkupkan tangannya di pipi Ferla.
"Aku yang telah menyia-nyiakanmu selama ini."
Sepasang netra milik Ferla menatapi wajah Arfan lamat. Baru kali ini pias wajah lelaki itu menunjukkan penyesalan. Dan baru kali ini pula, perasaan yang ditunjukkan sang suami terlihat dengan ketulusan.
"Aku ingin membenahi kisah kita, percintaan kita, hubungan kita berdua. Tanpa ada kata anak-anak yang mengikat di antaranya."
Perlahan genangan kaca memburamkan pandangan sang wanita. Ada rasa bahagia, haru dan juga entah. Saat semua rasa yang selama ini mengabu, kini mulai menunjukkan warna.
"Bukan hanya ingin menunjukkan cinta saja, Ferla. Tetapi aku juga ingin hubungan yang sudah kita bangun, bisa terus baik-baik saja. Untuk itu, aku ingin membenahi segalanya. Dan itu dimulai dari kamu, sebelah sayapku."
Satu air mata lolos begitu saja, Ferla tersenyum lebar dengan cairan yang terus tumpah. Ia menarik tubuh Arfan untuk didekap dengan erat.
Gadis itu menumpahkan tangisan di bahu Arfan. Menarik napas seraya mengatakan.
"Terima kasih, Arfan. Terima kasih." Susah payah wanita itu menarik napasnya.
"Terima kasih, karena bersedia membanahinya di saat aku sudah putus asa dan hampir menyerah pada pernikahan kita."