
"Nona, jangan! Biar Bibi saja yang masak. Nona, kembali ke kamar saja, temeni Mas Ardan, ya," pinta Bi Dash saat melihat Hazel memotong sayuran di dapur.
Wanita itu hanya tersenyum, sesekali kepalanya menggeleng. Tangannya cekatan membalik ikan gurame yang sedang ia goreng.
"Biar aku saja, Bi. Aku mau buat makan siang untuk Mas Ardan, sekalian Mama dan juga keluarga ini."
"Tapi, Nona--"
"Yang kamu sebut Mama itu siapa?" Suara berat lelaki paruh baya itu memutuskan ucapan pembantu rumah gedongan tersebut.
Gerald turun dari tangga atas, berjalan ke arah bar dapur rumahnya.
"Mungkin, Aulia menganggapmu Arsy. Tapi kamu tetaplah bukan Nona rumah ini. Kamu hanya wanita asing yang berusaha masuk ke dalam keluarga kami." Gerald memandangi wanita dengan balutan dress bunga-bunga itu.
Hazel tertunduk, dengan spatula yang ia genggam erat. Perlahan, keringat membasahi wajah cantiknya.
"Jangan berlagak, seakan kamu adalah Arsy. Kamu tidak akan pernah menjadi Arsy. Tidak akan pernah menjadi Nona Erlangga," ucap Gerald ketus.
"Memang dia bukan Nona Erlangga. Sampai kapan pun dia bukan Nona Erlangga." Lelaki berkaus hitam itu turun dari atas, berjalan mendekati Gerald yang berdiri di depan bar dapur.
"Dia, Nyonya Erlangga. Satu-satunya Nyonya Ardan Erlangga. Saat ini, dan kedepannya nanti."
Kini mata kedua lelaki itu saling beradu, menatap dengan lekat. Sama-sama meredam diri dalam emosi. Perlahan tangan Gerald terkepal, dengan tatapan tajam yang semakin menusuk dalam.
"Dia, istriku. Diakui agama dan juga hukum negara. Dia, makmumku, di mata Tuhan dan di mata dunia. Dia pendampingku, saat di rumah ini atau di rumah lainnya. Dia, kekasihku dengan atau tanpa restu keluarga ini."
Gemelutuk gigi lelaki tua itu terdengar semakin nyaring. Wajahnya semakin memadan dengan tatapan yang semakin menajam.
Ingin sekali membuang anak sulungnya ini keluar. Namun, ia sangat sadar, saat ini Ardan adalah tiang kekuatan keluarga ini. Menyingkirkan Ardan sama saja menyingkirkan segalanya.
Tanpa Ardan perusahaannya akan hancur, tanpa anak sulungnya itu, akankah nama besar ini masih sanggup bertahan, bersaing dengan perusahaan luar.
Benda dingin menyentuh kulit lengan tangan Ardan yang tertumpu di atas bar. Lelaki itu memalingkan wajah, segelas air lemon tersedia di atas meja. Wanita itu tersenyum ketika suaminya menatap ke arahnya.
Ardan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Dasar." Ia tahu, wanita itu sedang berusaha menghentikan perangnya dengan Gerald.
Sementara, lelaki tua itu pergi. Meninggalkan Ardan dan istrinya di dapur.
Ardan menghela napas, menarik kursi di depan bar. Menenggak air sampai tandas setengah gelas.
"Mas."
"Hmm."
"Jangan terlalu kasar. Ingat batasan."
Ardan kembali tersenyum, ia memutar kursi, menumpuhkan kedua siku di atas bar. Memalingkan badan dari istrinya.
Wanita itu mendekat, menangkupkan kedua tangannya di pipi Ardan. Menatap netra bening itu dengan lekat.
"Ingat, Mas. Kamu masih anaknya. Jangan kelewat batas. Terlepas kesalahannya, dia tetap Papamu."
"Aku tahu, Hazel."
"Bukankah kamu yang mengatakan, tidak semua bisa diselesaikan dengan kekerasan dan otoriter. Lembutlah sedikit, Mas. Bukankah kamu percaya, segala yang diselesaikan dengan kelembutan akan berakhir dengan lebih baik?"
Ardan mengacak rambut hitamnya, ia melepaskan tangkupkan tangan Hazel. Menekan ujung bahu wanita itu sedikit kuat.
"Dengar Hazel! Tidak semuanya itu bisa dibalas dengan kelembutan. Kita harus melihat siapa lawan yang ada di depan. Jika dia bisa bekerjasama dan menyelesaikan dengan damai. Kita bisa membujuknya. Tapi, jika mereka memilih untuk berperang, maka kita harus menjadi lebih kuat untuk menakhlukannya."
"Mas, sampai kapan pun dia adalah Papamu. Tidak peduli kesalahan apa yang dia buat, sebagai anak kamu tidak harus meninggalkannya. Seharusnya kamu mengerti, Mas. Mungkin dia juga merasa bersalah, mungkin dia juga kecewa. Tetapi, dia tidak punya tempat untuk bercerita. Beliau kesepian, satu-satunya tempat ia bermanja sudah mulai kehilangan kesadaran. Tidak semua yang keras itu harus ditantang, Mas. Kamu harus tahu, kapan kekerasan itu ada untuk dilawan, dan kapan dia ada untuk mencari kawan."
Perlahan, tangan Ardan yang menekan bahu Hazel terlepas. Ia mendengarkan ucapan wanita itu.
"Mas, tidak ada yang baik-baik saja saat kita kehilangan orang tersayang. Hanya saja, cara kita untuk melampiaskannya berbeda-beda. Cara berpikirmu dan cara berpikir Papamu itu jauh berbeda. Perbedaan zaman dan didikan, membuat pikiran kalian untuk memecahkan masalah itu bertentangan. Tapi, tujuannya tetap sama. Hanya jalannya saja yang berbeda."
"Hazel, kamu tidak kenal Gerald itu orang yang seperti apa. Dia itu kejam dan suka memaksakan kehendaknya pada kami. Jika saja bukan karena keinginan dia yang ingin membesarkan perusahaan ini dengan cara singkat, maka Arsy tak akan pergi."
"Mas, jika Arsy tidak pergi dengan cara ini. Mungkin dia akan pergi dengan cara lain. Kamu, Papamu, atau siapa pun bisa menjadi penyebabnya, menurut manusia. Tapi tidak menurut Tuhan, Mas. Karena, dari awal nyawanya terbentuk, Arsy telah lebih dulu membuat perjanjian dengan cara apa dia akan kembali pulang."
Ardan melihat lekat ke arah wanita itu. Mungkin apa yang dikatakan memang benar, tetapi kenapa rasanya ia belum bisa tenang. Jika memang Arsy akan pergi walau tanpa kesalahan keluarga ini, mungkin tidak akan ada rasa penyesalan dan akhir bencana seperti ini.
Perjanjian Arsy dan Tuhan benar adanya, tetapi bencana ini juga nyata. Lalu, siapa yang bisa disalahkan lagi?
"Mas, kita gak ada yang tahu sampai kapan kita bisa menikmati ini semua. Kita gak tahu masa depan itu bagaimana. Bukan mau Pak Gerald Arsy jadi seperti ini. Sama sepertimu dan Mama, Pak Gerlad juga menyanyangi putri semata wayangnya itu."
"Dari mana kamu tahu?" tanya Ardan ketus.
"Dia marah saat Mama memanggilku Arsy. Bukan karena dia membenciku, melainkan dia yang tidak ingin kenangan tentang anaknya itu terganti oleh bayanganku, Mas. Mungkin Arsy sudah pergi, tapi bayangannya masih ada di sini. Ada hal yang bisa terganti, tetapi ada hal yang tidak ingin diganti. Ada hal yang tidak bisa terulang, tetapi kenangannya masih banyak yang tertinggal. Beliau hanya tidak ingin apa yang ada dirusak olehku, terganti dengan kenanganku. Mengertilah, Mas. Tidak semua yang kamu lihat buruk itu adalah kenyataannya, seperti kamu yang memiliki cara untuk melindungi, begitu juga dengan dia."
Ardan menelan salivanya yang terasa pahit. Kenapa? Apa yang diucapkan oleh wanita itu membuat perasaannya tersakiti. Ia merasa sudah sangat mengerti dengan keluarga ini. Namun nyatanya, ia sama sekali tidak mengerti apa pun. Malah orang yang asing, mampu melihat itu dengan sangat jelas.
"Hazel--"
"Mas, sakit."
"Hah? Apanya yang sakit?" tanya Ardan panik.
"Sakit, rasanya sangat menyakitkan. Ketika kenangan yang tertinggal pun masih harus terampas."
Hazel tersenyum lembut, perlahan netra itu mengembun. Melepaskan beban saat kelopak itu terpejam.
"Tidak ada apa pun, tidak ada siapa pun. Kenangan, atau orang-orang yang tersayang. Menghilang. Bahkan, dalam mimpi sekali pun, mereka hanya terlihat samar."
Ardan menghela napasnya, jarinya merapikan anak rambut istrinya yang sedikit berantakan.
"Kadang dunia ini sangat kejam, Mas. Hukumnya berjalan sangat menyakitkan."
"Maksudnya?"
"Apa yang bisa kamu lakukan, saat kamu ingin mengingat justru kamu melupakannya. Namun, apa yang ingin kamu lupakan, bahkan hal terkecilnya saja bisa kamu ingat dengan sangat jelas."
"Seperti itu, mungkin seperti itu perasaan orang-orang yang kehilangan, Mas. Termasuk, Papamu."
Hazel menghapus sudut dagunya, berjalan menjauh dari lelaki berkulit sawo matang itu.
Bukan niat ingin mencampurkan masalah. Terkadang, orang memilih jalan untuk dibenci saat ia ingin melindungi.
Caranya salah, jalannya salah. Ia sadar itu salah. Namun, tetap melakukannya sampai akhir.
Bukan, bukan untuk terjerumus dalam kesalahan. Akan tetapi, dia berpikir, saat orang bisa menyalahkan dirinya. Mungkin dia bisa melepaskan beban itu.
Beban penyesalan yang membawa dia terus masuk ke dalam kenangan. Sampai dia hanya bisa memafkan diri sendiri ketika ia semakin dibenci, dijauhi, kesepian dan menetap pada kesendirian.
Padahal, penyesalan itu hanya bisa lepas saat ia berani membebaskan diri. Membiarkan masa lalu pergi meninggalkan penderitaan. Karena luka, semakin dipendam akan terus semakin dalam.
Bukalah, biarkan ia terasa perih dan sangat menyakitkan. Jangan dipendam dan berusaha dilupakan. Cukup rasakan, dan nikmati setiap sayatan.
Agar kamu paham, agar kamu mengerti. Terkadang, di tengah luka yang berdarah, ada obat mujarap yang akan menyembuhkan dengan sangat cepat.
Caranya? Biarkan waktu membuatnya kering perlahan. Menutup sedikit demi sedikit setiap sayatan dengan darah yang mengering di atasnya. Hanya dengan itu, maka kenangan baru akan muncul kepermukaan, menyingkirkan luka lama dan menyembuhkan apa yang pernah berlubang dalam.
Ardan mengikuti langkah kaki istrinya yang berjalan ke arah luar rumah Gerald.
Melihat tubuh mungil itu bergetar karena melepaskan tangisan. Bibir lelaki itu mengembang, ia menggelengkan kepala pelan.
"Kenapa dia selalu membuka lukanya untuk membandingkan dengan luka orang lain? Padahal ia tersiksa, malah memilih menyembuhkan dengan mengoreknya semakin dalam." Ardan menghela napasnya dengan sedikit berat.
Perlahan ia melingkari kedua tangannya di bahu wanita itu. Mendekap dari belakang.
"Tidak semua orang berpikir sepertimu, Sayang. Lukamu, jangan dibuka terus, jangan dibiarkan berdarah terus. Jangan menjadi menderita terus dan terus. Aku berusaha keras untuk kebahagiaanmu. Tapi apa? Kamu terus mengingat masa lalu."
Pungung tangan putih itu menghapus sudut dagu. Ia memalingkan wajah, melihat mata Ardan yang begitu teduh menatap ke arahnya.
"Aku juga akan marah, Mas. Saat ada orang lain yang merampas kenangan tentang keluargaku. Rumah itu, yang dulu hangat, kian mendingin. Yang awalnya cerah, menjadi suram seketika. Mas Iqbal pernah bilang jika rumah itu akan dihancurkan, aku lebih memilih melihat rumah itu hancur dengan mengubur kenangan, dibandingkan melihat rumah itu tetap ada tetapi kenangannya tergantikan dengan mereka."
"Mereka?"
"Mereka yang mengambil nyawa kedua orangtuaku. Mereka yang mengambil harta kekayaanku. Mengakui itu semua miliknya, membawa kekuarganya ke rumah yang ia rebut secara paksa."
Hazel tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya.
"Apa pun sebutan untuk mereka itu. Aku harap, keluarga mereka tidak akan merasakan menjadi aku."
"Kenapa? Bukannya akan lebih bagus jika mereka menderita sepertimu. Atau lebih."
Hazel kembali tersenyum, menatap kosong ke arah taman rumah keluarga Gerald.
"Bukannya dunia memiliki hukum, ya, Mas?"
"Benar."
"Mungkin mereka akan lebih menderita dari pada aku. Setelah itu? Dunia akan menjalankan hukumnya, bagaimana jika setelah menderita mereka akan mengecap indahnya kebahagiaan?"
Ardan meneguk salivanya, perlahan ia menumpuhkan ujung dagu di pucuk kepala Hazel.
"Bagaimana, jika mereka jauh lebih bahagia dariku? Aku gak bisa menerimanya, Mas. Dari pada mereka bahagia setelah banyak menderita, maka lebih bagus mereka tetap berada di tahap itu. Tidak bahagia, tidak menderita. Hanya mengambang sampai mereka merasa sangat lelah, bosan, dan tidak memiliki ambisi lagi."
Ardan tersenyum getir, ia mencium puncak kepala wanita di dalam dekapannya itu.
"Aku masih berpikir kamu itu malaikat tanpa sayap yang sangat baik hati, Hazel. Ternyata, pikiranmu lebih kejam dari pembunuh berdarah dingin."
Hazel membalikan badannya dan menarik ujung hidung Ardan.
"Kenapa? Menyesal memilikiku?"
"Tidak buruk juga. Memiliki istri picik, maka kepicikanku akan bertambah."
"Dasar tidak tahu malu! Picik bangga!" ketus Hazel seraya tersenyum lembut.
"Suami siapa?"
"Entah! Gak tahu, Mas Ardan gila!"
"Walaupun aku gila, tetapi kamu tidak bisa lupa, kan, iya, kan."
"Enggak tuh. Bisa tuh."
"Masa?"
"Iya."
"Sebenarnya kamu itu cinta aku gak, sih?"
"Enggak!"
Ardan tersenyum, ia mencium bibir mungil itu sekilas. Menarik kepala Hazel untuk ia benamkan di dada.
Kini pikirannya kembali berperang, apa yang Hazel bilang ada benarnya. Jika kita terlalu menyiksa, maka dunia akan semakin membela.
Seperti Arfan, semakin ia memaksa untuk membuat Ardan menderita. Maka dunia menyuguhkan keindahan yang semakin besar pula.
Dendam itu hanya akan mneyakitimu. Ia akan membuat kamu semakin memupuk rasa ragu, sampai kamu sendiri lupa waktu. Terlalu peduli pada kebahagiaan orang lain dan pada akhirnya kamu lupa bagaimana membahagiakan diri sendiri.
Kebahagiaan itu tidak terukur pada sesuatu. Ia sederhana, sesederhana namanya. Ada yang bahagia hanya karena ia bisa melihat matahari dan ada yang bahagia karena ia bisa menatap rembulan di malam hari.
Bahagia saat siang hari karena kita bisa bertemu kekasih. Pun bahagia saat malam hari, ketika kita bisa melepas rindu pada seseorang.
Tergantung manusianya, dan terserah pada hatinya. Mereka yang bahagia, ialah yang bisa merelakan luka dan melupakan dendam hatinya.
Benci, tidak akan membuatmu bahagia. Maka sebaliknya, akan membuatmu menderita dan terusik dengan ketenangan mereka.
Karena mereka yang iri, tidak akan pernah merasa bahagia, terlalu peduli pada urusan orang lain dan melupakan urusannya sendiri. Pada akhirnya, orang yang dibenci semakin bahagia, dia yang membenci akan semakin terluka karena tak mampu menenangkan hati.