For My Family

For My Family
181



Arfi membalikkan badan gadis itu, kedua tangannya tertangkup di pipi Nigar. Mencoba menatap binar jernih yang tertutupi kaca.


"Dengar Nigar, itu tak ada di dalam kamusku. Jika cinta maka harus bersama!" tekan Arfi.


Gadis itu menunduk, kedua jemarinya menarik tangan Arfi yang berada di pipinya.


"Itu bukan cinta Arfi. Itu ambisi, itu keegoisan."


"Terkadang dalam hidup ini kita harus berambisi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, Nigar. Kita harus egois untuk diri kita, karena yang bisa membuat bahagia adalah kita. Bukan mereka."


Lelaki itu mengamit kedua jemari Nigar, mencium jemari itu dengan tatapan mata yang terus memerhatikan wajah gadis tersebut.


"Jika kamu tak mau berjuang maka tak usah. Biarkan aku yang melakukan segalanya, dan kamu ...." Arfi menarik kepala gadis itu dan mengecup dahinya lembut.


"Cukup tunggu di sini." Lelaki itu melepaskan Nigar, berjalan ke arah luar. Menarik daun pintu dan menguncinya dari luar.


Gadis itu berulang kali memutar kenop pintu, mengetuk daun pintu dengan memburu.


"Arfi ... Arfi! Apa yang kamu lakukan?" Tak putus asa, Nigar mencoba memutar kenop pintu itu.


"Diamlah dan tunggu aku kembali. Kumohon, Nigar. Menurutlah kali ini!"


"Tidak bisa, aku harus pergi! Arfi, kumohon jangan begini, Arfi." Berulang kali telapak tangan itu menepuk-nepuk daun pintu, berharap jika lelaki itu akan membukakan.


Di luar sini Arfi memejamkan matanya, menarik napas berat. Berjalan menghampiri Hazel yang berdiri di dekat pagar lantai dua.


"Tolong, Hazel. Kali ini aku memohon padamu. Jangan biarkan Nigar pergi." Satu tangan Arfi menyerahkan kunci kamar.


Gadis bermata madu itu menerimanya, lalu mengenggam di depan dada.


"Apa yang terjadi Arfi?"


Lelaki itu hanya tersenyum dan mengacak puncak kepala istri Kakaknya.


"Tidak ada. Tolong jagalah Nigar sampai aku kembali. Bisa, kan?"


Sepasang netra berwarna madu itu hanya menatap nanar. Pelan ia mengangguk ragu.


Arfi tersenyum dan mengambil ranselnya. Setelah memakai di salah satu bahu, lelaki itu segera turun dari lantai atas.


"Arfi tunggu dulu," tahan Ardan yang tengah berdiri di ujung tangga.


"Katakan rencanamu padaku."


"Percayalah padaku, Kak," kata Arfi malas.


"Katakan dulu, setelah itu aku akan membiarkanmu pergi."


Arfi menarik napas, ia memutar badan berhadapan dengan Ardan.


"Jika Kakak memang ingin membantu, jagalah Nigar. Yakinkan dia untuk menungguku di sini."


"Tapi, Arfi--"


"Kak," putus Arfi langsung. "Hanya itu yang bisa membantuku. Setidaknya, pikiranku untuk masalah ini akan fokus."


Ardan terdiam, memandangi wajah sang adik lamat. Arfi memang manja selama ini, dia selalu diatur segalanya. Bahkan ke mana arah hidupnya Gerald telah menentukannya.


Tidak ada yang percaya pada kemampuannya. Apa pun itu, bahkan dalam hal menyelesaikan skripsi saja dia selalu dibantu oleh kedua kakaknya.


"Mau sampai kapan kalian ingin aku terus manja seperti ini? Percayalah padaku, setidaknya sekali ini saja. Aku tidak akan membuat kesalahan apa pun."


Lelaki berwajah garang itu tersenyum, ia menarik bahu Arfi dan menepuknya lembut. Walau khawatir, namun ada saatnya hal yang selalu dilindugi harus dilepaskan.


Bukan untuk membiarkannya bebas dan tak diperhatikan. Namun, itulah caranya agar dia bisa berkembang dan menjadi dewasa dengan jalannya.


"Aku akan menjaga Nigar untukmu. Akan kuyakinkan dia. Aku percaya padamu."


Seulas senyum terbit di wajah bungsu Erlangga itu. Ia mengusap rambut dan berjalan ke arah pintu.


Pas berselisihan dengan Ferdi yang akan masuk ke dalam. Lelaki berkacamata itu tersenyum dengan tangan mengacak rambut Arfi.


"Bungsu kami akan keluar dari kepompongnya, kah?" tanya Ferdi sedikit bercanda.


"Ada saatnya kupu-kupu harus terbang dengan sepasang sayap miliknya. Tak lagi meminjam sayap orang lain untuk melihat keindahan, bukan?"


Ferdi mengangguk, satu tangannya mengepal. Menunjukkan ke depan Arfi, lelaki berambut pirang itu menggeleng. Lalu ikut mengepalkan tangannya, mengadu kedua kepalan itu lembut.


Lantas kedua tangan Ferdi merengkuh bahu yang lebih bidang itu.


"Aku akan selalu mendukungmu. Calon kakak iparku," ucap Ferdi lembut. "Tapi gak jadi," sambungnya terkekeh.


Arfi ikut terkekeh, pergi meninggalkan rumah Ardan dengan debaran yang susah dijelaskan.


Sementara sang kakak mulai khawatir dengan keadaan Arfi. Tajam mata itu mengikuti pergerakan mobil berwarna oranye. Sampai kendaraan itu hilang di telan malam.


Ardan menarik napas, bagaimana juga. Arfi tetaplah adik manjanya.


"Katakan padaku, Ferdi."


Lelaki berkacamata itu menoleh, melihat Ardan yang tengah memandang ke arah halaman.


"Kali ini keputusanku benar, bukan?" tanyanya getir.


***


Sedari subuh, ibu dari dua anak itu terus sibuk di dapur. Sementara sang adik masih terduduk di balik pintu, semalaman tak bisa tidur. Memikirkan janjinya, pikiran buruk terus masuk. Bagaimana jika Gerald benar-benar merusak hubungan Hazel dan Ardan?


Gadis itu kembali terisak, ia tarik kedua kaki dan membenamkan wajahnya di sana.


"Mas," panggil Hazel saat melihat Ardan berdiri di depan pintu kamar Nigar.


Gadis betubuh mungil itu membawa sebuah baki dengan sarapan yang lengkap di atasnya.


"Aku gak tega dengar Nigar nangis semalaman, Mas."


Satu tangan Ardan menarik bahu mungil itu, merengkuhnya erat.


"Berikan kuncinya padaku. Biar aku yang mengantar sarapannya."


"Tapi." Hazel menatap wajah Ardan, ragu ia menyodorkan baki itu ke tangan sang suami.


Membuka pintu kamar Nigar perlahan. Mendengar suara lepasan kunci, gadis itu bangkit. Tergesa ia memutar kenop pintu. Sedikit terkejut, saat melihat badan bidang Ardan berdiri di ambang pintu.


"Anda?"


Ardan tersenyum. "Boleh aku masuk?" tanyanya lembut.


Gadis itu mengangguk, setelah meletakan baki ke atas nakas, lelaki itu menarik kain gorden kamar. Perlahan warna kejinggaan masuk menghiasi ruangan itu.


Suara gesekan pintu balkon membuat pandangan Nigar teralih, lelaki yang telah menjadi kakak iparnya itu berdiri dengan menumpuhkan siku di atas pagar.


"Kemarilah, aku ingin berbicara denganmu."


"Nigar!" Jelas ucapan itu membuat langkah Nigar mendekat, berdiri di sebelah Ardan di balkon kamar.


Sejenak angin pagi menyejukkan perasaan Nigar. Gadis itu menarik napas, lalu pandangan menatap ke arah langit.


Bergeming, untuk beberapa saat suasana hanya hening. Tak tahu apa yang mau diucapkan Ardan. Namun, dia tak nyaman berada di dalam kamar berdua dengan lelaki itu. Meski mereka berada di balkon kamar, terlihat jelas dari luar.


"Katakan padaku, apa Gerald mengancammu?" tanya Ardan tanpa basa-basi.


Seketika Nigar menoleh, terkejut. Bagaimana Ardan bisa tahu?


Lelaki itu tertawa getir, satu tangannya mengusap kepala.


"Bodoh, kenapa aku harus bertanya. Arfi telah membuat kesalahan, tentu saja dia akan mencarimu untuk menghukumnya. Bukan mengeluarkan dia dari hak waris, namun melukai hatinya dengan cara memintamu pergi. Jelas itu lebih membuat Arfi menderita. Benarkan?" tanya Ardan lagi.


"Anda salah paham, Pak."


"Di mananya yang salah?" tanya Ardan menoleh, gadis itu tertunduk. Meremat kedua tangannya.


"Apa yang Gerald katakan padamu? Sampai kau bersedia pergi?"


Bibir gadis itu bergetar, sedikit ketakutan ia bingung harus menjawab apa.


Melihat reaksi Nigar, Ardan hanya mendesah panjang. Kembali menatap ke bentangan langit.


"Terkadang, kita memang harus berjuang untuk orang-orang yang kita sayang. Mengorbankan perasaan dan juga diri sendiri. Tapi, tak selamanya begitu," kata Ardan lembut.


"Ada masa di mana, orang yang kita sayang tidak akan bahagia atas pengorbanan kita. Melainkan terluka, kau percaya?"


Gadis itu hanya diam, ia tak berani menjawab ataupun menatap.


Ardan menarik napas, berhadapan dengan gadis seperti Nigar memang serba salah. Terlalu lembut untuk ditegasi, dan terlalu rapuh untuk dilembuti.


"Nigar, lihat aku!" pinta Ardan tegas.


Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya.


"Siapa aku di matamu?"


"Hah?"


"Aku siapa?"


"Anda? Tentu saja Ardan Erlangga."


"Lalu?"


"Lalu? Itu, Kakaknya Arfi dan atasan saya."


"Terus?"


"Suami Hazel."


"Itu artinya?"


Gadis itu menatap Ardan, bingung oleh pertanyaan Ardan.


"Saat di rumah dan di luar. Aku adalah Kakakmu, bukan lagi atasanmu. Jadi saat ini, anggap aku Kakakmu, yang kau tak perlu takut untuk bercerita ataupun melakukan kesalahan. Apa kau paham?"


Nigar mengangguk pelan.


"Katakan padaku, apa yang Gerald katakan padamu? Apa dia memintamu meninggalkan Arfi?"


Gadis itu tertunduk, pelan kepalanya mengangguk.


"Apa barterannya?" tanya Ardan.


Gadis itu diam, dan Ardan kembali menarik napas. Ia mengusap kepala pelan.


"Dengar, Kakakmu semalaman ikut menangis mendengar kau menangis. Jika kau tak ingin bertahan dengan Arfi, aku tak akan memaksamu. Tapi, Kakakmu adalah istriku. Dan aku, tak suka melihatnya menangis."


"Pernikahan Kakakku," jawab Nigar lirih.


Sebelah alis Ardan menaik, ia bingung dengan jawaban Nigar kali ini.


"Jika aku pergi, maka papa Anda akan merusak pernikahan Hazel."


Ardan melepaskan kerutan dahinya, kedua tangannya mencengkeram besi pagar dengan kuat.


"Lalu, apakah kau masih mencintai Arfi?"


Nigar mengangguk pelan. "Aku ... baru ingin memutuskan untuk menolak Pak Ferdi. Tapi--"


"Keburu Gerald menemukanmu?"


"Ya."


Ardan tersenyum getir, ia menghadap ke arah Nigar. Meraih kedua ujung bahu gadis itu dan memutar badan semampainya.


"Kau meninggalkan Arfi demi pernikahan kami? Apa kau tak percaya bahwa aku sanggup melindungi kakakmu? Sampai aku harus berlindung di balik pungung mungilmu?"


Nigar mendongak, cepat dia menggelengkan kepalanya.


"Bukan begitu maksud aku, Pak."


"Kak. Panggil aku Kak saat di rumah atau di luar perusahaan."


"Aku hanya berpikir bahwa tak seharusnya aku merusak apa yang dimiliki Hazel."


"Lantas kau mengorbankan hati dan memilih pergi?"


Ardan tersenyum, satu tangannya menepuk pipi Nigar lembut.


"Dengar Nigar, tak selamanya mengalah adalah satu-satunya cara untuk melindungi mereka yang kau sayangi. Jika dengan menyakiti diri kau melindungi mereka, itu bukan melindungi namanya."


"Aku hanya tak ingin mengorbankan Hazel, Kak. Aku hanya tidak ingin egois."


"Terkadang di dunia ini kita harus menjadi orang egois untuk merasakan bahagia. Tidak bisa selalu mengalah dan membuat hati terus terluka. Kebahagiaan itu harus direngkuh, tidak hanya menunggu orang lain membawakannya untukmu. Kamu yang harus memperjuangkannya. Kau percaya, bahwa sepasang sayap butuh dua kepakan untuk bisa terbang? Bukan hanya satu, dan yang lainnya hanya terdiam dan menunggu."


Gadis itu menundukan pandangan, satu tangan Ardan kembali menepuk pipi Nigar lembut.


"Jika kau mencintai Arfi, berjuanglah. Walau itu dengan cara menunggunya kembali. Jangan terus sembunyi, karena rasa butuh ungkapan, dia butuh kepercayaan dan juga dukungan. Bergeraklah, Nigar. Sudah terlalu lama kau berdiam dan membiarkan segalanya mengambang."


Ardan tersenyum, kedua tangannya meraih pipi gadis itu. Mencoba melihat binar mata gadis tersebut.


"Hei, ini Erlangga. Jika kau ingin bergabung di dalamnya. Tempahlah mentalmu sekuat baja. Saat berjuang jangan pernah ragu untuk terus berjalan. Percayalah, adikku tidak akan melepaskan genggamannya sesulit apa pun medannya. Asalkan kau tetap mengenggamnya lebih erat."


"Tapi, Kak."


"Percayalah bahwa cinta butuh perjuangan untuk bisa bersama, Nigar. Soal kakak dan juga para keponakanmu, jangan khawatir."


Ardan kembali tersenyum. "Karena kebahagiaan Hazel, adalah tanggung jawabku."