For My Family

For My Family
194



Bibir tipis lelaki itu mengembang mendengar penuturan sang gadis, satu tangan mengacak puncak kepala Nigar. Akhirnya, dia bisa bernapas lebih lega.


Sementara Nigar masih berbicara dengan sang ayah. Sesekali ia menggigit ujung kukunya seraya melirik Arfi. Lalu, wajah putih itu bersemu malu. Manja ia berkata.


"Ish, ayah!" tekannya manja. Malu-malu gadis itu kembali melirik lelaki yang mengaku sebagai suaminya. Entah apa yang diucapkan sang ayah di seberang sana. Arfi hanya terkekeh, menarik ujung hidung mancung Nigar, lembut.


Wajah yang sering terlihat murung setelah pertemuan mereka kembali, kini mulai kembali seperti semula.


Seperti saat pertama kali mereka dekat dan jatuh cinta. Wajah yang polos dan terlihat malu-malu walau hanya sekadar melirik ke arah wajah.


Hal yang sangat langka bagi bungsu Erlangga itu temui. Karena selama ini, ke mana pun dia pergi. Gadis-gadis sexy nan menggoda pasti akan selalu menempeli dirinya. Tidak pernah sungkan, bahkan walau menggelayuti badan.


Seperti menemukan kepingan yang lama hilang. Melihat Nigar yang kembali bersemu, membuat ia semakin rindu. Mungkin ini yang dikatakan Ardan, jika orangnya yang pergi, maka kita bisa menjemputnya pulang.


Namun, jika kehangatannya hilang. Entah bagaimana caranya memanggil pulang. Beruntungnya, dia mampu mengembalikan semua rasa itu, walau tak seperti semula. Setidaknya rasa itu masih sama.


"Hem, ya udah. Assalamualaikum." Setelah menutup panggilan, gadis itu menyodorkan ponsel Arfi kembali.


Lelaki itu mengerutkan dahinya, melihat wajah Nigar yang semakin memerah. Lalu, tangan kekarnya menarik tubuh sang gadis. Mendekap erat dengan helaan napas yang terasa begitu lepas.


Nigar terdiam, beberapa kali dia mengedipkan mata. Terkejut, walau dia dan Arfi pernah berhubungan sebelumnya. Namun, ini kali pertama dia berpelukan dengan sangat lekat. Perlahan debaran di dalam dada semakin menggebu.


"Terima kasih, Sayang," lirih Arfi seraya membenamkan ujung hidungnya di bahu sang gadis.


Kepala berbalut hijab itu hanya mengangguk. Arfi meleraikan pelukannya, lamat ia memandangi wajah Nigar.


Pipi putih itu kembali merona, memerah karena tersipu. Ragu-ragu gadis itu tersenyum. Kembali terkejut saat sepasang tangan kekar menangkup di pipinya.


Mata sayup lelaki itu semakin berat, hangat deru napasnya mulai menerpa wajah saat kepalanya semakin mendekat.


"Aku halal, kan, jika ingin menciummu?"


"Hah?" tanya Nigar gelagapan. "Y-y-ya," sambungnya tergagap.


Bibir tipis itu mengembang, mencoba untuk mendekat. Entah mengapa hanya sebatas mencium pun, gemuruh di dalam dadanya tak bisa tenang. Bagaimana bisa seorang Erlangga gemetaran saat ingin mencium seorang gadis? Bahkan yang telah halal untuk dia sentuh?


Sekali lagi, mata sayu itu menatap. Bundar netra hitam pekat milik Nigar tampak jelas. Pendar jernih itu baru kali ini dia tatap dengan sangat dekat. Mencoba menghapus jarak, belum sempat bersentuhan. Gemuruh perut Arfi membuyarkan segalanya.


Kepala lelaki itu menunduk, malu. Sedangkan, Nigar terkekeh geli.


"Arfi lapar?" tanyanya seraya menggigit bibir pelan.


Lelaki itu terpejam, geram sendiri. Menarik napas kesal dan akhirnya mengangguk pasrah.


"Aku buati mi instan mau gak? Hazel keluar, kalo masak lagi takutnya makin lama."


Arfi hanya melirik, lalu tangkupan tangannya di pipi sang gadis terlepas.


Secepatnya Nigar bangkit, satu tangan Arfi kembali mencekal pergelangan tangan. Gadis itu menoleh, melihat wajah sang lelaki yang perlahan mulai memucat.


"Arfi sakit?" tanya Nigar, tangan putih itu ingin meraih dahi. Terhenti, dan malah tertangkup di depan bibir.


"Tolong bawakan obat mag, Khadijah."


"Mag Arfi kumat?"


"Sepertinya," jawab lelaki itu menahan sakit.


"Kapan Arfi terakhir makan?"


"Entahlah, dua hari yang lalu, mungkin."


Gadis itu menepuk bahu Arfi, geram. "Arfi udah tau ada mag, kenapa gak jaga makanan?"


Lelaki itu mendongak, "aku hanya ingat kamu. Kupikir, aku akan kuat setelah melihatmu."


Gadis itu berdecak sebal, mencoba menahan senyum. Namun, kemerahan di pipinya tetap muncul.


"Bantu aku, Khadijah."


Gadis itu menarik kedua tangan Arfi. Membantu sang lelaki untuk bangkit. Seketika tubuh kekar itu berdiri, sedikit limbung ke arah sang gadis, dan sebuah ciuman mendarat di atas bingkai.


"Arfi modus, ih," kata Nigar seraya menarik kulit perut lelaki itu geram.


Arfi hanya terkekeh, satu tangannya membalik badan Khadijah. Lalu sepasang tangan itu mendekap dari belakang.


"Magku benar-benar kumat, Sayang. Tak perlu masak, karena tadi aku sudah pesan bubur saat ke sini."


"Hem, sejak kapan mag Arfi kumat?"


"Baru hari ini," jawabnya lembut.


"Arfi bohong, kan. Arfi ada makan apa di Turki? Arfi makan pedas, ya?"


Lelaki itu diam, lama sekali gadis itu tidak cerewet akan apa yang dia makan dan apa yang harus dia jaga. Memang benar, saat kecerewetan dan segala omelan itu menghilang, kita akan merindukan semuanya.


"Arfi," panggil Nigar lagi.


"Sedikit."


"Hem, mana mungkin sedikit. Arfi kalo udah lihat makanan pedas kayak orang kesurupan. Ih, heran bisa segitu gilanya suka sama pedas."


"Tapi tidak segila aku menyukaimu," goda Arfi dan lagi-lagi gadis itu menahan senyum.


"Dasar Arfi tukang goda." Nigar menyikut perut Arfi, seketika lelaki itu mengaduh.


"Eh."  Gadis berhijab itu berbalik, melihat Arfi yang terbungkuk dengan tangan yang memegangi perutnya.


Wajah tampan itu semakin memucat, membuat Nigat kelabakan.


"Enggak, cuma sedikit nyeri saja. Kamu bantu aku ambilkan obat, biasa Kak Ardan sering nyetok obat mag di kotak p3k, ya."


Membantu tubuh kekar itu untuk duduk di tepi ranjang. Sedikit tergesa, langkah kaki itu menuruni anak tangga.


Membuka laci-laci nakas yang ada di ruang tamu untuk mencari kotak p3k. Tergesa-gesa, karena apa yang dicarinya tidak ada.


"Apa yang kamu cari, Nigar?" tanya Ardan dan seketika gadis berhijab itu melompat, kaget.


"Astagfirullah, Kak. Anda membuat saya kaget."


Ardan terkekeh, ia menyampakkan jasnya di sofa.


"Saya cari obat mag," sahut Nigar seraya membongkar laci-laci nakas.


"Ada di lemari dapur, coba kamu cari di sana."


Gadis itu langsung berlari ke arah dapur, mencari di tempat yang Ardan katakan.


Setelah menemukan apa yang dicarinya, gadis itu langsung membawanya ke lantai atas.


"Ehm, ini ada pesanan. Katanya orang rumah ini yang delivery," kata Ardan memberikan sekantung plastik.


Sedikit kesusahan, gadis itu mengambil kantung yang di berikan sang kakak.


Tak banyak berkata, gadis itu langsung menaiki anak tangga.


Sebelah alis Ardan menaik, hal apa yang membuat gadis itu begitu tergesa-gesa.


Langkah gadis itu terhenti di ambang pintu, seketika napasnya terasa lebih berat. Tubuh kekar itu terbujur dengan tangan yang terlipat di atas perut.


Sedikit membanting, Nigar meletakan gelas air di atas nakas. Terduduk di bawah kasur seraya menatapi wajah Arfi lamat-lamat.


Sangat tenang, lalu tatapan itu teralih pada pergerakan perutnya. Tak ada embusan, mungkinkah?


Gadis itu meletakan satu jarinya di depan hidung lelaki itu. Tak terasa embusan napasnya.


Tangannya mulai bergetar, gemetaran meraih wajah Arfi.


"Arfi, Arfi, bangun!" panggilnya sedikit menekan.


"Arfi! Arfi jangan becanda," ucapnya kalut.


Melihat lelaki itu tak bergerak lagi. Bulir-bulir mulai membasahi wajah, gadis itu meletakan telinganya di atas dada. Masih berdegup, bahkan sangat kencang.


Satu jari Nigar mencubit dada Arfi, seketika lelaki itu terduduk dan terbahak-bahak.


Wajah yang awalnya ketakutan kini mulai memerah. Berulang kali pukulan gadis itu menghunjam dada.


"Arfi masih aja becandanya gak dewasa," ketusnya geram.


Lelaki itu masih tertawa, berusaha menangkap tangan sang gadis yang menghujani badannya.


Ada senyum yang ikut terkembang melihat ulah mereka berdua, pelan Ardan menarik daun pintu kamar Nigar. Menutupnya rapat. Membiarkan dua orang itu berada pada ruangnya.


"Maaf, maaf, Khadijah. Melihatmu khawatir membuatku benar-benar bahagia."


"Tapi gak gitu juga! Kenapa Arfi bahagianya kalo aku nangis, sih?" ketusnya semakin geram.


"Maaf, maaf." Berulang kali lelaki itu ingin memeluk, namun Nigar terus menolak tangannya.


"Arfi itu udah dewasa, udah jadi imam, kan. Gak cocok becandanya gitu, kayak anak kecil aja," ketusnya semakin geram.


"Iya. Iya, maaf, Sayang." Kedua tangan itu mencekal lengan sang gadis.


"Tapi saat bersamamu aku ingin terus menjadi anak kecil."


"Kenapa?" tanya Nigar malas.


"Biar aku bisa selalu manja denganmu."


"Gombal! Arfi tukang gombal. Gak mempan sama aku, aku bukan cewek-cewek yang senang sama gombalan cowok. Apalagi cowoknya kayak Arfi."


"Oh, ya?" tanya Arfi seraya menggulum bibirnya. "Memangnya aku cowok seperti apa?"


"Cowok yang banyak cewek. Suka main-main sama perasaan perempuan."


"Tapi aku sudah menjadi suamimu. Bagaimana, dong?"


"Tinggal bilang sama ayah. Ayah bilang kalo Arfi berani nyakiti aku lagi. Ayah sendiri yang akan menodongkan pistol ke kepala, Arfi."


"Benarkah?" tanya Arfi tak percaya.


"Huum."


Lelaki itu hanya tersenyum, kedua tangannya yang mencekal lengan Nigar berjalan. Berpindah mengenggam kedua jemari indah itu.


Arfi menatapi punggung tangan putih Nigar lekat. Ukiran henanya masih sangat merah, lalu tatapan itu menaik ke arah wajah.


"Dengar, Sayang. Aku telah berjanji bukan hanya pada ayahmu atau walimu saja. Tetapi juga pada Tuhanmu," kata Arfi seraya menatap wajah cantik itu lekat.


"Seumur hidup aku hanya akan mencintaimu sebagai wanitaku."


"Gak percaya, tuh," kata Nigar tersipu.


"Aku bukan lagi Arfi si playboy itu, Khadijah. Jika nanti aku berlutut di depan seorang wanita selain kamu." Satu jari Arfi mentoel ujung hidung Nigar.


"Itu adalah saat aku mengikatkan tali sepatu untuk putri kita."