For My Family

For My Family
247



Sunyi gelap malam menghantarkan kedamaian. Ibu dua anak itu berdiri di sudut balkon. Memerhatikan ke arah bawah, di mana Gerald tengah duduk menyendiri di taman.


Wajah tua itu terlihat kusut, beberapa kali kepalanya menoleh ke atas seraya melepaskan napas panjang.


Netra berwarna madu itu menatap nanar, sekilas bayangan tentang sesosok ayah terlintas di dalam angan. Sebagai orang tua, dia paham bagaimana perasaan Gerlad saat ini.


"Hazel," panggilan itu membuat wanita tersebut menoleh. Sedikit tersenyum ketika melihat sang suami mendekat.


"Kamu lagi lihat apa?" Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala. Bersama dengan sepasang tangan yang mendekapnya erat.


"Mas udah selesai makan?"


Tidak menjawab, lelaki berwajah garang itu hanya menganggukkan kepala. Dekapan kedua tangannya terasa mengerat.


"Sayang," panggil Ardan mesra.


Hazel hanya diam, kedua binarnya terus memerhatikan Gerald. Lelaki itu tampak kesepian.


"Mas."


"Hmm."


"Boleh aku turun?"


"Hmm, buat apa?" tanyanya semakin mendekap erat tubuh mungil istrinya.


"Lihatlah papamu."


Tatapan mata Ardan beralih, melihat tubuh tua yang ada di bawah sana. Lalu, tarikan napas terdengar panjang.


"Kamu mau ngapain?"


"Tidak ada. Hanya menawarkan beliau teh atau hal lain. Mungkin beliau butuh sesuatu."


Seketika Ardan menghela napas kasar, lantas pelukannya merenggang. Membiarkan wanita itu turun dari balkon kamar mereka.


Entah apa yang ingin dilakukan, biarlah. Saat ini Ardan memiliki sesuatu yang membuat posisi Hazel aman berada di keluarga ini. Putri kecil mereka.


Pelan, langkah mungil itu mencoba mendekati sang mertua. Membawa sebuah nampan yang berisi teh dan sepiring camilan. Langkah kecil itu sempat terhenti, ia menarik napas.


Sedikit ragu, lalu dia mendongak ke arah balkon. Melihat sang suami di atas sana. Seulas senyum terbit di wajah garang milik Ardan. Pria itu mengangguk pelan, seakan mengatakan bahwa apa pun yang Gerlad lakukan, lelaki itu akan selalu melindungi.


"Maaf, Pak. Apa Anda mau minum teh?" tanya ibu dua anak itu saat berada si sebelah tubuh tua yang tengah terduduk tersebut.


Lama, lelaki tua itu hanya bergeming seraya memandangi nampan yang Hazel pegang. Kedua genggaman tangan wanita itu di sudut nampan terlihat gemetar.


Tak mendapatkan jawaban, Hazel berbalik dan akan pergi.


"Duduklah dan letakan saja tehnya di atas meja."


Senyum dari bibir mungil itu terukir indah, bergegas ia mengikuti keinginan sang mertua. Detik selanjutnya tubuh mungil itu duduk di satu kursi yang sama.


Hening, membiarkan malam menyapa hampa. Perlahan udara dingin mulai menyergap tulang. Gadis itu mengusap lengan, mencoba menciptakan kehangatan.


Untuk beberapa lama tidak ada percakapan yang tercipta. Segan dan tidak tahu bagaimana membuka percakapan, akhirnya Hazel mengalah. Baru akan mau bangkit, suara bariton itu bertanya.


"Apa yang kamu pikirkan tentang saya?" tanya Gerald tiba-tiba.


Hazel menoleh, tak menjawab karena pertanyaan Gerald cukup membuatnya terkejut. Gadis itu tampak kaget, tubuhnya kembali duduk ke tempat semula.


"Mertua yang kejam, ayah yang otoriter, egois dan keras?" tanyanya menoleh ke arah Hazel. Tawa dari bibir keriput itu berderai, tapi ada seulas luka yang ingin disampaikan.


"Saya yakin Ardan pasti sudah menceritakan bagaimana saya dan apa-apa saja yang saya lakukan sampai membuat keluarga ini pecah. Bahkan tanpa dia ceritakan pun kamu bisa melihatnya sendiri. Bagaimana kacaunya hubungan keluarga ini." Gerald kembali tertawa, tapi sama sekali tidak terlihat bahagia pada raut tuanya.


"Semua salah saya. Salah saya telah membuat Arsy pergi, Aulia kehilangan semangatnya, Ardan marah, Arfi pembangkang dan Arfan yang hanya diam."


Lelaki tua itu tertunduk dengan senyum yang menyakitkan. Hening, hanya suara napasnya yang terdengar sesak menjadi pemecah suasana.


Nanar mata bundar itu menatap dengan segala iba. Sisi Gerald terlihat berbeda malam ini, raut wajahnya semakin meredup. Seperti kehilangan cahayanya yang selama ini selalu membuat wajah tampan itu menyeramkan.


"Ya. Jujur saya memang awalnya takut pada Anda, Pak. Wibawa Anda sangat kentara dan mampu mengintimidasi walau Anda tidak berkata apa-apa."


Gerald tersenyum sinis saat mendengar pengakuan Hazel.


"Ya, memang seperti itulah saya. Egois dan keras pada keinginan. Sama sekali takpernah memikirkan anak-anak saya. Mau mereka bahagia atau terluka, saya tak peduli."


Hazel melengkungkan bibirnya, mencoba menatap wajah tua itu.


"Mungkin itu hanya luarnya saja."


"Apa?"


Gadis itu tertunduk saat tatapan mata Gerald mengarah pada wajahnya.


"Bagi saya dan perempuan lainnya, memang sangat sulit memahami karakter seorang pria. Terlebih yang seperti Anda, tetapi setelah hidup beberapa tahun dengan Mas Ardan saya mulai mengerti. Bahwa apa pun yang dilakukan seorang suami dan ayah adalah hal baik yang sedang ditata untuk masa depan keluarganya. Saya sama sekali tidak percaya pada kata-kata Anda yang mengatakan Anda tak peduli pada mereka."


Hazel tersenyum, kosong tatapan mata itu mengarah ke depan.


"Dulu saat ayah saya masih hidup, adik-adik saya selalu mengomel, mengatakan bahwa ayah tak adil. Tidak menyayangi mereka dan hanya memanjakan saya. Padahal bagi saya, ayah juga bersikap tidak adil, kadang ayah terlihat lebih menyayangi Nigar atau Omer. Dan saat ini saya mulai mengerti, bahwa semua itu hanya kembali ke arah sudut pandang saja. Rasa iri, rasa ingin lebih, padahal sebagai orang tua, ayah pasti telah memberikan kasih sayang yang takkan pernah terbagi. Semua sama pada anak-anaknya."


Gerald tertawa dan menggeleng lemah."Lalu, apa menurutmu saya menyayangi Ardan dan adik-adiknya?"


"Tentu saja. Walau terlihat tak acuh, tapi hati seorang ayah tetaplah begitu. Tetap lembut, tetap menyayangi dan tetap ingin melindungi."


"Mengapa kamu mengatakan ini? Bukankah kamu juga takut sama saya? Kamu pun merasa saya tidak pantas menjadi seorang ayah, kan?"


Hazel tersenyum dan menggeleng. "Wallahi saya tidak pernah menganggap Anda tidak pantas menjadi seorang ayah. Jika memang begitu, tidak mungkin Tuhan menitipkan tiga orang putra dan seorang putri pada Anda, Pak."


"Ya, tapi saya gagal."


Hazel melepaskan senyumnya, memandangi wajah Gerald lamat-lamat. Benarkah dia sang presdir yang terkenal pendikte dan otoriter itu? Karena saat ini dia lebih mirip sebagai lelaki yang tengah butuh seorang pendengar untuk beban yang ditanggungnya selama ini.


"Bagaimana Anda bisa merasa gagal saat Anda memiliki tiga putra yang sangat hebat, Pak? Anda memiliki putra-putra yang sangat mengagumkan. Tidakkah Anda sadari itu?"


Gerald menggeleng pelan. "Mereka hebat atas usaha mereka sendiri. Bukan karena saya, mereka tumbuh dan kuat atas dorongan untuk menakhlukan saya. Mereka hebat, itu bukan karena saya?"


"Tapi tanpa disadari atau tidak, mereka seperti itu atas didikan Anda, atas contoh dan perilaku Anda. Anda mendorong mereka dengan cara Anda, jika bukan Anda ayahnya, saya yakin mereka bukan apa-apa."


Gerald terdiam, sepasang mata tua itu menatapi wajah Hazel lekat. Perlahan pandangannya tertunduk dan dia tertawa.


"Apa kamu tidak menganggap saya melakukan banyak kesalahan dalam mendidik mereka? Mereka membangkang, apakah kamu pikir itu kesuksesan?"


"Benarkah mereka benar-benar membangkang, Pak?" tanya Hazel lembut.


"Saya lihat takada satu pun dari mereka yang benar-benar membangkang. Mereka hanya melakukan yang mereka anggap benar, toh semua yang mereka lakukan bukan untuk sebuah perpecahan. Yang mereka lakukan malah untuk kesatuan keluarga ini. Tidakkah Anda bangga? Putra Anda benar-benar lelaki yang hebat."


"Yakinkah kamu mereka seperti itu hasil didikanku? Bukan, Hazel Nazha."


"Anda adalah ayahnya, jika bukan Anda, lalu siapa lagi?"


"Tidakkah kamu merasa caraku mendidik mereka itu adalah kesalahan?"


Hazel tersenyum dan menggeleng.


"Kenapa?"


"Karena Anda adalah ayah mereka. Yang menyaksikan tumbuh kembang mereka. Yang melatih kata pertama mereka, langkah pertama, dan segala permulaan dalam hidup mereka. Anda mengenal mereka lebih dalam dari orang lain. Jika Anda memilih cara itu untuk mendidik mereka, saya yakin bahwa Anda sedang menyiapkan mereka untuk hal-hal kejam yang akan mereka temukan di dunia luar nantinya. Bagaimanapun cara Anda, hanya Anda lah yang tau. Mungkin terlihat kejam, di sisi pandang seorang anak Anda terlihat sangat buas, tapi di sisi seorang ayah. Saya yakin Anda hanya melakukan itu demi mereka."


Gerald terdiam, kali ini benar-benar diam. Antara kagum dan takjub melihat wanita yang dinikahi putra sulungnya.


Perlahan seulas senyum merekah lebar dari bibirnya dengan sebuah tangan yang menyentuh puncak kepala Hazel.


"Seorang ibu, mau di manapun dia tetap akan menjadi seorang ibu," kata Gerald menarik tangannya dari kepala Hazel. Sementara wanita itu tertunduk dalam, benarkah lelaki yang di sebelahnya saat ini Gerald Erlangga?