For My Family

For My Family
118



Ardan mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyodorkannya ke hadapan sang satpam.


"Maaf untuk kejadian hari ini," ucapnya lembut.


Mata tua itu menatap ke lembaran yang Ardan sodorkan. Lantas, kepalanya menggeleng pelan.


"Tidak usah, Pak. Ini sudah menjadi risiko pekerjaan saya."


Bibir tipis itu ditarik, membentuk seulas senyum. Ardan mendesah panjang, melihat ruas jemarinya yang ikut terluka.


Sebenarnya harus sampai kapan? Tangannya terus terluka untuk menyakiti darah yang sama.


"Ambil saja uang itu untuk pengobatan Anda. Pekerjaan Anda melindungi villa ini. Bukan melerai peperangan kami."


Lelaki dengan nama Selamet itu menatap Ardan nanar. Belasan tahun menjaga villa keluarga Erlangga membuat ia paham apa yang terjadi pada keluarga kolongmerat itu.


Akan tetapi, sebagai pekerja, mulutnya diharuskan bungkam atas apa yang selama ini dia saksikan.


"Maaf, Pak Ardan," panggilnya sungkan.


"Ya."


"Kalo boleh, biar saya obati jemari Anda."


Ardan tersenyum, pelan tangan kirinya membuka balutan dasi di tangan kananya. Menyodorkan untuk segera diobati.


Keriput tangan tua Selamet telaten mengobati tangan sang Tuan. Sampai perban yang dia balutkan menutupi luka secara sempurna.


"Maaf Pak Ardan, boleh saya bicara?"


"Silakan."


"Anda dan Pak Arfan itu kembar, kan. Biasa anak kembar itu selalu satu perasaan. Maksud saya, jika yang satu terluka, maka yang satunya akan merasakan sakitnya."


Ardan terdiam, iris hitam itu menatap ke ruas jemari tangannya yang telah melukai saudara sekandungnya.


"Benarkah Anda baik-baik saja saat memukulnya? Maaf jika saya lancang, Pak."


Ardan menggeleng, desahan panjang keluar dari bibirnya. Punggung kekarnya menegak, bersandar pada kursi dengan sorot mata menatap kosong ke depan.


"Memang sakit, Pak. Apa yang Anda katakan tak salah. Saat saya melukai dia, hati saya jauh lebih perih dibandingkan sakitnya."


Diam, hanya suara dentingan jam yang terus berputar.


"Saya lelah. Sungguh sangat lelah, kadang saya berpikir, kapan saya dan dia bisa berada di ranjang yang sama lagi. Menghabiskan malam dengan cerita kenakalan yang kami lakukan di hari itu." Bibir tipis itu tersenyum, getir, mengingat masa lalu yang pernah mereka lewati.


"Atau kadang saya juga suka mengingat, bagaimana dulu saat salah satu dari kami ada yang bolos. Dan yang kena hukuman adalah orang yang berbeda. Karena dianggap berdusta, akhirnya dihukum berdua. Bukannya bertengkar, malah menyusun rencana yang semakin membuat guru marah."


Ardan terkekeh, miris dan juga sakit. Mengingat pengalan kisah yang pernah mereka jalani. Siapa yang menduga jika di masa depan hubungan mereka bisa serenggang ini.


"Tujuh tahun lebih, Pak. Hanya ada sandiwara di antara kami. Kadang jika menatap matanya, saya ingin merengkuhnya, memeluknya, atau bertanya. Bahagiakah hari yang kamu jalani Adikku?"


Ada yang terkoyak di sini, ketika orang yang sangat akrab menjadi sangat asing bagimu. Bahkan, hanya untuk bersapa seperti biasanya saja tak bisa.


Lebih sakit saat dia menjauh atas apa yang tidak kamu sadari. Terkadang hati mencari, merindui, tetapi yang ditunggui tak ada lagi. Bukan orangnya, tetapi sifatnya.


Rindu yang teramat berat itu bukan pada mereka yang pergi tetapi tak kembali. Namun, saat kamu meyadari orang yang kamu rindui masih ada di sisi. Tetapi keadaanya tidak sama lagi.


"Saya benci padanya, Pak. Pada bayangannya, pada apa pun yang saya rindui tentangnya. Kadang saya bertanya. Mengapa? Saya merindui dia, padahal dia ada. Kemudian saya sadar, yang saya rindui bukanlah dirinya, tetapi kebersamaan kami yang pernah ada. Jika dia pergi, saya rasa saya tidak akan sesakit ini. Karena kemana pun dia pergi, dia akan pulang dan kembali. Tetapi jika yang pergi adalah sifat dan sikapnya yang dulu. Sampai kapan pun itu tak akan pernah kembali."


Ardan mendesah panjang, memalingkan pandangan pada satpam yang ada di depannya.


"Yang sakit itu bukan kehilangan orangnya, Pak. Tapi kehilangan kehangatannya. Saat orangnya hilang, maka kita masih bisa mencari. Tetapi jika rasanya yang hilang, selama apa kita menanti itu tak akan ada lagi. Bisa saja kembali, tetapi tidak akan pernah sama lagi."


Ardan tersenyum lembut, perlahan ia bangkit dan mengambil jasnya.


"Terima kasih untuk perbannya, Pak. Saya permisi."


Tangan kekar itu membuka pintu pos jaga, sekali lagi menatap villa yang ada di depan mata.


Bangunan itu masih sama, kenangannya masih ada. Namun, masanya tak lagi sama.


Pertama waktu yang berputar. Kedua, rasa pada dia yang pernah terluka.


Sebaik apa kamu mencoba mengembalikan rasa. Apa yang pernah tersakiti, maka itu tak akan sama lagi.


Hangatnya, perlakuannya, perhatiannya, sikap dan juga kebiasannya. Semua akan menjadi berbeda. Sebab yang diperbaiki, tak akan utuh selayaknya pertama kali.


Arfan memandangi mobil hitam Fortuner kembarannya itu keluar dari halaman villa.


Ada rasa yang menggelayuti dada, bersalah dan juga rindu pada saudaranya itu.


Sebenarnya kenapa dia bisa begitu marah dan dendam? Padahal Ardan tak melakukan apa-apa padanya.


Karena Ardan yang berdiam tetapi masih bisa melakukan banyak hal lah yang membuatnya dendam.


Lebih tepatnya iri, entah itu pada apa yang Ardan raih, pun pada apa yang Ardan miliki.


Dia dan Ardan adalah saudara, sekandung dan selalu bersama? Tetapi mengapa? Ardan selalu berada satu langkah di depannya?


Mengapa Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuknya. Entah itu kecerdasannya, pun takdir kehidupannya?


Arfan memalingkan matanya ketika merasakan sebuah tangan memeluknya dari belakang.


Wanita berparas cantik itu mendekapnya dengan sangat erat.


"Mengapa harus memaksakan cinta padanya yang tak mencintaimu, Mas? Ada aku yang selalu menantikan dirimu? Sampai kapan kamu terus mengabaikanku?" tanya Nana lembut.


Arfan mendesah panjang, pelan dia melepaskan dekapan tangan wanita itu.


"Kau tak akan pernah tau, Na. Mencintai selama bertahun-tahun tanpa balasan itu sakitnya seperti apa?"


Nana menggelengkan kepalanya, gadis itu tersenyum sinis dengan lipatan tangan di depan dada.


"Kau bilang aku tak tau, Mas? Selama bertahun-tahun aku mencintaimu, Mas. Aku menantikan dirimu. Bahkan aku rela menjadi simpananmu!" teriak gadis itu lantang.


Arfan menjatuhkan badannya di atas kasur. Menutupi sebagian dahinya dengan lengan tangan. Matanya menerawang jauh ke langit-langit kamar.


Nana menurunkan lipatan tangannya, hentakan heels pada marmer kilat villa tersebut nyaring terdengar. Ia menjatuhkan badan di sebelah Arfan.


Pelan, jari-jari berhiaskan kutek merah itu membuka satu persatu kancing kemeja Arfan.


Lelaki itu mendengkus kesal, secepatnya ia bangkit dan menjauhi Nana.


"Sudah berapa kali kubilang, jangan pernah berani menyentuh kulitku, Na!" bentak Arfan ketus.


"Kenapa?!" tanya gadis itu tak kalah lantang.


"Bukannya kau juga mecintaiku, Mas? Kenapa kamu gak pernah mau saat kuajak tidur?"


Arfan mengacak rambutnya, ia mengelurkan sebatang rokok. Lantas, membakarnya.


Tak menjawab, hanya kepulan asap yang keluar dari dalam bibirnya.


Memang ia merasa panas saat Nana digodai oleh Ardan. Tetapi, itu bukan karena dia mencintai Nana.


Melainkan, dia marah dan benci saat lelaki itu menyakiti hati yang lainnya. Mengingat bagaimana sulitnya dia meluluhkan hati Ferla, tetapi selalu gagal.


Ia benci, ketika lelaki yang selalu dikagumi istrinya adalah lelaki buruk yang tak menjaga martabatnya.


Benci, mengingat Hazel yang mencintai dan selalu percaya pada suaminya itu harus terluka oleh sikap penggoda kembarannya tersebut.


Benci, ketika mengingat pernikahan Ardan yang saling mencintai harus rusak karena wanita seperti Nana.


Benci karena dia tak memiliki pernikahan seperti itu. Tetapi selalu berusaha sekuat tenaga agar kebahagiaan itu dapat ia rengkuh. Sedangkan Ardan? Malah menyia-nyiakannya dengan bermain api di belakangnya.


Entah dia sadar atau tidak. Kepedulian itu masih teramat besar tertanam dalam hatinya.


Ia benci, karena ia peduli. Ia sakit hati, karena ia menyanyangi.


Karena ia tahu, sakitnya mencintai tetapi dipermaini. Entah itu oleh keadaan, atau pun perasaan.