
Ardan terdiam mendengarkan semua ucapan Ferdi di seberang sana. Badan yang awalnya membungkuk, kini kembali tegak saat apa yang dikatakan Ferdi semakin serius.
Beberapa kali kepala Ardan mengangguk, seakan memberikan kode mengerti. Padahal saat ini mereka sedang berada jauh berseberangan.
"Bagaimana kau bisa mengenal mereka, Fer?" tanya Ferdi penasaran.
Lelaki berwajah teduh itu hanya tersenyum. "Entahlah, mungkin ini yang namanya takdir."
"Em, Fer. Mungkin ini terdengar sedikit memaksa. Tapi bisakah kau ikut denganku keluar pulau?"
Ferdi menaikan bingkai kacamatanya.
"Dan—"
"Aku tau kau sedang sibuk mengurus perusahaan dan persiapan pernikahan. Aku takkan memaksa jika kau tak bisa." Belum sempat Ferdi menjawab, Ardan seperti tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
Terkadang ikatan yang terjalin di antara dua orang bisa serekat itu tanpa hubungan darah.
Di sini Ferdi menoleh, melihat gadis belia yang tengah menunggunya untuk makan malam bersama. Sedikit bingung, Ferdi mematikan panggilannya dan berjalan mendekati Sasy. Bingung.
"Kak, ini. Aku sudah memilih beberapa motif dan warna untuk seragam keluarga kita. Menurut Kakak bagus yang mana?" Gadis itu langsung memperlihatkan beberapa jenis motif kain dalam tabletnya saat Ferdi baru saja sampai ke meja mereka.
Lelaki itu hanya diam, dia menggeser tablet yang Sasy sodorkan. Meraih kedua jemari gadis belia tersebut.
"Sasy."
"Hem?" Gadis itu melihat ke arah wajah Ferdi.
Lelaki itu diam, bingung, apa yang harus dia lakukan? Di sini ada masa depannya dan di sana ada sahabat yang sangat membutuhkan bantuannya.
Sama-sama penting, mungkin Sasy bisa menunggu. Namun, Ardan? Lelaki itu bisa saja hancur jika mereka terlambat menyelamatkan perusahaan.
"Ada apa, Kak? Kenapa wajah Kakak terlihat seperti kebingungan?"
"Itu ...."
Genggaman tangan Ferdi menguat, ia takut mengecewakan. Namun, dia juga tidak mampu mengabaikan masalah temannya itu.
"Jika aku meminta pernikahan kita diundur sedikit lebih lama, apa kamu bersedia?"
Seketika ekspresi belia itu berubah.
"Aku tau ini keterlaluan, tapi ada masalah besar yang sedang perusahaan kami hadapi. Bisakah kamu mengerti?"
Gadis itu melepaskan genggaman tangan Ferdi, membuang wajah. Lantas, tubuh mungil itu ingin bangkit.
"Mau ke mana?" tanya Ferdi berusaha menahan.
"Ke toilet!" Dingin jawaban Sasy membuat Ferdi menarik napas. Mengapa masalah datang saat dia ingin memulai kehidupan?
Lelaki itu menjatuhkan badannya di atas kursi, matanya terus memandangi tubuh sang belia yang berjalan ke arah dalam cafe. Setelah punggung gadis itu menghilang dari pandangan, Ferdi menjatuhkan kepalanya ke atas sandaran.
Kepalanya berdenyut tiba-tiba, terkadang kehidupan yang awalnya terlalu nyaman akan mendatangkan bencana yang membingungkan di kemudian.
...***...
Gadis dengan balutan baju gamis itu berlari saat melihat mobil ferarri merah sudah terparkir di depan gerbang kampus. Dengan cekatan dia membuka pintu dan masuk ke mobil.
Bibir ranum itu tersenyum lembut saat melihat sang suami di sebelahnya, menarik tangan kekar itu dan langsung mencium punggung tangannya takzim.
"Bagaimana dengan tesnya?"
"Berjalan baik," jawab Nigar seraya menarik seatbelt di sebelahnya.
"Baguslah, belajar dengan rajin ya, Sayang. Biar kamu bisa selesai S-2 secepatnya." Kedua tangan itu menarik kepala berhijab tersebut, mengecup dahi sang istri penuh kasih sayang.
"Arfi."
"Hem?"
"Apa tidak masalah aku kembali kuliah di saat keadaan perusahaanmu sedang tidak baik-baik saja?"
Lelaki itu kembali menarik kepala Nigar, mengecup ujung hidung mancung itu lembut.
"Jika hanya untuk membayar biaya S-2 mu saja, itu tidak akan berpengaruh pada hartaku."
Gadis berhidung mancung itu melepaskan senyumnya, meletakan sebelah tangannya di pipi Arfi, lantas wajahnya mengusap manja pada wajah sang kekasih.
"Sombongnya kamu masih belum hilang, ya."
Arfi terkekeh, ia remat kepala berbungkus hijab itu, gemas.
"Untukmu, tak peduli separah apa kehidupanku. Aku akan selalu berusaha yang terbaik untuk memenuhinya."
Ranum bibir itu tersenyum simpul, "gombal!" katanya menjauh dari sang suami.
Arfi hanya tersenyum, sebelum ia menarik tuas mobil. Lelaki itu kembali melihat ke arah Nigar.
"Setelah ini mau ke mana?"
Seketika lelaki itu menarik napas panjang, tampak kelelahan menyertai embusan napasnya. Dia juga bingung, kembali ke perusahaan pun tak ada yang bisa dia lakukan. Ardan selalu berusaha sekuat tenaga sendiri.
Si Sulung itu, entah kapan dia mau memperlihatkan kelemahannya?
.
.
Ardan menggosok ujung hidungnya sesaat setelah bersin. Tajam tatapan mata itu masih terfokus ke arah laptop. Men-scrool sebuah artikel yang menjelaskan detil tentang perusahaan kecil yang Ferdi sebutkan sebelumnya.
Satu tangannya tertangkup di depan bibir, fokus dia memperhatikan setiap kata yang sedang menjabarkan tentang perusahaan From Blue Sky, perusahaan kecil yang tak pernah terlihat mata selama ini.
Sebuah benda dingin menyentuh lengannya, fokusnya teralih. Melihat Arfan yang berdiri di sebelahnya, lelaki itu menyodorkan sekaleng soda.
Ardan tersenyum tipis menerima uluran itu, detik selanjutnya sang kembaran ikut duduk bersebelahan. Menilik ke dalam layar datar kakaknya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Dan?"
"Sedang melihat resume perusahaan kecil yang akan kutarik nanti."
"Apa? Tunggu dulu!" Lelaki berkulit putih itu mengerutkan dahinya, bagaimana mungkin Ardan mau melakukan kerja sama saat keadaan perusahaan mereka sedang dalam ambang kehancuran.
"Dan, kau yakin? Erlangga akan melakukan pecah kongsi, walaupun sekuat tenaga kita berusaha meyakinkan Direksi, tapi kurasa kita tidak akan bisa menghindari penurunan harga saham. Bagaimana bisa kau mau mengajukan kerja sama saat keadaan kita seperti ini?"
Ardan tersenyum miring, ia bangkit dan membuka pintu balkon kamar. Menghirup sedikit udara segar. Perlahan ia membuka penutup kalengnya dan menenggak isinya sampai tandas setengah.
"Karena saat ini perusahaan kita sedang tidak baik-baik saja, aku butuh pegangan yang akan menyeimbangkan," kata Ardan lemas.
"Tapi, Ardan. Apa yang bisa kau dapatkan dari perusahaan sekecil itu?"
Ardan membalikkan badannya, menumpuhkan siku pada pagar balkon seraya memandang Arfan yang terduduk menatap ke arahnya.
"Segalanya, aku menemukan segalanya dari sana."
"Aku tak mengerti," kata Arfan kebingungan.
"Tak perlu kau mengerti. Karena ini akan menjadi urusan aku dan Ferdi. Aku ingin meminta bantuanmu, bisa?"
"Katakan!"
"Jika Ferdi menyetujuiku untuk ikut ke luar pulau, bisakah kau menjadi Direktur sementera Green Kosmetik?"
"Apa yang ingin kalian lakukan berdua?"
"Apa saja yang bisa membantu kembalinya kekuatan Erlangga."
Arfan menarik napasnya, sudah pernah dia katakan bahwa Ardan dan Ferdi bagaikan sepasang sayap. Ardan akan semakin tangguh saat dia disatukan dengan sebelah sayapnya.
Arfan menganggukan kepala pasrah, selain mengikuti segala arahan Ardan, dia juga tidak tahu harus berbuat apa? Si Sulung itu selalu merencanakan sesuatu yang mengejutkan, apa pun itu, mereka hanya bisa mengikuti dan meyakini bahwa yang Ardan kerjakan adalah untuk kebaikan dengan segala pertimbangan.
"Tapi kali ini aku mohon, jangan kau buat kolaps lagi perusahaan yang kami bangun itu."
Arfan terkekeh, ia ambil kaleng soda miliknya dan melemparkan ke arah Ardan.
"Sialan emang!"
...***...
Beberapa kali mobil ferarri merah itu berhenti di depan sebuah cafe. Berulang kali Arfi menanyakan ingin masuk, tetapi wanita yang ada di sebelahnya terus menggeleng.
Lelaki itu menarik napas, memandangi wajah cantik itu, lemas.
"Kamu sebenarnya ingin makan apa, Nigar? Sudah hampir dua jam kita keliling kota, tapi kamu juga belum nentuin mau makan apa?"
Gadis itu memanyunkan bibirnya, menatap ke arah kafe terakhir tempat mereka berhenti. Sama sekali tidak minat dan menggunggah selera.
"Apa mau makan di rumah aja, ya?"
"Nggak mau. Udah jam segini Hazel pasti udah beresin makanannya."
"Terus kamu mau makan apa? Aku udah lapar banget ini."
Gadis itu menyeringai, manja ia menarik tangan Arfi yang berdiam di kemudi.
"Aku pengen banget makan rendang, Arfi."
"Ya udah kalo gitu kita ke rumah makan padang."
Gadis itu langsung menggeleng, memanyunkan bibirnya, gemas.
"Nggak mau rendang yang di rumah makan padang."
"Jadi?"
"Mau makan rendang yang di hajatan nikahan orang."
"Eh?"