
Dua lelaki itu bercanda seraya berjalan memasuki gedung perusahaan. Setiap kali keluar bersama, mereka akan kembali dalam keadaan tertawa. Mau memenangkan kontrak atau tidak, ada saja hal yang dibahas dan itu membuat keduanya terbahak-bahak.
Ardan melepaskan rangkulannya saat akan memasuki ruangan.
Lelaki berkacamata itu membenamkan kedua tangannya di dalam saku celana. Memeriksa beberapa dokumen yang datang mencegat langkahnya.
Sempat terlupa jika ada seseorang yang tengah menantinya di dalam ruangan sana.
Gerakan tangan yang membuka pintu ruangan terhenti saat mendapati Sasy tengah tertidur di sofa.
Pelan ia melangkah, menutup daun pintu selembut mungkin agar gadis itu tak terbangun. Lalu langkahnya menghampiri, melihat sang belia yang tengah tertidur dan bertualang di alam mimpi.
Ia melirik ke arah pergelangan tangan, dua jam lebih gadis itu menunggu, pantas saja dia tertidur. Untunglah, dari pada dia mengusili segalanya.
Perlahan badan tegap itu berjongkok, satu tangannya membenarkan anak rambut Sasy yang berantakan. Senyumnya memudar saat melihat bekas lebam di pipi gembilnya, sedikit pecahan menghiasi sudut bibir.
Ingin menyetuh sudut bibir itu, lalu tatapannya teralih saat melihat bekas merah di leher belia itu.
Mata Ferdi melebar, tidak menyadari jika bekas ciuman itu tertinggal.
"Apa dia ditampar karena bekas ciuman ini?" gumam Ferdi sendiri.
"Astagfirullah, apa yang sudah kulakukan?"
Pria berjas itu bangkit dan membuka jasnya, ingin menyelimuti Sasy, urung karena suara derit pintu membuat ia kelabakan.
Lelaki itu menjauh dan langsung menyampakkan jas di atas kursi kerjanya. Kebiasaan Ardan tidak pernah mengetuk sebelum masuk.
"Ferdi itu---"
Ucapan Ardan terhenti saat melihat Sasy tertidur di sofa.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Ardan.
"Em-em itu, dia ke sini mau minta bantuan aku buat mengajari mata kuliah bisnis."
Sebelah alis Ardan menaik, dia bukan lelaki polos umur belasan tahun.
"Apa kau membuka les private?"
Ferdi medesis, ia mengacak rambut. Seringai nakal tergambar di wajah garang itu. melihat senyum Ardan pasti pikirannya mengacau.
Terlebih bagaimana jika Ardan melihat bekas ciuman itu. Ferdi kelabakan, ia panik sendiri.
Saat Ardan ingin berjalan mendekati mejanya. Lelaki berparas teduh itu lebih dulu menghampiri, memutar badan Ardan dan berkata.
"Ayo kita bahas di ruanganmu."
"Hei, ada apa dengan ruanganmu?" Ardan mengedipkan sebelah matanya.
Lelaki berkacamata itu berdecak geram. Ardan melepaskan rangkulannya dan belari ke arah meja Ferdi.
Tak ingin lengah, lelaki berkacamata itu mencoba menghalangi. Memeluk dan menarik badan tegap Ardan yang ingin mendekati Sasy.
"Ferdi, lepaskan aku! Aku geli, aku jijik!" teriak Ardan.
"Ayo kita pergi. Biarkan dia tertidur, Ardan."
"Siapa yang ingin mendekati belia itu? Aku hanya ingin duduk di kursimu." Badan kekar itu mencoba untuk berjalan. Semakin tertahan karena Ferdi semakin kuat menarik pinggangnya.
"Ferdi, lepaskan! Jangan peluk aku! Jangan sentuh aku! Aku jijik, jijik padamu, Ferdi!"
Ardan terkekeh sementara Ferdi semakin kuat menarik pinggangnya.
"Ayolah, Ardan. Berhenti menggoda segalanya."
"Aku hanya ingin duduk di kursi. Kenapa gak boleh?" tanya Ardan berusaha melepaskan pegangan Ferdi.
"Bukan gak boleh, gak enak ada dia. Kita bicara di ruanganmu saja, ayo."
"Aku tidak mau, Kak. Lepaskan aku! Tolong ... aku masih polos!" teriak Ardan terbahak-bahak.
Satu tangan Ferdi menoyor kepala Ardan. Lantas mereka terkekeh berdua.
Gadis itu mengerjap, mendengar suara berisik. Satu tangannya meraih sudut dahi dan langsung bangkit saat melihat Ferdi dan Ardan masih saling berpelukan.
"Em, maaf, Kak," ucap gadis itu menunduk.
Ferdi tersadar, ia melepaskan pinggang Ardan. Sementara mata tajam itu memerhatikan Sasy. Lalu bibirnya bersiul tak jelas.
"Auw, kamu nakal, Ferdi." Satu jari Ardan mencolek dada Ferdi.
Ferdi berdecak geram. "Pergilah Ardan," sahutnya ketus.
"Baiklah, baiklah. Aku tak akan menganggu." Ardan menepuk satu bahu Ferdi lantas berbisik pelan.
"Hari ini kissmark, besok akankah Yena punya teman baru?"
"Kau!"
"Hahahaha." Ardan mengacak rambut Ferdi lalu ia pergi. Melupakan niatnya yang ke ruangan Ferdi untuk meminta berkas.
Ferdi mengusap wajahnya, detik kemudian dia melirik ke arah Sasy.
"Maaf, apa aku terlalu lama?"
Sasy menggeleng, lelaki berkacamata itu mendekat, tangannya ingin meraih sudut bibir yang pecah.
"Oh, ya. Aku---" Ucapan Ardan kembali terhenti saat melihat tangan Ferdi.
Lelaki berkacamata itu merutuk geram.
"Ardan! Tak bisakah kamu mengetuk pintu dulu sebelum masuk?"
"Hahahaha. Aku hanya mau ambil berkas. Anggap saja aku tak ada dan lanjutkan kegiatan kalian berdua." Lelaki itu berjalan ke arah meja Ferdi dan mengambil berkas yang ia cari.
Bibirnya bersiul-siul tak jelas, sesekali matanya menatap ke arah Ferdi yang sudah sangat memadam.
"Sasy," panggil Ferdi.
"Ya, Kak."
"Apa kamu tidak ada kelas?"
"Oh." Gadis itu melirik jam di pergelangan tangan. "Jam setengah empat."
"Pasti kamu belum makan, kan? Ayo kita cari makan di luar." Ferdi menarik lengan belia itu keluar, matanya terus melirik ke arah Ardan.
Lelaki itu terkekeh, kepalanya menggeleng-geleng pelan. Ikut keluar setelah apa yang dicarinya selesai.
"Ferdi, Ferdi. Kau bahkan tak tahan oleh godaan. Jangan menggoda berlebihan, kalo tidak mau masa untukmu digoda ditunggu-tunggu untuk sebuah balasan."
***
Ferdi membuka penutup botol air, satu tangannya menyodorkan ke belia itu.
Sasy tersenyum tipis, mengambil dan meminumnya. Sedikit meringis saat air asam itu terkena pecahan bibir.
Ferdi melirik, hanya memerhatikan gadis itu mengunyah makanan. Tidak seperti biasa, pias wajahnya terlihat sendu dan terluka.
Tangannya mengaduk-aduk makanan, dengan malas dia menyuap, mengunyah dengan tatapan kosong.
"Sasy."
"Hem."
Dia hanya mengangguk, satu tangan menutup kotak makanan.
"Ada apa?"
Gadis belia itu kembali menggeleng, satu tangannya mengeluarkan selembar kertas.
"Bantu aku selesain ini. Bisa, Kak?" Dia menyodorkan selembar kertas.
Ferdi hanya menatap lembaran itu, lalu iris hitamnya teralih pada Sasy.
Belia itu kembali tersenyum. "Ada apa, Kak?" tanyanya menyadari tatapan mata Ferdi.
"Maafkan aku, Sasy."
"Maaf kenapa?"
"Apakah bekas tamparan itu karena bekas ciuman yang aku tinggalkan?"
Gadis itu kelabakan, ia melepaskan ranselnya. Mengeluarkan kaca dan melihat lehernya.
"Ya ampun, sejak kapan ini kelihatan lagi?"
Cepat jari-jarinya mengeluarkan foundtion dan bedak. Menutupi bekas merah itu dengan barang-barang tersebut.
Ferdi hanya memandangi, melihat belia itu mengoleskan sesuatu agar bekas itu samar.
"Kak."
"Hem."
"Apa tadi Pak Ardan melihat ini juga?"
Satu jari Ferdi menaikan bingkai kacamata. "Entahlah."
"Kakak, kok, gak bilang? Kan, aku malu." Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Bibir lelaki itu tertarik, tersenyum tipis. Memang belia, kadang raut wajahnya buat khawatir, di sisi lain sikap polosnya masih bisa menghibur.
Satu tangan Ferdi mengacak puncak kepala Sasy. Lalu tangan itu menarik ikatan rambut sang belia.
Sasy terdiam, detik kemudian ia buka tangkupan tangan dan melihat ke arah Ferdi. Lelaki itu masih sibuk merapikan helaian rambutnya.
"Kak."
"Hem," jawab Ferdi masih sibuk merapikan poni milik Sasy.
"Kenapa ikatan rambutnya Kakak buka? Aku gerah."
"Bukannya kamu malu kalo bekas itu kelihatan. Gerai saja rambutmu, jadi bekas itu tersamarkan oleh rambutmu."
Belia itu tertunduk, lembut gerakan tangan Ferdi menimbulkam rona pada wajahnya.
Gadis itu menggulum bibirnya, malu-malu ia melihat ke arah wajah Ferdi. Teduh wajah itu menghidupkan detak jantungnya.
"Seperti ini, bagus tidak?" tanya lelaki itu. Satu alis matanya menaik, melihat wajah Sasy semakin memerah.
"Sasy." Dua siku itu ia tumpuhkan di atas paha, sedikit condong badannya ke arah Sasy.
Belia itu semakin beringsut, menjauh karena degupan jantungnya semakin beriuh.
"Ada apa?" tanya Ferdi bingung.
"Tidak ada. Aku sedikit sesak, sesak kalo Kakak terlalu sweet begini."
Ferdi terkekeh, ia menggeleng. Kadang lucu, kadang juga haru. Banyak rasa saat waktu habis bersama belia itu.
"Wajahmu kenapa? Apa itu karena aku?"
Pias wajah itu langsung berubah, Sasy meraih satu pipinya yang tertampar Luna. Lantas kepalanya menggeleng pelan.
"Jujurlah padaku, Sasy. Kalo itu karena aku, biar aku bertanggung jawab atasnya."
"Apa Kakak akan melamarku?"
Ferdi mendesah pelan. "Tidak seperti itu, aku hanya akan meleraikannya pada orangtuamu."
Bibir gadis itu memanyun, "Bukan karena Kakak."
"Lalu?" tanya Ferdi lagi.
Gadis itu hanya diam, satu tangannya menyerahkan lembaran quiz pada Ferdi.
"Bantu aku buat ini, Kak."
Lelaki berkacamata itu mendesah pelan, ia menarik lembaran itu dan membaca tiap-tiap poin yang gadis itu tuliskan.
"Sebenarnya ini hanya teori, berbeda jika kau sudah benar-benar memasuki dunia bisnis."
"Bedanya?" tanya Sasy, gadis itu mengeluarkan sebuah catatan kecil. Bersiap untuk menyalin semua ucapan Ferdi.
"Dalam bisnis, hanya sekitar 20% yang mengikuti teori, sisanya itu tergantung kekuatan dan kecerdasan dalam membuat siasat perang."
"Aku tak mengerti."
Ferdi hanya tersenyum. "Mana buku hukum bisnismu, aku akan bantu cari jawabannya. Karena ini teori, maka jawabannya juga harus dari teori."
Gadis itu mengeluarkan bukunya, memberikan ke pada sang lelaki.
Jari-jari kekar itu membalik setiap lembaran, mata di balik kaca itu memerhatikan dengan lamat. Fokus, mencatat beberapa poin yang bisa digunakan sang gadis untuk menjawab quiznya.
Sasy hanya memerhatikan, dalam dan lekat. Sepasang mata bundar itu mengembunkan kaca, melihat kefokusan Ferdi dalam mengajarinya, membuat hatinya terenyuh.
Lalu pikirannya melambung, mengawan tentang Kakaknya. Bukannya lelaki itu juga berkecimpung dalam bisnis. Namun mengapa? Yang mengajarinya adalah orang asing yang bahkan waktunya lebih berharga dari Kakaknya.
Gadis itu tertunduk, mengingat bagaimana perlakuan Mama dan juga para lelaki itu di rumah. Jantungnya berdenyut nyeri, sesak dan perlahan dia terisak.
Pelan dan tertahan. Lalu tangisan itu kian dalam saat tamparan tangan Luna kembali bermain di ingatan.
Mata Ferdi melirik, gadis belia itu tertunduk dengan isakan tangis yang berusaha ditahannya.
"Sasy, ada apa?" tanyanya lembut.
Gadis itu menggeleng, kepalanya terus tertunduk dengan bulir yang jatuh menyapa pipinya. Tangannya meremat kertas yang digenggam.
"Ceritakanlah padaku jika kamu ada masalah."
Belia itu kembali menggeleng, kedua tangannya terus menggenggam erat.
"Aku hanya ingin menangis, Kak." Serak suara itu menjawab.
Ferdi tersenyum, ia memegang kedua tangan yang Sasy letakan di atas pahanya. Menepuk kedua genggaman itu pelan.
"Baiklah, menangislah."
Gadis itu semakin terisak, sesekali kepalanya menyentak. Menahan ganjalan luka yang membuat dadanya semakin sesak menanggung duka.
Iris hitam pekat itu hanya memerhatikam dalam keheningan. Hatinya terenyuh, sakit saat melihat belia itu terluka.
Satu tangannya menyentuh puncak kepala Sasy. Mengelusnya pelan, lalu ia tarik dalam dekapan.
Tangisan Sasy pecah, ia peluk pinggang Ferdi dan melepaskan segala beban di dada lelaki itu.
Ferdi menarik napasnya, kenapa? Dadanya terasa sangat sesak? Kini semakin sakit saat tangisan itu menggema. Mengusik relung di dalam jiwa. Bukan hanya iba, karena perlahan rasa di dalam dada mulai menggebukan irama. Mungkin, cinta