For My Family

For My Family
71



Gadis berhijab itu duduk dengan gelisah, matanya menatap keluar. Sesekali ia menghapus dahi dengan punggung tangan.


"Pak," panggilnya lirih.


"Iya."


"Bisa tolong suruh anak-anak itu masuk ke dalam mobil. Sungguh, saya tidak nyaman seperti ini."


Ferdi menghela napasnya, kenapa ia bisa berurusan dengan para wanita? Setelah tujuh tahun menyendiri, ternyata berhadapan dengan wanita sangat merepotkan seperti ini.


Ia membuka kaca mobil saat dua orang pengamen jalanan mendekati mobilnya. Meminta sepasang bocah itu memasuki mobilnya.


Ferdi melirik ke arah Khadijah setelah sepasang anak itu duduk di kursi belakang.


"Kamu puas?" tanya Ferdi ketus.


Bibir ranum tanpa lipstik itu mengembang, membuat sudut dagunya yang agak terbelah terlihat lebih menawan.


"Terima kasih atas bantuan anda, Pak."


"Kamu mau pulang ke mana?"


Gadis itu menyebutkan sebuah alamat, seketika Ferdi melihat ke arah gadis berhijab cokelat itu.


"Kamu gak salah?" tanyanya kembali.


"Kenapa?" tanya gadis itu bingung.


"Bukankah itu indekos para--?"


Khadijah mengernyitkan dahinya, menunggu Ferdi menyelesaikan kalimat.


"Para wanita malam?"


Seketika mata besar gadis itu melotot, ia menutupi mulutnya dengan tangan.


"Anda serius?" tanya Khadijah tak percaya.


"Walau saya bukan pemain wanita, tetapi saya lebih dari tujuh tahun tinggal di kota ini. Jadi, sedikit banyaknya saya tahu di mana daerah-daerah rawan yang tidak bisa dikunjungi."


Gadis itu menggingit bibir bawahnya, kedua tangan saling meremat. Bingung sekaligus cemas.


"Kamu sudah lama tinggal di sana?"


"Baru pindah hari ini. Salah satu teman saya tinggal di sana. Saya-saya--" Khadijah menundukan pandangannya.


"Kamu ingin pindah?"


Secepatnya ia mengangguk.


"Biar saya bantu kamu pindah."


***


Dengan langkah cepat, flatshoes itu berjalan menyusuri lorong-lorong sempit perumahan kumuh.


Beberapa wanita berpakain minim berjajar di depan kamar. Ditemani sebatang rokok, memamerkan tubuh-tubuh mereka yang bebas tersentuh siapa saja.


Sementara, si gadis lugu itu sudah mulai tidak nyaman. Sesekali langkahnya berlari, ingin segera keluar dari perumahan itu.


Ia membuka pintu triplek dengan banyak coretan itu sedikit tergesa. Mengambil tas yang masih rapi di sudut ruangan.


Seorang gadis dengan dandanan menor keluar dari ruangan lain kamar.


"Khadijah, kamu mau ke mana?" tanya wanita itu.


"Gea, kenapa kamu memilihkan indekos seperti ini? Kamu paham siapa aku, kan?"


Tanpa merasa bersalah, gadis bertantop merah itu hanya mengendikan bahu. Merapikan riasan di depan kaca.


"Kamu minta indekos murah, di zaman seperti ini. Kamu pikir ada indekos yang murah? Kamu itu kabur dari rumah, Khadijah, kenapa sombong sekali?"


"Aku memang kabur dari rumah, bukan berarti aku mau berada di lingkungan seperti ini. Gea, aku ingatkan padamu. Jangan seperti ini, kamu itu wanita, tidak harusnya merendahkan harga dirimu."


"Alah Khadijah, kamu yang anak mantan Jenderal tahu apa tentang penderitaan kami? Kamu itu besar dan hidup di keluarga kaya. Mana tahu bagaimana hidup susah."


"Ge, gak ada yang memintamu untuk berada di tempat ini."


"Siapa bilang? Jika keadaanku tidak memaksa begini. Aku juga gak mau, Khadijah."


"Jangan salahkan keadaan, Ge. Masih ada jalan jika kamu mau berusaha bertahan."


"Sudahlah, Khadijah. Kalau mau pergi ya pergi saja. Aku gak butuh ceramah, karena hidup itu pake uang. Bukan cuma doa seperti yang kamu panjatkan."


Gadis bertantop merah itu kembali masuk ke ruangan yang lainnya. Beberapa kali gadis berhijab itu beristigfar, mengelus dadanya.


***


Ferdi menurunkan gadis itu di depan sebuah perumahan. Tidak terlalu besar, namun terlihat cukup nyaman.


"Ini di mana?" tanya Khadijah bingung.


"Ini kontrakan, rumah dengan nomor 47 kosong. Kebetulan pemiliknya adalah temanku. Kamu lebih aman tinggal di sini."


Jemari gadis itu meremat tali tas erat. Matanya memandangi rumah bercat merah-krem itu lekat. Memang terlihat nyaman, akan tetapi, ia tidak memiliki uang untuk menyewanya.


Melihat raut wajah gadis itu, Ferdi menghela napas. Tangannya menarik tuas mobil. Berjalan ke arah rumah itu dan menghidupkan seluruh lampunya. Setelahnya, ia kembali berjalan ke arah mobil dan membukakan pintu untuk gadis itu.


"Ambil ini. Tidak perlu pikirkan biayanya, pakai saja. Biar itu menjadi urusanku dan temanku nanti."


Seketika gadis itu melihat ke arah Ferdi. Lelaki berkacamata itu tersenyum, dengan telapak tangan terbuka dan sebuah kunci di atasnya.


"Aku tidak menginginkan apa pun darimu. Jika berkenan, mungkin lain kali kamu bisa ceritakan bagaimana kamu bisa dikejar pria itu dan tinggal di indekos seperti itu."


Jari gadis itu menyentuh telinga di balik hijabnya. Tampak bingung untuk menjelaskan keadaannya.


"Em, itu--"


"Jangan sekarang," putus Ferdi yang mengerti dengan keadaan gadis itu.


"Aku buru-buru." Ferdi menyodorkan telapak tangannya kembali. Ia tidak mungkin memegang tangannya dan menyerahkan dengan paksa.


Bibir ranum itu kembali melebar, dengan bulu panjang lentiknya yang terlihat jelas saat matanya menatap kebawah.


Terlihat punggung tangan putih yang berhiaskan hena itu mulai terulur. Mengambil kunci itu dari atas telapak tangan Ferdi.


Lelaki itu menatap lekat, ada desiran di dalam hatinya yang timbul saat kulit tangan Khadijah tersentuh telapak tangannya. Hanya sepintas, namun rasanya membekas.


"Terima kasih, Pak Ferdi. Saya masuk dulu, assalamualaikum." Gadis itu berlalu, meninggalkan Ferdi yang masih bergeming di depan mobilnya.


"Waalaikumsalam waramahtullahi wabarakatuh," lirih Ferdi pelan.


Sejenak ia terdiam, detik kemudian ia tersadar dan menggeleng pelan. Ada apa dengannya? Bukan hal yang tabu baginya bersentuhan dengan wanita. Akan tetapi, sentuhan wanita itu berbeda.


Kulit dan pandangannya terjaga. Bahkan tutur sapanya juga tidak biasa. Ia bisa menjadi lelaki yang sangat menjaga saat berada di sebelahnya.


Ferdi membetulkan letak kacamatanya dan kembali membuka pintu mobil. Ia menarik napas panjang saat melihat sepasang bocah masih ada di sana.


***


Hazel mengalungkan dasi di leher suaminya. Mengikat dengan rapi kain berwarna dongker tersebut. Serasi dengan warna jas yang ia pilihkan untuk lelaki berkulit eksotis di depannya.


"Ferdi mengeluh. Dia bilang, kenapa harus mengasuh tiga wanita. Bagaimanapun juga dia lelaki normal, bagaimana jika dia khilaf?" ucap Ardan dengan tangan yang memeluk pinggang Hazel. Sesekali tangan itu bergerak nakal, menggoda istrinya tersebut.


"Maas!" Tepuk Hazel di pipi Ardan.


Lelaki itu hanya terkekeh, setelah dasi terikat rapi. Tangannya mengangkat tubuh mungil itu turun dari atas sofa.


Derita, saat tubuh memiliki postur tinggi tegap, namun berdampingan dengan istri yang mungil.


"Terus, saat malam dia tidur di mana?"


"Di mobil."


"Hah?" tanya Hazel terkejut.


"Kelihatannya Ferdi itu memang sebelas, dua belas denganku, Hazel. Tetapi dia lelaki yang sangat baik, walaupun sering ikut aku ke kelab malam. Dia sangat menjaga dirinya."


"Berarti kamu lelaki nakal, kan, Mas? Suka gak jaga diri. Ih ... bekas dong."


"Hahahaha. Memang aku ini kemasan gelasan? Bekas?"


"Jadi apa namanya kalau bukan bekas?" tanya Hazel bergidik geli.


"Aku ini lelaki tampan, Hazel. Mana mungkin ketampanan aku ini hanya kupajang untuk dipandangi saja."


"Hih ... Narsis! Geli!" Hazel menyapu lengan tangannya sembari bergidik.


Ardan terkekeh, ia menarik Hazel untuk ia dekap. Sementara, wanita itu berusaha melepaskan diri.


"Aku tidak senakal itu, Sayang. Walaupun aku buruk, tetapi diriku ini hanya kamu yang pernah menyipinya."


"Hih ... ya Tuhan, makanan kali, Mas. Dicicipi segala."


Ardan meletakan tangannya di atas kepala Hazel. Kini tatapannya mulai kembali serius.


"Aku berani bersumpah," ucapnya serius.


Bibir mungil itu mengembang, ia menarik tangan Ardan dan meletakan di atas perut.


"Bisa rasain gak? Ada yang bergejolak, tapi masih sangat halus."


Ardan memutar bola matanya, bergeming untuk merasakan gejolak di perut istrinya itu. Setelah beberapa menit, bibir tipisnya melebar.


"Apa dia bergerak?"


"Masih 12 minggu, Mas. Masih gumpalan darah. Tetapi ada yang bilang jantungnya sudah mulai ada."


"Benarkah?" tanya Ardan tak percaya.


Hazel mengangguk pelan. Lelaki itu mendekap tubuh mungil istrinya tersebut.


"Hazel," panggilnya lembut.


"Iya."


"Lahirkan 3 anak untukku."


"Apa?" tanya Hazel meleraikan pelukan Ardan.


"Akan aku berikan 600 juta. Lahirkan 3 anak untukku, ya," bujuk Ardan lembut.


"Untuk apa?" tanya Hazel bingung.


"Agar kamu bertahan denganku lebih lama. Eh ... bukan," ralat Ardan lagi.


Dahi mulus itu mengernyit, melihat ekspresi Ardan yang seperti sedang berpikir.


"Lahirkan 30 anak untukku."


"Hahahaha! Kamu pikir aku ini apa, Mas?" tanya Hazel terbahak.


"Akan kuberikan 600 miliar untukmu."


"Memang kamu punya uang sebanyak itu?" tanya Hazel meremehkan.


"Entah, nanti kuhitung dulu," jawab Ardan polos.


Hazel kembali terkekeh, ia melepaskan tangan Ardan yang melilit di pinggangnya.


"30 anak, kamu pikir aku ini mesin pencetak anak?" Hazel berjalan ke sisi kasur. Membereskan bad cover yang masih berantakan.


Kembali tangan kekar itu melilit perutnya, mendekap Hazel dari belakang dengan ciuman yang menghujani tengkuk leher wanita berdarah Turki tersebut.


Ardan menyingkap bahu Hazel, menciumi bahu istrinya itu.


"Hazel, lahirkan banyak anak untukku."


"Untuk apa? Bukannya kamu hanya ingin penerus saja?"


"Kalau dengan cara melahirkan banyak anak bisa membuat kamu menetap di sisiku. Maka aku ingin anak yang banyak."


Hazel tersenyum, tangannya mulai menyentuh pipi Ardan dengan lembut.


"Memang kamu berani bayar berapa?" Tantang Hazel.


"Seluruh yang aku punya. Semua harta yang aku miliki, jabatan, atau apa pun itu. Termasuk hidupku, ambillah untukmu. Tetapi setelah itu berjanjilah, jangan pernah menyerah untuk tetap bertahan dan tetaplah mendampingiku."


Jari lentik yang membelai lembut pipi pria itu berhenti. Hazel melirik sekilas ke arah Ardan.


"Mas, sadar gak? Terlalu banyak perbedaan di antara kita. Latar belakang, pendidikan, aku ini janda dan kamu single dengan segala kehebatan yang kamu miliki. Keluarga kamu tidak akan menerimaku. Aku ini sebatang kara dan kamu calon CEO muda. Bagaimana mungkin?"


"Bukankah Tuhan kita sama? Arah kiblat kita sama? Kitab kita sama?" tanya Ardan lembut.


"Bukankah di dalam agama yang menjadi perbedaan adalah iman? Bukankah mereka yang berbeda adalah mereka yang beriman dan yang tersesat. Bukan masalah kasta ataupun perhiasan dunia."


"Mas--"


"Bahkan jika aku adalah orang yang tersesat sekali pun. Aku akan mengikutimu, Hazel. Aku akan memilih jalan menjadi mualaf, agar aku bisa mengimamimu dalam salat."


Bibir mungil itu tersenyum, dengan lapisan kaca di atas netra. Mungkin selama ini Ardan memanglah penggoda. Menggunakan kata-kata indah untuk menakhlukan wanita.


Akan tetapi, kali ini. Godaannya terlalu berat. Ucapannya tidak ada cela. Siapa pun, akan lemah saat mendapatkan rangkaian indah dengan menyertakan Allah.


Hazel menarik bahu Ardan, memeluk badan tegap itu dengan erat.


"In syaa Allah, Mas. Aku sanggup berjuang denganmu."


Ardan membalas dekapan tangan Hazel. Bibir tipis itu melengkung dengan helaan napas yang terdengar lega.


Setelah berulang kali ia meminta Hazel untuk menetap. Akhirnya wanita itu memberikan jawaban. Setidaknya, sedikit beban itu mulai terasa ringan.


Hazel, akan berjuang untuk sesuatu yang telah ia janjikan. Itu, pasti.