
Ardan menyampakkan jasnya ke atas sofa, menjatuhkan badan itu di sofa hotel tempat mereka menginap. Terbang dari satu negara ke negara lain bukan hanya membuatnya lelah badan, tapi lelah juga pada pikiran.
Dia jatuhkan kepala di atas sandaran sofa dan menghela napas lelah. Baru setengah dari daftar list yang ingin Nola ikuti, tapi medali yang Nola dapatkan malah lebih banyak dari perkiraan.
Memang menakjubkan, hampir di setiap pertandingan Nola mampu masuk dalam kategori yang membawa pulang medali. Ternyata mereka yang meremehkan bakat Nola selama ini.
"Ardan, kau baik-baik saja?"
Mendengar pertanyaan itu membuat hela napas Ardan tertarik berat.
"Aku ingin pulang," katanya malas.
Evan dan Ferdi tertawa, mereka jatuhkan badan di sebelah laki-laki itu.
"Kalau begitu pulanglah," sahut Ferdi.
"Jangan konyol! Walaupun Nola sudah mendapatkan banyak medali, tapi itu belum cukup untuk membuat namanya terjun di dalam dunia desain perhiasan."
"Tidak banyak orang indonesia yang terjun ke dalam dunia desain perhiasaan. Ardan, kini nama Nola sudah menjadi sorotan. Tujuan kita hanya membuat brand untuk Nola, bukan mendampingi dia untuk menjadi pemenang di setiap acara."
"Tapi tujuan kita sudah berjalan setengah, aku tidak ingin kita gagal hanya karena rasa lelah. Ini medan perang, saat kita memasukinya maka takkan ada jalan untuk mundur."
"Siapa bilang kita sedang mundur?" sahut Evan.
Seketika Ardan menoleh ke arah Evan yang duduk di sebelah kirinya.
"Sudah sebulan kita pindah satu negara ke negara lain, kau memang harus pulang, Ardan. Mereka pasti akan curiga jika melihat anggota Erlangga terpecah belah."
Ardan diam, dia kembali memikirkan ucapan Evan.
"Firma hukummu juga bukan orang-orang bodoh yang takkan menyelidiki. Jika kamu tak kembali dan mengambil alih perusahaan pusat, maka mereka akan bertanya-tanya. Ke mana kamu pergi."
"Tapi kita belum berhasil untuk membuat brand Nola. Saat aku bertemu dengan mereka, pasti mereka akan meminta pemisahan secepatnya."
"Kalau begitu penuhi keinginan mereka."
"Apa?" tanya Ardan tak percaya.
"Dengan kau memenuhi inginnya maka kau akan kembali ke pulau di mana ayah Nola berada. Kau bisa ulur waktu pengurusan berkas untuk balik nama Ruby Jelwelry sampai kami berhasil memperkenalkan brand Nola pada ajang kompetisi Asia," kata Ferdi.
"Kita tidak bisa terus sembunyi, kalau kelamaan mereka akan mencari. Umpan terempuknya harus masuk perangkap dulu, setelah itu kita akan balik keadaannya."
"Kalian ingin menjadikanku umpan?" tanya Ardan tertawa sinis. "Baiklah! Bukannya aku tidak punya pilihan? Kita hanya bisa mempertaruhkan segalanya sampai akhir, bukan?"
Ardan bangkit dan membersihkan dirinya, setelah itu mereka kembali berdiskusi panjang sebelum Ardan kembali ke negara tercinta. Menyusun strategi dan menduga setiap kemungkinan serta mencari solusi dari keadaan-keadaan buruk yang mungkin terjadi.
Sampai mentari pagi menghangatkan kamar itu, begadang semalaman. Dan mereka bertiga masih asyik membicarakan diskusi sampai trik terbaik mereka dapati.
***
Sebuah jemari mengelus wajah oval yang semakin mengurus milik Aulia, Gerald tatapi wajah itu dengan penuh penyesalan. Depresi yang Aulia alami sudah sampai pada tahap memori yang terus diperbarui setiap kali dia membuka mata.
Terkadang itu melelahkan, mengingatkan Aulia tentang kenangan secara berulang-ulang. Pantas saja selama ini Ardan sering kehilangan kesabaran menghadapi Aulia. Ternyata rasanya memang secape itu, jenuh dan ingin menyerah saja.
Suara ketukan dari balik daun pintu membuat perhatian Gerald teralih. Hazel putar handle pintu dengan sedikit kesusahan karena ada nampan makan siang yang harus dia bawa.
"Mama masih tidur, ya, Pa?"
"Seperti yang kamu lihat. Memangnya kenapa?"
"Dokter Pedro sudah datang. Mama juga harus makan siang, kan?"
Gerald coba banguni istrinya itu dengan lembut, terlihat gerakan bola matanya. Perlahan bulu mata itu mengembang.
"Ini sudah siang, ayo bangun dan makanlah dulu."
Gerald bantu tubuh Aulia yang ingin terduduk. Perlahan dia sodorkan makanan yang sempat dibawakan Hazel.
Semenjak banyak waktu yang dihabiskan Gerald di rumah. Dia selalu memprioritaskan sang istri di atas segalanya. Mungkin karena alasan itu juga yang membuat sikap Aulia lebih tenang saat ini. Walau dia belum mengakui kematian putri bungsunya tersebut.
Sudah ada dokter Pedro yang menunggu mereka di taman bunga persik. Pemuda itu berdiri seraya memasukan sebelah tangannya di kantung celana. Sebelah lagi menangkapi kelopak bunga yang gugur terempas angin.
"Dokter," panggil Hazel dan pria berdarah setengah Spanyol itu menoleh.
"Mama sudah siap." Hazel dudukkan tubuh tua itu di kursi biasanya.
"Bolehkah kali ini aku meminta bantuanmu, Hazel?"
"Tentu."
"Tetaplah di sini karena aku ingin melatih ingatan Nyonya Erlangga. Sudah saatnya terapi ini bergulir ke jenjang yang lebih dalam."
Mendengar itu hati Gerald mulai sedikit cemas, dia coba untuk mengusir rasa itu dan mengambil jarak untuk memperhatikan dari jauh.
Seorang lelaki berdiri di sebelah Gerald, ikut mengawasi terapi ibunya kali ini. Lelaki tua itu menoleh, sedikit terkejut melihat siapa yang ada di sebelahnya.
"Ardan, kok kamu sudah pulang?"
"Hm?" Ardan hanya melirik, tersenyum dengan tarikan napas yang sedikit berat.
"Tante, coba katakan ini siapa?" tanya Pedro seraya menunjukkan Hazel padanya.
Sepasang mata tua itu menatap ke arah yang diperintahkan oleh Pedro.
"Arsy?"
"Bukan! Dia Hazel!"
"Hazel?" tanya Aulia sedikit kebingungan. Satu jari telunjuknya terangkat, seperti sedang mengingat.
"Apa Tante tau Hazel siapa?"
Seperti kebingungan, Aulia mencoba utuk mengingat nama itu.
"Iya, Tante. Lakukanlah, berusahalah untuk mengingat apa yang terjadi di kehidupan saat ini," kata Pedro mensugesti.
"Hazel ... Hazel?" lirih Aulia bertanya-tanya.
"Arsy!" Tiba-tiba saja Aulia membentak, dia tarik bahu Hazel dan memeluknya.
"Arsy anak mama."
Pedro tarik bahu Hazel dan seketika dekapan Aulia terlepas.
"Bukan, dia Hazel! Hazel, Tante."
"Lalu, Arsy mana?"
"Menurut Tante Arsy di mana?"
Binar mata Aulia memerah, dia menggeleng dengan genangan kaca-kaca. Sebuah layangan tangan ingin menghantam Hazel jika saja Pedro tidak cepat-cepat menarik lengan itu.
"Mama." Hazel ingin mendekat, namun tubuh itu tertahan tangan Pedro.
"Tidak apa-apa, itu lebih baik untuk Nyonya Aulia dibandingkan dia memendamnya. Karena saat emosinya meluap, itu lebih bagus untuk kesehatan mentalnya. Kamu kembalilah dulu, terima kasih atas bantuanmu."
Hazel mengangguk, ragu-ragu dia meninggalkan Aulia. Berjalan dengan memandangi Aulia yang masih mengamuk di sana.
Saat kepala itu menoleh, seketika bibir mungilnya tersenyum saat melihat Ardan pulang.
Ibu dua anak itu berlari. Langsung memeluk tubuh Ardan erat.
"Mas, aku rindu."
Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Hazel. Membalas dekapan Hazel lebih erat.
"Aku lebih rindu. Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menjaga mama dengan baik."
Hazel leraikan pelukan itu dan kembali menatap ke arah Aulia.
"Apa mama akan baik-baik saja?"
"Pasti baik, karena ada ahlinya di sana."
Untuk beberapa waktu lama Ardan hanya diam memperhatikan segala gerakan Pedro. Dia hanya berdiri, tetapi sorot matanya memang terlihat berbeda saat menangani pasien seperti Aulia. Seperti ada sihir di binar cokelat tersebut.
Setelah membiarkan Aulia terus meracau tak jelas, sesekali tertawa dan menangis. Bercerita dan berteriak. Wanita itu kembali tenang, terkekeh-kekeh dengan napas yang ngos-ngosan.
"Arsy, masih hidup. Masih ... masih!" Tubuh tua itu kembali terduduk di kursi dan diikuti Pedro yang duduk di sisinya.
"Arsy memang masih hidup, Tante. Saya tau itu," ucap Pedro dan Aulia menoleh. Tertawa seraya menepuk lembut pipi Pedro.
"Tapi dia tidak lagi hidup di dunia." Ungkapan itu kembali membuat wajah Aulia memerah.
"Dia hanya hidup dalam kenangan dan hati, Tante."
Aulia mendesis, ingin menarik tangannya di pipi Pedro, tetapi lelaki muda itu menahannya. Mengenggam dengan menatap binar jernih itu lamat.
"Tante," panggilnya lembut.
"Saya tau sesakit apa kehilangan itu dan sesulit apa melupakan. Tapi, Tante harus tau, bahwa kehidupan masih terus berjalan."
Ada dua dada yang ikut sesak mendengar penuturan Pedro. Gerald menundukkan wajahnya, sama seperti Ardan. Bahkan beban penyesalan yang ditanggungnya lebih dalam. Setiap hari harus menghadapi Aulia yang melupakannya, adalah hukuman paling berat atas kesalahannya.
"Saya tau ini tidak mudah. Namun, masa tidak akan berhenti berganti hanya karena sebuah luka. Tante harus mengerti dan tanamkan apa yang saya katakan ini di dalam hati dan pikiran Tante, ya."
Perlahan, Aulia menganggukkan kepalanya pelan. Seperti terhipnotis setiap kali menatap binar mata Pedro. Dia hanya bisa menurut apa yang diucapkan lelaki tersebut.
"Setiap sesuatu yang pergi, akan menemukan ganti yang lebih baik lagi." Pedro tersenyum lembut, diikuti oleh lengkungan di bibir Aulia.
"Lepaskan beban ini, bukan untuk melupakan orang yang Tante sayangi, melainkan tetap bertahan untuk dia yang telah pergi. Agar apa yang ditinggalkan, tetap baik-baik saja dengan terus berjalan menapaki kebahagiaan. Tak ada yang hilang, Tante. Kenangan itu akan tetap milik Tante. Bukan untuk diratapi dengan memupuk imajinasi. Namun, dipertahani dengan menjaga apa yang dia tinggali."
Pedro melepaskan tangkupan tangan Aulia. Bangkit dari kursinya dan berlutut di hadapan Aulia.
"Tante tau apa yang Arsy tinggali untuk kekuatan, Tante?"
Aulia masih terdiam, menatapi wajah Pedro dengan genangan kaca yang terus tumpah.
"Anak-anak Tante yang lainnya."
Kelopak mata tua itu terpejam, melepaskan bulir-bulir kenangan yang menyakitkan. Pedro tersenyum dengan terus memegangi tangan Aulia.
"Tante, tatap mata saya."
Wanita tua itu menurut, walau dadanya mulai sesak menahan ucapan Pedro. Namun, binar mata kecokelatan itu yang membuat dia terus mengikuti keinginan lelaki muda tersebut.
"Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang lahir dan ada yang mati. Ini siklus kehidupan, Tante. Tak akan berhenti dan selalu berganti. Tante harus berusaha untuk sadar kembali, karena Tante bukan hanya ibu dari Arsy, tetapi juga ibu dari tiga putra yang lainnya."
Bergeming, kali ini sedikit demi sedikit ucapan Pedro mulai menempel dalam benaknya. Detik selanjutnya tatapan tua itu menatap Ardan dan Gerald yang terus berdiri di sudut taman.
Sementara Hazel sudah masuk duluan agar tak menganggu ingatan yang ingin Pedro tanamkan hari ini.
Tak henti-hentinya air mata itu mengalir. Pedro menoleh, seulas senyum tergambar dari wajah tenangnya saat mendapati Ardan di sana.
"Ada yang menantikan, Tante. Bisakah Tante berjanji pada saya?"
"Apa?" Serak suara itu kini mulai menjawab.
"Berusahalah untuk sembuh, Tante. Saya akan membantu. Jika Tante menyanyangi Arsy, maka Tante harus sembuh. Untuk Pak Gerald, untuk Ardan, untuk adik-adiknya, untuk kehidupan baru yang terus akan berdatangan, dan untuk kita semua!"
Aulia tersenyum, ia lepaskan satu tangan yang digenggam Pedro dan mengusap kepala lelaki itu.
"Berusahalah, untuk masa depan Tante yang jauh lebih bahagia. Karena saat ini ... semuanya sudah berbeda."
Cepat kepala Aulia mengangguk, Pedro tersenyum dan tarikan tangan wanita itu membuatnya bangkit. Menerima pelukan hangat Aulia.
Sedikit menarik napas, terasa kelegaan memasuki rongga dadanya. Dia sadar bahwa mengembalikan kesadaran tidak akan mudah. Setidaknya, saat ini apa yang dia tanamkan secara paksa mampu diterima Aulia.
Di sini Gerald menarik napasnya, menahan air mata agar tidak tumpah di depan sang putra.
"Di mana kau temukan dokter itu?"
"Kenapa? Anda terkesima dengan cara kerjanya, Pak?"
Gerald menarik napas. "Masih sangat muda, namun kemampuannya luar biasa."
"Hoho, apa aku tidak salah dengar? Seorang Gerald Erlangga mampu memuji seseorang?"
Tajam tatapan elang itu menatapi wajah papanya. Masih terus terfokus oleh dua orang di sana.
Ardan menelan salivanya, ada perasaan rindu yang ingin dia sampaikan kepada lelaki tua itu.
Selama ini dia dan Gerald memang bersebarangan. Namun, apa yang dikatakan Arfi memang benar. Bahwa yang paling memahami Gerald adalah dirinya.
Sorot tatapan itu menatap dengan penyesalan. Ardan bisa merasakan, bahwa kini tatapan Gerald membawa luka.
"Pa," panggilnya lembut dan Gerald menoleh.
"Ayo ... kita akhiri ini semua."
Dahi tua itu mengerut, masih bingung oleh ucapan sang anak.
"Maksudku. Ayo ... kita kembali." Ardan menghela napasnya, masih bingung mengungkapkan inginnya.
"Kembali?" tanya Gerald bingung.
"Membangun hubungan yang selama ini bersebarang karena kita berbeda keinginan. Ayo ... kita mulai semuanya dari awal."
Ardan membenamkan tangannya ke dalam kantung. Lebih mendekat ke Gerald dengan berdehem pelan.
"Pa," ucapnya tertunduk. "Putra sulungmu pulang."